Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Salah Langkah


__ADS_3

Tok....tok....tok...


Eca mengetuk pintu rumah sekaligus warung. Berulang kali mengetuk pintu, tapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu.


"Aduh mas Andra ini kemana sih? di telepon nggak bisa di gedor juga nggak nyaut. Tuh anak kemana sih"Kesal Eca yang sedari tadi berdiri depan pintu.


Melihat Eca berdiri di depan pintu, seorang lelaki menghampirinya "Kenapa mbak?" Tanya seorang penjual bubur di sebalah warung. Beliau buka di pagi hari dan tutup sekitar jam sepuluh siang.


"Itu lho mang anak majikan di telepon nggak di angkat, di gedor nggak jawab. Apa dia keluar atau kemana ya kalau sampean tau...."


Mang Edi, penjual bubur mengkerdikan bahu "Dari pagi ndak lihat siapa pun keluar dari dalam warung tuh, mbak. Mungkin belum bangun kali"


Eca terus berusaha menghubungi Andra meski tidak membuahkan hasil sama sekali "Mas Andra gimana sih nanti kesiangan sekolahnya" Eca mondar mandir depan pintu sembari mencoba menelepon Andra.


"Coba gedor lagi aja mbak, siapa tau mas Andra bangun" Ucap mang Edi.


Eca pun mencoba menggedor lagi. "Ya Allah nih anak kalau udah tidur kok ya susah bangunnya"


"Mas sudah...." Seorang pelanggan bubur mang Edi memanggilnya. Hendak membayar semangkuk bubur yang telah ia makan.


"Mbak Eca maaf ya ndak bisa bantu. Lagi rame soalnya" Menunduk kepala seraya melebarkan senyum. Mang Edi terkenal peramah dan suka menolong.


Eca pun menunduk seraya mengangguk"Tidak apa apa, mang. Maaf lho sudah mengganggu waktu sampean"


Sembari berjalan ke arah grobak, mang Edi berkata "Alah mbak Eca ini kaya sama siapa saja"


"Kenapa, Ed?" Tanya salah satu pria paruh baya yang duduk, tengah makan bubur. Beliau adalah anak pemilik kontrakan yang saat ini di tempati Nara.


Sembari meraih uang dari salah satu pelanggang "Anak bu Nara di bangunin susah banget. Kasihan mbak Eca dari tadi berdiri di depan pintu" Jelas Mang Edi seraya memberikan uang kembalian pada pelangan buburnya.


"Makasih Mang" Ucap seorang santun.


"Ya, sama sama. Datang lagi ya" Setelah itu Mang Edi duduk di samping pria paruh baya tadi. Sebut saja Pak Agus. Setiap pagi beliau sarapan di tempat mang Edi.


"Heleh....di gedor sekeras apa pun nggak bakal keluar, orangnya aja kagak ada"


"Memangnya kemana, pak?"


Pak Agus menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya sendiri. "Semalam Andra sama beberapa teman laki laki keluar. Penasaran tengah malam keluar, lalu aku mengekor mereka. Dan kamu tau kemana dia pergi...." Mencondongkan badan sembari berbisik.


"Ah....yang bener pak. Nggak baik lho pak bicara sembarangan, nanti jatuhnya fitnah."


"Aku lihat sendiri sampai mengikuti mereka. Dan tau nggak dia itu kemana? ke tempat hiburan malam"


Sontak mang Edi terkejut "Yang benar saja kamu mang? masa sih anak sekecil itu udah main ke tempat kaya gitu"

__ADS_1


Mang Edi mencondongkan badan seraya berbisik "Bisa bisa anak itu salah pergaulan. Bahaya di masa seperti itu bisa merusak masa depan anak"


"Jelas lah. Salah bergaul sedikit saja bisa rusak masa depannya"


Tin....


Tak berapa lama datang dua pemuda berboncengan. Salah satu di antara mereka melebarkan senyum "Mbak Eca ngapain pagi pagi udah ke sini?" Tanya Andra.


"Mas Andra kemana saja, di telepon dari tadi nggak di angkat?"


Andra segera membuka pintu "Aku tidur di tempat teman, mbak. Jenuh di rumah sendirian." Jelasnya.


"Bro, gue pulang duluan ya" Teman Andra langsung pergi.


Eca melihat ada yang aneh dengan teman anak majikannya itu. Pemuda dengan tato hamir di seluruh tubuh, Kedua mata memerah. Eca mengendus bau sesuatu."Bau apa ini..." Bau itu berasal dari badan Andra.


"Kamu mabuk ya, mas?" Bau alkohor menyeruak dari badan Andra.


"Nggak kok mbak...." Seraya garuk kepala. Eca memicingkan mata (Kalau di biarkan akan berdampak buruk bagi masa depannya).


"Ya sudah cepat masuk. Udah jam berapa ini kok belum siap berangkat sekolah" Mereka masuk ke dalam rumah.


"Mbak....aku libur aja ya, badan ku kaya mau meriang"


"Terserah. Nanti tinggal bilang sama ibu kalau mas Andra habis main sama teman terus nggak mau sekolah alasan sakit. Dah beres"


"Ya sudah kalau mas Andra sakit ngapain sekolah. Biar nanti tak telepon ibu biar kasih tau kepala sekolah" Ucapan Eca setengah mengancam.


"Jangan bilang sama ibu dong, mbak. Nanti aku malah kena marah" Pinta Andra.


"Nggak bisa gitu. Mbak di sini itu di suruh sama ibu buat memantau kamu. Ibu juga sudah bilang kan sama mas Andra, kalau sampai keluyuran malam apa akibatnya."


