Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Beberapa saat kemudian. Terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Ketiga orang yang tengah minum teh langsung melempar pandang satu sama lain, lalu bangkit "Siapa mbak?" Tanya Bagus kala melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Tuti.


Prasetya sengaja tidak mengantar Nara ke rumahnya, karena permintaan Nara sendiri. Ia tidak ingin langsung pukang karea anak dan ibunya masih di rumah Tuti.


Tuti mengkerdihan bahu "Nggak tau"


Kedua bola mata Luna langsung melongo dengan mulut membentuk huruf O. "Waw.....pajero sport" Wanita mata duitan langsung tercengan melihat mobil mewah itu berhenti di depan rumah Tuti. Segara ia merapihkan rambut seraya melebarkan senyum. Siapa tau orang di dalam mobil itu tertarik padanya. Lumayam bisa menjadi pengganti Bagus suatu saat nanti. Luna juga sudah bosan berhubungan dengan Bagus yang alot sekarang ini. Bagus sudah tidak bisa memenuhi hasrat bercintanya, kadang juga sulit meminta uang. Kalau ada yang lebih kenapa harus menanti yang tidak pasti, mending cari pelarian sebelum lari ketepian. Selingkuhan tidak akan menjadi nyonya dalam kehidupan seseorang. Kalau dia layak di ratukan kenapa manjadi simpanan? kalau dia lebih layak kenapa suka merusak? kalau dia lebih cantik kenapa bersidat menafik? Seseungguhnya orang seperti itu tidak pantas di perjuangkan, sebab kehadirannya bagai benalu. Hanya menumpang hidup saja. Perlahan benalu itu akan membunuh tuannya, lalu mencari tuan yang lain.


(Seharusnya mobil ini parkir di depan rumah gue, ngapain parkir di sini) Luna mulai menghayal tinggi.


Seorang lelaki tampan memakai kemeja biru muda, celana panjang hitam, dan sepatu bermerk keluar dari mobil. Langkah gagah tegap membuat Luna terpesona. "Ya Allah, ganteng sekali ciprtaan mu ini"


Pras tersenyum melihat ke dari kaca mobil. Senyuman manis itu tertuju pada seorang wanita di dalam mobil, tidak lain adalah Nara.


"Senyumannya manis sekali, ganteng pula...." Lirih Luna. Dari pendangan pertama saja ia mulai tertarik dangan Prasetya.


Seperti apa orang itu kalau bergelimang harta, bidadari pun tunduk di hadapannya. Di dunia ini uang jauh lebih berkuasa dari segalanya. Rantai kehidupan tertinggi adalah Uang. Seorang raja saja tunduk padanya(Uang).


"Dia? sepertinya aku pernah melihat dia. Tapi siapa? di mana, ya?" Kembali mengingat siapa lelaki itu. Wajah itu terlihat tidak asing bagi Bagus, tapi dia sedikit lupa.


Pertemuan mereka pertama kali saat acara pertunangan di rumah Nara beberapa tahun yang lalu. Wajar kalau Bagus lupa. Dalam beberapa tahun seseorang akan berubah sesuai masanya. Untuk mengingat kembali pasti akan sulit, apa lagi kalau sudah berpuluh tahun lamanya.


"Nara...." Tuti langsung berlari kala Pras membuka pintu mobil. Terlihat Nara keluar dari dalam mobil. Saat ini Nara masih memakai kemeja Prasetya. Karena bajunya kotor semua.


Awalnya Nara menolak memakai baju itu, tapi Hans memaksa. Sengaja Hans ingin membakar hati Bagus. Seberapa kuat dia menahan emosi kala sang istri memakai baju lelaki lain.


"Siapa lelaki ini kenapa bisa bersama dengan istri ku? Lalu baju siapa yang di pakai?" Guratan di dahi Bagus menunjukkan ketidak sukaannya terhadap Pras. Meski Bagus bukan lelaki baik tapi dia tidak suka kalau Nara dekat dengan lelaki lain. Dari dulu sampai sekarang Bagus itu orangnya cemburuan. Tanpa bukti sedikit pun dia bisa menuduh Nara berselingkuh.


