Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Gubuk Asmara


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Bagus menjaga ibu Sumiati dengan sangat baik, membawa beliau ke dokter, melakukan terapi, dan mencari pengobatan herbal lainnnya. Perlahan ibu Sumiati bisa menggerakkan kedua kaki meski belum bisa berdiri sempurna. Kemajuan yang sangat bagus. Namun di balik itu Nara juga berperan penting. Nara bagaikan mesin uang yang mana setiap kali di mintai uang dengan dalih pengobatan sang ibu, pasti langsung di kirim. Nara juga sadar bahwa dia tidak bisa menjaga sang ibu selayaknya anak pada umumnya, walau hanya bisa membantu doa dan biaya tapi dia sangat berjasa. Tanpa ada uang pengobatan pun terhambat.


"Perasaan baru tiga hari minta uang kok hari ini minta lagi..." Gerutu Nara. Uang yang di minta tidak sedikit berkisar lima jutaan. Meski begitu Nara menampik kecurigaan itu "Nggak, aku nggak boleh berprasangka buruk. Toh uang itu untuk pengobatan Emak, alhamdulillah sekarang Emak mulai bisa menggerakkan kedua kakinya"


Materi bukan gegala galanya tapi dengan meteri semua akan beres.


Di sisi lain.


Karena Bagus sudah merawat ibu Sumiati dengan sangat baik. Tuti pun hanya datang saat esok hari membantu bersih bersih.


"Gus, nanti malam ada pengajian di masjid, kamu mau ikut atau tidak? kalau mau ikut biar mbah uti sama Mutia (Anak sulung Tuti), dia lagi nggak bisa ikut ke masjid." Tutur Tuti seraya menyiapkan obat untuk ibu Sumiati. Mereka duduk di sebelah ibu Sumiati sembari ngobrol sedikit. Ibu Sumiati sendiri tengah duduk bersandar bahu ranjang. "Ikut saja Gus biar emak sama Mutia di rumah." Sambung Ibu Sumiatu.


"Ini mak minum obat dulu" Memberi beberapa butir obat.


Beliau langsung meminum obatnya.


"Emmm....oke lah aku ikut, mbak. Acaranya jam berapa?"


"Sekitar jam delapan setelah shalat isya"


(Kesempatan nih)di otak Bagus terselip hal kurang baik.


Pada malam harinya selesai adzan magrib Bagus sudah bersiap dengan sarung warna hitam dan baju koko putih. Berulang kali mempadu padankan baju dan sarung. Ia berhias di depan cermin "Yang ini lumayan keren..." Lanjut Bagus menyisir rambut.


"Lho Gus kamu sudah mau berangkat? acaranya masih nanti jam delapan" Ujar ibu Sumiati.


Bagus menghampiri beliau yang saat itu terbaring di atas ranjang "Bukankah lebih cepat itu lebih baik, mak? Lagi pula Bagus bisa bantu bantu panitia masjid, sebisanya. Emak nggak apa apa ya Bagus tinggal dulu, paling sebentar lagi Mbak Tuti sama Mutia datang"


"Ya sudah tidak apa apa. Tolong nyalakan tv sebelum pergi, emak mau lihat berita. Bosen duduk nggak ada teman"


Bagus lantas menyalakan tv. "Aku berangkat ya, mak. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


"Mas Bagus kok belum keluar juga sih" Dari dalam rumah Merry mengintip di balik cendela. Dia sudah rapi dengan busana muslim berwarna putih.


"Ngapain kamu Mer?" Bustomi tiba tiba sudah berdiri di belakang sang istri. Hari ini Bustomi pulang lebih awal karena merasa kurang enak badan.


Berbalik badan "Emmmm....itu mas aku lagi nungguin mbak Sarah kok belum datang juga ya" Dusta Merry. Sebenarnya yang is tunggu adalah Bagus bukan yang lain. "Katanya ngajak berangkat abis magrib tapi kok belum datang juga...."Melihat jam tangan melingkar di tangannya.


Bustomi menghampaskan badan di atas kursi kayu "Orang acara masih jam delapan kok sudah mau pada berangkat..." Meraih secangkir teh "Mending pijitin mas dulu deh, badan rasanya pegel semua."


