
Dalam shalat tersemat doa nan pilu "Ya Allah, ya Tuhanku. Di mana letak surga yang Engkau janjikan padaku? Bukankah Engkau menjanjikan surga seorang istri di telapak kaki seorang suami? lalu di mana aku mencari surga itu? Apakah aku harus mengabdi kepada seorang pendosa, penzina, seperti suami ku itu. Sedangkan aku tau, Engkau tidak akan menciptakan surga bagi pezina. Di mana aku mencari surga itu? yang aku butuhkan dalam hidup, jalan Surga bukan Neraka" Air mata terus mengalir. Kedua tangan menengadah dan wajah menunduk pilu. Nara merasa sangat buntu. Hanya sang Maha Pencinta yang mampu menjawab semua pertanyaan dalam hatinya. Sebagai istri dia berusaha keras menjadi yang terbaik. Di uji dengan berbagai macam masalah tetap tidak goyah. Namun, untuk urusan satu ini dia melemah.
Sekuat apa pun hati seorang istri akan lemah saat di sakiti. Mental baja sekali pun akan kalah dengan kerasnya cinta.
Bagus baru saja masuk ke dalam kamar. Melihat Nara duduk bersimpuh di hadapan Tuhan-Nya, membuat dia tau seberapa sakit hati Nara saat ini.
(Kalau kamu bisa selembut mereka(Simpanan) mungkin aku tidak akan pernah mencari sandaran lain. Aku seorang lelaki biasa yang ingin di mengerti. Aku ingin selalu di pahami seperti mereka memahami kemauan ku) Seorang dengan Ego terbesar tidak akan sadar begitu saja, justru akan semakin menyalahkan yang lain demi menutup segala Dosa. Perubahan sikap Nara di dasari atas kelakuan Bagus sendiri. Kalau saja dia tidak begitu menyakitinya mungkin Nara masih selembut sutra. Tidak hanya menyakiti fisik tapi juga melukai mentalnya.
Tok...tok....tok...
Seorang lelaki paruh baya berdiri depan pintu bersama dua rekannya. Mereka nampak melihat ke samping rumah tidak ada satu pun orang "Assalamualaikum...."
Mendengar salam segera Nara menyudahi doa lalu melepas mukena yang ia kenakan. Ketika berbalik badan ia melihat Bagus berdiri tepat di depannya. Jengah melihat sang suami, Nara pun berusaha acuh. Tangan sang suami mengatung seolah minta di sentuh, layaknya dulu ketika sehabis shalat Nara akan mencium tangan Bagus. Tapi, tidak untuk sekarang.
"Tunggu..." Meraih tangan Nara "Bagaimana pun aku masih imam mu"
Ucapan Bagus langsung di tertawakan oleh Nara "Hahaha....imam, imam kamu bilang? nggak usah melawak lah, nggak lucu"
Bagus merasa sakit hati dengan ucapan tak sebarapa tapi menyayat "Ingat, surga istri ada di bawah telapak kaki suami"
Sontak saja langkah Nara terhenti "Surga?" Berbalik badan "Di bawah kaki mu? surga? hahahaha....jangan mimpi kamu. Allah tidak mengijinkan rumah-Nya( Surga) di tempati pezina seperti mu. Bahkan mencium harumnya surga saja, kamu tidak akan bisa." ucap Nara dengan nada mengejek.
"Tau apa kamu tentang surga? bukankah dalam kitap suci tertera Tuhan akan mengampuni hambanya yang penuh dosa sekali pun..." Belum sempat melanjutkan ucapan, Nara lebih dulu menjentikkan jari telunjuk.
"Nggak usah sok bahas kitab suci. Nggak pantas mulut busuk mu itu sok ceramah depan ku. Jangan cuma pandai dalam materi tapi bodoh dalam menjalani. Sudahlah, aku nggak mau melawak lagi sama kamu" Bergegas pergi.
"Tapi aku hanya manusia, punya salah dan berhak mendapat kesempatan kedua" Celetuk Bagus. Sedari tadi ia lelah terus menghiba tapi tidak berarti apa pun untuk Nara.
"Kesempatan kedua kamu bilang? ini sudah yang ke sekian kalinya. Mau kesempatan model kaya gimana lagi kamu, mas? Oh atau sampai mati kesempatan terus berlaku untukmu? Tapi, sayangnya aku nggak punya hati sebesar itu" mengkerdikan bahu.
