Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Gejolak Api Cemburu


__ADS_3

Berulang kali Nada sindiran terus keluar dari mulut Bagus. Tapi tidak di gubris sedikit pun oleh Nara. Percuma bicara sama orang tidak punya otak seperti Bagus. Lebih baik diam dari pada semakin terbakar api.


Hati hati dengan diamnya seorang istri, kalau dia sudah memilih diam itu tandanya tidak ada lagi kesempatan tuk memaafkan. Diam bisa menghanyutkan. Sekali dia membuka mulut pasti berdampak buruk.


Di mana letak kurang seorang istri? seorang wanita bersusah payah menjadi istri sempurna bagi kamu (Lelaki), tapi dengan tega menghancurkan bagai debu. Sebelum hidup denganmu dia adalah anak kesayangan kedua orang tuanya. Di sayang, di manja, di jadikan ratu seumur hidup. Tapi, sejak menikah dengan mu hidupnya berubah bagai Babu. Semua itu rela di jalani hanya demi siapa? demi kalian kaum suami. Kedua orang tuanya saja mampu menjadian putri mereka ratu seumur hidup, mengapa kalian tidak bisa meratukan dia seumur hidupmu. Kamu yang tega merampas hak kedua orang tua atas putri mereka, namun dengan tega mencampakkan begitu saja.


Jika belum bisa membuat istri mu bahagia setidaknya jangan buat dia terluka. Kalau tidak bisa menjadi suami sempurna, paling tidak jangan sirami cintanya dengan racun(Perselingkuhan). Madu yang istri mu berikan tidak pantas kau campur racun karena itu bisa menjadikan madu yang tadinya manih akan mematikan.


"Aku bicara sama kamu...lihat aku" Meraih tas di atas ranjang lalu melempar ke lantai.


Mengeratkan rahang (Sabar, sabar)Meski dalam hati terasa dongkol tetap saja Nara tidak mau meluapkan. Ia memilih diam. Diam adalah pilihan terbaik untuknya saat ini. Dengan kesal Nara berjongkok meraih kembali tas ransel yang isinya menyembul berantakan. Satu persatu di punggutnya kembali semua pakaian tersebut.


Bagus semakin tidak terkendali. Bagaimana perasaan suami kalau dia di diamkan seperti itu. Seolah hidup terasa mati. Terlihat tapi tiada. Menyakitkan bukan? itu belum seberapa di banding rasa sakit hati Nara saat ini. Sudah di selingkuhi tapi malah di tuduh selingkuh. Sungguh memuakkan sekali.


"Nggak sabar ya mau kabur sama selingkuhannya?"


Nara memejamkan mata sejenak. Sakitnya tembus sampai tulang. Tangis tak bereluh, sakit tak berdarah, luka tak terbelah. Tapi sangat menyayat.


Usai memungut kembali semua baju, segara Nara bangkit lalu menutup tas.


Meraih ponsel lalu menghubungi seseorang "Mas, pesankan dua tiket ya, kalau ada berangkat sekarang juga" Ucap Nara pada seseorang di telepon.


"Wih...keren. Langsung telepon pacarnya" duduk di meja rias sebelah ranjang.


Menggenggam erat ponsel.

__ADS_1


"Kenapa? mau nyangkal apa lagi kamu?" Tak henti Bagus mempermainkan emosinya.


Seketika Nara berbalik badan. Tatapan mereka bertemu. Tatapan mata Nara bagaikan tatapan burung elang. Tajam dan seolah membunuh tanpa menyentuh.


"Bicaralan sesuka hatimu selama Tuhan belum membungkam mulut busuk mu untuk selamanya" Ketusnya seraya menunjuk dada Bagus "Hati busuk mu itu nggak pantas menilai ku sedikit pun. Di banding kamu dia(Prasetya) jauh lebih segalanya. Kalau Tuhan mengijinkan, aku akan kembali memilih dia, bukan kamu." Ucapan Nara langsung membungkam mulut Bagus. Wajah Bagus langsung memerah menahan amarah, kedua tangan mengepal erat, dan kedua mata melotot.


"Sakit, bukan? makanya kalau jadi suami jangan suka main mulut, kalau nggak mau kebakar hati. Ucapan adalah doa, dan tindakan di landasi dari rasa. Rasa Muak ku dengan kamu" Nara semakin membuat jengkel Bagus. Meski dia bicara begitu tapi di dalam hati tidak ada niatan untuk membalas perselingkuhan itu dengan cara yang sama. Nara punya cara sendiri untuk membalas Bagus. Bukan dengan tindakan tapi Doa. Hanya Tuhan yang mampu mengungkap yang salah menjadi benar dan yang benar selalu di atas segalanya.