"Nggak bisa dong mas. Aku itu harus berangkat sekarang nanti keduluan yang lain, biar duduknya paling depan"


Bersandar pada bahu kursi seraya memijat kening "Terserah kamu saja lah..."


"Makasih sayang....emuah" Merry langsung mencium suaminya.


"Apaan sih Mer kaya anak remaja saja pakai cium cium. Udah sana berangkat..." Sifat seperti itulah yang membuat Merry mencari laki laki lain, yang bisa membuatnya bahagia.


"Emang salah ya ciu. laki sendiri? nggak dosa kan? dari pada cium laki orang" ujar Merry seraya menatap dalam mata Bustomi.


"Emang dasarnya saja kamu itu nggak romantis" Ketus Merry sembari membelakangi suaminya.


Bustomi melirik sang istri yang nampak merajuk "Kamu itu kalau bersikap sok manis gini pasti ada yang di sembunyiin...." Tatapan penuh selidik.


Merry merapihkan jilbab "Idih kok gitu sih ngomongnya. Lain kali nggak bakal cium kamu lagi deh..." Tanpa kata dia pergi meninggalakn Bustomi.


"Nyesel gue dapet laki kaya gitu...harusnya dia itu senang dapat ciuman dari gue, lah ini malah bicara sembarangan" Sepanjang jalan Merry menggerutu kesal.


"Dor...." Bagus mengejautkan Merry.


"Ih kamu ini....untung aku nggak jantungan" Memukul pelan lengan Bagus.


"Stttttt...jangan teriak teriak gitu dong nanti pada dengar. Mending sebelum orang datang kita pacaran dulu biar kaya anak baru gede gitu"Bagus merangkul Merry.

__ADS_1


"So sweeet banget sih kamu sayang....beda jauh sama bustomi itu" Mereka berjalan sambil bergandeng tangan. Urat malu mereka benar benar sudah tidak ada.


"Ya Allah.....bukannya itu pak Bagus sama ibu Merry" dari belakang seorang pengendara motor tanpa sengaja melihat keduanya tengah bergandeng tangan. "Wah nggak beres ini" Tanpa pikir panjang dia menguntai kedua orang itu. "Kudu cari bantuan ini..." Menghubungi salah satu temannya.


"Asik ladang duit ini...." Seorang pemuda langsung berjalan menuju tempat tersembunyi. Tepatnya di seberang jalan yang gelap terdapat sebuah gubuk tua. Pemuda itu pun bersembunyi di belakang gubuk tersebut. Tak lama kemudian Bagus dan Merry sampai di gubuk itu.


(Benar sekali dugaan ku, mereka datang ke sini)


"Mas aku seneng banget kita bisa sama sama terus kaya gini..."


Ucapan Merry membuat pamuda tadi geli. Dari Celah belakang gubuk dia mengintip apa yang mereka lakukan.


"Aku juga senang bisa ada di samping kamu...." Terlihat keduanya saling berpandangan hingga keduanya bercumbu mesra.


"Ehem..." Keluarlah si pamuda.


Seketika keduanya terkejut dan saling menjauh.


"Lagi pada ngapain nih?" santai pemuda itu menghampiri mereka.


Keduanya merasa gugup "Anu...kita kebetulan saja ketemu di sini" Bagus berusaha berbohong.


"Nggak usah bohong pak saya udah lihat kalian ngapain di gubuk ini" Meraih ponsel lalu memperlihatkan hasil rekaman.


"Hapus nggak kalau tidak..."


"Apa? kalau tidak apa? sekarang gini aja deh kalian mau langsung tak bawa ke pak lurah atau kalian ada cara lain gitu, misalnya nebus pake apa...." Dasarnya si pemuda mata duitan. Pengangguran seperti dia bisa memanfaatkan hal itu untuk mencari uang.


"Oke, oke, kita berdamai saja(menyodorkan uang dua ratus ribu) tolong hapus video itu"


"Eitz....nggak semudah itu dong. Video ini akan ku hapus kalau kalian mau nebus satu juta" Dengan licik si pemuda terus memeras Bagus.


"Berani kamu mengancam ku" Bagus tersulut emosi.

__ADS_1


"Jangan macam macam. Ingat, saya punya kartu as kalian"


__ADS_2