Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Gara Gara Kontrasepsi


__ADS_3

Keesokan hari Nara bersiap hendak kembali ke kota bersama kedua putranya. Setelah membantu ibu Sumiati mandi dan menyiapkan sarapan, ia segera masuk kamar mengemasi barang yang hendak di bawa kembali ke kota.


"Jaket ku ada di mana ya? kemarin sepertinya aku taruh di meja kok sekarang nggak ada" Nara mencari jaket yang ia pakai sewaktu pulang, tapi tidak di temukan. "Apa mungkin ada di lemari" berjalan ke arah lemari lalu mencari jaket. Ketika mencari jaket, tanpa sengaja Nara menemukan sebuah Kontrasepsi di bawah tumpukan baju suaminya. "Untuk apa mas Bagus menyimpan ini?" Di lihatnya sebuah kontrasepsi yang hanya tinggal satu.


"Kenapa isinya tinggal satu? bukankah selama di rumah, aku tidak pernah di sentuh sedikit pun olehnya, lalu untuk apa mas Bagus menyimpan benda seperti ini? seingat ku dia tidak pernah memakai ini saat berhubungan dengan ku. Atau jangan jangan...." Tangan terasa gemetar memegang benda itu. Hatinya hancur lebur di pukul kenyataan. Seberapa besar dia menyangkal perselingkuhan Bagus, semakin banyak pula bukti baru yang membuatnya semakin yakin.


Tiba tiba Bagus masuk kamar, melihat Nara berdiri mematung di depan lemari "Mana tas yang mau kamu bawa, biar aku bantu bawakan ke luar" Berjalan mendekati Nara.


Nara berbalik arah "Katakan padaku ini maksudnya apa?" Raut wajah penuh emosi kala memperlihatkan kontrasepsi yang ia temukan. Benda itu membuat Nara semakin yakin kalau selama ini nalurinya benar.


"Katakan ini apa, mas?" Bentak Nara lagi. Sebisa mungkin mengusai diri agar tidak lepas kendali, nyatanya malah semakin membuat hati memanas.


Bagus terdiam sejenak, kedua matanya terbelalak melihat benda di tangan sang istri "Apa maksud kamu (Merebut benda itu) seharusnya sudah lama aku membuang ini. Kamu ingat kan dulu kita pernah pakai ini sebelum kamu berganti kontrasepsi?" Wajah Bagus terlihat pucat pasuh seraya menggigit ujung bibir bawahnya. Dia tidak menyangka kalau Nara akan menemukan benda yang ia sembunyikan.


"Tidak mungkin, itu sudah hampir tujuh tahun yang lalu. Aku tau kamu sedang berbohong padaku. Kelihatannya benda itu masih baru bungkusnya pun dulu tidak seperti itu"Tatapan Nara tidak lepas dari wajah ketakutan itu.


"Kamu mana tau sih masalah kaya begini. Emang dari dulu bingkusnya kaya gini kok"asoh saja Bagus berkelit supaya Nara tidak terlalu mencurigainya.


Perlahan langkah kaki Nara mendekati Bagus. Jari telunjuk menunjuk tepat di wajahnya "Dari wajah palsu mu ini aku sudah bisa melihat kebohongan besar yang kamu sembunyikan."


"Aku bilang bendai ini sudah sejak lama tidak ku gunakan, hampir bertahun tahun yang lulu. Kenapa kamu tidak percaya sama aku...." Bagus terus menyangkal semua bukti walau sudah di depan mata. Suami seperti bagus ini tidak mudah mengakui kesalahan kalau belum Tuhan sendiri membuka jalan kebenaran.


" Kamu bilang benda ini sudah sejak beberapa tahun lalu, itu artinya sebelum lemari kita yang dulu rusak. Kalau memang begitu kenapa benda ini tidak kamu buang malah kamu simpan kembali di lemari yang baru. Sekarang kamu mau menyangkal seperti apa lagi, mas? Jujur kamu pakai benda ini dengan siapa saja?" Ucap Nara dengan Nara sedikit menekan. Kedua bola mata membulat sempurna bagaikan seekor singa yang siap menerkam mangsa.


"Bicara apa kamu ini" Mengalihkan pandang seraya berjalan sedikit menjauh. Seketika saja Nara menarik langan Bagus lalu.

__ADS_1


Plak....


