Sudah Ditakdirkan

Sudah Ditakdirkan
Menjenguk Calon Mantu


__ADS_3

"Angga, kok baru pulang, tas kamu mana, habis dari mana" tanya mama Ghina seperti sedang mengintrogasi.


"Aku mengantar calon menantu mama ke rumah sakit"


"Kenapa, kau apakan dia sampai dia di rumah sakit, kau melakukan sesuatu" ucap mama Ghina sambil mengguncang tubuh Angga.


"Mama, dengerin dulu, Viola dehidrasi dan kelelahan, mama jangan berfikir yang tidak-tidak" ucap Angga tenang.


"Huh... Mama pikir apa"


"Kak Angga, ka Vivi masuk rumah sakit"


Angga terpaku mendengar suara anak kecil yang tidak asing baginya.


"Nggak Kesya, ka Vivi lagi istirahat di rumah" ucap Angga dengan cepat


"Terus tadi siapa yang masuk rumah sakit" ucap Kesya penasaran.


"Temen ka Angga" ucap Angga cepat.


"Oh, kalau gitu Kesya pamit dulu ya Tan, besok Kesya ke sini lagi"


"Iya sayang" ucap mama Ghina sambil mengelus pipi Kesya.


"Kaka, aku pulang dulu ya" ucap Bibi Clara.


"Iya"


"Mamah, jangan kasih tau Kesya, kalau Viola di rumah sakit" ucap Angga setelah Kesya pergi.


"Kenapa" tanya mama Ghina penasaran.


"Karna Viola tidak ingin Kesya khawatir dan menyalakan dirinya nanti, dan aku sudah berjanji tidak akan memberitahunya"


"Baiklah, mama tidak akan memberi tahu"


"Memberi tahu apa mah" ucap papa Devan yang tiba-tiba datang.


Angga terkejut dengan ucapan papanya.


"Papa kalau pulang bilang", ucap Angga kesal.


"Maaf, lagipula kalian lagi ngomongin apa di luar, ayo masuk, papa juga ingin tau" ucap Devan penasaran.


Merek bertiga masuk dan duduk di ruang keluarga.


"Viola masuk rumah sakit pah" ucap Angga terus terang.


"Ya udah, kita bersiap dan jenguk calon menantu kita" ucap papa Devan yang langsung berdiri dan membawa Jasnya.


Angga menggelengkan kepalanya.


"Papa, kopinya" teriak mama sambil membawa kopi.


"Bawa ke kamar, kita harus bersiap menjenguk calon menantu kedua kita mah" teriak papa Devan.


Mama Ghina hanya menggunakan kepalanya.


*****


Di rumah sakit, kedua keluarga itu pun bertemu.

__ADS_1


"Mom, Dad, ini orang tua Angga" ucap Viola.


"Ooh, ada calon besan rupanya" ucap mama Desya lalu memeluk mama Ghina.


Sedangkan papa Devan berpelukan dengan papa Hendra.


"Cepet sembuh ya sayang, kamu pasti kelelahan karna mengurus Kesya seharian" ucap mama Ghina sambil memegang tangan Viola.


"Ngga papa kok mah, Viola malah seneng bisa jalan-jalan sama Kesya"


"Maaf ya nak, kami baru datang" ucap papa Devan sambil mengelus kepala Viola.


"Ngga papa kok pah, kalian jadi bisa ketemu, walaupun di waktu yang gak tepat"


"Malah papa kamu Vi, yang nggak sabaran ke sini" adu mama Ghina.


Viola hanya tersenyum.


"Sebenarnya kami pernah bertemu saat di Bali, dan Devan adalah Klien utama papah, dan saat ini kami sudah bekerja sama" ucap papa Hendra.


"Kalau saja kami belum pacaran bagaimana pah" tanya Viola.


"Kalian pasti akan di jodohkan nanti" ucap papa Hendra sambil terkekeh.


"Papa bisa aja" ucap Viola


"Kalian udah pacaran berapa lama" tanya papa Devan.


"1 hari" ucap Angga dan Viola bersamaan.


"Baru kemarin jadian ternyata" ucap Papa Hendra.


"Ooh, jadi ini yang pernah meluluhkan hati Angga ternyata, andai mama tau pasti sudah mama biarkan" keluh mama Ghina.


Mereka berbincang cukup lama, saling menanyakan masa lalu dari Angga dan Viona.


"Seperti inikah rasanya dikelilingi keluarga, sungguh bahagia rasanya" gumam Viola dalam hatinya.


Malam pun datang, mereka enggan meninggalkan Viola dan mereka juga berebut untuk bisa menjaga Viola.


"Sebaiknya kalian pulanglah, biar saya dan istri saya yang menjaga Viola" ucap papa Devan.


