
Dari dalam terdengar seperti suara vas bunga terjatuh. Hans langsung beranjak hendak melihat ke luar "Lho kok kamu sudah pulang, cepat sekali..." Tanya Hans kala melihat sang adik memasuki rumah. Hans melihat air mata terurai di wajah manis sang adik "Nara, kamu kenapa?" Seraya menghampiri.
Nara tidak menjawab dan langsung menuju kamar mandi.
Brak....
Terdengar suara pintu di tutup dengan keras.
"Astaga...." Hans terkejut.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa......" Nara berteriak sekuat tenaga. Sebisa mungkin ia luapkan sakit itu. Saat ini semua amarah, kecewa, sakit hati, meluap menjadi satu jeritan kesakitan. Di dalam kamar mandi Nara luapkan semuanya sampai dia tidak perduli apa kata orang sekitar. Segera mengambil air dingin dari bak lalu mengguyur kepala "Setan, iblis, jahanam, kalian memang bukan manusia" Kalimat kotor keluar dari mulut manis Nara.
Seseorang akan lepas kendali kalau jiwa mereka tengah terluka. Dalam emosi, setan ikut berperan penting di dalamnya sehingga hati yang bagaikan air bisa berubah menjadi lautan api.
"Nara, buka pintunya...." Ujar Hans dari luar kamar mandi.
"Darah ku serasa mendidih mendengar semua kebenaran ini."
Byur....Byur....Byur...
Gayung berisikan air terus menghantam dari ujung kepala. Air serasa bagai bara api, panas dan menyakitkan. "Aaaaaaaaa........"
"Ada apa itu?" Beberapa orang langsung keluar mencari sumber jeritan. Setelah beberapa kali jeritan itu masih menggema dan ternyata berasal dari rumah ibu Sumiati. Mereka mengendap endap di belakang rumah.
"Suaranya dari dalam rumah mbah Sumi. Kita lihat yuk takut terjadi sesuatu sama mbah Sumi" Ucap ibu Parti, tetangga dekat.
"Nggak mungkin kalau mbah Sumi kenapa napa. Tadi pagi aku masih melihat beliau terapi di samping rumah kok"
Sarah baru saja keluar rumah langsung menghampiri mereka "Bu tadi itu suara Nara, bukan sih?"
Salah satu warga mengacungkan jari telunjuk dekat bibir "Sssttt....sepertinya sih iya, dek Nara yang teriak. Tapi, kita belum tau ada apa gerangan sampai dia menjerit histeris"
"Paling Nara sudah tau kalau suaminya ada main sama Merry" Celetuk Sarah.
__ADS_1
"Wah bisa jadi itu. Nara pasti ngamuk besar sama Bagus...."
"Ya jelas marah lah. Mungkin kalau aku di posisinya sudah tak hancurin mereka berdua. Tak lempar air cabe biar pada kapok, atau Bagus tak kebiri langsung aja." ujar salah satu warga yang menguping di belakang rumah Ibu Sumiati.
Sarah memukul lengan beliau "Hus....emang hewan di kebiri, ngawur sampean ini"
"Ngapain kalian di situ, mau nguping ya?"Datanglah Tuti yang baru saja sampai. Tubuh gempal membuatnya kesulitan berlari, jadi dia agak lama di jalan.
"Eh mbak Tuti. Nggak kok mbak, kita lagi....em, lagi mau cari daun pisang buat kasih makan kambing" salah seorang mencoba berkelit supaya Tuti tidak curiga.
"Kalian ini hobi banget lihat tetangga lagi susah. Kalau kalian di posisi Nara pasti sudah gantung diri. Tolonglah jangan kepo sama urusan orang" Tuti malah terbakar emosi sendiri melihat kelakuan para tetangga.
Begitulah hidup bertetangga, susah senang jadi perbincangan hangat. Apa lagi kalau ketemu sama tetangga julid, ampuh deh bukan main. Terkadang masalah sesungguhnya A sampai ke telinga yang lain sudah Z. Jadi wahai para tetangga julid ketahuilah, hakmu bukan mencari kesalahan orang lain karena kita bukan hakim, tapi hakmu menjaga lisan supaya tidak menimbulkan petaka. Mulut kita bisa mengantar ke surga atau justru menenggelamkan dalam api neraka. Tergantung cara kita menjaga lisan.
"Pulang sana. Nggak tau orang lagi sedih apa ya"
Mereka langsung pergi.
"Ya Allah....Nara pasti terluka"
Dengan nafas tersengal Tuti menghampiri suaminya yang berdiri di samping kamar mandi mencoba berbicara dari luar tapi tidak di respon oleh Nara.
"Buk...kenapa Nara pulang dari rumah bulek Siti langsung ngamuk? ada apa sebenarnya?" Tanya Hans.
