Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kalah Telak


__ADS_3

Selesai meluapkan amarah, Nara kembali ke dalam kamar. Ratapan luka dan kekecewaan terpancar dari wajah ayunya. Bagus masih terdiam diri sedari tadi tidak sedikit pun menggeser atau beranjak dari sana. Badan serasa gemetar kala menjawab satu persatau peetanyaan Nara itu. Untung Nara bisa mengendalikan diri meski masih belum sepenuhnya.


"Mau kemana?" Tanya Bagus kala melihat Nara membuka lemari pakaian.


"Tidak ada" ucap Nara seraya meraih beberapa helai pakaian dari lemari.


"Kenapa semua baju kamu keluarkan?" Heran Bagus.


Nara menghela nafas "Bukankah kamu menolak pergi dari rumah ini? jadi biar aku saja yang pergi" Memasukkan semua pakaian ke dalam tas ransel "Mungkin mulai malam ini aku akan tidur di kamar Aska, atau kamar Emak. Antara kita sudah tidak ada yang bisa di pertahankan"


Bagus menunduk lesu "Apa sudah tidak ada kesempatan lagi bagiku? meski sedikit saja"


Nara hanya menatapnya beberapa waktu lalu kembali mengemas pakaian di lemari.


"Apa kamu tidak kasihan dengan kedua anak kita? mereka masih membutuhkan aku."


Sontak amarah Nara kembali meluap. Tatapan mata mulai tersirat kebencian "Bisa ya mas kamu bicara soal anak? lalu kemana saja kamu selama ini? pernah tidak sebelum kamu melakukan perbuatan itu kemudian kamu mengingat anak, pernah tidak? Kalau memang kamu takut kehilangan mereka kenapa kamu berbuat seperti itu? Kenapa mas, kenapa?" Dengan nada tinggi.


Segera Bagus bangkit dan kembali bersimpuh di hadapan Nara. Kali ini dia menangis. Entah air mata palsu atau memang dia merasa bersalah. "Kalau boleh aku meminta satu hal darimu, tolong kita jangan sampai pisah. Aku ingin menua bersamamu. Bersama dengan anak dan cucu kita nantinya. Aku bersumpah setelah ini tidak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi" Seorang lelaki rela meminta belas asih dari seorang wanita, namun ketika hati sudah menjadi abu, menangis darah sekali pun tidak ada gunanya.


"Cukup! hentikan dramamu ini, mas. Sampai menangis darah pun aku tidak akan mau kembali padamu. Jika memang harus kembali tapi maaf dalam urusan cinta kamu tidak lagi ada."


Semua cukup membuat Bagus ketakutan bukan main. Lepas dari Nara di harus siap banting tulang demi keluarga dan hidupnya sendiri.


"Oh iya, aku sampai lupa. Kembalikan Atm beserta uang yang telah kamu beri pada ***** itu. Sampai Mati aku tidak rela uang ku kai berikan pada orang lain. Pokoknya aku mau uang itu kamu kembalikan. Uang itu hasil jerih payah ku, berhak kalau aku meminta kembali."


Bagus berdiri tepat di depan Nara "Iya. Aku akan mengembalikan uang itu. Sadar sebagai suami aku hanya numpang hidup sama kamu" Dari nada bicara itu terdengar sedikit rasa tersinggung. Nara tidak perduli.


"Oh....syukur kalau kamu sadar" Ketus Nara seraya berbalik badan lalu meninggalkan kamar.


Malam persidangan telah tiba. Semua orang sudah berkumpul di balai desa. Para petinggi juga sudah duduk di tempat mereka. Ada tujuh sakti dalam persidangan itu. Selain anggota keluarga, para petinggi membawa tujuh orang untuk mengamati jalannya persidanga. Bustomi baru saja datang, membawa beberapa sakti mata, sedangkan Nara hanya bersama Hans dan Tuti.


"Dimana dia?" Tanya Bustomi melihat ke arah mereka bertiga. Ia langsung menghampiri Nara "Kenapa dia tidak hadir dalam persidangan? apa dia takut berhadapan denganku?"


