Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kedatangan Ibu Sani


__ADS_3

"Mas bagaiman kalau sampai Nara tau? pasti dia akan hancur" Sebagai kakak ipar, Tuti bisa marasakan betapa sakit hati Nara saat tau suaminya ada main di belakang. Pernah beberapa kali Nara di beri tahu oleh Tuti tentang gosib yang beredar luas, tapi dia sok tabah di depan meski di belakang remuk redam. Nara sendiri bukan tipe wanita lemah yang mudah memperlihatkan kesedihan di depan semua orang. Hanya katika dia sudah tidak mampu lagi menahan sakit, baru dia akan mencari sandaran untuk berbagi cerita. Selama hati masih mampu menampung rasa sakit, semesta tidak boleh mengintip sedikit saja.


Sesungguhnya teman terbaik adalah diri sendiri. Selama kita bisa mengatasi semua masalah untuk apa mencari orang lain. Tapi kita juga tidak boleh egois, hidup di dunia tidak hanya mengandalkan satu paham saja tapi kita juga butuh saran dari yang lain.


Hans memijat kepala sembari duduk memikirkan nasib sang adik."Akan lebih baik kalau dia jangan di kasih tau terlebih dahulu. Tunggu sampai dia pulang baru kita bicarakan ini dengannya, aku takut dia berbuat nekat." Hans tidak mau terjadi sesuatu pada Nara jika dia mendengar Bagus ketangkap basah saat selingkuh dengan Merry. Dia berpikir akan lebih baik kalau menunda sampai Nara pulang kampung dan biarlah semua pecah saat itu juga.


Duduk di samping suami "Tapi berita ini pasti akan cepat menyebar luas, mas. Bagaimana kalau dia tau dari orang lain, apa pendapat Nara nanti tentang kita? aku takut kalau dia salah paham sama kita"


Menarik nafas lalu menghembuskan perlahan "Sebisa mungkin aku akan mencegah semua itu terjadi."


"Caranya?"


Hans menatap Tuti "Akan ku cari orang yang biasanya menyebar rumor di kampung kita. Pasti mereka akan mendengarkan aku, biar ku coba dulu...."


"Tapi apakah bisa dua tangan menutup puluhan mulut di luar sana?"


"Kalau kedua tangan ini tidak mampu membungkam puluhan mulut maka cukup menutup telinga satu orang (Nara)." ujar Hans. Sebisa mungkin seorang kakak akan melindung adiknya.


"Pak, buk, apa benar yang aku dengar dari tetangga kalau Om Bagus ketahuan selingkuh?" Tiba tiba saja Mutia masuk dengan tergesa gesa. Mutia sekarang tinggal di kampung sebelah ikut dengan suaminya. Kabar yang baru saja mencuat langsung terdengar sampai kampung sebelah. Bukan main memang, jaman serba canggih memudahkan orang mendapat informasi dengan cepat. Bagaikan api langsung menyambar ranting kering. Era modern seperti sekarang ini memudahkan manusia saling bertikar kabar, dari yang tadinya hanya suara berubah mencari gambar, dari yang jauh terasa dekat, dari yang tidak terlihat menjadi ada.


"Iya. Baru saja Om Bagus tadi ke sini, dia minta maaf sama bapak mu" Ujar Tuti sembari menatap Hans.


"Lha kok malah minta maaf sama bapak, harusnya sama tante Nara dong, buk. Aku nggak habis pikir sama Om Bagus itu, kok bisa dia berbuat sekejam itu. Di lihat dari luar nampak alim ternyata dalamnya busuk" Mutia sampai ikut kesal atas kelakuan Bagus. Ternyata selama ini wajah sok alim itu hanya sebuah topeng belaka untuk menutupi jiwa brandalnya.


"Sayang sabar jangan ikut kebawa emosi kaya gitu..." ucap Vino (Suami Mutia)seraya mengusap lengan sang istri.


"Jadi ikut kesel mas kalau gini tuh. Coba deh kamu pikir di sana tante Nara kerja mati matian cari duit, keringat bercucuran, tapi Om Bagus di sini malah melenguh sama istri orang.... Emang dasar penjahat wanita, nggak tau malu"


"Memang orang seperti Bagus itu pantas di penjara biar tau rasa" Tekus Tuti.


"Emang ada pasal perselingkuhan?" Heran Vino.


"Eh jangan salah kamu mas, negara kita ini negara hukum setiap tindakan buruk ada pasalnya. Makanya kamu jangan buat ulah kaya Om Bagus...." Celetuk Mutia.