"Tadi pas di sana Bulek Siti malah kelepasan bicara tentang perselingkuhan Bagus, tentu dia langsung marah mas." jelasnya sedikit tergesa.
Nara turus menyiramkan air dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Serasa ubun ubun mau meledak, juga aliran darah serasa mendidih. Dengan masih berpakaian lengkap ia sirami diri nan luka. Kedua mata terpejam. Cara Nara ini bisa sedikit meredam kemarahan sementara waktu. Memang tidak bisa menyembuhkan luka tapi lumayan bisa meringankan beban.
"Ya Allah....." kembali Nara berteriak sekuat tenaga. Bahkan gayung berisikan air di banting sampai pecah menjadi dua bagian. "Kenapa takdirku seburuk ini, apa salah hidupku...." Kaki perlahan melemah perlahan bersimpuh sembari terus meratapi kesedihan. Air mata bagaikan sebuah air terjun yang terus mengalir tanpa henti.
"Nara, keluar dulu kita bicarakan semua di luar" Ucap Hans dari balik pintu.
Saat ini diri Nara seolah tengah di kuasai setan, telinga serasa tuli. Hanya kalimat menyakitkan dari bulek Siti yang terus terdengar di telinganya. Segera Nara menutup kedua telinga "Tidak, semua tidak benar, semua hanya mimpi." menggeleng berulang kali berharap semua hanya sebuah mimpi.
__ADS_1
Dari Luar Tuti dan Hans terus mencoba berbicara pada Nara, akan tetapi Nara tidak merespon mereka.
"Dobrak saja pintunya, mas. Aku takut kalau Nara sampai kenapa napa..."
"Jangan lakukan itu. Biarkan Nara melampiaskan amarahnya terlebih dahulu, setelah hati merasa lega dia akan keluar. Aku kenal watak anak ku, dia tidak akan berbuat nekat. Percayalah, dia akan baik baik saja" Ucap Ibu Sumiati.
"Tapi saat ini Nara tidak dalam kondisi stabil, mak. Bagaimana kalau dia sampai berbuat nekat" Tuti tidak bisa menyembunyikan kepanikannya itu.
"Benar kata Emak. Lebih baik kita tunggu sampai dia keluar" Hans pun mengajak mereka duduk di ruang tamu seraya terus menatap pintu kamar mandi. Berharap pintu itu segera terbuka.
"Apa yang harus aku katakan..." Di dalam kamar, Bagus mondar mandir ketakutan. Dia mendengar teriakan Nara yang artinya Nara sudah mendengar kabar perselingkuhannya. Menatap sebuah foto keluarga "Bagaimana ini...?"
"Mas, ini sudah hampir setengah jam tapi Nara belum juga keluar. Aku takut mas kalau dia...." Ucapan Tuti terpotong kala melihat pintu kamar mandi terbuka. Dari dalam sana terlihat Nara basah kuyup dengan rambut terurai "Nara...." Tuti langsung berlari ke arahnya.
Hans dan ibu Sumiati langsung melihat ke arah Nara. Sigap Hans melihat handuk di jemuran langsung meraih lalu melingkarkan di badan sang adik. "Aku kecewa sama kalian semua..." Tatapan amarah Nara terpancar jelas. Hans mengulurkan tangan hendak menyentuh bahunya tapi Nara langsung menepisnya. "Nggak usah sok empati kamu, mas. Kamu itu abang kandung ku, kenapa kamu menyembunyikan semua dari ku. Jahat kalian semua...." saat ini Nara masih dalam pengaruh kemurkaan.
Hans memeluk paksa sang adik meski ada perlawanan keras darinya tetap saja Hans memeluknya dengan erat.
"Kamu jahat mas...." Tangis Nara semakin kuat dalam pelukan Hans.
Tuti dan Ibu Sumiati ikut menangis melihat kesakitan Nara.
"Sabar ya Ra semua pasti ada hikmahnya. Tuhan tidak menguji manusia di luar natas kemampuan." ucap Tuti sembari mengusap punggung Nara lalu ikut memeluk.
"Kalian semua jahat. Kenapa kalian sembunyikan semua ini dari ku? aku berhak tau kebenarannya."
Hans merasakan detak jantung Nara sangat kencang dan air mata pilu terus membasahi kedua pipi.
"Mas tau saat ini kamu sedih, terluka, kecewa, marah, sakit hati. Tapi bukan maksud ku menyembunyikan semua dari kamu, hanya saja mas tidak mampu melihat mu terluka seperti ini." Meraih wajah sang adik "Menangislah sebanyak yang kamu bisa. Mas mu ini selalu ada di samping mu" Mencium dahi sang Adik.
Hik....hik...hik..
"Kenapa semua harus terjadi padaku, mas, kenapa? apa salah ku sampai di sakiti sekejam ini" Air mata kembali luruh tak terbendung.
__ADS_1