
Pada dasarnya apa yang kita miliki saat ini bukan sepenuhnya milik kita. Seberapa kuat tekat mempertahankan kalau sang pemilik memintanya untuk kembali, maka tidak ada satu orang mampu menghalangi. Kehidupan manusia terhitung dari sejak kelahiran pertama sampai akhir nafas terlepas dari badan.
Banyak orang merasa putus asa atas kepergian seseorang, bahkan banyak pula yang menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi. Begitu halnya dengan Nara saat ini. Kematian Aska meninggalkan luka mendalam sampai keimanan mulai runtuh. Sejak saat itu Nara tidak lagi mendekatkan diri pada tuhannya, melupakan semua kewajiban, tak lagi perduli dengan siapa pun. Hal itu membuat Nara menjadi hidup tapi mati.
"Ibu...." Andra tidak bisa menahan kesedihan terlalu dalam lagi, segera ia luapkan air mata. Memeluk sang ibu sembari bersandar do bahunya. "Andra janji akan selalu melindungi ibu dam menjaga ibu sampai tua nanti. Andra sayang ibu" Mengecup kening sang ibu.
Air mata Andra membuat hati Nara sedikit mulunak. Tangan menggapai wajah sang putra "Aska..." Tapi yang ada dalam bayangan mata hanya wajah Aska saja. Mungkin dia belum bisa menerima nasib buruk menimpa sang putra. Rasa kehilangan masih membayang.
"Ini Andra buk bukan Aska. Tolong sadarlah, kembalilah seperti ibu yang dulu...."
Hans menepuk pundak Nara "Sudah, susah cukup kesedihan ini. Melihat mu seperti ini, Aska tidak akan tenang di sisi Allah. Lebih baik kamu berdoa untuknya, supaya Aska tenang di sisi Allah, dan di berikan tempat terindah di alam sana. Percuma kamu kaya gini nggak bakal kembaliin dia juga, justru dengan kamu seperti ini akan membuat dia menjadi tidak tenang di sana" ucapan Hans membuat Air mata Nara terjatuh. Dalam lubuk hati terdalam ia merasakan betapa sakit orang sekitar melihat dia seperti ini, tapi ia juga tidak bisa keluar begitu saja dalam belenggu kesedihan ini.
Tok, tok, tok...
"Biar saya saja yang buka pintu" Prasetya dengan cekatan membuka pintu. Di luar terlihat ada tiga orang tengah menatap dirinya. Satu orang wanita paruh baya, pria tua, dan satu orang lelaki duduk di kursi roda.
"Siapa Pras....?" Ketika Hans melihat Prasetya terdiam diri, segera ia menghampirinya. "Siapa...." Betapa terkejutnya Hans kala melihat Bagus beserta keluarga sudah ada di depan pintu. Kedatangan mereka semata ingin meminta maaf atas perlakuan putra mereka. Sebagai orang tua mereka ikut malu atas tindakan Bagus.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" Takut Nara tau kedatangan Bagus, segera dia dan Pras keluar rumah. Pintu pun di tutup rapat.
Sembari menggerakkan kursi roda mendekati Hans "Mas, aku mohon ijinkan aku bertemu dengan Nara sebentar saja. Ada hal yang ingin ku sampaikan padanya" Meraih lengan Hans meminta sebuah pengampunan tapi pintu maaf telah tertutup rapat untuknya.
__ADS_1
"Tidak! sudah tidak ada tempat lagi untuk mu datang ke rumah ini, bahkan hanya sekedar menemui adik ku"
"Tolong mas ijinkan aku bertemu dengannya sebentar saja. Aku mohon mas ijinkan aku....."
Hans menepis tangan Bagus "Cukup! mau apa lagi kamu mau bertemu dengan dia, apa kamu belum cukup puas menghancurkan kehidupan adik ku? kamu tidak hanya menghianati dia tapi juga membuatnya kehilangan Aska, kenapa tidak kamu saja yang mati" Kecam Hans.
Bagus menangis "Kalau pun bisa aku ingin bertukar posisi dengan putra ku saat itu, tapi semua sudah takdir Tuhan. Kalau bisa aku mau menebus semua dosa ku dengan bertukar tempat dengannya" Hans menangis tersedu mengingat kejadian tragis yang menimpa putranya.
Atas kejadian itu membuat Bagus sadar bahwa semua ini imbas dari perselingkuhannya. Kesenangan sesaat akan menyesatkan kehidupan seseorang hingga penyesalan tiada artinya lagi.
