Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Cemburu


__ADS_3

"Mau minum apa Lun?"


Luna duduk bersama dengan Ibu Sumiati. Dia tengah memijat pelan lengan wanita renta dengan sesekali berbasa basi. Beliau sebenarnya masih kerabat jauh dari keluarga suami Luna. Bisa di bilang mereka itu masih saudara meski hanya sodara jauh dari almarhum suaminya.


Kematian suami Luna beberapa tahun lalu mengisahan kepedihan mendalam, sebab waktu itu kematiannya tidak karena sakit melainkan tabrak lari. Padahal mereka baru saja beberapa bulan melangsungkan pernikahan, tapi nasib buruk harus memisahkan mereka. Sejak saat itu Luna menjadi wanita simpanan para lelaki hidung belang.


"Apa saja lah mas asal jangan racun"


"Mana mungkin aku kasih kamu racun yang ada tak kasih madu super manis" Menyeringai manis di depan Luna.


"Kalau terlalu manis nanti diabetes lho. Nanti aku malah nggak bisa ngerasain pahitnya kopi dong"


"Ini kok jadi bahas madu, kopi, pahit, dan manis. Cepat kamu buatkan minum Gus kasian dia haus" Titah Ibu Sumiati. Beliau mengusap lengan Luna.


"Iya mak, siap laksanakan"


Bagus segera menuju dapur lalu membuatkan secangkir teh hangat.


Ting...


Sebuh pesan singkat masuk (Nanti malam aku tuggu kamu di rumah. Kalau nggak datang aku marah sama kamu. Pokoknya harus datang, titik) Isi pesan itu membuat Bagus geleng kepala. Merry masih terbakar api cemburu. Di depan warung ia terus mengintai ke dalam rumah Bagus, melihat apa yang sedang mereka kerjakan di dalam. Merry takut kalau nanti Bagus main belakang dengan wanita lain. Dia snagat mencintai Bagus lebih dari suaminya. Sikap manis Bagus dan perhatian memuat Merry jatih hati.


"Astaga.... kenapa aku jadi nggak tenang gini" menepuk dahi.


Bagus tidak menjawab pesan itu hanya membaca sekilas "Dia itu terlalu berlebihan sekali" Kesal Bagus.


Tiba tiba saja ada sebuah tangan melingkar di pinggang Bagus "Kenapa sayang?" Sebuah dagu menempal mesra di pundaknya.


"Eh kok kamu di sini sayang nanti emak curiga lho" Ucap Bagus seraya berbalik badan. Saat ini posisi mereka saling berhadapan tapi tetap berpelukan.


"Biar saja. Aku kan kengen banget sama pacar ganteng ku ini" Menggelayut menja.


Tersenyum seraya mengusap ujung kepala Luna "Sama aku juga kangen banget sama kamu, sayang. Gimana kalau kita...." Membisikkan sesuatu yang membuat Luna langsung tersipu.


"Di sini?" Ujarnya.


Bagus mengangguk "Aku sudah nggak tahan lagi sayang ku"


Luna membungkam mulut Bagus kala bibirnya hendak menyergap "Sstttt....jangan di sini nanti ketahuan mbah Sumi. Gimana kalau di kamar mandi"

__ADS_1


"Oke...." Segera Bagus membopong tubuh mungil Luna ke dalam kamar mandi.


"Kesel deh kok mas Bagus nggak bales pesan aku sih. Apa jangan jangan dia lagi bermesraan sama janda genit itu...."Tatapan Merry tidak lepas dari rumah Bagus. Terlihat dia mondar mandir tanpa henti.


"Ngapain lu mondar mandir kaya setrikaan gitu?" Datanglah Maimunah.


"Kepo. Mau gue ngapain apa urusan lu, dah pergi sono ganggu mood gue aja" Tatapan kebencian terlihat jelas dari mata Merry.


Maimunah berbalik badan "Paling lagi nunggu burung sebelah ya, awas lho ketahuan sama pemiliknya di hajar nanti"


Merry meraih sandal jepit yang ia pakai lalu melemparkan pada Maimunah "Rese lu."


"Hahaha....burung nuri jauh terbang di depan rumah mana mungkin dia kembali lagi. Nananananana" Menyindir dengan sebuah lagu. Tak lupa Maimunah juga menggoyangkan tangan, puas bisa mengerjai Merry.


"Oh...emang dasar mulut lamis" Teriak Merry.


"Biarin aja mendingan gue mulutnya yang lamis lha situ mulut bawahnya yang lamis....Hahahaha" Maimunah langsung menutup pintu rumah.


"Ihhh......kesel gue punya kakak ipar kaya dia."menghentakkan kaki.


"Ada apa to mbak kelihatan mukanya kesel gitu?" Datanglah pak Bambang.


" Itu lho pak punya kakak ipar satu saja mulutnya lenjeh banget. Oh iya bapak mau beli apa?"


