
Beberapa hari kemudian.
Motor yang di kendarai Bustomi tiba tiba mogok di jalan ketika ia hendak berangkat kerja. Jam menunjukkan pukul empat sore seharusnya dia sudah hampir sampai ke tempat kerja "Sial....pake mogok segala nih motor." Menendang ban belakang sepeda motor yang ternyata kempes tertusuk paku.
"Ini paku kok bisa di tengah jalan kaya gini sih bikin kesel aja...." Sebuah benda mati manjadi amukan Bustomi. Paku itu langsung di lemarkan ke sebuah lahan kosong samping jalan setapak. Dia mencoba mencari bantuan tapi kelihatannya jalan sangat sepi, tidak ada satu pun kendaraan melintas di sekitar sana. Di raihnya ponsel dari saku celana "Aduh gue lupa kuota abis" Menepuk dahi. Semua hal hanya membuatnya semakin kesal. Sangking kesalnya dia menendang ban motor berulang kali "Kenapa si lu bocor di tempat yang salah....Mana jauh dari bengkel, nggak ada orang lewat. Kesel gue sama lu"
"Bukannya itu pak Bustomi ya, lagi ngapain dia..." Dari kejauhan Fajri melihat sosok Bustomi berjongkok sembari mengotak atik motor. Kebetulan saja Fajri baru pulang dari rumah seseorang. "Bantuin nggak ya.." berpikir sejenak lalu Fajri memutuskan untuk membantu. "Bantu aja deh siapa tau bisa dspet cuan" Motor yang di kendarai Fajri mengarah ke sana.
"Motornya kenapa tuh, pak. Mogok ya?" tanya Fajri dari atas motor.
Bustomi menoleh "Nah....Kebetulan ada kamu jri, tolong antar saya ke tempat kerja" Tanpa kata sedikit pun Bustomi langsung nangkring di jok belakang motor Fajri.
"Tapi pak...."
Memepuk pundak Fajri sersya memposisikan badan "Udah nggak pake tapi, ayo cepat jalan. Saya udah telat lima menit ini" melihat jam tangan "Buruan nggak pake lama"
"Tapi motor bapak gimana itu nanti di ambil orang..."
"Alah bodo amat. Lagian siapa sih yang mau ambil motor tua kaya gitu, sudahlah ayo jalan"
Fajri langsung mengendarai motornya menuju tempat kerja Bustomi.
"Sebentar deh ini ngojek apa nebeng, pak?"
"Nebeng lah" Jawab Bustomi santai.
Fajri semakin memperlambat laju motor "Kalau nebeng sih ya udah santai saja sembari menikmati suasana sore hari"
Plak...
Bustomi mengetuk kepalanya "Dasar mata duitan. Ya deh nanti tak bayar tapi cepat jalannya jangan kaya siput" Protes Bustomi.
"Oke, siap bos ku" Laju motor di percepat.
"Kenapa sih mas kita nggak kawin lari aja, aku tuh nggak tahan lagi sama sikap suami ku itu. Tau nggak akhir akhir ini dia sering nyindir aku, nggak tau deh maksud ucapan dia itu apa. Tapi sepertinya dia mulai curiga sama hubungan kita" Merry tengah duduk di teras rumah Bagus. Dia beralasan menjenguk Ibu Sumiati, namun di balik itu ada niat terselubung.
__ADS_1
"Nggak bisa gitu dong. Kalau kita kawin lari bagaimana nanti kalau aku nggak bisa kasih kamu uang seperti sekarang ini. Kita tidak hanya butuh cinta tapi juga dana. Mending kita nikmati dulu saja apa yang ada, seperti ini saja asal bersama mu aku sudah bahagia" Ucapan Bagus terdengar di telinga ibu mertua. Beliau mulai bisa jalan sedikit demi sedikit. Dari balik pintu Beliau mendengarkan percakapan mereka yang menyimpulkan benar adanya perselingkuhan itu.
"Tapi aku capek harus kaya gini terus, maunya aku jadi istri kamu" Tiba tiba Merry menggelayut di lengan Bagus.
"Kamu ini apaan sih jangan seperti itu nanti di lihat orang. Kalau kita ketahuan bisa panjang cetitanya"
"Tapi aku kangen banget kamu sayang"
"Iya aku juga kengen, tapi sadar situasi dan kondisi dong" Melihat kanan kiri siapa tau ada orang melihat mereka.
"Ehem...." Muncul Luna dari samping Rumah. Dia menatap tajam ke arah mereka "Mbah Sumi ada di rumah nggak?" Sembari membuang muka.
Bagus langsung bangkit menghampiri Luna "Ada, silahkan masuk" Di bandingkan Merry Luna jauh lebih segala galanya. Maka dari itu Bagus lebih memilih Luna dari pada dia. Tidak hanya kalah body tapi juga kalah lihai dalam urusan ranjang.
