Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kecurigaan Bustomi


__ADS_3

Malam hari setelah acara pernikahan telah selesai. Semua tamu undangan satu persatu meninggalkan rumah Hans(Ayah Mutia). Tinggal beberapa kerabat dekat saja yang masih tinggal.


Nara berjalan ke arah kakaknya"Mbak, mas, aku minta maaf ya nggak bisa nginep di sini soalnya nggak tega ninggalin emak sendiri di rumah cuma sama anak anak. Takutnya nanti emak mau ke kamar mandi nggak ada yang nganter, tekut jatuh lagi" Tutur Nara seraya berpamitan kepada mereka.


"Ya sudah tidak apa apa kamu pulang saja, kami mengerti posisi kamu sekarang ini. Kalau begitu biar mas antar kamu pulang..." Hans menawarkan diri selaku kakak kandung Nara.


Nara mengusap lengan Hans "Nggak usah mas terima kasih. Aku pulang sendiri saja, lagi pula nggak enak dong masa tuan rumah ninggalin tamu sih. Mas ini ada ada saja" Dalam luka Nara berusaha tersenyum, kuat di depan semua orang meski rapuh di dalam.


"Sampean tenang saja pakde biar dek Nara pulang bareng sama aku saja. Kebetulan rumah kita kan dekat..." Seorang laki laki menawarkan diri. Dia adalah Bustomi, suami Merry.


"Oh, kebetulan sekali ada mas Bustomi. Kalau begitu aku nebeng sampe rumah ya mas." ucap Nara.


Bustomi mengacungkan jempol "Oke"


Melihat Bustomi tersenyum sembari mengacubgkan jempol membuat Bagus segera bengkit. Tadinya dia tengah asik berbincang dengan keluarga besar di sana. Namun, Bagus tidak suka kalau di dekati laki laki lain. Segera Bagus menghampiri mereka "Nggak usah, biar Nara pulang sama aku saja. Aku ini suaminya ngapain harus pulang nebeng orang lain" cetus Bagus.


"Tak kirain kamu nggak pulang Gus, kalau begitu gue pulang duluan ya" Segera Bustomi meninggalkan tempat.


"Mas, mbak, aku pamit ya mau pulang juga nggak enak lah di rumah emak lagi sakit. Kalau ada waktu kapan kapan tak main ke sini lagi" Setelah berpamitan mereka pun langsung pergi. Ketika mereka baru saja keluar dari rumah terlihat seorang wanita duduk depan rumah tengah melihat ke arah mereka "Lho kok pada pulang, emangnya nggak mau nginep dulu di tempat Om Hans?"Tanya Luna. Tatapan mata Luna seolah mengisyaratkan sesuatu yang sulit di pahami.


"Nggak bisa lah mbak soalnya di rumah emak sendiri cuma sama anak anak. Ya sudah mbak kami pulang dulu ya..." Nara segera naik motor bersama sang suami.


"Nggak mau mampir ke tempat ku dulu?"


Tanpa sengaja Nara melihat jaket yang di pakai Luna sama persis dengan jaket wanita di dalam foto itu. (Jaket itu sama persis sama yang di pakai wanita itu) Nara mulai tenggelam dalam lamunan.


"Tidak terima kasih, udah malam juga. Kita balik dulu ya Lun nanti kalau ada waktu kamu main ke tempat kami" Ujar Bagus.


"Iya deh nanti kalau ada waktu aku sempetin main ke rumah kalian. Sekalian mau jenguk mbah Sumi"


"Kita pamit pukang ya mbak" Nara menepuk pundak Bagus lalu mereka segera pergi. Sebelum pergi Bagus mengedipkan sebelah mata. Dengan mengendarai sepeda motor Nara dan Bagus pulang ke rumah. Sepanjang jalan tidak ada satu pun kalimat terucap dari mulut mereka. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di depan rumah. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar karena semua orang sudah tertidur pulas.


Ting...

__ADS_1


(Aku masih kangen kamu sayang) sebuah pesan romantis dari Luna membuat Bagus tersenyum sendiri seraya merebahkan diri di atas ranjang. Nara masih berganti pakaian hanya bisa melirik sang suami (Sepertinya aku harus cari tau lebih dalam, sebenarnya ada hubungan apa antara mas Bagus dengan Luna itu? Aku juga harus cari bukti tentang gosib perselingkuhan mas Bagus dengan Merry. Kalau memang benar dia punya hubungan dengan kedua wanita itu berarti Suamiku Penjahat Wanita) Tekat Nara semakin kuat untuk menguak semua kebohongan Bagus selama ini. Tidak perduli seberapa luka yang ia gali yang terpenting dia mendapatkan semua bukti.


Diam bukan berarti tidak tau, hanya menunggu waktu yang tepat untuk melibas habis kebohongan mereka. Diamnya seorang istri bagaikan bom waktu, di mana dia akan meledak kapan saja saat waktu itu tiba.


"Kamu mau langsung tidur?" Tanya Bagus memecah keheningan.


Nara yang baru saja naik ranjang segera berbaring seraya membelakangi Bagus "Aku lelah" satu kata menutup percakapan mereka pada malam itu.


