Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Tanda Merah


__ADS_3

Ke esokan hari.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Setelah kedua putranya berangkat sekolah Nara pun kembali rebahan. Kepala seakan mau pecah mengingat kejadian semalam. Saat ini Nara tidak tau harus berbuat apa, apakah dia mampu menjalani hidup seperti ini? hidup dengan banyak kesulitan atau menyerah dengan keadaan. Entahlah yang pasti saat ini Nara benar benar di ambang kehancuran. Belum lagi masalah rumah tangganya bersama Bagus. Pernikahan mereka serasa hambar, bagai sayur kurang garam. Hubungan tanpa cinta bagaikan mendayung di laut lepas, ombak telah mengombang ambingkan kehidupan sampai hanya ada satu pilihan, ikuti alur yang maha kuasa. Di tengah laut lepas sana hanya ada dua pilihan antara bertahan dengan maut atau menyerah tanpa peluang.


"Ya Allah mampukah hamba menjalani semua ujian mu ini? ujian ini terlalu nikmat untuk manusia lemah seperti hamba ini...." Menangis sejadinya untuk mengurangi beban di hati.


Menangislah di saat kamu merasa sakit, jangan tahan luka itu. Lepaskan seperti air mengalir hingga ke tepian. Jangan ragu ungkapkan rasa sakit mu. Keluarkan segala rasa yang ada, sampai kamu merasa lega. Teman terbaik bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri. Sahabat paling setia adalah hati kita sendiri.


Ting....


Sebuah pesan singkat dari kakak iparnya (Tuti) masuk berulang kali. Dalam pesan tertulis bahwa ibu Sumiati tidak bisa di kendalaikan, beliau marah tanpa alasan. Sampai orang bayaran Nara tidak tahan lagi tinggal bersama beliau. Menurut keterangan Tuti, ibu Sumiati terlalu sensitive, apa yang di kerjakan olehnya selalu di salahkan.


"Ya Allah ujian apa lagi ini...." sangking prustasi ponsel di tangannya di banting. Untung saja tidak smapai jatuh ke lantai, kalau tidak hancurlah sudah.


"Ehem....mau di banting sekeras apa pun itu hp nggak bakal pecah, coba deh kamu banting di lantai, pasti hancur lebur" Nara terkejut melihat sosok Bagus berdiri di depan pintu kamar, tengah bersandar pada tepi pintu seraya melihat kesedihan di mata sang istri.


"Masih ingat pulang juga kamu, mas? aku kirain lupa jalan pulang...." Nara langsung menghampiri suaminya itu.


"Kamu nggak malu setelah kabur semalam?"


"Kenapa harus malu, toh semua ini bukan murni salah ku" Dengan wajah tanpa dosa beraninya Bagus menatap Nara sembari melebarkan senyum.


kedua tangan Nara mengepal erat. Ingin sekali rasanya melayangkan kedua bogem itu ke wajah Bagus.

__ADS_1


"Kenapa mukanya kaya gitu, masih marah? mau sampai kapan sih kamu marah nggak jelas kaya gini?" Melewati sang istri langsung naik ranjang seraya menyandarkan kepala di bahu ranjang. Bagus duduk bersandar santai sedangkan di depan matanya ada seekor singa siap melahap.


Nara geleng kepala "Masih bisa dia bersikap setenang itu di depan ku setelah apa yang dia lakukan kemarin....." Gumam Nara.


"Sini dong sayang....sambut suami tercinta kamu ini. Jangan diam kaya patung seperti itu. Baru beberapa malam jauh dari kamu tapi rasanya kaya setahun" kedua tangan Bagus mengatung seolah menunggu Nara berlari ke arahnya lalu memeluk erat.


Entah terbuat dari apa otak Bagus itu. Kemarin malam pergi dengan amarah, sekarang pulang tanpa rasa bersalah. Seorang maling saja punya urat malu tapi entah di mana rasa malu Bagus saat ini. Atau mungkin saat semua orang di kasih otak sama Allah buat berpikir, dia malah asik tidur, jadi nggak kebagian jatah otak deh.


"Enteng sekali kamu bicara, mas. Dengan kejadian semalam masih bisa kamu panggil aku sayang? kamu tau nggak bagaimana kondisi aku saat ini? aku tertekan sama keadaan, mas. Kalau kamu di posisi aku belum tentu kamu sanggup menghadapinya atau mungkin kamu sudah bunuh diri" jari telunjuk Nara mengarah tepat di wajah Bagus.