Dengan santai Nara menjawab "Ada kok. Tunggu saja sebentar lagi" Sengaja Nara berangkat lebih dulu bersama kedua kakaknya. Mereka menyusun rencara terlebih dahulu sebelum sidang di mulai.


"Di mohon untuk semuanya duduk. Saya juga minta kedua pelaku duduk di depan.." Ujar pak Kades selaku hakim tertinggi.


"Mas, aku takut" Ucap Merry seraya mencengkeram lengan baju Bustomi. Lirikan Bustomi seolah jijik di sentuh oleh Merry. "Apaan sih..." menepis tangan dengan keras. "Berzina saja tidak takut. Dosa di anggap tidak ada. Tapi, manghadapi sesama manusia saja takut. Pergi sana hadapi sendiri perbuatan buruk kamu itu" Sedikit mendorong badan Merry sehingga terdorong maju ke depan.


Semua orang bingung kala hanya Merry yang maju ke depan. "Lho....ini pak Bagus nggak datang apa bagaimana, mbak?" Tanya pak Kades.


Nara angkat bicara"Sebelumnya saya minta maaf, pak. Bapak Bagus berhalangan hadir karena ada keperluan mendadak. Pak Bagus sendiri meminta saya mewakili dia dalam sidang ini."


Bustomi terperanjat seketika "Nggak bisa gitu dong. Seharusnya dia hadir di sini. Sidang ini tentang perselingkuhan dia dan wanita itu(Menunjuk Merry yang tengah duduk di barisan depan) Tapi, kenapa malah nggak datang. Dasar pengecut. Beraninya ngajuin bini"


Bejo langsung meminta Bustomi duduk kembali "Sudah, jangan buat perkara tambah ruwet. Mending kamu diam saja nggak usah banyak bicara"


Bustomi masih kesal. Tujuannya mengadakan sidang desa hanya ingin mendengar penjelasan dari mulut mereka, dan tentu ia ingin melibas Bagus sebisa mungkin.


"Ibu Nara bisa tolong di jelaskan pada kami semua, kenapa pak Bagus berhalangan hadir?" Pak Kades menatap Nara penuh tanya. Dalam hati Nara terus menyebut (Lahaulawalakuata'illabilahilalihiladzim) Sesungguhnya tidak ada kekuatas melebihi kuasa Allah. Nara yakin bahwa Allah akan selalu ada dalam setiap langkah. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan.


"Ada hal yang tidak bisa saya jelaskan di sini, pak. Ada atau tidaknya Pak Bagus, sidang masih bisa di lanjutkan" Jelas Nara.


Hans mengangkat tangan "Mohon maaf, pak. Sebenarnya kami sengaja tidak menghadirkan Bagus dalam sidang ini. bukan tanpa sebab, Tapi kalau Bagus menghadiri sidang hari ini apa ada jaminan keselamatan untuk dia? Bapak perangkat sanggup menjamin keselamatannya?"


Bustomi memukul paha "Kenapa dia ikut campur" Kesal Bustomi. Jika sudah berhubungan dengan Hans akan sulit menang darinya. Hans sendiri tidak hanya pandai berkata kata, tapi juga lihai dalam mengambil titik lemah lawan.


Para petinggi desa saling menatap kemudian berbisik.

__ADS_1


Nara tetap berusaha santai meski kedua tangan teras dingin dan keringat mulai membasahi dahi. Jantung terus berdetak kencang. Serasa sakit masih menancap di dalam hati.


"Oke, Setelah kami rundingkan, kami sebagai petinggi desa tetap meminta dari pihak ibu Nara, untuk segera membawa pak Bagus datang ke ruang sidang. Kami sendiri yang akan menjamin keselamatan pak Bagus" Perangkat desa lainnya lantas bergegas mengawal kedatangan Bagus.


Setelah ucapan itu tentu saja Hans langsung menjemput Bagus dengan di temani dua prangkat desa.


"Ikut aku" Ucap Hans pada Bagus.


"Tapi mas....."Bagus masih menyangga sebuah mangkok berisi mi instan. Sengaja hari ini Nara tidak masak karena ia terlalu sakit sehingga enggan membuatkan makanan untuknya.


