
Setelah percakapan dengan Hans usai. Nara kambali ke rumah dengan di antar sang kakak. Sesampainya di depan rumah ia melihat Bustomi tengah mencuci motor di temani Merry yang kala itu tengah membersihkan pekarangan rumah mereka "Monggo pakde..."Ucap Nara sembari menunduk kepala. Lirikan maut ia layangkan pada Merry. Dari tatapan itu tersempat kemurkaan luar biasa. Aura dingin namun mematikan.
Merry langsung mengalaihkan pandang saat tatapan itu menusuk hati. Tak lama kemudian Merry masuk ke dalam rumah.
"Mengerikan sekali tatapan dek Nara" Lirihnya sembari mengintip dari celan pintu. Merry mulai takut atas tatapan itu. Tentu saja Nara menaruh kebencian pada wanita yang sudah berani masuk dalam mahligai rumah tangganya.
Bustomi ikut menunduk "Iya dek, silahkan" Sebagai sesama korban tidak lantas membuat mereka saling benci, sebeb bukan mereka palakunya. Sebisa mungkin mereka bersikap biasa saja seolah tidak ada masalah.
"Dari mana?" Tanya Bustomi lagi.
"Dari rumah mas Hans, pakde. Hiling lah biar nggak ruwet"
"Betul sekali kamu dek hiling biar ndak pusing, bukan malah menghilang tanpa kabar, ya nggak dek" maksud ucapan Bustomi tertuju untuk menyindir Bagus. Siapa tau dia mendengar percakapan mereka.
Terdiam sejenak sembari menatap Hans. Sang kakak menggeleng kepala pelan meminta Nara untuk segera masuk, sebelum pembicaraan mereka memanas.
"Aku balik dulu..." Hans pamit pada sang adik. "Tom....pulang dulu ya" Mengacungkan satu tangan lalu menyalakan motor dan langsung pergi.
"Mari Pakde..." Nara langsung masuk rumah dan Hans kembali pulang.
Bustomi tersenyum sinis "Lihat saja nanti malam bakal tak libas habis keluarga mu. Terutama si Bre****k itu" seraya mengusap bodi besi di depan matanya itu. "Ragangan gagah kok di jarak, kipatne bos ku" Begitulah kalau amarah berubah menjadi ambisi. Sakit yang di rasa tidak lagi penting di banding uang.
Setelah masuk dalam rumah. Sejenak Nara mengatur nafas, manata hati jangan sampai terbawa emosi."Aku mau bicara sama kamu" Ucap Nara pada Bagus. Baru saja Bagus keluar dari kamar mandi. Handuk putih masih melingkar di pinggang dengan masih bertelanjang dada "Sebentar aku mau ganti baju dulu"
Beberapa saat kemudian. Nara dan Bagus berada di dalam kamar. Mereka duduk di tepi ranjang. Sebelum mengutarakan banyak pertanyaan, Nara berusaha menenangkan diri sembari berucap dalam hati(Allahu Akbar) berulang kali"Sekarang jawab dengan jujur sejujur jujurnya. Sudah berapa lama kamu dan si lonthe mu itu menjalin cinta terlarang?"
Deg...
Bagus terkejut mendengarnya "Apa?" Wajah seolah tanpa dosa itu membuat Nara ingin melayangan tinju. Tapi, ia ingat pesan Hans (Kalau kamu menghadapi masalah dengan amarah, tidak akan bisa mendapat titik temu yang mudah).
"Jawab saja semua sejujur mungkin. Ini semua demi kelancaran sidang mu nanti malam." Ujar Nara.
Sontak Bagus menundukkan kepala "3 tahun"
Seketika itu hati Nara merasa sakit sekali. (Ya Allah kuatkan hamba) dengan mata berkaca kaca Nara membuang muka "Bagaimana awal mula kalian bisa malakukan hal sekotor itu?" Sembari menyeka air mata.
Untuk beberapa saat Bagus masih diam. Ia terlihat gugup saat pertanyaan itu semakin mendalam.
