
Beberapa hari kemudian.
Nara sengaja tidak memberitahu Bagus kalau dia akan pulang hari ini. Tepat seminggu sebelum pernikahan Mutia (Anak sulung Tuti) di laksanakan, Nara sudah bersiap pulang kampung. Kebetulan sekali Eca meminta ijin pulang kampung dan anak anak libur panjang selama dua minggu.
"Depan bertigaan belok kiri mas" Tutur Nara memberitahukan pada seorang driver taksi online.
"Baik, buk" Mobil mulai masuk gang kecil menuju rumah. Sesampainya di depan rumah Nara terkejut mendapati Bagus tengah asik ngobrol di depan warung Merry bersama beberapa orang. Asik tertawa bercanada ria di sana.
"Mas Bagus..."Mengetuk kedua pada denga kepakan tangan. Ingin sekali segera melampiaskan semua amarah kepada Bagus.
Andra melihat wajah Nara (Sepertinya ibu mulai curiga dengan hubungan bapak dan tante Merry). Sebelum orang lain tau mengenai perselingkuhan itu, Andra lebih dulu tau perselingkuhan keduanya.
Beberapa tahun yang lalu tepat saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar, tanpa sengaja dia melihat Bagus masuk ke dalam rumah Merry, Andra pun mengikutinya diam diam. Dari celah cendela Andra melihat kalau Bagus sedang berpegangan tangan ddngan Merry. Sejak saat itu setiap kali ada pergerakan mencurigakan dia selalu memantau Bagus dari kejauhan. Pernah pula sesekali Merry meminta tolong kepada Bagus untuk memasangkan tabung gas, dan parahnya lagi saat itu Merry duduk dengan hanya memakain rok mini di atas lutut. Merry duduk berjonglok di depan Bagus. Sontak saja mata Bagus langsung melongo melihat pamandangan gratis super indah di depannya. Namun, di saat mereka hendak berbuat lebih jauh tiba tiba saja Andra terpeleset hingga keningnya terbuntur kaca cendela. Suara benturan itu membuat mereka langsung berlari keluar mencari gerangan apa yang terjadi. Untung saja Andra segera bersembunyi di balik pohon sampibg rumah. Begitulah kisah mereka bisa terjalin sampai saat ini.
"Bro bini lu pulang tuh" Ujar salah seorang teman.
Bagus langsung menoleh "Wah iya tuh bos gue pulang...." Meraih sebungkus rokok yang baru saja di beli .
"Gue pulang ya bro, kalian lanjut ngopi ngopi dulu nanti biar gue yang bayar" Dengan sombong Bagus menepuk dadanya sendiri.
"Oke, makasih ya bro" Ucap salah satu teman laki laki Bagus.
Bagus tidak menjawab dan hanya mengacungkan jempol.
"Idih belagu banget tuh orang(Memicingkan mata) pulang pulang naik mobil" Cibir Merry. Tatapan kebencian terlihat jelas dari matanya, sampai beberapa orang sempat berbisik bisik.
"Biarin saja lah Mer toh bukan urusan kita ini. Dari pada elu nyibir tetangga mulu, mending buatin kopi satu lagi deh sama sekalian rokok dua batang" Kata salah seorang lagi.
"Hih...siapa juga yang iri sama dia"
"Sini bair aku yang bawa" Menggapai satu kardus di tangan Nara tapi di tepis olehnya.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa bawa sendiri" Nara masuk ke dalam rumah setelah membayar taksi online.
"Oh ternyata itu mobil bukan punya dia sendiri. Mau nampang tapi sayang cuma taksi online....hahaha" Merry menertawakan Nara.
"Tak bilangin Nara tau rasa Lo" seorang bapak bapak berkumis datang membawa sebuah botol air mineral kosong.
"Eh pak Bambang (Mengibaskan rambut pendek di bawah bahu dengan sesekali bergeliat manja) mau beli apa, pak?" Merry tidak hanya menggoda satu laki laki, tapi dia juga banyak menggoda yang lain. Bagi Merry suami orang lebih menarik dari pada suami sendiri.
Di banding perjaka atau duda suami orang lebih menggoda.
Pak Bambang langsung nimbrung duduk di samping Merry.
"Idih datang belakangan kok main seorong saja " Kesal seorang laki laki yang tadi duduk di sebelah Merry.
"Tau nih si pak Bambang di sana masih ada kersi kosong tapi kok asak duduk saja...." Sambung salah seorang lagi.
"Aduh udah deh nggak usah pada bertengkar gini. Ya biarkan saja mau pak Bambang duduk dekat saya atau di mana saja terserah dia. Ngapain kalian kesel...ya nggak pak" Membelai manja lengan pak Bambang.