"Assalamualaim....pak, pak Bagus." Kembali pintu di ketuk berulang kali.
"Percuma ngomong sama manusia tanpa hati macam kamu ini..." Nara langsung kembali melangkahkan kaki keluar dari kamar. Namun, lagi lagi Bagus menghentikannya dengan meraih tangan Nara "Kalau ada yang mencari ku, bilang saja kalau aku tidak di rumah" Pinta Bagus.
Nara tidak menggubris. Segera ia menepis tangannya kemudian meninggalkan Bagus begitu saja. (Persetan dengan orang seperti kamu itu)gumam Nara.
__ADS_1
"Sepertinya Nggak ada orang, pak" Ujar pak Rw. Sembari melihat dari jendela depan tetap saja tidak nampak ada seorang di sana. Tirai jendela menutup rapat kaca sampai membuatnya kesulitan melihat ke dalam rumah.
Clik...
Ketika membuka pintu, Nara di kejutkan dengan tiga orang di depan pintu. Dua orang berdiri tegap dan satu orang sedikit mencondongkan badan tengah mengintip dari jendela.
"Eh ada pak kades sama perangkat desa, ada gerangan apa datang ke gubuk saya ini?" Senyum simpul mengembang.
"Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan pada mbak Nara beserta kaluarga. Semua menyangkut masalah Pak Bagus dan Ibu Merry" Jawab pak kades seraya memakai kaca mata. Sebuah buku hitam di perlihatkan beliau "Ini beberapa bukti dari pada khasus suami sampean, buk."Di dalam buku tertulis pasal laporan tentang perselingkuhan yang melibatkan suaminya dengan tetangga depan rumah.
Pak Kades dan berapa perangkat desa lain mendatangi rumah Nara untuk membicarakan sesuatu. Ada sekitar tiga orang yang datang, pak kades, pak rt, dan pak rw setempat. Mendengar kabar kepulangan Nara, mereka langsung meluncur ke rumah. Seharusnya kasus di tangani kala kejadian berlangsung, namun Bagus kabur entah kemana. Sidang di tunda sampai beberapa hari lamanya.
"Pak Bagusnya ada, mbak?" Tanya pak Kades seraya kedua bola mata mencari sosok Bagus.
"Silahkan masuk dan duduk dulu, pak. kita bicara di dalam saja" Mempersilahkan para tamu tak di undang masuk.
Mereka pun masuk.
"Silahkan duduk..." Ujar Nara.
"Bisa kami bertemu dengan pak Bagus?" ujar pak kades lagi.
"Begini buk, sesuai ketentuan dari pak Bustomi selaku suami ibu Merry, meminta pertanggung jawaban dari pak Bagus. Karena pak Bagus telah berselingkuh dengan ibu Merry."tegas Pak Kades memperjelas.
Tentu saja Nara terkejut "Maksud bapak kades ini apa, ya? menuntut tanggung jawab seperti apa? apakah pakde Bustomi meminta suami saya untuk menikahi istrinya, atau bagaimana?" Ujar Nara mencari tau.
Para perangkat desa saling melempar pandang.
"Em.....mohon maaf, mbak. Kami sendiri tidak tau tuntutan apa yang hendak pak Bustomi gugat atas suami sampean. Yang jelas kami hanya menyempaikan niatan beliau untuk menyelesaikan semua sesegera mungkin." Dari sikap pak Kades terlihat kalau beliau tengah menyembunyikan sesuatu. Gelagat tidak enak pun terlihat dari yang lain.
Pak Rw turut membuka suara "Begini saja mbak, kita selaku perangkat desa datang kemari hanya menyampaikan niat dari pak Bustomi. Selebihnya kami belum tau apa pun. Masalah yang lain nanti kita bicarakan di pengadilan desa nanti malam"
"Kenapa, pak?saya itu berhak tau tuntutan apa yang di minta penggugat" Tegas Nara.
