Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Penyesalan Hanya Tinggal Penyesalan


__ADS_3

Setelah kejadian itu Bagus segera pergi dengan mengendarai motor matic. Terlihat dia tidak membawa apa pun dan hanya memakai jaket serta helm warna hitam. Sebagian Warga yang masih di luar meneriakinya seperti seorang pencuri. "Hey dia kabur, dia kabur...." Teriak salah seorang warga dari luar. Sontak Bustomi langsung berlari keluar "Berani sekali dia kabur...." Sembari menunjuk ke arah Bagus."Awas nanti kalau ketangkap tak baut babak belur dia...."Telihat Busromi meraih sebuah tongkat terbuat dari kayu yang ada di samping pintu, bekas almarhum ibunya dulu.


"Ada apa itu kok di depan rumah Pak Bustomi ramai orang?" Hendrik baru saja keluar karena terbangun mendengar suara riuh dari luar. Dengan masih memakai sarung Hendrik berlari "Penasaran deh ada apa ya di sana. Emak sama bapak juga nggak ada lagi...." Sesampainya di sana Hendrik langsung bertanya pada salah seorang warga "Pak, ada apaan sih? kok ramai sekali, apa ada maling?" Seraya melihat ke dalam rumah yang terbuka lebar.


"Iya maling bini orang...."


Hendrik kaget bukan main "Waduh memang bini siapa yang di gondol maling? emang ada ya maling bini orang, setau aku maling ayam, maling duit, maling motor, dan barang lainnya. Lah kok ini maling bini orang...." Menggaruk kepala belakang.


"Itu lho Istri Bustomi ketahuan selingkuh sama Bagus. Untung saja Bagus langsung kabur kalau nggak pasti udah habis di gebukin Bustomi" Jawabnya jujur.


"Waw....berita hot ini viralkan dong" Hendrik lalu mengirim pesan pada Fajri.


(Aduh kok bisa ketahuan duluan sih, gue belum sempet kuras duit mereka nih) Begitulah balasan pesan Fajri.


Hendrik mengacak rambut "Oh iya ya benar juga kata Fajri. Aduh hilang deh sumber duit gue...." Lirih Hendrik.


"Apa yang hilang? sumber apa?" Tanya Sarah kebetulan mendengar ucapan Hendrik .


"Eh Tante Sarah, Nggak apa apa kok tan itu tadi gimana ceritanya tan, apa pak Bagus ketangkep basah pas lagi mencangkul sawah bu Merry atau bagaimana?" jiwa kepo Hendrik meronta ronta ingin tau lebih dalam.


"Hus....sembarangan kalau ngomong. Nggak usah kepo deh masih muda pamali kepoin urusan orang tua" Tutur Sarah sembari mencubit pelan lengan Hendrik.


Mengusap lengan bekas cubitan "Aw....Justru anak muda jaman sekarang harus kepo kalau nggak kepo nggak bisa dapet duit"


"Ngomong apa kamu ini lho makin nglantur saja, sudah sana pulang anak kecil tau apa"


"Enak saja di bilang anak kecil, biar kecil gini berisi kali tan..." Ceteluk Hendrik.


"Kalian ini ponakan sama bibi nggak ada akur sama sekali ya, mending kita pulang yuk tontonan gratisnya udah bubar" Ujar salah satu warga.


"Ya udah deh aku juga mau pulang" Beberapa warga khususnya kaum hawa bergegas pulang ke rumah masing masing.

__ADS_1


"Bustomi, tenangkan dulu diri kamu jangan bertindak konyol kaya gini, semua hanya akan menambah masalah nantinya"Ujar Bejo memperingati seraya mengusap punggung Bustomi. Dia berusaha keras menghentikan Anarkisme dalam diri Bustomi sebisa mungkin. Sebagai seorang kakak dia tau bagaimana watak Bustomi kalau sudah marah. Pada dasarnya Bustomi bukan orang baik baik. Dulu dia adalah seorang preman pasar kala hidup di kota, dan dia pernah juga di tangkap polisi dengan kasus penganiayaan. Dari masa lalu kelam itu semua orang tau bahwa Bustomi bukan orang sembarangan. Jika dirinya di lukai sedikit saja maka orang itu tidak bisa lepas begitu saja.