(Bisa sekali dia enak makan mi instan di rumah, padahal bini berjuang demi dia. Laki kelakuam garangan nyali ciut kaya kerupuk kesiram wedang(air minum)). Guman slaah satu perankat desa yang ikut mengawal mereka.


"Rasa lapar mu tidak bisa menunda sidang. Ayo cepat naik" Segara Hans menyeret Bagus keluar. Mau tidak mau dia pun langsung pergi bersama Hans dan kedua orang tadi.


Sesampainya di ruang sidang, Bagus langsung di suruh duduk di depan hakim desa.


"Sekarang kita mulai sidangnya" Membuka sebuah file. "Bapak Bagus, apakah benar anda berselingkuh dengan ibu Merry?" Tanya pak kades.


Bagus masih menundukkan kepala "Benar, pak."


"Berapa lama kalian berselingkuh?"


Bagus terdiam sejenak.


"Pak Bagus, kambali saya tanya sudah berapa lama kalian menjalin hubungan terlarang?"


"Tiga Tahun"


Tiba tiba Bustomi bangkit lalu berjalan ke arah Bagus. Langsung meraih krah baju membawa Bagus derdiri sejajar dengannya "Baji**an kamu" Bustomi memukul Bagus dengan sangat keras sampai di ujung bibir mengalir darah segar.


Pak hansip langsung memegang kedua tangan Bustomi "Jangan anarkis dalam persidangan. Kalau tidak kami bisa menghentikan kasus ini" Ancam pak Kades.


"Oke, kita mulai lagi. Selama tiga tahun sudah berapa kali kalian berhubungan badan?" Pandangan pak hakim beralih pada Merry. Setika Merry kelabakan bingung harus menjawab apa "Silahkan di jawab ibu Merry"


"Emm.....tidak tentu pak" Menunduk malu.


"Jadi selama tiga tahun itu kalian bisa berhubungan lebih dari dua puluh kali, atau lebih? benar begitu pak Bagus?" melempar pertanyaan lagi pada Bagus.


Bagus mengangguk. Hati Nara semakin sakit. Air mata hampir tumpah. Tiba tiba saja Hans menggenggam tangan sang adik "Kuatkan dirimu."


Menatap Hans begitu dalam. Tatapan kedua mata itu seolah melolong kesakitan.


"Kamu bisa kuat. Mas yakin itu. Banyak doa jangan sampai lupa...." Tangan Nara terus di genggam erat. Tangan terasa dingin bagaikan balok es.


"Oke. Kalau begitu sudah jelas kalian berdua ada scandal terlarang."


"Di sini kami sebagai hakim desa ingin menyampaikan permintaan dari pak Bustomi selaku suami dari ibu Merry. Beliau menuntut tanggung jawab anda. Dalam gugatan tertera beberapa hal. Satu, beliau ingin anda menikahi Merry. Kedua, anda harus membayar denda sebesar lima puluh juta rupiah kepada pak Bustomi." Jelas pak Kades selalu hakim. Beliau menyampaikan inti dari kasus ini


"Lima puluh juta?" Nara terbelalak. Ketika Nara hendak mengangkat tangan, Hans menghentikannya "Dengarkan dulu seberapa jauh tuntutan Bustomi"


"Saya keberan, Pak. Kalau untuk menikahi dia saya tidak bisa. Saya masih mencintai istri dan kedua anak saya. Lagi pula hubungan kami tidak lebih dari sebatas saling membutuhkan bukan berdasarkan cinta"


Seketika saja Merry bangkit dan langsung menampar Bagus "Jadi selama ini kamu cuma menganggapku sebagai apa?"


"Wah...kalau begini ceritanya pulang pulang wajah si Bagus bonyok" Lirih salah seorang saksi.


"Bukankah memang begitu kenyataannya?"


"Ibu Merry tolong kembali ke tempat" pinta pak Kades.

__ADS_1


Betapa terpukulnya Merry saat mendengar ucapan Bagus. Selama ini yang dia tau adalah Bagus mencintanya begitu juga sebaliknya.


"Perselingkuhan anda ini ada pasalnya lho, pak. Kalau kasus ini sampai di bawa ke meja hijau pasti anda langsung di penjara"Tegas pak Kades.