"Kenapa diam? jawab saja. Aku mau tau semuanya"
Bagus menatap mata Nara "Maafkan aku. Aku tidak mampu mengatakannya" Meraih kedua pipi sang istri, namun langsung di tepis oleh Nara. "Jawab saja nggak usah sok kasihan sama aku. Nggak ada gunanya menutupi semua saat ini, lebih baik kamu jawab sejujur mungkin."
Dengan ragu Bagus berkata "Tiga tahun lalu waktu kami bertukar nomor telepon, dia sering mengirim ku pesan singkat. Awalnya dia hanya bertanya sedang apa, sudah makan belum, dan sampai saat dia jurhat tentang Bustomi yang jarang sekali menyentuhnya. Dia juga bilang setiap kali berhubungan dengan Bustomi paling hanya tiga bulan sekali, itu saja katanya dia tidak puas...."
__ADS_1
"Tunggu, tunggu, maksudnya dia pamer sama kamu kalau jarang di sentuh suaminya gitu....Astaga Ya Tuhan" Geleng kepala seraya ujung bibir sedikut naik ke atas "Bisa ya kalian bertukar pesan kaya gitu, nggak risih apa?" Mengepalkan kedua tangan menahan emosi. "Terus...."
Bagus menunduk "Sebagai lelaki normal aku pun ajak dia bercanda, tapi dia malah menanggapi serius. Sejak saat itu dia sering minta tolong sama aku untuk membatu mengganti lampu, pasang tabung gas, benerin genting bocor, dan...."
Ternyata air mata Nara lolos juga sangking sakitnya menancap dalam (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar) dalam jati terus menyebut nama Tuhan, untuk sedikit meredamkan amarah.
"Dan?" Meski sesakit apa pun, Nara masih berusaha mengorek semua informasi sedalam mungkin.
Terlihat aura keraguan di wajah Bagus. Ia takut kalau sampai Nara murka padanya. "°Tidak usah di lanjutkan lagi, nanti malah semakin membuat mu sakit" Bagus melihat air mata menetes di atas tangan Nara.
"Akan lebih sakit kalau aku tau dari orang lain. Jelaskan sedetail mungkin" Titah Nara.
"Dan aku di minta memuaskan hasratnya. Jujur aku sedikit ragu saat itu, tapi dia terus menggodaku dengan memakai tubuhnya. Setiap kali meminta bantuan ku, dia memakai pakaian seksi seolah menampakkan lekuk tubuh dan isi di dalamnya. Lelaki mana dapat tahan saat melihat semua itu...."
"Terus burung kamu itu hinggap di jendelanya. Iya, begitu?" Nara langsung beranjak dari tepi ranjang.
Bagus diam. Tandanya benar yang di ucapakan Nara. Hancur bagai debu seketika mendengar semua pengakuan itu (Ya Allah, sakit sekali). Air mata tidak bisa terbendung lagi, lolos seketika itu juga. "Terus di mana pertama kali kamu berzina dengannya?" Mengepalkan kedua tangan.
"Di rumahnya"
"Di mana lagi?"
"Di warungnya, di hotel, dan di kamar ini" Ucap Bagus jujur.
Bagus tidak bisa berkutik lagi. Badan serasa panas dingin mengungkap semua perselingkuhannya sendiri. "Sudah jangan tanya lagi..." menghampiri Nara.
"Stop! jangan mendekati ku (Memundurkan langkah sampai badan terpentok dinding). Kalau kamu mau aku membantu dalam kasus mu nanti malam, jawab saja apa yang ku tanyakan." Berjalan menuju jendela kamar "Sudah berapa kali melenguh bersamnya?" Memejamkan mata mencoba menelan pil kepahitan.
"Setiap saat dia minta" Ucap bagus enteng.
"Waw....sudah kaya suami istri ya, minta jatah setiap kali butuh langsung di garap." Berbalik badan seraya bertepuk tangan.
Prok...prok...prok...
"Rasanya gimana saat bersetubu* dengan wanita lian? enak? nikmat?" Langkah kaki perlahan mendekat. Bagus yang berdiri mematung hanya bisa terdiam sembari menatap wajah sang istri.
