Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Depresi Berat


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Di sore hari nampak langit berwarna jingga melambai lembut, mentari mulai bersembunyi di balik sunyinya malam. Semburat langsit jingga kehitaman memupuk kerinduan di dalam hati seorang ibu. Semilir angin membelai wajah nan lara, semakin menambah rasa kehilangan. Sepi mulai membelenggu seiring malam menjelang. Hening, sepi, sunyi, seolah tidak ada kehidupan dalam pikiran Nara saat ini. Hanya kekosongan saja yang ia rasakan. Rasa sakit sudah tidak di rasa, sedih tidak lagi menyentuh, tangis tak lagi berarti. Sudah tidak ada hal berarti lagi baginya. Dunia seolah runtuh seketika.


Suara penggilan adzan berkumandang sesahutan. Nara tidak pernah sekali pun meninggalakn shalat, kini mukai acuh pada keeajiban. Untuk saat ini dia tengah kecewa pada Tuhan-Nya karena mengambail Aska secepat itu. Ketika hidup terasa tak berarti lagi, dan keimanan seolah tidak lagi di hiraukan. Sejatinya manusia di ciptakan oleh garis takdir mereka masing masing, meski begitu di setiap takdir telah tertulis jalan cerita untuk kita semua. Setiap kehidupan pasti ada timbal balik. Yang sakit akan sembuh dan yang hidup pasti mati. Jadi, di balik semua ujian ada hikmah tersembunyi.


Saat ini Nara masih terpaku di samping rumah melihat ke arah barat. Pandangan mata terlihat kosong. Bagaikan berjalan di atas panasnya terik matahari tanpa alas kaki. Begitu kehidupan yang Nara jalani saat ini. Semua menyakitkan tapi tetap berjalan semampu kaki melangkah.


Setelah kepergian Aska membuatnya hilang semangat hidup. Hidup terasa gelap tanpa cehaya. Sinar terang telah meredup seketika.


"Ya Allah....kasihan juga ya melihat mbak Nara seperti itu" Beberapa orang kebetulan lewat depan rumah Nara, hendak beribadah ke masjid. Total ada tiga orang melihat ke arah Nara.


"Semenjak Almarhum Aska di kebumikan, Mbak Nara banyak diam. Wajah terlihat datar tanpa expresi. Kalau aku lihat sih sepertinya dia kehilangan separuh hidup..." Ucap salah satu dari mereka.


"Namanya saja kehilangan anak, pasti depresi lah bu ibu. Waktu keluar rumah masih sehat bugar eh pulang pulang tinggal nama, jelas depresi lah. Sebagai orang tua kalau nyawa bisa di tukar, pasti kita juga lebih memilih bertukar tempat" Mereka bertiga melihat ke arah Nara seraya mengiba atas nasib menimpanya. Tidak hanya di selingkuhi suami, tapi juga kehilangan anak. Hampir beberapa hari ini Nara selalu duduk di samping rumah seraya bersandar di tembok. Pandangan menatap langit.


"Semoga mbak Nara di berikan ketabahan, kekuatan, serta keikhlasan dalam menghadapi ujian, supaya bisa melanjutkan hidupnya..."


"Amin" Ucap mereka serempak. Mereka segera berjalan menuju masjid.


"Nara, anak ku. Sampai kapan kamu akan seperti itu, nduk" Lirih ibu Sumiati yang melihat sang anak terlarut dalam kesedihan. Wajah datar itu menggambarkan depresi berat. Sebagai seorang ibu beliau tentu sedih melihat sang anak harus mengenyam kepahitan dalam hidup "Duh Gusti cabaan mu terlalu berat untuk anakku, Nara. Bantu dia keluar dari lautan kesedihan ini. Kembalikan dia seperti sidia kala. Kembangkan semangat dalam hatinya" Tak terasa air mata meleleh begitu saja.


"Mbah uti...." Suara itu seketika mengejutkan Ibu Sumiati. Beliau menoleh dan melihat Andra sudah berdiri di belakangnya. Segera beliau mengusap air mata "Andra...."

__ADS_1


"Mbah uti, Andra tidak tega melihat ibu seperti ini terus. Sampai kapan ibu berduka atas kepergian Aska?" Tanpa rasa malu ia luapkan air mata kesedihan.


Perlahan ibu Sumiati menghampiri Andra lalu memeluknya "Sekarang tinggal kamu satu satunya orang yang bisa mengembalikan ibumu seperti sedia kala. Jangan lelah memberi semangat untuknya"Menciumi kening sang cucu.


Mengeratkan pelukan "Andra takut mbah kalau ibu nggak bisa kaya dulu lagi" Hampir lima hari Nara terdiam diri seperti ini. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya, bahkan saat di tanya tidak ada respon darinya. Anggukan kepala atau sedikit senyum pun tak lagi ada. Semua telah berubah drastis. Sifat Nara sekarang sedingin es. Bahkan jika dunia memilih siapa orang yang meninggal saat ini, dialah orang yang pertama kali maju.