"Nggak usah bercanda deh, pak. Aku tuh lagi kesel banget, jangan tambah bikin emosi" Merry yang biasanya bersikap manis pada semua laki laki, kini terlihat garang. Semua akibat kecemburuannya terhadap Luna.


"Dih kok kamu marah sih, sayang" Pak Bambang ini langsung membungkam mulut Merry. Dia membawa Merry masuk ke dalam warung.


"Emmmmm....." suara Merry tertahan oleh telapak tangan Pak Bambang.


"Sudah lama aku ingin menyentuh kamu sayang" Berbisik seraya melancarkan aksi bejatnya.


"Emmmm....." Ketika Merry mulai sulit di kendalikan, pak Bambang pun langsung memperlihatkan sebuah Video saat Merry dan Bagus berciuman kala di sebuah gubuk tua.


Sontak Merry terkejut "Dapat dari mana video ini" Hendak menggapai hp milik pak Bambang, namun tidak sanggup menggapainya.


"Kamu tidak perlu tau dari mana aku mendapatkan video ini. Yang terpenting sekarang kamu layani aku, atau video ini tersebar luas..." Beberapa waktu lalu pak Bambang mendengar percakapan antara Hendrik(Anak) saat membahas video scandal itu, karena penasan Pak Bambang pun mencari video itu di ponsel Hendrik. Kala itu ponsel Hendrik tertinggal di atas meja, langsung saja pak Bambang mencari video yang di maksud. Setelah mendapatkan video itu terlintas hal buruk dalam otaknya. Memanfaatkan video itu untuk mendapatkam keuntungan. Sejak dulu dia kagum dengan badan Merry yang aduhai. Ketertarikan itu berawal dari Merry sendiri, seorang laki laki tidak akan punya niat jahat kalau awalnya si wanita tidak memberi jalan. Dari cara Merry berpakaian ketat sampai cara bicara ceplas ceplos seolah mengundang maksiat.


"Tidak, semua itu hanya rekasa Fajri saja" Merry kelepasan bicara, padahal Pak Bambang belum mengatakan dari mana dia mendapatkan video itu.

__ADS_1


"Siapa yang bilang aku dalat video ini dari fajri? itu artinya video ini benar adanya, bukan?" Perlahan pak Bambang mendekatkan wajah, sedangkan Merry memundurkan langakah.


"Tolong pak jangan lakukan itu. Sadar pak aku ini istri orang"


Pak Bambang langsung memeluk Merry "Sudah jangan sok suci, semua orang sudah tau hubungan kamu dengan Bagus. Sekarang apa salahnya kalau aku juga mau cicip sedikit"


"To......long, emmmmm" Pak Bambang langsung membungkam mulut Merry lalu melakukan apa yang ingin di lakukan.


"Kemana mereka kok lama sekali?" Ibu Sumiati bangkit lalu bejalan menuju dapur. "Kenapa tidak ada orang..." Beliau bingung kenapa tidak ada satu orang pun di sana. Padahal tadi Luna bilang kakau dia hendak meminta Bagus membuatkan teh untuk beliau, tapi sampai sekarang malah belum keluar juga.


Samar terdengar suara aneh dari dalam kamar mandi, sontak beliau terkejut. "Ya Allah apa yang mereka lakukan di dalam sana" Setelah mendengan sesuatu yang membuat beliau risih, segara beliau kembali ke tempat semula. Jantung berdebar kencang (Kurang ajar sekali mereka berziba di rumah ku).


"Aku tidak menyangka mereka berbuat seperti itu..." Ibu Sumiati masih belum percaya atas apa yang ia dengar.


"Mas kita keluar yuk takut mbah Sumi curiga." bisik Luna.


"Sebentar dong sayang, aku masih mau lagi" Memeluk erat tubuh Luna seraya menciumi ujung pundaknya.


"Sayang udah ah nanti lagi ya, kita cari hotel supaya lebih bebas"


"Boleh juga...."


"Ya sudah aku keluar dulu kamu belakangan biat mbah Sumi nggak curiga" Ucap Luna seraya menguspa pipi Bagus.


"Oke sayang ku. Emuah...."


Luna pun keluar lebih dulu.


"Mak aku pamit pulang ya sudah jam segini waktunya emak istirahat"


Bagus pun keluar tanpa membawa apa pun. "Bukannya tadi kamu mau membuatkan dia minum, lalu kenapa kamu tidak membawa apa apa...."


"Tidak perlu mbah, aku mau pulang saja."


"Mau aku antar?" Bagus menawarkan diri.


"Emm....tapi nagaimana dengan mbah sumi, sampean tidak apa apa mbah di tinggal sebentar?"


"Tidak apa apa"

__ADS_1


"Kalau begitu Bagus antar Luna dulu ya mak, kasian matahari terik sekali hari ini. Pasti dia kepanasan"


(Dasar kalian ini semoga Allah memberi kalian karma setimpal)


__ADS_2