Nara menampar Bagus dengan keras"Aku peringatkan padamu mas mungkin saat ini aku belum bisa meruntuhkan kepercayaan diri kamu ini, tapi suatu hari nanti saat aku menggenggam bukti nyata maka bersiaplah menerima kemurkaan ku. " Jari telunjuk mengacung tepat di depan wajah Bagus, sebagai peringatan keras.


Bagus tersulut emosi karena sebagai seorang suami harga dirinya terluka. Di saat tangan seorang wanita mendarat di wajah seorang laki laki di situlah harga diri mereka merasa terluka. Tapi mereka (Laki laki) lupa di balik harga diri itu ada hati yang harus di jaga. Seorang wanita tidak akan mengangkat tangan kalau dia tidak di lukai. Ketika hati dan pikiran tidak sejala maka di situlah ego akan berkuasa.


Menggenggam jari telunjuk Nara dengan mata melotot "Buktikan saja apa yang kamu anggap benar. Karena aku tidak seperti yang kamu tuduhkan selama ini. Jadi istri jangan cemburuan, itu yang membuat hidup mu tidak tenang."


Betapa terpukulnya Nara kala mendengar kalimat menyakitkan dari sang suami. Yang membuat kehidupan mereka tidak tenang adalah Bagus sendiri bukan yang lain.


"Aku tidak akan cemburu kalau kamu tidak berbuat hal yang membuat ku curiga, dan semua bukti mengarah padamu, mas."


"Cukup! aku bosan bertengakar sama kamu" Bagus memutuskan pergi meninggalkan Nara.


Brak...


"Sial.....kenapa dia bisa menemukan barang itu sih" Sangkin kesal Bagus pun segera mengendarai motor. Entah mau pergi kemana dia setelah pertengkaran itu.


"Andra, Aska, mari kita berangkat" Teriak Nara.


"Iya buk" Andra dan Aska segera keluar dari kamar.


"Kita pulang sekarang buk, siapa yang mangantar kita?" Tanya Andra.


Sebelumnya Nara sudah menghubungi seseorang yang tidak lain adalah taksi online "Kita naik taksi online" Sembari membawa tas ransel.

__ADS_1


Tak berapa lama taksi online datang, setelah berpamitan pada Ibu Sumiati, mereka langsung pergi tanpa berpamitan pada Bagus yang entah di mana dia sekarang.


"Bini mau balik malah Bagus kemana itu?" Ucap Pak Bambang yang tengah minum kopi di depan warung Merry bersama Bustomi dan beberapa orang.


Bustomi melirik sang istri yang terlihat melihat ke arah jalan di mana badan Bagus tenggelam di ujung jalan. Senyum tipis di wajah Merry membuat Bustomi mengepalkan tangan (Kalian lihat saja secepatnya aku pasti mengungkap kebusukan kalian).


"Tolong dong bikinin kopi satu lagi" Ujar Bustomi.


Merry langsung tersadar "Lho mas kan tadi sudah minum kopi, itu saja belum habis" Melihat segelas kopi hitan di meja.


"Kopi ini terlalu pahit tidak bisa di nikmati..." Mencibirkan bibir bawah seraya membuang muka.


"Kalau hidup udah pahit semanis apa pun rasa gula tetap saja rasanya akan pahit juga, ya nggak Tom?" Pak Bambang melempar senyum seraya menyeruput kopi.


"Yang buat hidup pahit itu kalau lihat bini merhatiin orang lain"


Seketika itu Merry terdiam sesaat "Maksudnya apa ya mas"


Bustomi melipat kedua tangan "Maksudnya itu kamu perhatian sama orang lain, contohnya ya pak Bambang ini. Dia datang kamu langsung buatin kopi" Sengaja Bustomi mengetes seberapa jauh hubungan Merry dengan Bagus. Dan dari reaksi itu dia menyimpulkan bahwa memang ada sesuatu di antara mereka.


Uhuk uhuk...


Pak Bambang tersedak mendengar ucapan Bustomi barusan "Bicara apa kamu ini?"


Bustomi memijat pundak pak Bambang "Tenang saja aku paham kok namanya pembeli ya kudu di layani. Benar nggak?"

__ADS_1


Pak Bambang mencoba menelan semua perkataan Bustomi meski itu sulit di mengerti.


__ADS_2