Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Emak Jatuh


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Tuti beserta anak bungsunya menginap di rumah ibu Sumiati. Terpaksa Tuti menginap di sana karena Beliau sudah mengusir orang bayaran Nara. Menurut keterangan orang itu, Ibu Suamiati sangat susah di atur. Sedikit sedikit marah, setiap hal yang di kerjakan selalu ngomel tanpa henti. Yang peling membuat beliau sakit hati saat itu adalah ketika hendak makan mala ibu Sumiati sengaja menyindir dengan kalimat pedas (Makan secukupnya harga beras lebih mahal dari lasa lapar mu). Ucapan ibu Sumiati menyinggung beliau. Tanpa tunggu lama beliau langsung ankat kaki. Kalau tidak merasa iba dengan kondisi Nara saat itu, beliau pun enggan bekerja di sana.


"Tuti.....Tuti....." Teriak Ibu Sumiati dari dalam kamar. Saat itu Tuti tidak mendengar teriakan Ibu Sumiati, sebab ia tengah membeli sayur. Tidak jauh daru rumah, hanya di sebrang jalan tepatnya di sebelah warung Merry.


"Kemana si Tuti Astuti ini? di suruh ngerawat orang tua malah nggak becus" Berusaha menggerakakn kedua kaki tapi tidak bisa karena kedua kaki terasa mati rasa. Beliau tidak mau menyerah dengan sekuat tenaga beliau menurunkah kedua kaki.


"Ini kaki juga kenapa pake lumpuh segala? bikin kesel" Perlahan berusaha turun dari ranjang, meski kedua kakinya tidak bisa merasakan apa pun tetap saja beliau nekat mau belajar jalan.


Bruk....


Akhirnya Beliau terjatuh. "Aduh....Tuti tolong Emak, Emak jatuh" Beliau meringis kesakitan.


"Mbah uti...." Anak bungsu Tuti mendengar suara dari dalam kamar. Dia langsung masuk kamar melihat Beliau sudah tergeletak di lantai, tanpa pikir lama anak usia lima tahun itu berlari mencari sang ibu.


"Ibu....ibu, cepat sini" Teriak Andini dari kejauhan.


Tuti yang masih di luar bersama tukang sayur dan beberapa ibu ibu. Mendengar teriakan Andiri, ia pun berlari. "Ada apa sayang...."


"Andini kenapa tuh mbak" Tanya salah seorang tetengga.


Abang tukan sayur mengerdikan kedua bahu "Meneketehe...."


Seikat sayur bayam di pukulnya ke badan abang tukang sayur "Siapa yang tanya Elu bang...."


"Hehehe... lagian si ibu ini aneh mana kita tau tuh anak kenapa. Hanya dia dan Tuhan yang tau.." Jawab Abang tukang sayur. Memang si abang orangnya humoris.


"Eh....ada apaan ya kok mbak Tuti langsung lari masuk ke dalam" Tanya slaah satu warga yang juga tengah berbelanja sayur.


"Palingan si Andini minta makan" Sambung yang lainnya.


"Nggak mungkin kalau anaknya minta makan sampe lari larian kaya gitu, atau jangan jangan Mak Sumi kenapa napa..." Tebak yang lain.


"Bisa jadi sih. Oh iya menurut kalian seberapa kuat si Tuti tinggal sama Mbah Sumi? suami keduanya saja tidak tahan tinggal serumah sama dia, apa lagi cuma cucu menantu paling bentar lagi OUT" Salah satu dari mereka adalah tetangga dekat Ibu Sumiati. Rumahnya hanya bersebelahan. Maka dari itu dia tau apa pun tentang ibu Sumiati dan keluarga.

__ADS_1


"Nak lho ketahuan suka nguping, ya?" Abang tukan sayur pun ikut nimbrung. Maklum saja di desa biasanya ada bahan sedikit saja sudah jadi gosib besar. Heran juga sih, memang untungnya buat mereka itu apa? kok suka sekali gibahin tetangga sendiri. Emang jaman sekarang itu pada nggak takut dosa tapi lebih takut nggak ada bahan gibahan.


"Pak, buk, tolong bantu saya...." Tuti kembali keluar rumah dengan tergesa gesa. Dia nampak berkeringat dan nafasnya tersengal .


Maimunah yang baru saja datang langsung bertanya "Lho Tut ada apa kelihatannya panik begitu?" Sembari memilah sayur.


"Emak jatuh dari ranjang...."


"Ya Allah kok bisa sih Tut?" Beberapa orang langsung berlari ke dalam rumah.


Setelah beberapa saat kemudian Merry pun datang. Dia mendengar ada keributan dari dalam rumah. Tadinya dia mau membeli sayuran tapi melihat gerobak sayur tak bertuan lantas membuatnya bingung, sampai dia mendengar kegaduhan dari dalam rumah ibu Sumiati.


"Ada apa sama Emak?" Tanya Merry pada salah satu orang di sana.


"Jatuh dari ranjang" Lirihnya.


