
Bagi seorang anak harta terbesar adalah kebahagiaan seorang ibu. Di setiap senyum yang melebar terdapat sebuah anugrah terindah. Jika hati sang ibu sengaja di lukai oleh siapa saja, pastinya sang anak akan merasa jauh lebih sakit. Kuat lemahnya seorang anak ada pada seorang ibu. Seorang ibu bagaikan malaikat tak bersayap, yang akan selalu melindungi mereka dari kejamnya dunia. Dalam keadaan seperti apa pun tetap saja yang pertama di cari seorang anak bukan ayah, pacar, atau pun teman, melainkan dia. Jika sedikit saja air matanya jatuh pertama kali orang yang meminjamkan bahu adalah anak mereka sendiri.
Selama seorang ibu masih berpijak di bumi, masih bisa di sentuh, masih bisa di ajak bicara, buat mereka selalu bahagia. Sejatinya ibu adalah jantung kehidupan bagi semua anak. Percayalah, tanpa beliau kita semua bukan apa apa.
Sesampainya di rumah, Nara buru buru masuk ke dalam rumah. Dia sampai tepat pukul tujuh malam. Ketika dia masuk Aska langsung berlari ke arahnya.
"Ibu.....Aska kangen sekali sama ibu" memeluk erat.
Nara meletakkan tas lalu menggendong Aska "Aska kan anak pintar, nggak boleh rewel kalau ibu pulang kampung. Kasian mbah uti lagi sakit nggak bisa jalan..." Mengusap ujung kepal Aska seraya menciuminya.
"Tapi Aska kangen sama Ibu. Aska nggak mau sama bapak, bapak jahat. Tangan Aska sampai di ikat sama tali sepatu..." Anak kecil biasanya akan langsung mengadu sama ibunya ketika dia merasa di sakiti oleh seseorang.
"Oh iya? Pasti Aska bendel ya sampai bapak hukum Aska seperti itu?"
"Tidak, Askta tidak bandel cuma Aska nangis cariin ibu"
"Halah bohong dia buk, orang Aska ngamuk sampai Mbak Eca tangannya berdarah kena pecahan gelas....." Sambung Andra yang baru saja keluar dari kamar.
Nara langsung menatap Aska "Aska sayang nggak boleh seperti itu, nak. Kalau Aska masih suka teriak teriak sama ngamuk ibu marah sama Aska. Ibu nggak mau lagi ngurusin Aska...."
Seketika saja Aska langsung memeluk Nara "Tapi kan Aska mau ikut ibu"
"Dasar anak manja" Celetuk Andra.
Deg....
Ucapan Andra seakan menyadarkan Nara atas kesalahan dalam mendidik putra bungsunya itu. Tidak di pungkiri kasih sayang Nara cenderung berlebihan. Sebab, dia berpedoman pada kepahitan di masa lalu. Di mana dia begitu sulit mendapatkan uang hanya demi menyenangkan anak. Namun siapa sangka semua itu justru merusak anak itu sendiri.
(Apa benar semua ini salah ku? apa aku salah telah memanjakan Aska?)
Sekarang Nara sadar bahwa dia terlalu memanjakan Aska, sampai perlahan menjadikan Aska pribadi yang lemah. Memanjakan sama saja membunuh karakter seorang anak.
"Oh iya di mana bapak kalian?"
Dengan malas Andra menjawab "Paling nongkrong di tempat temannnya"
"Bos kok tumben mukanya suntuk kaya begitu? ada masalah apa?" Seorang penjual martabak yang juga adalah sahabat dekat Bagus, menepuk pundaknya beberapa kali.
Bagus menghisap rokok beberaka kali "Kesel gue bro anak lagi sakit tapi bini nggak pulang pulang, malah milih ngerawat emaknya. Padahal kan Aska lebih butuh dia ketimbang Emak."
__ADS_1
Alex(penjual martabak) mengernyitkan kening "Lho kok jadi pilih memilih sih? seharusnya antara anak dan ibu sama sama punya tanggung jawab yang besar. Mbak Nara nggak mau pulang pasti ada sebabnya, iya kan bro?" Orang lain saja tau sifat dasar Nara, tapi kenapa Bagus tidak bisa memahami posisi Nara saat ini. Kalau di bilang terlalu Egois ya memang seperti itu kenyataannya.
"Emaknya sakit katanya sih struk"
Alex geleng kepala "Ya jelas mbak Nara nggak bisa ninggalin Emaknya, dalam kondisi seperti itu siapa sih yang tega ninggalin orang tua yang lagi sakit. Lagi pula kan di sini ada elu bro, sedangkan di sana nggak ada siapa saipa. Masa iya lu nggak bisa jaga anak lu sendiri...."
"Kalau dia bisa menjaga anak nggak mungkin dia malah duduk di sini, ngobrol, enak enak makan martabak, sedangkan anaknya di rumah lagi sakit" Entah datang dari mana, tiba tiba Nara sudah ada di belakang mereka. Sontak Alex menyeringai "Bukan aku lho mbak yang nyuruh mas Bagus ke sini"
"Lho kok kamu di sini? katanya nggak pulang..." Bagus langsung bangkit lalu menarik sang istri menjauh dari kumpulan teman temannya. Kebetulan jarak dari warung ke tempat tukang martabak tidak terlalu jauh, jadi Nara langsung berjalan kaki ke sana.