"Lepas mas, biarkan aku kasih dia pelajaran, kalau perlu gue habisin tuh orang" Dengan tatapan penuh kebencian dia terus melihat hingga ujung jalan di mana badan Bagus menghilang.


Bustomi terus memberontak kala Bejo memegangi salah satu tangan dan salah seorang warga membantu memegangi tangan satunya. "Kalian itu nggak usah ikut campur sama urusan ku. Aku mau buat perhitungan sama dia, lepaskan, lepas" Teriak Bustomi.


Manusia di ciptakan dengan akal pikiran yang sempurna, tapi terkadang manusia itu lupa bahwa yang mereka perbuat berakibat fatal di kemudian hari. Perselingkuhan tidak selalu bersifat kekal, dari hubungan terlarang itu akan tumbuh sebuah petaka besar. Sudah banyak orang salah langkah dalam mengambil keputusan hidup mereka, yang justru merusak jalan mereka sendiri. Karena memang benar kata orang, tidak selamanya selingkuh itu indah.


Bughhhhh....


Terpaksa Bejo memukul Bustomi, sebab dia kesal melihat sikap Bustomi yang sudah lepas kendali seperti itu "Marah boleh tapi jangan anarkis. Kamu itu salah besar kalau sampai main hakim sendiri. Lagi pula mereka itu melakukan atas dasar suka sama suka bukan pemaksaan. Salah kalau kamu menghukum salah satu pihak saja. Mending kita bicarakan ini semua di hadapan petinggi desa, biar mereka bantu selesaikan masalah kamu ini" Ucapan Bejo bisa meredam amarah Bustomi.


"Benar apa kata abang mu. Kalau sampai kamu melukai dia atau bahkan melenyapkan dia dari muka bumi, berarti kamu tidak sedang memberinya pelajaran, justru kamu malah membebaskan dia dari masalah. Kalau menurut aku lebih baik kamu kasih hukuman jangka panjang sama dia sampai dia sendiri merasa enggan hidup mati pun tak bisa." Ujar salah seorang warga.


(Benar juga kata mereka. Kalau aku sampai berbuat nekat justru itu malah membebaskan dia dari tanggung jawabnya)


Perlahan Bustomi bisa mencerna ucapan mereka.


"Kenapa semua jadi seperti ini?" Di dalam kamar Merry masih meratapi nasib. Dia menangis seorang diri, tidak ada satu orang pun yang mau menemaninya dalam kondisi saat ini. Banyak orang malah semakin menjauh karena kesal dengan perbuatannya. "Kalau pun nanti aku di usir dari sini aku mau ikut siapa...." Mengingat bahwa kedua orang tua angkat Merry telah lama meninggal dan tidak meninggalkan warisan sepeser pun, sebab dulu mereka hanya tinggal di rumah kontrakan. Merry dulu hanya anak pungut yang di ambil dari panti asuhan oleh sepasang suami istri yang sudah lama ingin menimang momongan. Karena salah satu dari mereka ada yang mandul akhirnya memutuskan mengadopsi anak dari panti.


"Aku nggak bisa tenang mas kalau melihat wajahnya(Merry) emosi ku langsung meledak" Memperagakan kekesalan terbesarnya.


"Begini saja mas mending sampean di rumah mas Bejo dulu sementara waktu untuk menenangkan pikiran."


"Benar apa kata mas Sunardi, mending kamu ikut aku pulang dulu." Mereka pun langsung menuju rumah Bejo.


"Mas aku mohon ampun...." Tiba tiba saja Bagus bersimpuh di kaki Hans yang kala itu baru saja membuka pintu rumah. Hans kaget bukan main melihat Bagus sudah bersimpuh seakan bersujud padanya.


