Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Sampah Masyarakat


__ADS_3

Esok hari semua orang berkumpul di rumah Tuti membantu masak di sana.


"Ibu ibu pada tau nggak sih, tadi malam aku sama mas Bejo itu lihat si Bagus ngintip di rumah Merry lho. Untung saja mas Bejo nggak mukul dia dari belakang, Mas Bejo itu ngiranya kalau dia mau maling, eh nggak taunya si Bagus" Ucap Maimunah. Kebetulan pada malam itu dia melintas di depan rumah Merry bersama sang suami. Maimunah baru saja pulang dari kampung sebelah. Sekitar pukul sebelas malam Maimunah beserta suami terkejut melihat seseorang mengintip dari balik cendela. Bejo (Suami Maimunah) mengira laki laki itu adalah maling tapi saat di dekati ternyata itu Bagus. Sangking panik aksi Bagus di pergoki kakak kandunh Merry, Bagus pun beralasan hendak membeli rokok. Maimunah tidak percaya sebab dia tau bagaimana kelakuan mereka di belakang.


"Ya emang maling, kan? bini orang main serong namanya apa kalau bukan maling" Cetus Sarah.


"Bukan maling kali tapi pada dasarnya memang mereka itu suka sama suka nggak ada unsur paksaan lho" Sambung salah satu warga yang ikut membantu acara di rumah Tuti. Para warga setempat akan berkumpul di acara hajatan warga sekitar, bergotong royong saling bahu membahu.


Sarah jadi teringat sesuatu "Aku pernah juga memergoki mereka pas malam hari. Pada saat itu aku hendak membeli obat nyamuk, aku kira Merry kemana kok lampu depan mati, terus pas aku dekati warungnya samar samar aku dengar suara orang, aku kira si Merry di dalam kan, eh pas aku panggil dia berulang kali Nggak taunya pas keluar dia itu kaya orang gugup gitu terus keringetan kaya orang lagi mencangkul. Parahnya lagi di dalam warung ternyata ada Bagus, dia pura pura habis kerokan, tapi yang buat lucu itu masa kerokan malam hari terus keringetan banyak kaya gitu" Sembari mengexpresikan wajah terkejut.


"Ah yang benar kamu Sarah? nanti jadi fitnah lho" Ujar Maimunah mengingatkan.


Sarah mengacungkan jari telunjuk "Aku berani bersumpah bude demi Tuhan aku melihat dengan mata ku sendiri"


"Kalau aku yang nangkap basah meteka udah tak giring ke rumah pak Lurah biar di sidang sekalian. Orang seperti mereka itu pantas di hukum, kita sebagai warg nggak terima dong masa kampung kita di jadikan tempat zina, ya ngvak sih" Sambung Mak Ijah.


"Ya kalau pas mergokin mereka lagi anu kalau pas udah kelar ma sama aja bohong" cetus Maimunah.


"Mereka kok makin ke sini semakin berani ya, udah pada tua tapi nggak takut dosa"


Biasanya di lingkungan Masyakat ketika ada orang sedang berselingkuh apa lagi mereka sudah berpunya, pasti akan di jadikan bulan bulanan warga. Sampah masyarakat seperti mereka tidak akan di segani warga justru malah akan jadi bahan omongan. Sebera tinggi apa pun pangkat orang itu jika sudah tercebur dalam lembah dosa maka dia hanya akan menjadi sampah.


Deg...


Bagai anak panah tertancap di dada. (Ya Allah bukti apa lagi ini? kuatkan hambamu ini ya Allah dalam menghadapi segela cobaan)

__ADS_1


Tanpa sengaja Nara mendengar gosib miring tentang perselingkuhan sang suami. Hati Nara hancur seketika mendengar suaminya ada main dengan wanita yang dia anggap sudah seperti kakaknya sendiri. Tapi Nara harus menahan amarah sebelum semua bukti ia genggam. Nara pun memilih memendam rasa sakit itu sedalam mungkin.


"Stttt....ada Nara" bisik salah seorang warga yang melihat Nara tengah berdiri mematung di belakang mereka.


"Eh mbak Nara baru datang mbak?" Tanya Sarah memecah keheningan.


