Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kebencian Andra


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Tiba saat Nara harus pulang kampung. Kali ini Nara hanya pulang dengan anak bungsunya, sebab Andra tidak mau di ajak pulang dengan alasan tertentu. Padahal Andra hanya tidak mampu jika nanti melihat sang ibu hancur ketika tau apa yang telah terjadi, oleh karena itu dia memutuskan untuk tinggal di rumah saja. Membayangkan reaksi sang ibu saja mambuatnya sakit apa lagi harus melihat sendiri, tentu membuatnya tidak mampu. Sehari sebelumnya Mutia memberitahu kalau nanti akan ada persidangan di balai desa untuk menyelesaikan masalah perselingkuhan Bagus. Persedangan akan melibatkan banyak saksi kunci yang mana akan ada banyak bukti lain.


(Aku tidak sanggup kalau harus menyaksikan kesakitan ibu. Jujur saja aku nggak tega dengan semua itu)


"Kamu benar tidak mau ikut pulang kampung?"Tanya Nara sembari memakai jam tangan.


Andra sedang bermain game di ponsel lalu hanya melirik sang ibu "Andra jaga rumah saja, buk. Lagi pula Andra capek banget besok harus negerjain tugas"


Nara memicingkan mata "Sejak kapan kamu perduli sama tugas sekolah kamu itu?" melipat kedua tangan seraya menatap heran ke arah Andra.


Menggela nafas "Ya kan apa salahnya kalau Andra rajin?"


"Ya sudah kalau kamu nggak ikut pulang, tapi nanti bantuin mbak Eca tutup warung, kasian dia sendirian. Ingat! jangan keluyuran sampai larut malam. Kalau ibu sampe dengar kamu keluyuran lewat jam sepuluh malam, awas saja nanti" Ucap Nara memperingati. Andra sendiri bukan anak remaja yang mudah di atur, dia suka kelayapan sampai tengah malam. Hobi Andra itu membuat Nara was was sebab di usia seperti Andra ini egonya masih labil, mudah di pengaruhi. Sedikit saja salah dalam pergaulan bisa berakibat buruk di kemudian hari. Momok paling di takuti para orang tua saat anak menginjak dewasa ialah pergaulan mereka. Sebagai seorang anak juga harus pandai memilih teman supaya tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Ketakutan orang tua bukan tanpa alasan, karena mereka tidak ingin masa depan anak mereka hancur akibat kesalahan dalam bergaul. Sejatinya sahabat terbaik bukan teman yang menjerumuskan tapi yang bisa saling mengingatkan.


"Hem...." Kembali fokus dengan video game.


Nara geleng kepala "Kalau main game udah susah di bilangin" Merebut hp Andra "Jangan cuma ham hem aja. Awas ya nanti kalau kamu masih keluyuran ibu pindahin kamu ke pesantren"


Andra memposisikan badan "Jangan dong, buk. Andra nurut kok. Masa ibu tega sih sama anak sendiri..." Wajah sedikit memelas.


"Lho justru dengan kamu masuk pesantren ibu jadi tenang. Kamu bakal jadi anak sholeh, biar nggak suka nglawan sama orang tua"


Kebanyakan anak tidak mau sekolah di pondok pesanter padahal di sana mereka akan di ajarkan norma agama yang baik.


"Andra nggak nglawan lagi deh, buk." Tersenyum manis seraya menggelayut di lengan sang ibu.

__ADS_1


"Janji ya..."


Andra mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf (V) "Janji deh ibu ku sayang"


Tuk..


Mengetuk pelan ke


dahi Andra "Awas saja kalau bohong"


Andra menyeringai lalu rambutnya di acak oleh sang ibu.


"Buk, ojeknya sudah nunggu di depan" datang Eca membawa senampan piring kotor bekas orang makan.


"Sebentar.... tolong dong Ca bilang sama pak ojol buat nunggu bentar" Segera Nara berkemas dan langsung memakai hijab.


