
"Ibu kenapa kok dari tadi melamun terus? sepertinya ada yang lagi di pikirin. Cerita sama Eca, siapa tau bisa bantu, Meski cuma bisa bantu pake Doa" Baru saja Eca datang membawa martabak kesukaan kedua anak majikannya itu. Tadi dia minta datang ke warung untuk membelikan martabak manis kesukaan kedua anak majikannya.
"Ini lho Ca si bapak dari siang sampai sekarang belum juga kasih kabar...." Sembari terus berusaha menghubungi suaminya, tapi Tetap saja tidak ada jawaban.
Bagaimana mungkin Bagus menyalakan ponsel di saat dia bersama wanita simpanannya. Di sana menunggu kabar di sini bercumbh, itu lah ibarat kata. Memang laki nggak ada otak si Bagus itu. Di saat genting seperti ini pun, masih saja curi kesempatan.
"Mungkin bapak kejebak macet kali, buk. Atau batre ponselnya habis..." Berusaha berpikir positive.
Nara berfikir sejenak "Bisa jadi sih. Tapi kok perasaan saya nggak enak ya Ca kaya ngeganjek gitu lho..." Mau berbohong seperti apa tetap saja hati seorang istri itu peka. Mungkin mata tidak menyaksikan sendiri dosa apa yang telah suaminya lakukan, tapi hati bisa merasakan.
"Mending ibuk telepon bude Tuti, siapa tau bapak sudah sampai di rumah" Ujar Andra.
Melihat Andra keluar dari kamar dengan penampilan rapi juga bau parfum menyengat, membuat Nara langsung menjentikkan jari "Mau kemana kamu, Ndra?"
Seraya tersenyum Andra mendekati sang ibu "Biasa buk anak muda. Oh iya buk Andra minta duit dong..." Menengadahkan tangan berharap Nara memberi beberapa lembar uang.
"Halah katanya anak muda, masa mau jalan sama teman masih minta uang saku dari emaknya. Uuuuu.....nggak modal kamu" Mengetuk pelan kening sang putra.
"Kan Andra belum kerja. Nanti kalau udah bisa cari duit sendiri nggak bakal minta ibu lagi deh...."
"Boleh keluar tapi jangan sampai kelewat batas. Ingat kata kata ibu ini....Gunakan masa mudamu sebelum menyesal di kemudian hari. Satu lagi sebelum jam sepuluh malam harus sudah di rumah, titik." Ucap Nara memberi peringatan.
Sebagai orang tua tugas utamanya adalah menjaga putra putri mereka dari pergaulan bebas. Yang nanti bisa merusak moral dan masa depan mereka.
"Ibu juga pernah muda seperti kamu ini. Tapi ibu minta sama kamu jangan sampai salah dalam memilih teman. Tidak jarang teman bisa jadi lawan...." Sebelum menjadi seorang ibu, Nara juga pernah memasuki masa puber. Di mana masa paling indah di sepanjang sejarah, masa cinta cintaan, masa bahagia bersama teman, atau sekedar hiling sendirian. Memasuki masa remaja berarti mereka masuk dalam fase suka suka. Biarlah mereka menikmati masa remaja asalkan tidak kelawat batas.
"Siap bos..." Setelah menerima uang dari ibunya, Andra langsung pergi.
"Oh iya Ca tolong martabaknya di sisihin buat Andra. Yang lain taruh di meja saja. Kamu juga ambil buat camilan di kos"
"Iya, buk."
Tak berapa lama Eca pun pulang.
Nara langsung menghubungi Tuti. "Mas Bagus sudah datang belum, mbak? dari tadi belum kasih kabar"
__ADS_1
Saat ini Tuti baru saja selesai memindahkan Ibu Sumiati dari kursi roda ke atas ranjang.
"Hufff....emak berat juga ya, sampe nggak kuat lho ini"
"Enak saja bilang emak berat...emak itu nggak gendut tau" Memukul pelan lengan Tuti.
"Bercanda, Mak. Ya sudah emak istirahat di kamar dulu, aku mau nyuapin Andini"
Selesai menyuapi Andini Ponselnya berdering. Nara menanyakan perihal suaminya yang tak kunjung memberi kabar.
"Belum ada. Mungkin masih di jalan kali, Ra"
Melihat jam dinding "Nggak mungkin ah mbak orang mas Bagus berangkat dari siang sekitar jam sebelas, harusnya dia sudah sampai sekitar jam tiga tadi kan, mbak" Bagaimana pun juga seorang istri akan cemas kalau suaminya tengah bepergian jauh, apa lagi tanpa adanya kabar. Nara Takut terjadi sesuatu di perjalanan.