Seperti saat Nara masih di kampung. Saat itu Nara baru saja pulang dari sawah milik saudara. Membantu panen padi. Kebetulan ada seseorang melihat Nara ngobrol sama seorang lelaki yang tidak lain masih saudaranya sendiri. Begitu saja Bagus langsung menuduhnya selingkuh. Sejak saat itu Nara mulai menjaga jarak dengan lelaki lain.


"Kamu baik baik saja, kan? nggak ada yang luka?" Melihat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada luka sedikit pun. Hanya bekas infus di tangan kanan. "Kok bisa sampai seperti ini...." Tuti masih terlihat panik.


"Aku tidak apa apa, mbak. Buktinya sekarang aku ada di depan sampean" Melebarkan senyum. Tanpa sengaja ia melihat Bagus (Melihat wajahnya saja membuatku muak). Kedua tangan mengepal erat. Mengingat betapa kejam Bagus mempermainkan hidupnya.


Segera Bagus menghampiri sang istri"Biar aku bantu" Mengambil alih lengan Nara. Namun di tepis sebelum bisa di gapai. "Nggak perlu. Aku nggak butuh bantuan kamu." Sedikit mendorong badan Bagus menjauh darinya "Mbak, ayo kita masuk.."Pinta Nara.


"Sini biar aku bantu" Menggandeng lengan Nara lalu mereka langsung meninggalkan Bagus begitu saja.

__ADS_1


(Sampai kapan dia bersikap dingin seperti itu?) Bagus mulai kesal dengan sikap Nara.


Tidak lama kemudian datanglah Hans. Tatapan kebencian terpancar dari matanya "Ngapain kamu di sini?" Ketus Hans pada Bagus.


"Aku, itu mas...."


Melepas helm "Seharusnya kamu itu bertanggung jawab atas Nara. Bukan acuh seperti ini. Kalau kamu memang mencintai dia, seharusnya kamu mencari dia sampai ketemu. Bukan malah enak enakan di rumah"


"Sudah hampir semua jalan ku lewati, setiap gang ku hampiri, tetap saja tidak ku temukan dia di mana pun. Aku sudah berusaha mencari..."


"Halah...." Mengibaskan sarung tangan.


Melihat pertengkaran mereka membuat Prasetya tidak enak hati "Bang, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya."Pras memotong pembicaraan mereka.


"Lho nggapain buru buru masuk dulu, kita minum teh. Udah lama juga kamu nggak main ke rumah." Segera turun dari motor lalu merangkul Pras, mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Sial. Pasti mas Hans sengaja mau balas dendam sama aku"


ketika Pras melewati Luna. Perlahan Luna memejamkan mata. Aroma wangi badannnya menusuk sampai ke hidung. (Harum sekali tubuh lelaki ini) Rasa kagum Luna sudah tidak bisa terbendung lagi. Hasrat ingin memiliki mulai tertanam dalam hati. Siapa tidak mengimpikan di peristri lelaki kaya, mapan, dan juga tampan.


"Eh....ngapain bengong" Bagus mencubit lengan Luna kala melihat wanita selingkuhannya itu hampir meneteskan air liur.


Bagus meliriknya dengan lirikan maut. "Nggak usah ganjen. Ingat, kamu itu milik ku" Seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Halah milik ku apanya, simpanan banyak di anggurin buat apa? mending cari selingan dong. Gue masih oke kok. Bisa dong bagi waktu buat dua lelaki sekaligus. Yang penting Cuan, Cuan, Cuan" Bagai mendapat mangsa baru, Luna mulai berangan angan, betapa bahagia bisa mendapatkan lelaki sempurna seperti itu.