"iya mbak"


Tak betapa lama Nara keluar bersama Aska "Ca, titip warung sama Andra ya. Besok pagi tolong cek Andra di rumah apa tidak, terus nanti malam kalau kamu blm tidur toling cek duku dia sudah di rumah apa belum."


Menjentikkan ibu jari "Oke buk. Sampean hati hati di jalan. Masalah mas Andra serahkan padaku" Lambaian tangan mengiringi kepergian Nara.


Ketika Eca baru saja masuk, di lihatnya wajah murung Andra. Dia tengah duduk di kursi depan, tempat biasa para pembeli makan. Saat ini warung tidak ada pelanggang, hanya menyisakan dia dan anak majikan.


Perlahan langkah kaki Eca mendekat "Ada apa mas? mukanya kusut kaya kain lap meja aja" Duduk di sebalah Andra. Eca sudah menganggap anak majikannya itu bagaikan adik sendiri. Setiap kali Andra ada masalah pasti dia cerita dengan Eca, karena hanya dia tempat curhat yang tidak menyudutkan. Eca lebih sering menjadi pendengar dari pada menjadi hakim. Pasalnya dia tau anak seusia Andra ini tidak bisa langsung di suditkan dengan sudut pandang orang dewasa, harus di cari selah yang tepat untuk meneasehatinya.


Kedua mata Andra terlihat berkaca kaca "Aku mau cerita mbak" Nampaknya kali ini Andra serius dengan masalah yang hendak di ceritakan.

__ADS_1


"Katakan..." Melipat kedua kaki ke atas kursi sembari menghadap Andra.


"Sebenarnya bapak ketangkap basah selingkuh sama tetangga depan rumah" Wajah Andra seketika menunduk lesu. Sebagai seorang anak tentu dia kecewa dengan perbuatan sang bapak.


"Ha....selingkuh? kamu nggak boleh sembarangn kalau bicara lho, mas. Biar bagaimana pun beliau adalah bapak kandung Mas Andra, nggak baik bicara seperti itu jatuhnya nanti fitnah." Sedari dulu Eca sudah tau kalau Andra tidak begitu suka dengan Bagus. Mungkin karena watak mereka sama kerasnya dan sering berselisih paham.


"Untuk apa aku bohong? kalau mbak Eca nggak percaya, aku ada buktinya" Memperlihatkan sebuah bukti percakapan dengan Mutia dan ada sebuah video juga saat Bagus bercumbu dengan wanita selingkuhannya itu. "Apa menurut mbak Eca aku salah kalau menyimpulkan bapak selingkuh? apa mencium istri orang itu wajar?"


"Ya Allah pak Bagus, aku nggak nyangka lho dia bisa berbuat kaya begituan" Sebagian orang tidak akan percaya kalau tidak melihat bukti nyata. Memang dulu Eca pernah melihat Bagus diam diam menjalin hubungan dengN rekan kerjanya atau lebih tepatnya karyawati di warung. Tapi Eca mengira kalau dia sudah insyaf tapi nyatanya malah semakin menjadi.


Andra memukul meja "Itu yang membuat Andra dari dulu benci sama bapak. Dia tidak bisa menjadi panutan buat anaknya tapi malah mempermalukan keluarga."


Eca tidak bisa berkata kata kalau sudah seperti ini, bingung juga sih kalau ada di posisi Andra.


"Kenapa aku jadi deg degan kaya gini ya" Di dalam bus yang di naiki, Nara merasa sedikit anek. Pasalnya tidak biasa jantung berdetak kencang.


"Ibu kenapa?" Tanya Aska.


"Tidak, ibu tidak apa apa. Aska tidur lagi saja..." mengusap ujung kepala sang putra.


(Hari ini terasa aneh bagiku)


Di sisi lain Bagus mendapat pesan dari Hans "Aku harus segera pulang sekarang juga" Bagus bergegas pergi dari tempat teman kecilnya.


"Lho mau kemana kamu, Gus?" Tanya Rinto.


"Gue harus pulang bro penting" Bagus langsung tancap gas.

__ADS_1


__ADS_2