Melihat Nara semakin terbakar amarah, Bagus pun langsung bangkit. Di raihlah kedua tangan Nara "Aku punya cara untuk memecahkan masalah kamu..." Tiba tiba saja Bagus hendak mencium Nara.


"Apaan sih......" Sontak Nara mendorong tubuh Bagus "Di saat kaya gini bisa bisanya kamu berpikir kaya gituan...." Belum sempat selesai bicara, Bagus lebih dulu membungkam mulut Nara.


"Apa salahnya seorang suami minta di layani istri sendiri? Sudah lama kamu tidak pernah menyenangkan aku. Dosa besar kalau menolak ajakan suami...." Bagus pun langsung membanting tubuh Nara ke atas ranjang. Keduanya saling menatap "Gila kamu mas, minggir....aku nggak suka kalau sifat kamu kaya gini" Deengan sekuat tenaga Nara berusaha melepaskan diri, namun tetap saja tidak berhasil. Berulang kali ia meronta, tetap saja kalah kuat dengan tenaga Bagus. Secepat kilat Bagus pun mampu mengusai diri Nara.


"Kapan lagi dapat kesempatan kaya gini? mumpung anak anak sekolah, warung juga tutup. Jadi saatnya kamu memenuhi kewajiban kamu" Terpaksa Nara menuruti kemauan sang suami. Tiba tiba saja Nara mencium baru aneh dari badan Bagus.


(Setiap kali dia menyentuhku rasa jijik kerap kali menyelimuti. Dosakah aku atas perasaan ini?) Semejak Bagus ketahuan selingkuh dengan pegawainya sendiri, sejak saat itu juga Nara enggan di sentuh suaminya. Nara merasa di saat keduanya berhubungan seperti tidak ada ketertarikan sama sekali, bahkan cenderung jijik.


Setelah beberapa saat kemudian keduanya terkulai di atas ranjang. Tanpa sengaja Nara melihat tanda merah di leher Bagus.


"Tanda merah di lehermu itu bekas gigitan anjing atau gugitan harimau?"

__ADS_1


Bagus yang tadi terpejam seketika membuka mata "Bicara apa kamu ini? jangan muali lagi deh...." Ia bangkit dan melihat tanda merah itu.


(Astaga kenapa Luna meninggalkan bekas di leher ku. Bisa panjang nanti ceritanya....) Mengusap berulang kali bagian leher seraya berkaca "Oh....kemarin itu aku minta di kerokin sama Emak, tapi pas lagi mau ngerok si Ikhsan datang sama anak bininya. Akhirnta Emak nggak jadi kerokin aku deh" Dusta Bagus.


Sepandai apa pun bangkai di sembunyikan pasti baunya akan tercium juga. Dia pikir dengan bicara seperti itu Nara akan percara padanya? tentu saja tidak. Tanda itu jelas bukan bekas kerokan tapi bekas ******.


(Percuma aku berdebat dengannya saat ini. Pasti dia akan menyangkal dengan seribu alasan. Untuk menjatuhkan ego mas Bagus aku harus mencari bukti akurat. Selama mata masih belum mengeluarkan darah, selama itu pula aku akan mencari bukti)


"Jadi tadi malam kamu pulang ke rumah?" Sembari menatap tajam penuh selidik.


Kedua mata Bagus seolah tidak nyaman dengan tatapan Nara sampai dia berulang kali terkihat membuang pandang.


(Sudah jelas sekali dari tatapan mata kamu itu, mas. Matamu itu tidak bisa berbohong )


"Iya. Aku pulang ke rumah orang tua ku. Di sana mereka menyadarkan aku bahwa tindakkan ku itu memang salah. Aku minta maaf ya sayang" Berlutut di hadapan sang istri.


(Cih....kalau bukan karena aku butuh kamu buat menjaga anak anak, sudah sejak dulu aku lempar kamu pulang ke rumah orang tua kamu, mas.)


"Oke. aku percaya kok, mas. Aku mau mandi dulu"


Bagus menarik tangan Nara "Ikut..."


"Apaan si mas, lepas" Nara segera masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Nara, Nara, Mudah sekali melunakkan hati kamu itu." Tersenyum girang.


__ADS_2