Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Di Tolak Keluarga


__ADS_3

Bagus masih belum beranjak dari depan pintu, ia mengacak rambut seraya memukul kosong "Kenapa aku bisa lengah kaya gini. Seharusnya aku nggak ketiduran saat itu....Argggggggh" Kalau waktu masih bisa di putar saat ini juga Bagus ingin kembali ke malam itu. Kalau dia tidak ketiduran pada saat itu pasti tidak akan pernah terjadi masalah. Mungkin dia masih bisa duduk tenang menikmati hidup.


"Makasih ya bang udah mau nganterin aku pulang" Seorang wanita baru saja turun dari ojek langganan. Memakai pakaian seragam layaknya pekerja pabrik.


Abang ojek mengangguk "Iya neng sama sama." Setelah mendapat upah abang tukang ojek itu langsung pergi.


"Capek sekali hari ini kerjaan numpuk, untung saja besok masuk siang, jadi bisa rebahan sehari penuh" Menijat bahu sembari menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Langkah kaki gontai itu lalu masuk ke dalam rumah.


"Mas Bagus? ngapain duduk di situ, mas?" Adik Bagus yang baru saja pulang kerja langsung menghampirinya.


"Lala...."


"Ini kenapa ya, mas Bagus baru saja datang tapi kok duduk di situ, kenapa nggak duduk di kursi saja.Emang bapak sama ibu pada kemana?" Lala melihat ke arah dapur siapa tau ibunya ada di sana, tapi kelihatannya beliau tidak ada. Melihat lagi ke luar dan tidak ada siapa pun.


"Lala...tolong bantu mas jelaskan semua pada ibu dan bapak"


Lala yang baru saja pulang kerja tentu tidak mengerti apa maksud Bagus. "Jelasin apa to mas? memangnya sampean punya salah apa sama bapak dan ibu?"


Segera ia bangkit"Suruh mereka keluar dulu baru kita bicarakan ini nanti. Tolongin mas La, mas butuh bantuan kamu" Meraih tangan sang adik.


"Maksud mas Bagus ibu sama bapak ada di dalam kamar? terus ngapain mas malah duduk di sini, kenapa nggak ketuk pintunya? apa mereka lagi istirahat" Hendak mengetuk pintu namun di hentikan Bagus.


"Ibu sama bapak lagi marah sama mas."


"Sebentar deh mas, ini maksudnya apa sih? coba jelaskan dulu sama aku biar tau inti masalah sampean itu apa"


Bagus berjalan ke arah Sofa, menghempaskan diri seolah terlihat frustasi "Mas sudah melakukan kesalahan terbesar"


Menghampiri seraya melihat wajah penuh lebam itu "Memang sampean punya salah apa? jangan bilang kalau Mas Bagus maling ya?" memicingkan mata.


Bagus terkejut "Hust....sembarangan kalau ngomong. Mas mu ini orang baik nggak mungkin jadi maling" Memutar bola mata.


"Hahahaha.....lagian tuh muka sampe bonyok begitu, seperti habis di gebukin warga satu kampung" Terkekeh geli melihat expresi kaget sang kakak.


Bagus mencondongkan badan, kedua tangan mengatup, dan wajah menunduk "Aku di hajar sama tetangga ku sendiri, karena aku dan istrinya ketahuan selingkuh"


"Apa? selingkuh?" Terperanjat seketika "Jangan main prank deh mas nggak lucu tau, ini hal sensi banget lho jangan sampe orang salah paham sama ucapan mas ini" Mencoba memperingati.


Mendongak sembari menatap Lala "Aku bicara yang sebenarnya"


Lala memijat kening heran dengan kelakuan sang kakak "Astaga mas Bagus...kok kamu bisa sih mas ngelakuin hal sekotor itu. Padahal sejak kecil bapak sudah mendidik kita dengan landasan agama yang kuat, tapi seketika saja mas Bagus menghancurkan perjuangan bapak. Keterlaluan sekali kamu ini, mas. (mendorong badan Bagus sampai terpental ke sofa) Kelakuan mas ini nggak ada bedanya sama hewan." Lala pun kecewa atas tindakan Bagus. Tanpa kata ia pun langsung masuk ke dalam kamar.