Nara bangkit "Keberatan, pak. Kalau pak Bagus di penjara saya juga mau wanita itu di penjara juga."


Bustomi ikut bangkit "Nggak bisa begitu. Yang harus masuk penjara itu suami kamu. Dia orang pertama yang menggoda istri ku"


Nara tersenyum "Bukankah pertama kali yang memberi kode adalah ibu Merry sendiri? dia yang meminta pak Bagus datang ke rumah anda. Dia juga bersolek di depan pak Bagus. Bahkan dia bilang kalau anda tidak lagi bisa memuaskan dia, sampai dia cari kepuasan dari orang lain"


Jleb...


Dada Bustomi langsung terasa sakit. Di hadapan semua orang harga diri sebagai suami di pertaruhkan. Para saksi di belakang langsung riuh. Malunya bukan main. Sebagai seorang lelaki kejantanannya di hina sedemikian rupa.


"Tidak hanya itu, istri bapak juga sering meminta Pak Bagus datang ke rumah anda dengan alasan memasang tabung gas, atap rumah bocor, dan lain sebagainya. Benar tidak, ibu Merry yang terhormat?" Dengan nada sedikit di tekan.


Sontak merry terjut. Semua orang geleng kepala kala Merry mengangguk.


"Satu lagi, pak. Dalam gugatan pak Bustomi meminta Pak Bagus membayar denda lima puluh juta, kalau begitu saya juga minta denda sebesar tujuh puluh juta kepada ibu Merry"


Seketika semua orang terdiam. Merry menoleh ke arah Nara.


"Kenapa ibu Merry? anda keberatan? Bukankah anda juga menikmati perselingkuhan ini. Bahkan dalam satu hari anda minta di layani sebanyak dua kali bahkan masih minta lagi. Benar atau tidak ibu Merry?"


"Astaga....ternyata dia hiper ***" ucap salah seorang saksi.


"Pantas saja Bagus tahan sampe tiga tahun, lha mesti goyangannya panas badai.....hahaha" Beberapa orang di belakang langsung menertawakan Mereka.


Saat ini Merry seolah mati kutu. Harga dirinya di ejek banyak orang.


"Bararti bojoku *****" Celetuk Bustomi. Ucapan itu membuat seisi Balai tertawa ngakak. Seorang suami mengatai istrinya sendiri sebagai wanita tidak baik.


"Terserah anda mau menilai dia seperti apa. Yang jelas saya juga minta hak saya selaku korban dari perselingkuhan mereka" Nara mulai tegas dalam mengambil keputusan. Benar apa kata Nara, dia juga korban. Sesama korban berhak menuntut.


"Saya bisa menuntut lebih dari kamu" Ucap Bustomi sembari melempar pandang pada Nara. Kedua mata Bustomi nampak merah. Antara menahan malu atau kalah telak.


"Oh silahkan. Saya juga bisa menuntut lebih" Ungkap Nara.


"Pak Kades yang terhormat, selaku hakim ketua, saya minta ijin bicara dengan ibu Merry"


"Silahkan..." Ucap pak Kades.


"Ibu merry benarkan anda menerima uang beserta gelang emas dari pak Bagus?"


Merry tidak langgung menjawa. Terlihat dia mengepalkam ke dua tangan.


"Habis di libas sama mbak Nara. Hebat benar dia itu, bisa membungkam mulut Bustomi dan menggulingkan kasus ini" Beberapa warga salut dengan ketabahan Nara. Kuatnya dia dalam menghadapi masalah.


"Silahkan anda jawab sejukur jujurnya?" para tetinggi meminta Merry menjawab pertanyaan Nara.


"Iya"


Nara tersenyum "Sudah jelas bukan, kalau pak Bagus tidak bersalah dalam kasus ini. Namanya orang jajan abis manis sepah di buang. Mana ada orang beli jajan bungkusnya di bawa pulang? nggak mungkin ada"


Para petinggi desa langsung berbisik bisik. Dari ucapan Nara mereka pun menyimpulkan bahwa sidang di menangkan oleh keluarga Bustomi.


"Kurang ajar" kesal Bustomi. Karena dia sidah kalah telak langsung saja dia pergi.


"Alhamdulillah" Ucap Nara dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2