Hans menggeleng kepala "Lah kan jadi ngawur ngomongnya"


"Kamu juga mas harus jaga sikap kalau lagi kerja di kota. Jangan sampai kejadian ini..." Belum sempat berucap, Hans lebih dulu menutup mulut Tuti. "Nggak usah bawel, sekarang buatin minum anak mantu kita"


"Lagian kita tuh para wanita nggak terima lho pak masa tante Nara di selingkuhi kaya gini, nggak adil banget" Sambung Mutia menambahi.

__ADS_1


Tuti merangkul Mutia "Laki laki mana tau ketakutan seorang istri itu bagaimana, yang mereka tau cuma cari duit"


"Astaga....kamu itu lho kok ikut ikutan ibu kamu sih. Dah sana buatkan suamu kamu minum, udah jadi istri harus pinter layani suami" Ucap Hans berusaha mengalihkan pembahasan mereka.


Muria dan sang ibu bergegas ke arah dapir, meski begitu mereka masih saja membahas masalah yang sama.


Hans dan menantunya hanya saling geleng kepala. Kedua wanita tengah melampiaskan kekesalan terhadap Bagus.


"Yah begitulah wanita kalau lagi ngegibah" Hans bersamdar di bahu sofa.


"Sum, Sumi....." Teriak seseorang dari luar rumah. Ibu Sumiati baru saja bangun "Gus, Bagus, coba lihat siapa di luar" Beliau bingung kenapa Bagus tidak menyahut sama sekali, biasanya jam segini dia sudah bangun. Dengan perlahan beliau berjalan ke arah pintu.


"Sebentar...." Ujarnya seraya membuka pintu yang ternyata sudah tidak terkunci lagi "Lho kok pintunya tidak terkunci? motor Bagus juga tidak ada." Melihat jam dinding baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. "Kemana Bagus pagi pagi begini, apa dia ke pasar cari sarapan?" Beliau belum tau apa yang terjadi baberapa jam yang lalu. Maklum orang tua pendengaran sudah berkurang.


"Siapa...." Ketika pintu di buka sosok ibu Sani sudah berdiri di depan pintu.


"Mbakyu?"


Tanpa menjawab Ibu Sani langsung nyelonong masuk ke dalam rumah. Ibu Sumiati heran kenapa kakak perempuannya nampak marah sekali.


"Tumben mbakyu datang sepagi ini" Sembari duduk di sebelah Beliau.


Sontak saja ibu Sumiati terkejut, beliau tidak tahu menahu tentang semua itu "Siapa yang bilang Bagus selingkuh sama Merry? pasti itu hanya fitnah saja"


Membuang muka "Nggak percaya ya sudah. Tadi aku di telepon sama Sarah katanya Bagus kabur gara gara ketahuan pas lagi main sama bini Bustomi. Kalau dia kabur jelas dong aku ke sini, kalau bukan aku siapa lagi yang mau merawat kamu? Si anak punggut kamu itu? dia nggak bakal bisa. Lebih mentingin duit dari emaknya sendiri" Kebencian beliau kepada Nara terbawa sampai sekarang.


"Ya Allah....keterlaluan sekali si Bagus ini. Aku kira dia tidak seperti yang orang lain pikirkan, tapi ternyata mereka benar. Aku masih belum percaya semua nyata, ku harap ini hanya mimpi" Beliau masih belum percaya atas apa yang terjadi.


"Begitulah kalau menantu kurang ajar. Bukannya cari duit malah cari masalah. Semua ini salah Nara sendiri, kenapa dia membiarkan suaminya sampai selingkuh. Gimana sih jadi istri nggak bisa menjaga suami sendiri. Apa memeng dia udah nggak bisa melayani suaminya sampai kelain lubang" Ibu Sani semakin sewot. Setiap kata yang keluar bagaikan racun.


"Semua bukan salah dia tapi salah ku. Karena aku rumah tangga mereka jadi berantakan seperti ini. Kalau saja aku tidak lumpuh pasti saat ini mereka masih baik baik saja." Ibu Sumiati menangis.


"Jangan salahkan diri sampean Mak, karena takdir seseorang siapa yang tau" Datanglah hans bersama Tuti.


"Nak Hans...." beliau berusaha bangkit namun Hans lebih dulu berjalan ke arah mereka "Emak duduk saja, jangan banyak memikirkan hal yang bukan bukan. Sekarang emak fokus sama kesehatan emak saja, masalah yang lain biar kami yang tangani." Menyentuh tangan Beliau.