Bagus geram dengan ucapan Nara kali ini. Ia pun membanting pintu lalu keluar kamar.


Brak....


Memejamkan mata "Ya Allah, maafkan hambamu ini yang tidak mampu menahan rasa sakitnya. Hamba menyerah. Tidak kuat lagi berjalan di atas duri tajam kehidupan. Sudah cukup skenario yang hamba perankan. Hamba mu ini terlalu lemah untuk menghadapinya" Kekokohan kaki luruh seketika. Rumah tangga yang di pertahankan selama bertahun tahun akhirnya akan segera kendas di tengah jalan. Impian menua bersama seketika sirna.


"Mau kemana kamu, Gus?" Tanya Ibu Sumiati. Beliau duduk di ruang tamu bersama Aska. Menemani sang cucu melihat film kartun kesukaan.


"Aska ikut sama bapak sekarang" Bagus langsung menyeret Aska keluar begitu saja. Padahal Aska masih makan. "Nggak mau, bapak mau bawa Aska kemana? lepas, Aska nggak mau ikut bapak. Lepas pak...." Berusaha melepaskan diri sebisa mungkin. Tapi Aska kesulitan.


"Bagus, mau kamu bawa kemana Aska?" Ibu Sumiati bersusah bayah berdiri hendak membantu Aska.


"Nara sudah memutuskan untuk pisah dariku. Jadi, mulai sekarang Aska ikut sama Bagus, mak. Jangan halangi Bagus membawa sarah daging ku sendiri." Jelas Bagus seraya terus memeganggi lengan Aska.


"Tidak. Aska mau ikut Ibu saja. Bapak jahat, Aska nggak mau ikut bapak" Aska menangis tapi tidak di gubris. Bagus malah semakin mencengkeram lengan Aska kemudian menyeretnya keluar rumah.


"Ibu......." Teriak Aska.

__ADS_1


Nara terkejut mendengar teriakan Aska dari luar. Segera Nara menyeka air mata kemudian berlari membuka jendela kamar, melihat Bagus memaksa Aska naik motor. "Aska....." Segera Nara berlari keluar kamar.


"Berhenti.... kamu mau bawa Aska kemana?" Untung saja Nara masih bisa menggapai baju belakang Bagus, sehingga dia berhenti sejenak.


"Ibu....Aska mau ikut ibu saja. Aska nggak mau sama bapak" Mengulurkan kedua tangan ingin menggapai tangan sang ibu. Namun, Bagus segera mendorong Nara sampai terjatuh.


"Mulai sekarang Aska sama aku, Andra ikut kamu. Biar kamu bebas sama selingkuhan kamu itu, yang ganteng, kaya, dan punya segalanya." Bagus pun segera membawa Aska pergi dengan mengendarai motor. Sebelumnya Bagus sudah menyiapkan pakaian Aska di dalam tas.


"Mas....mas, kembalikan anakku" Berusaha mengejar Bagus, namun tidak sanggup di gapai.


"Ibuuuuuu....." Aska terus memanggil sang ibu yang berlari di belakang sampai tertatih tatih.


"Aska...."Seraya berlari sekuat tenaga, Nara berteriak kencang memanggil nama sang putra. Bagus tetap tidak memperdulikan itu.


"Diam kamu. Mulai sekarang Aska ikut bapak." Satu tangan membungkam mulut Aska supaya tidak teriak histeris.


"Nara kenapa itu, mas?" Maimunah baru saja pulang dari pasar bersama suaminya. Melihat Nara berlari mengejar motor yang tidak lain milik Bagus. Segera mereka berhenti di bahu jalan melihat Nara mengejar Bagus dan Aska.


"Coba buk kita samperin dulu..." Mereka turun dari motor lalu berjalan menghampiri Nara.


"Kembalikan anakku....." Berlari sampai di ujung jalan berharap Bagus melepas Aska kembali padanya. Namun, semua harapan tinggal sebuah harapan.


Ketika Bagus dan Aska semakin jauh, Nara pun tak mampu berlari lagi. Bersimpuh lalu menundukkan kepala. Air mata jatuh terurai. "Ya Allah, ujian macam apa lagi ini" Menghentakkan kedua tangan di atas bumi. Kesedihan dan luka terlalu mendalam sampai tidak sanggup lagi menghadapi kenyataan.


"Aska...." Panggil Nara sekuat tenaga.

__ADS_1


__ADS_2