"Nak Hans, kami mohon ijinkan kami bertemu menantu kami" Pinta ibu mertua Nara. Beliau sampai berlutut di hadapan Hans seraya menundukkan kepala. Tak lama kemudian di susul Ayah mertua Nara yang ikut berlutut di hadapan Hans "Saya sebagai orang tua Bagus menghaturkan permohonan maaf yang sebesar besarnya. Kami juga tau semua kesalahan anak kami. Kalau boleh tolong ijinkan kami bertemu dengannya sebentar saja." Ayah Bagus sampai menyentuh kaki Hans. Berharap Hans meluluhkan hatinya untuk mempertemukan mereka dengan Nara. Sontak saja Hans memundurkan langkah. Ikut berjongkok seraya menyentuh kedua lengan pria tua tersebut "Pak, tidak pantas anda pertaruhkan harga diri demi kesalahan putra anda" Membatu beliau bangun begitu pula dengan ibu Bagus.
"Pras bawa mereka masuk" Tutah Hans.
"Mari pak, buk, kita masuk" Tanpa tunggu lama Prasetya pun membawa kedua mertua Nara masuk ke dalam rumah.
Hans mengepalkan kedua tangan. Melihat wajah Bagus ingin sekali ia lupakan semua emosi. Tapi, melihat Bagus saat ini membuatnya menghentikan niat. Setelah kejadian itu membuat kedua kaki Bagus lumpuh permanen. Ketika kecelakaan terjadi badan terlempar ke tengah temgah jalan raya, tanpa sengaja di belakang ada sebuah truk melaju kencang hingga melindas kedua kakinya. Akibatnya kedua kaki Bagus lumpuh dan semua tulang kaki hancur. Seumur hidup dia akan duduk di kursi roda.
"Aku sungguh menyesal mas...." Air mata Bagus luruh tak beraturan.
Hans memijat kening seraya membuang pandang "Terlambat. Semua sudah terjadi. Kalau kamu mau kami memaafkan kamu, maka ceraikan adik ku. Jangan lagi kamu muncul di hadapan kami. Pergi sejauh mungkin. Dengan tidak adanya kamu kehidupan adik ku tidak akan sengsara lagi."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau pisah darinya. Aku ingin memperbaiki kesalahan ku ini, mas. Aku mau menebus semua kesalahan ku ini"
Hans langsung menonjok wajah Bagus "Yang mana lagi yang ingin kamu perbaiki? yang ada bukan memperbaiki tapi semakin menghancurkan. Dengan semua yang kamu lakukan masih bisa kamu bicara seperti itu? heh....dasar nggak tau diri" Satu pukulan lagi mengayun tepat di wajah Bagus sampai kedua hidung mengeluarkan darah segar.
"Tapi mas..."
"Gue bilang cukup! Kalau lo mau memperbaiki semua masalah ini, satu satunya jalan ya lo ceraian adik gue. Hidup sama Lo ibarat hidup di neraka. Jadi lebih baik lo pergi jauh dari hidup adik gue, sebelum tangan ini memeras warna merah dari bajumu itu" Maksud dari ucapan Han sudah jelas bahwa dia tidak main main dengan ucapannya.
Bagus terdiam "Kalau itu bisa menebus semuanya maka aku rela menceraikan Nara asal dia bahagia"
Hans menyunggingkan senyum "Menebus kamu bilang? mau sampai kamu mati sekali pun tidak akan bisa menebus semua luka yang kamu berikan pada adik ku Nara. Kalau pun iya tebusannya tidak hanya luka melainkan neraka." Sangking kesalnya Hans langsung masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah nduk kok kamu jadi kaya gini" Sang ibu mertua mengusap lengan menantu sembari bercucuran air mata.
Nara masih terdiam tanpa expresi.
"Nak, bapak minta maaf atas sikap putra bapak kepada kamu. Bapak akan membebaskan kamu dari kelukaan ini. Bapak janji untuk selanjutnya kehidupan kamu tidak akan seperti ini lagi" Kedua orang tua Bagus memutuskan untuk membebaskan Nara dari belenggu hitam pernikahan. Mereka tau kalau pernikahan keduanya tidak bisa di lanjutkan lagi.
Beberapa bulan kemudian Bagus dan Nara resmi bercarai. Keduanya mulai hidup masing masing. Perlahan Nara mulai kembali bangkit, sedangkan Bagus menjalani karma dalam hidupnya. Semua orang menganggapnya sebagai sampah. Hidupnya tidak berguna lagi, hanya mengandalkan kursi roda sebagai penyangga badan. Tidak ada lagi yang bisa di banggakan kala Tuhan telah menurunkan hukum karma.
Bagus banyak di asingkan warga. Para wanita yang dulu mengejarnya sudah pergi meninggalkan dia tanpa rasa iba. Dan saat ini karma telah memberi balasan setimpal pada setiap pendosa.
__ADS_1