"Ada apa mas?" keluarlah Tuti. "Bagus? ada apa ini?"


Bagus tidak berani bangkit, melihat wajah mereka saja dia tidak mampu "Maafkan aku mbak, mas. Aku mohon ampun"

__ADS_1


Tuti dan Hans saling menatap "Ada apa sih mas?"Tuti masih bingung apa yang sedang terjadi sampai Bagus bersujud di kaki mereka.


Hans membantu Bagus berdiri. "Ada apa ini? coba jelaskan dulu, kami tidak paham maksud kamu" Membawanya masuk ke dalam rumah.


Bagus masih menunduk.


(Ini si Bagus kenapa ya kok sepertinya dia ketakutan begitu) Tuti manaruh curiga hingga tanpa sengaja dia melihat luka memar di wajah Bagus. "Eh kenapa wajah kamu memar begitu?" Dari samping hanya terlihat sebagian kecil mamar saja. Setalah Bagus menatap mereka betapa terkejutnya mereka kala itu "Astaga, Bagus kamu kenapa? ulah siapa ini sampai wajah mu penuh mamar seperti ini" Ada beberapa titik memar di wajah Bagus.


Tiba tiba saja Bagus menangis sembari kembali berjongkok di depan Hans "Tolong maafkan aku mas, ampuni kesalahan ku, lindungi aku." Bagus tidak mampu berkata jujur pada Hans.


"Katakan dengan jelas jangan seperti ini"


Bagus mendongak "Aku ketangkap basah saat berselingkuh dengan Merry."


Deg...


Seketika hati Hans terasa nyeri. Ternyata kecurigaan Nara selama ini benar adanya. Terbukti sudah semua gosib yang beredar luas.


"Apa kamu bilang?" Tuti Astuti selaku kakak ipar merasa terkejut dengan pengakuan Bagus.


Plak...


Tuti menampar Bagus "Kurang ajar sekali kamu Gus...kamu tau kan istri mu banting tulang dari pagi hingga larut malam, demi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, tapi kamu malah selingkuh dengan Merry. Dasar laki laki nggak punya hati kamu" Tuti marah besar. Sesama wanita dia juga merasa sakit atas sikap Bagus.


"Iya mbak kamu benar. Aku memang suami tidak tau malu, hidup numpang istri tapi aku malah selingkuh di belakang dia. Aku menyesal mbak, aku minta ampun." Meraih kaki Tuti meminta pengampunan.


"Jangan sentuh kaki ku dengan tangan kotor kamu itu, minggir" Melepas tangan Bagus lalu Tuti masuk ke dalam kamar. Melihat wajah Bagus ia ingin sekali memukulnya sampai puas.


"Mas....tolong aku, bantu aku kabur dari Bustomi, lindungi aku, sembunyikan aku di rumah mu ini, aku mohon" Bersujud di kaki Hans.


"Aku tidak bisa membantu kamu. Semua terjadi atas kesalahan kamu sendiri. Hadapi semua masalah yangbkamu ciptakan ini sendiri, jangan malah sembunyi. Kalau kamu berani selingkuh artinya kamu sudah tau konsekuensinya akan seperti apa,dong? Lagi pula aku sendiri juga marah sama kamu, bisa sekali kamu menghianati adik ku, tega kamu ya. Sebagai seorang suami kurang enak apa kamu ini? minta duit langsung di kasih, nggak usah capek kerja semua sudah beres. Nara hanya minta tolong satu hal sama kamu, Jaga Emak. Hanya itu saja. Tapi kamu malah menjaga istri orang, dasar tidak tau diri" Hans langsung menyeret Bagus keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Mas tolong bantu aku, aku mohon mas. Cuma kamu satu satunya orang yang bisa bantu aku" Berulang kali meminta belas asih Hans tapi percuma saja Hans tidak mau membantunya.


"Percuma saja kamu memohon bantuan ku. Sampai nangis darah pun aku tidak sudi menolong mu"


__ADS_2