Bagus terlihat acuh melihat sikap dingin Nara malam ini (Gimnaa gue nggak selingkuh , punya bini nggak peka sama suami. Udah lama nggak melayani suami tapi sikapnya sedingin es).


Ting...


Berulang kali nada pesan di ponsel Bagus berbunyi sampai membuat Nara menutup telinganya. Sontak saja Bagus mematikan nada pesan itu takut Nara curiga.


"Itu si pak Bambang chat kalau besok di suruh ambil tv ke tempat dia."


"Hem...." Menutup sebagian tubuh menggunakan selimut lalu kembali membelakangi Bagus.


"Tambang emas kaya kamu nggak bakal aku lepas begitu saja. Bagus, Bagus, bisa juga kamu di manfaatin" Luna tersenyum sembari memutar ponsel.


Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana nampak hening, hanya suara jangkrik yang terdengar nyaring. Dslam keheningan malam Nara masih terjaga. Dia meringkuk membelakangi Bagus. Air mata terurai begitu saja mengingat iau yang beredar dan juga kecurigaannya kepada Luna.


Samar samar Bagus mendengar isak tangis, dia pun langsung menghadap Nara, menyentuh lengan "Kamu menangis?" Segera Nara berpura memejamkan mata.


"Dia sudah tertidur, apa aku salah dengar kali ya" kembali Bagus tidur tapi tangan kanan melingkar di badan Nara.


(Sedikit saja dia menyentuhku rasanya hati ini tidak terima. Rasa sakit ini semakin membuat ku membenci dirinya. Tangan yang melingar ini pasti banyak memeluk wanita lain. Jemari yang saat ini menggenggam erat pasti pernah menyeka wajah wanita lain. Sungguh aku tidak sanggup lagi) Malam ini menjadi saksi luka tak berdarah.


Di sisi lain Merry baru saja keluar dari kamar mendengar suara tv dari ruang tamu.


"Kamu balum tidur mas?" Tanya Merry seraya mengikat rambut.


"Belum"

__ADS_1


Merry pun duduk di samping suaminya. "Lihat apaan sih?"


Tiba tiba saja Bustomi menatap mata Merry dalam "Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu jawab dengan jujur..." Seketika Bustomi mencengkeram lengan Merry.


"Apa apaan ini mas. Aku salah apa sampai kamu terlihat murka seperti ini?"


"Apa benar kamu pernah ke hotel bersama laki laki lain?"


Sontak saja Merry terkejut "Hotel? siapa yang ke hotel? aku nggak pernah ke sana sama siapa pun. Mas tau sendiri kerjaan ku di rumah jaga warung bukan jaga hotel"


Bustomi mengepalkan tangan kanan hendak melayangkan tinju, namun terhenti seketika kala Merry memejamkan mata "Kamu tidak bisa membohongi aku. Baru saja ada orang bilang kalau dia melihat kamu sama laki laki masuk ke dalam hotel. Jujur saja siapa laki laki itu...." Dengan nada tinggi.


"Nggak ada, mas. Beneran aku nggak pernah kemana mana, apa lagi ke hotel. Dia itu pasti ngarang cerita supaya kita bertengkar." Berusaha meyakinkan hati Bustomi yang terbakar emosi.


Plak...


Satu temparan keras mendarat di wajah Merry "Apa untungnya bagi dia mengarang cerita tentang kamu? aku percaya padanya karena dia teman ku. Jadi jangan pernah macam macam di belakang ku atau kamu tau sendiri apa akibatnya sudah main main sama aku" Sepulangnya dari rumah Tuti, tanpa sengaja Bustomi bertemu teman lamanya yang bekerja sebagai ojek online, dia langsung menghadang Bustomi lalu menceritakan apa yang di lihatnya beberapa waktu yang lalu. Sebagai seorang suami tentu dia marah besar mendengar istrinya bersama laki laki lain masuk ke hotel.


Merry menyentuh pipi "Tapi aku berani bersumpah demi kamu, aku tidak pernah melakukan apa pun dengan laki laki lain"


"Sumpah yang kekuar dari mulut sampah tidak akan ada maknanya" Dengan santai Bustomi bersandar pada bahu sofa.


"Silahkan mau percaya atau tidak, terserah. Bagi kamu aku hanya sampah." Merry bangkit hendak meninggalkan sang suami.


Meraih sebatang rokok lalu menyalakannya "Lalu apa penjelasan kamu tentang gosib perselingkuhan kamu dengan Bagus" Dengam santainya Bustomi melipat kaki kanan bertumpu pada kaki kiri.


"Mereka itu fitnah, semua itu tidak benar mas"


Meniupkan asap rokok "Kamu kira dengan kamu bilang seperti itu aku langsung percaya, oh tentu tidak. Sepandai tupai meloncat dia akan jatuh juga"


"Terserah kamu percaya atau tidak" Merry langsung berlari ke dalam kamar.


"Heh.....kita lihat saja apa yang bisa aku perbuat pada kalian" Senyuman Bustomi mengisyaratkan sesuatu. Entah apa tapi pastinya akan membuat Merry bertekuk lutut mengakui kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2