"La....Lala, bantuin mas dulu" Memanggil berulang kali tapi Lala tidak perduli, sebagai wanita dia ikut kecewa.


"Aaaaaa....." Sebuah vas bunga kecil di meja menjadi sasaran kemurkaan Bagus.

__ADS_1


Tidak ada perselingkuhan yang berakhir bahagia, yang ada malah mengundang derita.


"Ya Allah...." Andra membungkam mulut membaca isi pesan dari Mutia, seketika ia langsung melas di kamar, kala Mutia memberitahu bahwa bapaknya ketahuan selingkuh. Andra merasa sesak nafas dan air mata jatuh perlahan. "Jadi selama ini bapak beneran selingkuh sama tante Merry"


Pyar....


Andra melempar gelas yang masih di tangan selesai minum tadi.


"Buk" suara apa itu?" Tanya Eca.


Nara dan Eca tengah sibuk melayani pembeli di depan dan langsung menoleh ke arah suara "Nggak tau Ca coba kamu tengok dulu, saya masih belum selesai kurang tiga bungkus nasi lagi" Kebetulan hari ini warung sangat ramai. Banyak orang pesan nasi bungkus dan orang mengantri berbaris di depan.


Eca langsung berjalan ke arah sumber suara "Mas, mas Andra...." Mengetuk pintu "Mas Andra nggak kenapa napa, kan?" lantang Eca dari luar kamar.


Tidak berapa lama pintu pun terbuka "Nggak apa apa, mbak. Cuma tadi gelasnya nggak sengaja jatuh" wajah Andra terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


(Apa dia putus sama pacarnya? kok matanya kaya habis nangis gitu) gumam Eca.


"Kok kaya abis nangis gitu sih, mas."


Andra melihat ke depan ramai pembeli. Nata terlihat kewalahan "Udah mbak Eca bantu ibuk di depan saja nanti Andra cerita sama Mbak. Tunggu warung sepi dulu" Membalikkan badan Eca lalu sedikit mendorong, hingga Eca tersentak ke depan. "Bener nih nggak mau cerita sekarang?"


"Nggak mbak, nanti saja. Udah sana..." Mengibaskan tangan lalu kembali masuk kamar.


"Kenapa Ca?" Tanya Nara seraya memgaduk nasi.


"Dasar anak itu dari dulu ceroboh sekali"


Tidak lama setelah itu Andra keluar memakai jaket dan membawa helm.


"Ndra, mau kemana kamu?" Tanya Nara.


"Ke rumah teman buk" Andra langsung bergegas pergi.


"Andra tunggu kamu belum makan lho...." Teriak Nara tapi Andra sudah terlanjur pergi.


"Paling putus sama pacarnya kali buk. Tadi kaya abis nangis gitu"


"Halah anak Smp kok udah pacar pacaran" Nara menampik kebenaran yang ada. Di jaman milenial seperti sekarang ini, anak kecil saja sudah mengenal cinta. Tidak banyak dari mereka sampai kehilangan masa emas mereka karena terlaku sibuk tentang cinta.


"Namanya saja anak muda ya biarkan saja lah buk. Toh sampean juga pernah muda..." Eca menggoda Nara supaya tidak terlalu tegang.


Sembari tersenyum "Kamu ini lho Ca bisa saja"


Andra bergegas menuju rumah kedua orang tua Bagus. Dengar dari Mutia kalau Bagus saat ini ada di rumah mereka. Andra menempuh jarak sekitar satu setengah jam untuk sampai ke sana. Sepanjang perjalanan pikiran Andra di penuhi amarah. Tak berapa lama Andra sampai di depan rumah, ia langsung masuk.