Merry pun langsung melepas tangan dari lengan Pak Bambang "Oh iya bapak mau beli apa nih" Seraya bangkit membeei sedikit jarak atas keduanya.
Bagus terus melihatnya dengan tatapan tajam.
Salah seorang menyenggol lengan temannya "Eh lu lihat deh kayanya gosib yang beredar memang benar adanya"
"Kalau di lihat dari sikap mereka sih kayanya emang iya" Bisik yang lain.
"Bensin satu liter sama sekalian mau bayar hutang bini gue..." Botol mineral kosong serta uang seratus ribu di berikan pada Merry.
"Oke, tunggu sebentar ya pak"
"Nih pak bensin sama kembaliannya"
__ADS_1
Pak Bambanh hanya memgambil sebotol bensin lalu dia bangkit "Udah kembaliannya buat kamu aja" Sembari tersenyum penuh makna.
"Ngapain mas kok masih bengong di luar? lihat apa sih?" Tegur Nara. Sebenarnya sejak tadi Nara memperhatikan sikap Bagus dari dalam rumah. Sejak dia masuk ke dalam suaminya itu tidak kunjung masuk, pas di lihat ternyata tatapan mata Bagus terus menatap pada kumpulan bapak bapak yang ada di warung Merry. Tatapan Bagus seolah tidak suka dengan kehadiran seseorang sampai wajahnya menjadi garang dengan alis mengerut.
"Nggak kok siapa yang bengong, ya udah masuk yuk."Merangkul sang istri lalu membawa masuk ke dalam.
"Dih apaan sih..." Melepas tangan Bagus dari pundannya.
"Kok kamu pulang nggak kasih kabar aku sih sayang. Aku kan bisa jemput kamu sama anak anak di terminal" Seraya duduk di sebelah Aska.
Nara melipat kedua tangan "Nggak usah nanti malah ganggu waktu kamu lagi nyantai"
Bagus merasa ada nada kecemburuan dari mulut istrinya "Kamu itu baru saja pulang langsung nuduh aku kaya gitu..."
"Lho siapa yang nuduh? aku nggak ada bilang kalau kamu selingkuh lho, mas" Tatapan mata Nara seolah mengutarakan isi hatinya.
"Tapi dari cara kamu bicara seolah kamu nuduh aku macam macam. Padahal aku itu udah jaga emak kamu seharian, capek, apa salahnya kalau aku cuma ngopi sebentar di sana?" Bagus kambali berdiri mendekatkan diri pada sang istri "Harusnya kamu itu bersyukur punya suami kaya aku, sekarang suami mana yang rela merendahkan harga diri sendiri demi merawat dan menjaga mertuanya."Dengan jari tangan terus mengacung tepat di wajah Nara.
Betapa sakitnya hati Nara saat ini, andai saja dia bisa memilih antara anak dan ibu pasti semua tidak akan sesulit ini.
Dengan berderai air mata Nara memajukan langkah sampai jarak keduanya semakin dekat "Seharusnya kamu malu bicara seperti itu sama aku, mas. Kalau aku nggak kerja banting tulang mana bisa kamu hidup mewah kaya gini, mana bisa anak anak hidup enak, mana bisa kamu bayar uang sekolah anak anak? lagian kalau bukan karena hasil keringat ku, keluarga kamu sudah terusir dari rumahnya. Kamu harus ingat, mas, (Mengacungkan jari tangan) siapa yang menolong keluarga kamu dari jeratan hutang. Aku, Aku mas! Mana balasan kamu dengan semua itu, mana? aku cuma minta satu dari kamu jaga emak tapi kamu seolah keberatan..." Tegas Nara.
Terkadang hati seorang istri bisa selembut air, bisa mengalir tenang tapi juga bisa menghanyutkan. Tapi jangan salah, seorang istri juga bisa berubah bagaikan kobaran api kalau hatinya di lukai.
"Stop.......!"Teriak Andra. Andra sudah tidak tahan lagi melihat pertengkaran kedua orang tuanya yang seolah tak berujung. "Kalian ini bisa nggak sih sehari saja nggak bertengkar, aku capek lihat kalian kaya gini terus setiap hari. Ingat pak, buk, kami(anak) ini butuh keluarga harmonis bukan keluarga antogonis seperti ini" Segera Andra membungkam kedua orang tuanya dengan kata kata tajam.
"Andra, tunggu, kamu mau bawa Aska kemana?"
Sangking tidak betah melihat mereka bertengkar akhirnya Andra mengajak Aska keluar. Di depan rumah sudah ada dua teman Andra yang langsung membawa mereka pergi.
"Semua ini karena kamu, mas" Mendorong Bagus sampai terhempas di atas sofa.
__ADS_1
Nara pun langsung menuju kamar di mana ibu Rohaya berada sekarang.