"Tidak, kami adalah orang tuanya, justru kami yang harus menjaganya" ucap Hendra.


Viola dan Angga saling berpandangan satu sama lain sambil memijat pelipis mereka.


"Sebaiknya kalian istirahat di rumah, Viola juga putri kami sekarang" tambah mama Ghina.


"Kalian sudah merepotkan, tidak apa, biar kami saja" jawab mama Desya.


"Mah, pah, bisakah kalian diam, aku pusing sekarang mendengar ocehan kalian" ucap Viola yang tidak dihiraukan.


"Mah, pah, bisakah kalian mendengar kan kami sebentar" ucap Angga dengan nada tingginya.


Para orang tua menghadap ke arah Angga.


"Mah, pah, sebaiknya kalian berempat pulang saja, biar Angga yang menjaga di sini, kalian seperti sedang merebutkan cucu yang belum lahir, ingat kami juga belum sah" ucap Angga menerangkan.


"Mah pah, pulanglah saja kalian, besok bisa jemput aku lagi, kalau terus seperti ini nanti Viola minta dokter untuk mengurus kepulangan Viola"


Mereka pun terdiam dan menuruti kata Viola.

__ADS_1


"Ya sudah, jaga diri kalian baik-baik, cepat sembuh ya Vi" ucap mama Ghina.


"Angga, jaga baik-baik Viola, kalau kenapa-kenapa telfon kami" ucap papa Devan.


"Kami pulang sayang" ucap mama Desya sambil mengecup kening Viola.


"Jaga anak papa ya Ngga" imbuh papa Hendra.


"Iya pah, kalian hati-hati" ucap Angga singkat.


Setelah para orang tua keluar, Viola dan Angga bisa bernafas dengan lega. Angga pun duduk di samping Viola sambil mengibaskan buah karena bingung ingin melakukan apa.


"Aku lagi ngga mau buah Ngga" ucap Viola.


"Ini buat aku makan sendiri, soalnya aku bingung mau ngapain"


"Ya udah pulang aja, gampang kan" sindir Viola.


"Bukan itu Vi"


"terus" tanyanya singkat


"Aku bingung sama sikap orang tua kita seakan akan kita itu diibaratkan udah menikah, aku ngga nyangka orang tua kita peduli banget sama kamu, sementara aku jadi dicuekin gini" ucap Angga seolah olah merasa iri.


"Kamu mau ngga di cuekin, sakit dulu coba, siapa tau di perhatiin" sindir Viola lagi.


"Kamu mau aku sakit" sambil memakan buahnya.


"Ya nggak lah, itu kan mau kamu"


Angga menghela nafas panjang.


"Inget ya, wanita itu harus selalu dihargain dan diperhatiin, sesibuknya wanita juga pasti mengharapkan kabar dari pasangannya, makanya banyak yang gagal kalau mereka melakukan kencan jarak jauh" ucap Viola.


"Kenapa" tanya Angga heran.


"Ish.. malah nanya lagi, peka dong... Komunikasi juga penting dalam suatu hubungan, sekarang banyak masalah dalam suatu hubungan karena suatu komunikasi yang terputus, komunikasi yang terputus dapat menyebabkan kegelisahan tersendiri dan itulah yang membuat kepercayaan seorang wanita rapuh karna tanpa komunikasi wanita seperti tidak dibutuhkan di dalam diri pasangannya" ucap Viola panjang lebar.


"Emang harus gitu??" tanya Angga lagi.


"Ya harus lah, masa iya cuma cewe yang harus ngabarin cowoknya, masa iya cewek yang harus selalu minta ijin sama cowoknya, harusnya cowo juga minta ijin kalo kemana-mana, harus tau cowoknya dimana, kalau cewe ngelarang kamu pergi berarti dia tidak mau cowoknya kenapa-napa, peka dikit dong" ucap Viola kesal.


"Takut di ambil sama orang juga ya" tanya Angga memastikan.


"Nah tuh tau, jadi mulai sekarang, naikkin dikit pekanya ya" goda Viola sambil mencubit kedua pipi Angga sambil menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.


"Siap bosku... cewek itu selalu benar dan menang"


"Nah tuh tau, bagus udah naik setengah nih pekanya" ucap Viola sambil mengacak rambut Angga.


"Ngga usah rambut aku dong yang diacakin"


"Ngga papa yeeee" ucap Viola meledek.


Mereka memutuskan untuk tidur karna hari sudah malam dan waktunya Viola untuk beristirahat. Sementara Angga tidur di sofa yang tersedia, dan menggeser Sofanya untuk dekat dengan keranjang Viola.


//**//


True nggak ciwi-ciwi... komennya di tunggu...


Salamku Dewi M

__ADS_1


__ADS_2