Meraih wajah sang cucu "Mbah uti yakin ibu kamu bisa keluar dari kesedihan ini. Ibu kamu bukan wanita lemah, dia wanita kuat, tegar, dan juga tabah. Mbah uti yakin ibumu pasti akan segera bangkit"


Andra tidak bisa berbuat banyak. Segala cara telah di coba untuk mengembalikan kesadaran sang ibu, tapi tetap saja Nara tidak berreaksi sedikit pun. Pernah beberapa kali Andra meminta sang ibu bangkit dari semua ini, tapi bukan jawaban yang ia terima melainkan kediaman tanpa kata.


Blam.....


Dari luar terdengar suara pintu mobil. Andra beserta ibu Sumiati langsung membuka pintu. " Alhamdulillah akhirnya kalian datang juga. Oh iya, apa kalian sudah dapat airnya?"


Melihat Nara seperti itu ada salah seorang kyai yang mengatakan bahwa dalam diri Nara saat ini ada sebuah belenggu hitam(Putus asa). Entah apa maksud dari ucapan tersebut, namun beliau menyarankan untuk meminta bantuan dari para kyai besar untuk membantu mendoakan Nara supaya lekas kembali seperti semula. Air putih yang di dalam tersemat doa dari para kyai, berharap semoga Allah membukakan pintu kesehatan, keselamatan, dan kesabaran. Air di dalam botor hanya sebagai perantaraan semata. Orang kejawen masih mempercayai hal semacam itu. Sebab, tidak ada salahnya mencoba dan di bantu doa asal tidak menyimpang dari ajaran agama.


"Hans, coba kamu ajak Nara masuk. Sedari tadi sampai sekarang dia masih di samping rumah. Emak nggak tega melihat dia seperti itu..."


"Iya, mak. Kalau begitu Hans coba bujuk dia dulu" Perlahan Hans menghampiri Nara.


Menyentuh bahu "Hey....kamu lagi lihat apa? sepertinya kamu belum shalat magrib ya, lebih baik kamu masuk shalat dulu yuk" Berusaha membujuknya membuka mulut namun semua itu sia sia saja.


"Nara...." Mengusap lengan "Sampai kapan kamu akan seperti ini dek? mas mu ini kangen pengen lihat kamu marah kaya dulu lagi, kalau tidak sedikit senyum saja dari bibir kamu" Tiba tiba Nara menatap wajah Hans. Tatapan kosong masih terlihat jelas. Hans mengira akan mendapat apa yang dia mau, justru Nara manepis tangannya lalu kembali menatap langit.

__ADS_1


(Ya Allah, melihat adik ku seperti ini membuat hati terasa sakit) air mata Hans menetes. Segera berpaling mengusap air mata.


"Masuk yuk...." merangkul Nara, namun Nara kembali menepisnya.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? apa kamu nggak ingat bahwa masih ada satu anak yang butuh kasih sayang kamu" Tiba tiba Prasetya angkat bicara. Sedari tadi Prasetya berdiri di tepi pintu tengah melihat mereka. Setelah melihat tidak ada reaksi dari Nara sontak saja Prasetya angkat bicara. Dengan memperlihatkan diri Andra yang tengah menangis.


Nara masih tetap tidak bergeming. Sampai akhirnya Andra pun langsung berlari kemudian berlutut di hadapan sang ibu. Kepalanya ia sandarkan di atas kedua paha sang ibu. "Andra mohon sama ibu jangan seperti ini. Andra sayang sama ibu..."


Baru pertama kalinya Nara meneteskan air mata setelah beberapa hari. Sepertinya hati Nara mulai tersentuh, tapi pandangan mata tidak lepas dari langit.


"Ibu..." Andra menghuyung badan sang ibu yang tak kunjung menatap dirinya atau sedikit merespon.


Prasetya ikut berjongkok seraya mengusap kepala Andra "Coba kamu lihat putra sulung kamu ini, air matanya tumpah melihat kamu seperti ini. Ayolah kamu harus keluar dari kesedihan ini, sampai kapan kamu menyiakan anak mu demi kesedihan itu?"


"Benar apa kata Prasetya, ayolah dek jangan diam terus. Kasihan Andra sama Emak. Kalau kamu lemah siapa yang nanti akan menguatkan mereka. Tidak hanya kamu yang kehilangan Aska, tapi kita semua juga merasa kehilangan."Merangkul seraya membelai ramput panjangnya.


"Pakde, Om, kita bawa ibu masuk saja ya"


Akhirnya mereka sepakat membawa Nara masuk ke dalam rumah.


"Minum dulu"


Tidak sedikut pun Nara mau membuka mulutnya. Tapi Hans tetap memintanya minum. Hingga Nara pun meminum satu teguk air saja.

__ADS_1


"Nara putri ku, kesayangan ku" Emak langsung duduk di sebelah Nara kemudian memeluknya erat. "Sadarlah sayang, perbanyak istigfar" Beliau langsung membisikkan sesuatu pada Nara, yang memgubah pandangan Nara beralih pada Andra.


__ADS_2