Nara sempat hendak menangis tapi seketika menoleh lalu mengusap air mata "Iya. Tadi masih ngurusin Emak sama anak anak dulu" Nara ikut duduk bersama mereka.


Maimunah menyenggol lengan Sarah "Dia dengar tidak, ya?" Bisik Maimunah.


Sarah mengkerdikan bahu "Nggak tau bude, semoga saja dia nggak dengar"


Tatapan Nara kosong. Jarinya hampir teriris pisau, cekatan Sarah meraih pisau di tangannya "Mbak Nara hati hati nanti kena pisau lho."


Nara terkejut "Untung saja ada kamu mbak Sarah kalau tidak tangan ku sudah terluka.


"Mending kamu bantu saya tumbuk bumbu saja, dari pada kupas bawang nanti tangannya kena pisau bahaya" Mainumah mengarahkan Nara untuk tidak bergulat dengan pisau karena nanti bisa melukainya.


Di lain sisi Merry baru saja sadatang.


"Lihat tuh si jablay datang" Tatapan sinis warga terarah pada Merry yang baru saja turun dari motornya.


"Maaf ya ibu ibu saya baru datang, soalnya lagi sibuk banget di rumah" Ucap Merry seraya masuk dalam rumah. Ucapan Merry tidak ada satu pun orang mau menjawab. Bahkan tatapan mata mereka tadi berubah jadi bisik bisik tetangga.


"Ih pada kenapa sih? gitu amat lihatnya" Merry melihat para warga saling berbisik lalu kembali dengan tugas mereka. Merry pun melihat Nara tengah menumbuk bumbu, ia pun langsung menghampiri Nara "Dek Nara berangkat kok nggak bilang aku sih, tak tunggu dari tadi nggak taunya sudah berangkat saja" Merry langsung duduk di samping Nara.

__ADS_1


"Madus dia..." bisik Sarah pada salah satu tetangga. Kebetulan sekali Luna datang dengan membawa kupasan wortel "Hayo lagi pada gibah apa?" Sembari duduk di samping Sarah.


Sarah menepuk paha Luna "Itu lho si jablay lagi modus sama Nara. Padahal dia itu ada maunya..."


Luna pura pura tidak tau "Maksud kamu?" Memicingkan mata.


"Memang kamu belum mendengar gosib hot di kampung kita ini?" Lirih Sarah seraya membisikkan sesuatu di telinga Luna.


(Heh kamu pikir aku nggak tau tentang perselingkuhan itu? kalau kamu tau aku juga adalah simpanan Bagus pasti kamu geleng kepala. Gue sih bodo amat orang mau bilang apa yang penting cuan) Dalam hati Luna tertawa girang. Seorang pelakor seperti dirinya di ajak menggosib tentang pelakor lain yang di mana rahim mereka menampung satu benih yang sama. Sungguh menggelikan sekali.


"Astaga..... masa sih?" Masih di fase sok tidak tau. Luna membungkam mulutnya sendiri seolah dia benar tidak tau apa pun.


"Iya, benar. Sudah banyak yang tau."


Tatapan mata Luna mengarah pada Merry yang saat ini duduk bersebelahan dengan Nara.


"Tadi aku sama anak anak langsung ke sini mbak. Jadi nggak sempat ke rumah sampean" meski dalam hati merasa marah tetap saja Nara harus bersikap biasa saja. Melihat senyuman di wajah Merry, ingin sekali rasanya mencabik cabik bibir itu. Bibir yang pastinya pernah mencium Bagus. (Sabar Nara, sabar, sebelum Allah mengungkap semua di depan mata jangan pernah bertindak gegabah) Mengingatkan diri sendiri supaya tidak termakan emosi.


"Sini biar aku bantu" Merry menawarkan diri.


"Kebetulan seklai mbak. Kalau begitu aku mau ke dalam dulu, bantu mbak Tuti sama mas Hans. Siapa tau mereka butuh bantuan ku" Nara pun meninggalkan Merry.


"Eh dia di kacangan Nara tuh"


"Biar tau rasa tuh orang"

__ADS_1


Maimunah tidak mau dekat dengan Merry, akhirnya dia menggeser tempat duduk sedikit menjauh dari Merry.


"Dih siapa juga yang mau dekat elu" Ujar Merry seraya melirik Maimunah.


__ADS_2