"Ini terjadi karena ulah adik mu itu, kalau dia jaga Sumiati di sini nggak bakal kan Bagus selingkuh sama orang lain. Yang berkewajiban atas Sumiati itu Nara bukan Bagus, enak banget jadi bini main suruh suami jaga emaknya sedangkan dia lepas tangan. Dih, anak kaya gitu kok di banggain...." Ketus ibu Sani.


Hati Hans sebenarnya sakit dengan perkataan beliau, tapi dia tidak mau memperpanjang masalah. Memang sedari dulu beliau tidak pernah suka dengan adiknya.

__ADS_1


"Jangan salahkan Nara kaya gitu dong, mbah. Sekarang kalau Nara di rumah siapa yang cari uang untuk biaya Emak? emang cukup ngandelin duit dari Bagus? yang ada keluarga mereka kelaparan kalau cuma ngandelin uang dari si Bagus itu." Tuti turun tangan ketika Nara terus di salahkan atas apa yang tidak di perbuatnya.


"Ya itu sudah jadi resiko dia. Dulu saja Sumiati bersusah payah membesarkan dia, giliran udah jaya kok nggak ada empati sama orang tua. Mentang mentang udah sukses lupa sama ibu angkatnya." Dengan nada tinggi.


"Mbakyu....tolong jangan bicara seperti itu. Anak ku Nara tidak seperti yang kamu katakan, dia sangat menyayangi ku. Kalau mbakyu mau menyalahkan orang maka itu adalah aku." ibu Sumiati menangis tersedu.


Tuti langsung bersimpuh di samping ibu Sumiati, seraya berkata "Sudahlah mak jangan salahkan diri emak sendiri. Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan atau mencari siapa yang salah, tapi kita harus bisa menguatkan hati Nara. Si balik semua ini pasti dia orang pertama yang akan hancur"


"Halah....buat apa pikirin perasaan dia, kalau dia sendiri saja tidak bisa menjaga perasan ibu angkatnya. Emang dasar anak nggak tau di untung"


Hans mulai naik pitam. Mendengar beliau terus menyalahkan Nara membuat Hans mengepalkan kedua tangan "Cukup!....sudah cukup anda menyalahkan adik ku. Kalau anda tidak suka padanya oke tidak masalah, tapi jangan selalu menyeretnya dalam setiap kesalahan. Di mana hati anda sebagai seorang wanita? apakah anda juga menyalahkan diri anda sendiri di saat suami anda selingkuh waktu dulu itu? tidak, kan. Jadi tolong kalau anda masih membencinya silahkan tidak ada larangan dari siapa pun, itu hak anda, tapi jangan salahkan dia atas perselingkuhan ini"


"Loh....kamu kok nyolot sih sama orang tua. Kedatangan ku ke sini bukan cari ribut sama kalian tapi..."


"Cukup Mbakyu, sudah cukup. Aku minta tolong jangan lagi bicara buruk atas anak ku itu"


"Ya sudah kalau begitu nggak sudi aku temani kamu. Nyesel aku kenapa harus ke sini tadi" Ibu Sani langsung pergi.


Hati siapa tidak sakit kalau adiknya selalu di salahkan terus menerus. Di saat seperti ini harusnya orang simpati pada Nara tapi beliau malah menyalahkan dia.


"Aku heran deh sama dia, dari dulu sampai sekarang benci banget sama Nara" Menghempaskan badan di sofa.


Ibu Sumiati mengusap lengan Hans "Maafkan mbakyu ku itu. Entah salah apa Nara sama dia sebenci itu"


"Entahlah aku juga bingung mak." ujar Hans.


Tuti langsung duduk di samping suaminya "Mas bagaimana dengan Nara?"


Hans langsung tersadar tujuan dia ke sini adalah untuk membahas soal Nara. "Oh iya mak, kedatangan ku ke sini mau menyampaikan sesuatu. Pertama karena Bagus dapat masalah kaya gitu jadi emak biar di jaga sama istri ku sementara waktu. Kedua jangan sampai Nara mendengar semua ini sebelum dia pulang." Ujar Hans.


"Iya, mak juga tau. Lalu sekarang Bagus ada di mana?"


"Paling kabur pulang ke rumah orang tunya" cetus Tuti.


"Biarkan saja dia pergi sementara waktu supaya Bustomi sedikit meredam amarahnya. Kalau dia masih di sini bisa habis dia sama Bustomi"


Ibu Sumiati terus meneteskan air mata "Emak tidak pernah menyengka kalau Bagus beneran selingkuh sama Merry"menundukkan kepala.


"Begitulah hidup mas, kita tidak akan tau esok hari akan teejadi apa, kepada siapa, dan akan bagaimana"

__ADS_1


__ADS_2