"Ikut masuk ah....siapa tau bisa minta nomor teleponnya" Segara ia ikut masuk ke dalam rumah.


"Duduk dulu, biar aku ambilkan minum"Membantu Nara duduk."Kamu mau teh?"


Nara mengangguk sembari tersenyum. Tuti segera menuju dapur.


Hans dan Pras duduk bersebelahan. "Jangan lupa obatnya di minum" Ucap Pras.


Bagus yang baru saja duduk merasa kesal atas perhatian kecil dari lelaki lain. "Nggak usah sok perhatian. Di sini ada suaminya. Kamu tenang saja aku bisa menjaga istri ku" ketus Bagus segara duduk di samping Nara. Nara mulai kesal lalu ia menggeser badan.


"Maaf, saya hanya mengingatkan saja"

__ADS_1


Hans menepuk pundak Prasetya "Kamu tenang saja Pras, Nara itu wnaita kuat. Mau di banting sekeras apa pun dia akan kuat. Iya kan adik ku sayang?"


Nara mengulas senyum getir.


"Ehem...." Luna berdehem seraya mengulurkan tangan pada Prasetya"Boleh kenalan tidak, mas? aku Luna tetangga sebslah rumah mas Hans" Lemah gemulai Luna membuat Prasetya risih. Tapi Parsetya mencoba menjaga sikap di depan keluarga Nara. Menjabat tangan Luna "Saya Prasetya"


Luna tersenyum "Namanya gsnteng kaya orangnya" Genggaman tangan semakin mengerat. Prasetya semakin risih di buat olehnya. Segara ia melepas tangan lalu berlaih muka melihat ke arah Hans "Mas, aku pulang dulu ya"


"Nggak mau main dulu? baru saja mau di buatkan minum kok udah mau pulang saja" Hans ikut bangkit.


"Kapan kapan lagi tak main ke sini, mas. Badan rasanya capek banget. Pengen langsung pulang istirahat, habis itu mau ke makam. Udah lama nggak ziarah" Jelas Pras.


"Makasih ya Pras, aku sudah banyak merepotkan kamu" sambung Nara.


"Nggak masalah. Yang penting kamu jaga kesehatan" Prasetya pun langsung berpamitan.


Setelah Prasetya keluar, Luna ikutan pamit.


(Ngapain sih dia ikutin tuh orang) Bagus masih belum sadar bahwa Prasetya itu mantan kekasih Nara. Yang dia tau dia hanyalah getangga lama saja.


"Aska sama Emak di mana, mas?" Tanya Nara memecah keheningan sesaat.


"Aska menemani emak di rumah. Kami mengira kamu langsung pulang ke rumah, jadi mereka menunggu di sana" Sambung Tuti sembari membawa nampan berisikan benerapa minuman.


"Loh kok udah pada pulang?"


Hans menghempaskan badan di sofa. Kepala mendongak bersandarpada bahu sofa "Biarkan Prasetya pulang. Dari semalam dia tidak tidur. Kasihan dia pasti capek" Ucap Hans.


Bagus memicingkan mata."Kenapa tidaka da yang memberitahu ku kalau Nara masuk rumah sakit?"


Nara mengepalkaan tangan "Apa perduli kamu"


tatapan bagus beralih pada Nara "Aku ini masih suami kamu lho. Aku berhak atas dirimu"


"Oh....kamu udah nggak sabar ya menunggu ststus daru dari pernikahan kita. Tenang saja tidak lama lagi status di ktp kita akan berbeda" Nara bangkit "Mas, antar aku pulang"


"Tidak usah, mas. Biar sama aku saja" Menarik paksa tangan Nara keluar dari rumah.

__ADS_1


"Jangan. Biarkan mereka selesaikan masalah mereka sendiri" Turi meraih lengan Hans kala hendak menghpiri mereka. Dari dalam rumah terldengar suara keributan. Namun, Tuti tidak mau Hans ikut campur terlalu dalam lagi.


__ADS_2