Istri orang memang menantang tapi janda lebih menawan.
"Ngapain lu ke sini?" Merry cemburu melihat mereka saling bertatapan muka.
"Memang kenapa kalau gue ke sini, ada masalah apa lu sama gue? toh ini bukan rumah lu ngapain juga lu sewot" Ketus Luna. Sebenarnya Luna tidak keberatan dengan hubungan mereka tapi sepertinya tidak dengan Merry. Mereka berdua memang memiliki hubungan khusus dengan Bagus, tapi tujuan mereka berbeda. Kalau Luna hanya ingin duitnya saja, sedangkan Merry ingin mengusai diri Bagus atau lebih tepatnya ingin menjadi nyonya Bagus.
"Jangan nyolot dong lu..."Merry terbakar api cemburu sampai dia langsung menghampiri Luna lalu menjambak rambutnya.
"Sudah hentikan, hentikan. Kalian ini kenapa sih pake bertengkar segala...." Bagus melerai keduanya dengan berdiri di tengan mereka.
"Ada apa ini...." Keluarlah Ibu Sumiati. Beliau berpegangan tepi pintu untuk membantunya berjalan.
"Mbah Sumi..." Cekatan Luna membantu beliau "Jangan keluar rumah dulu nanti jatuh lagi. Sini biar aku bantu masuk..." Memapah tubuh kurus kering termakan lapuknya usia. "Sini Mbak duduk di sini"
"Kok kamu belain dia sih, mas" Merry merajuk seraya menghentakkan kaki.
"Sudah kamu pulang dulu. Aku nggak suka ya kalau kamu bersikap kaya tadi, sekarang mending kamu pulang"
Merry dengan wajah kesal langsung meninggalkan rumah Bagus.
"Pak aku mau tanya nih, memang Bapak tidak terpengaruh sama gosib yang beredar di luar sana? aku lihat sampean biasa saja"
__ADS_1
"Memang di luar ada gosib apa? terus hubungannya sama saya apa?" Bustomi pura pura tidak tau.
"Itu lho masalah perselingkuhan tante Merry sama Pak Bagus" Jelas Fajri.
Mereka masih di atas motor menuju tempat kerja Bustomi.
"Kalau belum ada bukti ngapain saya harus percaya gosip."
"Oh....begitu ya pak. Tapi kalau seandainya ada orang punya bukti tentang itu apa imbalan yang akan sampean berikan sama orang itu?"
(Sepertinya dia tau sesuatu) Bustomi berusaha tenang "Kalau pun memang benar adanya bukti itu saya rela ngeluarin duit demi membeli bukti tersebut."
Fajri tersenyum "Kalau begitu berapa tawaran anda untuk satu bukti yang aku punya"
(Benar saja ternyata dia punya bukti) "Jadi kamu main tawar menawar dengan saya? Apa kamu tidak tau saya ini teman bapak kamu. Kenapa harus pakai uang tebusan segala"
"Oh itu sih beda, pak. Yang bersahabat itu kan sampean sama bapak bukan sama aku. Gini deh pak kalau bapak mau bukti, aku bakal kasih tapi aku mau bapak tukar dengan uang lima ratus ribu, bagaimana?" Fajri si pemuda mata duitan tidak menyia nyiakan peluang bisnis dari hasil rekaman itu. Dari satu video dia sudah banyak menghasilkan uang.
"Enak saja kamu. Uang lima ratus ribu kamu pikir gampang nyarinya. Memang kamu punya bukti apa sampai harganya semahal itu?" Bustomi penasaran bukti apa yang di miliki Fajri sampai dia mau menjualnya.
"Yang pasti cukup lah untuk membuktikan gosib yang beredar"
"Perliahtakan dulu masalah duit belakangan."
"Nggak bisa gitu dong. Yang mananya jual beli barang di kasih uang di tangan, itu bafu namanya jual beli" Sesampainya di tempat kerja Bustomi langsung melepas helm.
"Kita bicarakan itu nanti. Sekarang saya harus segera masuk" Bustomi lami lari ke dalam.
"Loh pak bayarannya belum"
"Gampang nanti"
Fajri pun langsung meninggalkan tempat.
"Wah lumayan juga nih kalau bisa dapet duit dari Pak Bustomi. Nggak usah capek kerja cuan datang dengan sendirinya" Tertawa puas atas keberhasilannya mencari duit dari hasil video itu.
__ADS_1
(Penasaran juga sama bukti yang Fajri bikang barusan. Apa benar dia punya bukti tentang perselingkuhan itu) gumam Bustomi.
"Lebih jelasnya besok aku datang ke rumah dia saja...."