"Keterlaluan kamu ya, mas. Anak di rumah lagi sakit bukannya nemenin anak malah kelayapan di sini. Aku nggak abis pikir deh mas sama kamu, kok bisa gitu lho malah ninggalin anak yang lagi sakit terus kamu malah nongkrong di sini sama teman teman kamu.....kemana hati nurani kamu sebagai seorang bapak?" Kemarahan Nara meledak seketika. Banyak pasang mata melihat pertengkaran mereka.
"Lagian slalah si Bagus juga sih, sudah tau anaknya sakit tetap aja dateng ke tempat elu" ujar salah satu pedangan di sebelah Alex.
"Lah yang penting bukan gue yang suruh dia di mari... masa iya gue langsung usir dia gitu, kan nggak mungkin." Sangkal Alex.
"Tapi emang nggak ada akhlak tu bapak. Tau anak sakit malah kelayapan...." Celetuk seorang wanita paruh baya.
"Hus....sudah, sudah, nggak baik gibahin orang." Salah seorang pedagang lain melerai beberapa orang yang tengah menyaksikan Nara dan Bagus tertengkar hebat.
"Kenapa kamu menyalahkan aku? di mana kamu saat Aska sakit? harusnya sebagai seorang ibu kamu selalu ada buat dia, bukan malah ninggalin dia" Kecam Bagus yang tidak mau di salahkan.
Plak....
Satu tamparan keras mendapat di wajah Nara. Di depan umum teganya Bagus menampar sang istri "Jaga bicara kamu..."
Nara pun langsung berlari pulang.
Alex menghampiri Bagus "Bro, apa yang elu lakuin? kejar bini lu, jnagan sampe dia tambah marah"
Bagus masih terdiam seraya melihat telapak tangannya yang tadi menampar sang istri.
"Gus, Bagus...." Alex menghuyung tubuh Bagus hingga dia tersadar. Bagus langsung naik motor dan pergi dari sana.
"Sampai di rumah bisa perang dunia itu nanti..." Celetuk beberapa orang.
"Lho ibuk kenapa?" Andra melihat sang ibu terus memegangi pipi. Mata terlihat sembab dan masih tersisa bercak air mata.
"Nggak apa apa..." Nara langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia luapkan rasa sakit hatinya di sana.
__ADS_1
(Seperti inikah sifat kamu selama ini, mas? aku tidak menuntut mu menjadi suami yang baik tapi setidaknya kamu bisa menjadi bapak yang baik untuk anak anak)
"Ibu di mana Ndra?" Tanya Bagus.
Andra sedang bermain game di teras depan rumah bersama teman temannya "Ada, baru saja masuk..." mata Andra terfokus pada sebuah game.
Bagus membuka pintu kamar namun hanya ada Aska yang lagi melihat siaran tv "Ibu di mana dek?"
"Nggak tau..."
Bagus pun langsung menuju dapur.
Tok....tok....tok...
"Buk maafkan bapak ya, tadi bapak nggak sengaja berbuat kaya gitu. Bapak minta maaf ya buk" di depan pintu kamar mandi Bagus terus meminta maaf. Nara masih belum bisa menahan air matanya.
"Buk buka dong bapak mau ngomong" Berulang kali pintu di ketuk tetap tidak ada jawaban.
"Kayanya nyokap bokap lo lagi berantem tuh Ndra...." Salah seorang teman Andra melihat Bagus menggedor pintu kamar mandi. Sontak Bagus langsung menoleh "Sudah menjadi makanan sehari hari gue kalau cuma begituan..."
"Kita pamit pulang ya bro nggak enak sama nyokap bokap lu" Semua teman Andra langsung pergi.
Ketika Andra masuk di lihatnya sang ayah hendak memeluk sang ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Lepas..." Nara mendorong Bagus sampai tersungkur.
"Andra?" Nara menyeka air mata melihat putra sulungnya menyaksikan pertengkaran itu.
"Kenapa sih setiap hari kalian ini bisanya cuma ribut, ribut, dan ribut. Malu pak buk sama tetangga" Ujar Andra sangking geramnya.
"Jaga mulut kamu..." Lagi lagi Bagus heendak main tangam pada putra sulungnya. Namun, Nara lebih dulu menangkis tangan Bagus.
"Mau sampai kapan kamu kasar sama anak istri? kalau udah nggak nyaman sama kita ya udah silahkan, pintu masih terbuka lebar" Sudah sering Nara menyaksikan Bagus menghajar Andra dengan tanpa sebab.
"Terus saja kamu bela anak kesyangan kamu ini...." Bentak Bagus.
"Cukup! sudah cukup aku bersabar selama ini, mas. Oke, nggak apa kamu nyakitin aku mau pukul aku terus menerus, tapi ingat (Mangcubgkan jari telunjuk) sedikit saja kamu melukai anak anak ku, maka hadapi aku terlebih dahulu." Kalau sudah menyangkut anak anaknya, seorang ibu bisa menjadi Boom yang siap meledak kapan saja.
"Kalian semua sama saja...." Bagus langsung meninggalakn mereka.
__ADS_1