Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Akibat Terlalu Di Manja


__ADS_3

Di sisi lain Eca merasa kewalahan dengan sikap Aska. "Buk, mas Aska nangis terus dari tadi nggak mau diam nyariin ibuk terus, bagaimana ini buk?" Eca menelepon Nara, memberitahu bahwa sang anak sulit di kendalikan. Andai Eca bisa menangani sikap Aska mungkin dia tidak akan mengganggu Nara.


Kali ini Nara di buat bingung antara ibu atau anaknya. "Mas Bagus suruh pulang saja Ca....saya lagi mau urus administrasi rumah sakit"


"Tadi sudah tak telepon buk, tapi nggak di angkat sama si bapak" Jelas Eca. Dari telepon terdengar teriakan Aska. Suara tangisan meraung dan suara benda pecah terdengar nyaring, membuat Nara semakin pusing.


"Ya sudah biar saya coba telepon mandor bapak dulu, siapa tau beliau bisa di hubungi. Kamu tolong atasi sebentar ya, atau kalau nggak tutup dulu warungnya. Tawarin beli es krim atau buatin pop ice kesukaan dia" Nara sadar tidak mudah mengurus Aska kalau sudah ngamuk seperti itu.


"Baik, buk." Eca menutup telepon.


"Ya Allah cobaan seperti apa lagi ini? di sini Emak sakit di sana anak rewel...hufffff sabar, sabar, sabar" Seraya mengelus dada. Bagaimana pun kondisinya saat ini, Nara di tuntut mampu menjalani hidup dalam keadaan apa pun. Garis hidup seseorang telah di tentukan sebelum terlahir ke dunia. Entah di ujung jalan nanti akan ada bahagia seperti apa yang telah menantinya, untuk saat ini satu satunya cara hanya sabar dan tawakal.


Manusia di ciptakan untuk belajar dari masalah. Di setiap masalah yang ada banyak pelajaran hidup yang bisa di petik. Terganrung dari masing masing orang. Banyak pula yang menyerah dengan mangakhiri hidup tapi itu bukan jalan terbaik. Seberat apa pun masalah kita di dunia tidak sebanding dengan kerasnya di akhirat kelak. Di dunia kita masih bisa minta tolong yang lain, namun ketika di akhirat nanti hanya perbuatan baik yang mampu menolong kita.


"Mas Aska mau beli es krim? mbak Eca beliin rasa vanila, ya" Sekuat tenaga berusaha menenangkan bocah kecil itu sampai terpaksa warung tutup sementara.


"Nggak mau..... mbak Eca pergi, aku mau ibu. Ibu......."


"Lho kok warung tutup sih" Andra baru saja pulang sekolah. Sesampainya di depan rumah melihat pintu tertutup rapat.


"Buk, ibuk...." Andra mengetuk pintu. Tak berapa lama pinru terbuka "Lho mbak warungnya kok tutup sih, udah abis ya?" Sembari melepas helm.


"Tidak, mas. Itu si mas Aska lagi ngamuk jadi warung terpaksa di tutup sementara" jelas Eca. Andra melihat ke dalam nampak sepi "Emangnya ibuk ke mana, mbak?"


Setelah Andra masuk Eca menutup pintu kembali "Itu mas ibu pulang kampung. Mbah uti sakit"

__ADS_1


"Ha.....Mbah uti sakit? terus sekarang kondisi mbah uti gimana mbak?"


"Mbak juga nggak tau, ibu belum kasih kabar."


"Aaaaaa....." Kembali Aska berteriak.


"Apaan sih si anak manja itu teriak teriak kaya anak jalanan saja" Andra langsung menghampiri sang adik "Ya ampun Aska (Dengan nada tinggi) kamu ini apa apaan sih, semua barang kamu pecahankan seperti ini. Kamu itu udah gede harusnya ngerti dong...."


"Biarin...." Mencebirkan bibir sembari hendak melempar bantal.


Seketika Andra tersulut emosi "Apa? kalau berani lempar sini, ayo lempar...."


Eca semakin pusing. Bukannya si abang melerai malah semakin membuat keributan. Segera Eca menarik Andra keluar kamar "Sudah mas, sudah. Jangan bertengkar seperti ini....Mending mas masuk kamar ganti baju terus makan. Masalah mas Aska biar mbak yang tangani"


Andra dengan aura bengis menatap tajam wajah adiknya "Begitu tuh mbak kalau anak manja nggak bisa ngerti posisi orang tuanya bagaimana? kalau bukan adek gue udah tak buangan deh Lo"


"Sudah, sudah. Aduh udah deh mas, kamu buruan masuk kamar, jangan bikin mbak tambah pusing" Untung saja Andra mau menuruti perkataan Eca.


"Dasar anak manja...." kesal Andra seraya menghempaskan tubuh ke atas kasur.


Tidak berselang lama Bagus kembali. "Ada apa ini Ca? kenapa jadi berantakan seperti ini?" Bagus baru saja pulang dan menyaksikan pecahan beling di mana mana. Eca yang tengah membersihkan beling harus berhati hati supaya tidak terkena tajamnya serpihan.


"Ulah siapa lagi kalau bukan ulah anak manja itu ..." Andra baru saja keluar kamar. Bagus langsung masuk ke dalam kamar. Entah apa yang terjadi tangisan Aska malah semakin kencang.


"Awww...." Tangan Eca tertusuk serpihan beling. Andra langsung berjongkok "Mbak Eca (Meraih jari Eca) sini mbak biar Andra bantu obati" Mengambil kotak obat lalu menempelkan hansaplas di ujung jari Eca.

__ADS_1


"Makasih ya mas Andra"


"Seharusnya Andra yang minta maaf sama mbak Eca, gara gara Aska mbak sampai terkena beling kaya gini."


"Ampun, pak, ampun...." Suara Aska membuat mereka terkejut.


"Mas coba lihat mas Aska di apain sama bapak..."


Andra langsung masuk ke dalam kamar dan tidak lama kemudian dia keluar lagi.


"Gimana mas?"


"Biarin saja lha mbak. Si Aska memang pantas di kasih pelajaran sekali kali, biar tau rasa tuh anak."


"Memang mas Aska di apain sama bapak?"


"Tangannya di ikat mbak. Oh iya mbak biar Andra bantu bersihin lantainya kalau mbak mau buka warung lagi nanti Andra bantu bikinin minum deh suapaya mbak Eca nggak kecapean...." meski terkadang Andra terlihat keras tapi rasa kepeduliannya sangatlah tinggi. Menjadi anak pengusaha warung makan sukses tidak lantas membuatnya sombong.


Setelah beberapa saat kemudian Bagus keluar kamar dia meminta Eca untuk tidak membuka pintu kamar. Bagus memberi hukuman pada anak itu supaya dia tidak berulah lagi.


"Hari ini kamu nggak boleh main bantuin mbak Eca jualan sama jaga adek kamu. Bapak mau balik kerja lagi"


Andra tidak menjawab.


"Kamu dengar bapak tidak, Ndra? kalau di tanya orang tua itu jawab jangan diam saja" Bentak Bagus.

__ADS_1


"Iya" Andra terkesan enggan berbincang dengan Ayahnya. Dia paling benci kalau ayahnya sudah marah. Pasti dia akan terkrna imbas.


__ADS_2