Sontak Andra ingat kata kata sang ibu. Jika dia sampai melanggar maka hukumannya di pindah sekolahkan ke pondok pesantren.


"Iya deh iya aku sekolah. Tapi, buatin sarapan dulu aku lapar" Mengusap perut berulang kali.


Bau alkohol masih tercium dari mulut Andra.


"Iya. Sekarang mandi sana udah jam berapa ini" Melihat jam dinding menunjukkan setengah tujuh. Kebetulan jarak sekolah dengan rumah tidak begitu jauh, jadi Andra bisa berangkat kapan saja asal tidak melewati jam masuk kelas.


"Loh kok malah duduk"


Andra tersenyum "Hahaha....aku suka deh kalau buat mbak Eca marah. Emang mbak nggak tau hari ini tanggal berapa?"


Eca memicingkan mata "Tanggal 15, kan?" Melihat kalender di dinding.

__ADS_1


"Ya Allah ternyata tanggal merah" Menepuk dahi.


Andra semakin terbahak melihat reaksi Eca.


"Bilang dari tadi dong, mas. Tau gitu nggak mau aku datang ke warung"


"Mbak Eca kalau lagi manyun jelek kaya ayam di rumah ku" Seketika senyuman Andra berubah menjadi keheningan. Eca melihat sesuatu di wajah Andra. Seperti raut wajah kekecewaan.


"Mas...." menyentuh pundak Andra.


Andra tiba tiba menundukkan kepala.


Eca duduk di samping Andra "Ada apa? kalau mbak Eca salah kata tolong di maafkan, ya" Mengusap perlahan lengan anak majikan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.


"Bukan, mbak. Tapi, Andra kecewa sama bapak. Tega sekali bapak menyakiti kami. Sakit rasanya mendengar dari orang kalau bapak ketahuan selingkuh. Dan tadi malam ada sidang di balai desa. Yang membuat ku sedih bukan bapak di permalukan tapi hari ibu pasti hancur" Semua anak pasti bisa merasakan sakitbyang di rasakan orang tuanya.


"Doakan saja semoga bapak segera dapat hidayah dari Allah dan memperbaiki semua kesalahannya. Doakan juga buat ibu supaya beliau bisa tabah dan ikhlas menerima cobaan ini" Eca sendiri merasa sedih kala mendengar isu perselingkuhan itu.


Andra menyendarkan kepala di bahu kursi kayu "Aku benci sangat membenci bapak. Tega sekali menyakiti ibu yang rela berjuang mati matian demi keluarga, tapi bapak malah bikin malu saja" Terlihat kedua mata Andra mulai berkaca kaca.


"Seburuk apa pun perilaku kedua orang tua kita. Kita tidak boleh membencinya. Bagaimana pun tanpa mereka kamu nggak akan ada di dunia ini"


"Mbak Eca nggak tau bagaimana kelakuan Bapak selama ini, sudah berulang kali aku melihat bapak bersama wanita lain. Apa dia masih pantas di sebut seorang bapak?" bibit kebencian Andra berasal dari perilaku sang ayah. Anak tidak akan membenci orang tua kalau tidak berdasarkan perilakunya.


"Sabar, mas. Kita sebagai manusia tidak berhak menghakimi orang tua kita. Cukup Allah saja yang tau akan seperti apa kisah selanjutnya. Yang paling penting jangan tanamkan kebencian di hati. Tidak baik membenci orang tua sendiri" Ujar Eca mencoba menasehati.


Air mata Andra luruh "Sakit mbak rasanya, sakit" Satu tangan menepuk dada dan satu lagi menjambak rambut.


(Ya Allah, melihat mas Andra menangis seperti ini hati ku ikut sakit)


Beberapa saat kemudian Andra bangkit "Tidak akan ku biarkan bapak menyakiti ibu terus menerus" Tatapan itu membuat Eca tau begitu dalam rasa sakit hingga berubah menjadi kebencian.


Andra masuk ke dalam kamar. Menghempaskan badan ke atas ranjang. Memijat pelan kepala "Rasanya kepala mau pecah"


Andra terlalu banyak minum minuman keras, jadi kepala serasa berat. Di tambah beben pikiran yang terlalu membebani pikiran.


Banyak anak mulai berlari ke dalam hal tidak baik. Semua akibat dari rasa kecewa berlebih sehingga mendorong mereka melampiaskan semua sakit itu dengan minuman memabukkan. Kesalahan terbesar dalam hidup seorang anak adalah kala ia kesulitan mengontrol emosi yang berujung luapan emosi. Bagi mereka dengan menenggak arak bisa mengurangi beban, padahal semua itu justru membuat masalah semakin berat.


"Mungkin untuk saat ini Mas Andra butuh waktu sendiri. Lebih baik aku masak untuknya dulu" Segera Eca membuka kulkas. Ia mengambil beberapa sayuran dari dalam kulkas.


Di sisi lain.


Nara dan Bagus masih perang dingin. Saat ini Nara memilih mengemasi semua pakaian.


"Mau minggat sama selingkuhan mu itu?" Tiba tiba saja Bagus berdiri di samping lemari seraya melipat kedua tangan.

__ADS_1


Nara tidak perduli mau di bilang seperti apa. Yang terprnting saat ini dia bisa peehi dari rumah itu. Melihat wajah Bagus membuatnya muak.


"Enak banget ya habis berduaan semalaman, ketemu mantan langsung jatuh cinta lagi"


__ADS_2