Pak Kades menarik nafas panjang "Kami akan sampaikan semua di pengadilan nanti malam, sekitar pukul sembilan malam. Di harap kehadiran mbak Nara dan pak Bagus. Kalau begitu saya beserta rekan pamit undur diri" Berdiri seraya mengulurkan tangan pada Nara "Kami sangat mengharap kedatangan kalian"
__ADS_1
Menjabat tangan seraya berkata "Saya akan usahakan"
Usai mereka pergi, Nara bingung harus berbuat apa. Sejenak terdiam diri lalu terlintas sesuatu "Aku butuh mas Hans sekarang ini" Bergegas ke rumah sang kakak. Namun, belum sempat kaki melangkah Bagus lebih dulu meraih tangannya.
"Tolong bantu aku, ku mohon...." Bersimpuh seraya mengatupkan kedua tangan. "Hanya kamu yang bisa menolong ku saat ini. Tolong bantu aku..."
(Sama anak bini garangnya naudzubillah, giliran ngadepi petinggi desa nyalinya ciut. Emang dasar nyali kerupuk. Luarnya aja nampak gagaj pas di siram air langsung melehoy)
Nara membuang muka "Kenapa harus aku? bukankah itu masalah kamu. Dengan begini kamu bisa bebas ngapain saja dengan dia (Merry). Bustomi minta pertanggung jawaban darimu. Bisa jadi dia minta kamu menikahi istrinya. Sekarang terserah bagaimana cara kamu mengatasi Bustomi. Aku tidak perduli, itu bukan urusanku" Ketus Nara sembari melangkah pergi.
"Nara tolong aku, ampuni aku, bantu aku. Aku mau menebus semua dosa ku tapi saat ini aku butuh bantuanmu" Mengiba seperti orang tidak waras. Tapi, Nara sudah tidak perduli lagi. Meski air matanya tumpah tetap berusaha tenang tanpa beban. "Hadapi sendiri apa yang sudah kamu perbuat." Langkah kaki semakin di percepat.
"Bagimana ini? aku harus minta tolong siapa?" Bagus kebingungan. Dia mencari jalan namun semua serasa buntu.
"Nara, tunggu..." panggil seseorang. Suara itu terdengar tidak asing di telinga. Segera Nara berbalik badan, dan ternyata benar seseorang itu adalah sosok yang ia kenal.
"Pakde jarwo..." Beliau adalah pak rt yang tadi datang ke rumah.
"Aku mau bicara sama kamu" menuntun Nara naik ke atas motor.
"Kita mau kemana, pakde?" Heran Nara. Jarwo tak berkata hanya terus fokus mengandarai motor. Setelah sampai di depan rumah Hans, meraka langsung turun "Kita bicarakan dengan abang mu" Sesampainya di depan rumah Hans, mereka masuk.
"Sebagai teman baik abang mu, di sini aku ada sedikit bocoran. Nanti malam Bustomi berencana menuntut denda kisaran puluhan juta kepada suami mu. Rencana itu aku dengar dari pak kades barusan." Jelas Jarwo.
Hans duduk di samping Nara "Berarti itu artinya sama saja dia menjual istrinya sendiri"
"Kurang lebih seperti itu. Jadi kalau menurut aku pribadi mending kita cari cara buat menjebak Bustomi supaya tidak terlalu songong."
Nara tersenyum sinis "Nggak nyangka ya bisa sekali Bustomi itu meminta denda berupa uang, sedangkan kasus ini melibatkan banyak orang. Apa dia tidak malu kalau di cap sebagai suami penjual istri. Secara tidak langsung kan seperti itu ya, pakde?"
"Benar. Kami para perangkat desa juga bingung atas gugutan denda itu. Maka dari itu sebisa mungkin korek informasi sedetail biji cabe dari suami mu itu, agar kalian bisa dengan mudah menggulingkan Bustomi" Saran Jarwo.
"Aku nggak sudi Pakde. Melihat dia saja rasanya darah ku ini mendidih. Biarlah dia sendiri menghadapi semuanya. Jangan libatkan aku lagi...." Tiba tiba nara bangkit lalu masuk ke dalam kamar Tuti.
"Negini lho Hans, aku itu bukannya membela Bagus tapi kalau sampai Bustomi mendapat apa yang dia mau, artinya kita kalah telak. Jangan sampai kesedihan adik mu di jadikan sebuah senjata bagi mereka."
__ADS_1
"Oke, aku ngerti apa maksud kamu. Untuk saat ini biar aku yang bicara pada Nara."
Jarwo langsung pamit "Kalau begitu aku pamit pulang"