__ADS_1


"Pak, bapak, keluar kamu pak" Dengan nada tinggi Andra memanggil Bagus.


"Andra...." Baru saja ibu Minah keluar kamar, melihat Andra berteriak.


"Mbah uti, di mana bapak?" Mencari ke semua tempat tetap saja keberadaan Bagus tidak di temukan.


"Bapak mu sudah pergi sejak tadi"Jawab ibu Minah selaku ibu kandung Bagus, yang artinya adalah nenek dari Andra.


Andra terlihat murka, dari cara dia menatap dan berucap jelas kalau dia sedang marah.


"Duduk dulu" Mereka berdua langsung duduk.


"Mbah uti tau nggak apa yang bapak lakukan di belakang ibu? bapak ternyata...."


"Ya, kami sudah tau apa yang bapak kamu perbuat" Sambung Pak Darsa. Beliau baru keluar kamar sehabis shalat asar. Dalam doa orang tua selalu terselip doa terbaik untuk putra putri mereka.


"Andra tidak terima dengan semua ini. Tega sekali bapak berbuat hal seperti itu, padahal di warung ibu selalu sibuk cari duit malah bapak asik sama wanita lain. Andra kecewa sama bapak, andra benci sekali sama bapak." Air mata kembali tumpah.


"Mbah kakung tau bagaiman perasaan kamu, mbah kakung sama uti juga sama kecewanya seperti kamu. Tapi semua terlanjur terjadi mau tidak mau kita harus menerima semua ini. Insya Allah lusa kami ke rumah ibu kamu untuk mengaturkan permohonan maaf kami pada ibumu atas kelakuan anak kami" Ujar Pak Darsa sembari mengusap lengam cucunya.


"Jangan mbah kung. Andra minta jangan sampai ibu tau masalah ini. Takutnya ibu drop. Kata pakde Hans semua akan di bicarakan saat ibu pulang kampung nanti" sebelumnya Mutia sudah menjelaskan gambalang tentang rencana keluarga di kampung, kabarnya juga kalau Bustomi masih mencari keberadaan Bagus.


"Jadi ibumu belum tau semua ini?" Tanya Ibu Minah.


Andra menggeleng lalu menunduk "Andra tidak tega melihat i mbu sedih. Biarkan Pakde Hans yang memberitahu ibu."


"Mbah uti buatkan minum cucu kita ini, dia pasti haus" pinta Pak Darsa.


"Tidak usah, mbah. Tujuan Andra ke sini tadi cuma mau ketemu bapak. Andra pengen dengar penjelasan bapak, kenapa dia tega menyakiti ibu terus menerus. Tapi sepertinya bapak nggak ada di sini. Lebih baik Andra pulang saja"


"Tadi bapak mu memang ke sini, tapi kami kesal dengan sikapnya. Setelah kami diamkan dia beberapa saat langsung kabur entah kemana"


Andra bangkit "Kalau begitu Andra pamit pulang dulu ya mbah" tanoa basi basi Andra langsung pemit.


"Nggak mau tidur sini saja"


"Makasih mbah Andra harus cari bapak"


Di sisi lain Bagus tengah duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan.


"Kopinya kok tidaj di minum pak apa kurang manis atau kemanisan?" Tanya pemilik warung kopi. Sedari tadi beliau memperhatikan kopi itu hanya di aduk tanpa henti.


"Tidak, pak. Saya aduk aduk biar kopinya agak dingin" Ujar Bagus.


Ting...

__ADS_1


Sebuah pesan masuk (Sayang kamu di mana?) Bagus hampir terluoa kalau dia masih punya satu simpanan. Mengingat kejadian tadi pagi saja sudah membuatnya pusing di tambah lagi kalau sampai hubungan gelap mereka terbongkar. Pean berikutnya dari Bustomi yang mengirimkan pesan ancaman.


"Sial...." Mengacak rambut lalu menonaktifkan Ponsel.


__ADS_2