"Harusnya sih udah sampai ya, tapi kok sampai jam delapan malam belum juga datang. Apa jangan jangan...." Belum sempat berucap tiba tiba saja terdengar suara pintu terbuka.
"Eh sebantar Ra kayanya ada orang bika pintu depan deh, sebentar ya" bergegas menuju ruang tamu.
"Oh kamu Gus, kok jam segini baru nyampe rumah kemana saja kamu? Istri kamu cemas dari tadi telepon kamu katanya nggak bisa"
"Oalah....bikin panik bini aja kamu Gus"
"Nih orangnya baru saja masuk, Ra. Apa kamu mau bicara sama dia?"
"Nggak usah lah mbak nanti aku telepon sendiri saja. Biarkan mas Bagus istirahat terlebih dahulu." Nara merasa lega mendengar suaminya sudah sampai di rumah dengan selamat. Ia langsung menutup telepon.
Bagus melepas helm kemudian duduk di kursi ruang tamu "Apes mbak motor ku mogok, bannya bocor. Mana pas di jalanan sepi lagi, terpaksa deh dorong motor sampe jauh. Capek banget... " Menyandarkan kepala supaya terlihat tidak sedang berbohong.
"Ya sudah tak buatin teh hangat dulu, ya. Kamu mandi dulu sana"
"Males mbak tadi juga sudah mandi di jalan, Abisnya gerah banget" Bukan mandi air tapi mandi keringat.
"Hem....ya sudah terserah kamu saja"
Bagus terkikik geli melihat kebohongannya berhasil mengelabuhi Tuti. "Gampang banget kena tipu..."
__ADS_1
"Seneng banget tuh muka abis dapet apa?" Lagi lagi Maimunah datang ketika Merry baru saja turun dari motor. Belum juga membuka pintu sudah di suguhkan sindiran kecut dari iparnya. Sengaja Merry tidak meladeni ucapan maimunah karena dia tidak mau berdebat. Jangan sampai moodnya jadi buruk gara gara meladeni mulut nyinyir sang kakak ipar.
Maimunah yang merasa di acuhkan langsung menarik tangan Merry. Tenpa sengaja dia melihat gelang emas melingkar di tangan Merry "Widih....keren. Pergi tangan kosong pulang pulang udah pake gelang emas saja. Ngepet di mana lu...?"
Merry langsung menepis tangan Maimunah "Ya beli lah....emang situ boro boro beli emas buat makan aja masih ngutang di warung gue"
Merry tersentum puas bisa membungkam mulut iparnya.
"Heleh masih mending gue kasih makan anak pake duit halal meski masih ngutang. Dari pada minta sama om om..."
Seketika Merry menjambak rambut Maimunah "Jaga mulut Lo, nih gue jambak tau rasa kan Lo"
Tak mau tinggal diam Maimunah langsung menginjak kaki Merry. Sontak saja Merry meringis kesakitan "Aw....gila lo ya" Berjingkrak kesakitan seraya membungkuk.
(Kesempatan emas nih) Maimunah berpindah posisi di belakang badan Merry laalu "Nih lo rasain dasar pelakor" Rambut Merry di jambak dengan kuat.
"Aaaaaaaaa......sakit tau"
Teriakan Merry mengejutkan para warga sekitar.
"Ada apa itu?" Bagus dan Tuti melihat gerangan apa yang terjadi.
"Ya ampun mereka itu lagi pada ngapain sih..."Mereka berlari hendak memisah keduanya. "Stop, Stop!...kalian ini apa apaan sih, ribut kaya gini nggak malu sama tetangga? lagi pula ini sudah malam. Bukannya istirahat malah jambak jambakan" Lerai Tuti.
"Dia tuh kebanyakan iri sama gue jadi bawaannya bengis kalo liat gue bahagia"
"Idih ogah gue iri sama elo. Memangnya apa yang gue iri dari lo? jadi simpanan suami orang saja bangga....Cih...." Maimunah meludah tepat di depan Merry. Sontak Merry kembali tersukut emosi.
Bagus tidak mau hilang kesempatan, dia langsung memeluk Merry agar menjauh dari Maimunah "Dasar ipar nggak tau diri tukang ngutang"
"Oke, besok gue lunasi utang gue. Lihat saja nanti gue bongkar semua borok Elo..." Keduanya pun di pisah ke rumah masing masing.
"Sudah mbak kendalikan emosi sampean..." Tuti memberi segelas air putih.
Meraih gelas lalu menenggak habis "Nggak tau kenapa kalau lihat tuh orang bawaannya tuh pengen nonjok"
__ADS_1