Merry langsung berbisik "Lah itu akibatnya kalau orang tua di biarkan sakit sendirian di rumah. Sedangkan orang yang di angkatnya anak malah pergi lepas tanggang jawab. Kalau aku jadi Nara, malunya bukan main. Udah di kasih warisan giliran maknya sakit nggak mau ngurusin. Enak banget hidupnya" Sengaja Merry menabur benih kebencinan di hati para tetangganya. Selama ini mereka sering menyanjung Nara setinggi langit. Tiba giliran Merry menjatihkan harga dirinya.


"Hus....jangan ngawur kalau bicara. Takutnya nanti kedengeran sama orang lain, bisa berabe"


"Mak bangun, buka mata Emak" Tuti berusaha membangunkan beliau yang saat ini tidak sadarkan diri.


Tuti langsung mengoleskan di bawah hidung Ibu Sumiati "Mak ayo bangun jangan buat aku cemas...."


Berselang beberapa menit Belaiu tersadar "Kalian pada ngapain di kamar ku?"


"Emak tadi jatuh. Emak mau ya ke rumah sakit, biar dokter cek kondisi emak" ucap Tuti.


"Tidak, tidak mau. Semua ini terjadi karena kamu nggak becus ngurus orang lumpuh seperti saya. Percuma saja Nara bayar kamu kalau kamunya teledor kaya gitu" Dalam keadaan sakit beliau masih sempat memaki Tuti.


"Tut kita pulang ya" Beberapa orang memilih pergi karena tidak mau mendengar ucapan ketus beliau. Tersisa Tuti, Merry, dan Maimunah. Ketiga wanita itu berusaha membujuk Beliau sekuat tenaga. Tetap saja beliau tidak mau.


"Mas ada kabar dari kampung kalau emak jatuh dari ranjang..." Nara mendapat kabar dari salah satu tetangganya. Seluruh tubuh serasa lemas mendengar kabar itu. Perasaan bersalah terus menyelimuti Nara "Semua karena aku tidak bisa menjaga emak dengan baik..." Air mata tak bisa di bendung.


Bagus yang tadinya rebahan sembari nonton tv langsung terduduk "Terus sekarang bagaimana kondisi emak?"

__ADS_1


"Katanya sudah sadarkan diri. Tapi mak nggak mau di bawa ke Dokter..." Sembari berusaha menelepon Tuti.


"Loh kok bisa sih emak sampai jatuh? emangnya mbak Tuti kemana"


"Entalah aku juga nggak tau"


"Mbak Tuti susah banget di hubungi..." berulang kali menelepon tapi tidak ada respon sedikit pun.


"Terus ini gimana? kita pulang paksa emak ikut ke sini atau kamu di kampung jagain emak..."


Terdiam sejenak "Kalau kita paksa emak ke sini pasti dia nggak mau. Tapi kalau aku di kampung bagaimana dengan anak anak dan juga warung?"


"Terus bagaimana solusinya?"


"Mas....kalau seandainya kamu jaga emak di kampung bagaiman, kamu mau? nggak mungkin kan aku terus di rumah. Aku nggak tega sama anak anak, dan lagi Eca pasti kewalahan jualan sendirian. Kita juga sudah menerima pesanan nasi kotak setiap harinya, nggak mungkin aku menolak rejeki Allah"


Tentu saja Bagus setuju. Memang itu yang di harapkan. "Demi kebaikan bersama aku siap jaga emak. Tapi aku butuh bantuan dari mbak Tuti buat beres beres sama masak" pinta Bagus.


"Kalau soal itu gampang, mas. Yang terpenting kamu sanggup dulu"


"Aku siap. Ibu kamu artinya juga ibu aku juga" Modus memang si Bagus ini kelihatan dari wajahnya.


"Tapi aku minta satu hal sama kamu, mas. Tolong jangan pernah kasih hak aku pada orang lain..." Keduanya saling menatap.


"Maksudnya?" Bagus tidak mengerti apa yang dia maksud.


Pandanga Nara berlaih dari ujung kepala sampai ujung kamu "Semua tentang kamu itu hak ku" Ujarnya.


Sekarang Bagus mengerti apa yang Nara maksud. "Percaya deh sama aku, cinta, hati, dan tubuh ku hanya untuk kamu seorang" Menyentuh kedua pipi sang istri.


"Semoga kamu menepati semua ucapan kamu itu...." Jujur saja Nara tidak sedikit pun menaruh kepercayaan terhadap Bagus. Dia hanya menguji seberapa besar kebohongan yang akan dia dapati di kemudian hari.


"Pokoknya kamu tenang saja aku tidak akan berbuat macam macam....Emuah...."Nara di buat terkejut ketika Bagus mencium keningnya. Di saat genting seperti ini kok kelihatannya Bagus malah girang sekali.


Nara berusaha berpikir positive karena dia masih membutuhkan tenaga Bagus. Kalau bukan kepepet Nara pun enggan baik baikin dia.

__ADS_1


"Kalau begitu aku mandi dulu ya sayang" Wajah sumringah Bagus menambah kecurigaan Nara.


(Sekarang aku pasrahan semua sama Allah. Sebaik baiknya pengamatan tidak akan lepas dari pengawasan-Nya.)


__ADS_2