"Kenapa bungkam? nggak berani bilang senikmat dan seenak apa goyangan bini orang itu?" jarak wajah antara keduanya semakin dekat.
"Nggak usah bahas tentang itu..." Bagus hendak menjauh tapi Nara menarik krah baju suaminya "Sekarang bagaimana kalau kisah kamu itu aku balik. Aku yang ada di posisi Merry, apa kamu bisa menerimanya?"
"Bicara apa kamu ini" Melepas tangan Nara lalu berbalik badan. "Sudah cukup, semua sudah cukup" melangkah kaki beberapa langkah.
"Kalau kamu keluar dari kamar ini, jangan harap aku akan membantu mu dalam sidang nanti malam. Semua terserah kamu"
__ADS_1
Seketika Bagus menghentikan langkah.
"Pertanyaan ku belum selesai"
Bagus berbalik badan lalu kembali menghampiri sang istri. Duduk di tepi ranjang lalu menatap mata Nara "Apa perlu aku jawab semuanya?"
Melipat satu kaki bertumbu dengan kaki satunya "Oh....jelas, perlu. Sedetail mungkin kamu harus menjawabnya. Yang tadi itu juga harus di jawab."
Bagus memejamkan mata. Kedua tangan mengepal erat "Iya. Aku sangat menikmati. Dia dan aku sama sama menikmati. Semua karena waktu itu kamu jarang pulang, jarang melayani ku. Bahkan saat berhubungan pun kamu nampak tidak berselera"
Jantung berdetak kencang serasa sesak seketika "Bisa sekali kamu bicara seperti itu. Kamu tau kan saat itu pembangunan rumah ini siapa yang membiayai, Aku. Semua kebutuhan siapa yang mencukupi, Aku. Dari jam tiga pagi sudah bangun sampai jam sepuluh malam baru bisa istirahat, terus seminggu sekali aku harus pulang pergi. Masih bisa kamu bilang aku kurang berselera?(Menggeleng kepala heran dengan sikap Bagus) aku terlalu lelah melayani kamu, mas. Aku kira selama itu kamu bisa mengerti aku tapi nyatanya mulai sejak itu kamu mencari pelampiasan lain. Hebat, hebat kamu, mas"
"Aku lelaki normal. Ingin di layani dengan baik juga di senangkan seorang wanita. Kewajiban mu memuaskan hasrat suami mu"
Berusaha kuat tetep menjaga emosi "Iya, oke. Terus jam berapa kalau dia minta di layani sama kamu?"
"Pagi sebelum subuh dan siang sekitar jam sepuluh"
"Apa? maksud kamu sehari bisa dua kali?"
Bagus mengangguk "Terkadang dia masih minta tambah lagi"
Duar.....
Hati Nara langsung meledak, hancur lebur. Tidak menyangka dia di kota mencari nafkah, bergelut dengan nasib, yang di rumah malah bergulat kenikmatan. Setiap keringat keluar dari badan Nara ternyata berganti peluh kenikmatan luar biasa. "Waw....kejutan. Huh...." Membuang nafas berat sembari mengusap air mata.
"Terus pernah tidak kamu memberinya uang?"
"Pernah. Beberapa kali"
"Apa setiap kalia habis melakukan hubungan badan lalu memberi uang atau bagaimana?" Tanya Nara.
"Tidak, hanya kalau ada uang sisa belanja di warungnya, aku kasih semua kembalian. Beberapa kali juga dia minta di belikan pakaian dalam"
"Oke, pakaian dalam, uang kembalian, terus ada lagi..."
"Iya. Dia juga minta di belikan gelang emas."
"Jadi intinya dia itu menjual diri, kan?"
Bagus sudah tidak mampu menatap sang istri lagi. Wajah menunduk ketakutan.
"Oke, sudah jelas sekarang. Terima kasih atas kejujurannya." Nara pun langsung keluar kamar. Langsung dia masuk kamar mandi seraya menuangkan rasa sakit.
__ADS_1