Sudah Ditakdirkan

Sudah Ditakdirkan
Angga Tidur


__ADS_3

Mereka semua turun setelah berbenah kamar Viola. Mereka memutuskan untuk pulang setelahnya.


"Loh, udah turun aja" tanya mama Desya heran mereka turun bersamaan.


"Iya Tante, maap jadi ngrepoti ya" ucap Vellicia.


"Ngga papa, rumah ini kan jadinya rame kalau ada kalian" ucap mama Desya dengan senang.


"Sini Non, biar nampannya saya aja yang bawa" ucap Bi Jannah.


Novi memberikannya.


"Mah, kalau begitu kami pamit ya mah" ucap Novi.


"Biar mama panggil Angga sama Viola ya" ucap mama Desya yang mau menaiki tangga.


"E-engga usah Tan, mereka pasti lelah habis berbenah, biar saja Tan, mereka juga udah tau kok kalau kita mau pulang" ucap Rendy menghalangi.


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati ya" mama Desya pasrah.


"Iya Tante, sampai jumpa lain waktu" ucap Shanti sopan.


Mereka semua keluar dari rumah Viola. Dan langsung meninggalkan pintu gerbang Rumah Viola. Mama Desya menunggu hingga mereka keluar dari gerbang.


"Aku jadi penasaran, ngapain mereka berdua kok tumben Angga juga ngga ikut pulang" ucap mama Desya yang penasaran dengan anaknya itu.


Mama Desya memutuskan untuk melihat Viola di kamarnya. Mama Desya kaget, Mama Desya melihat mereka sedang terlelap di atas tempat tidur yang sama dengan posisi terduduk.


Mama Desya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan tingkah mereka. Mama Desya akhirnya memutuskan untuk membiarkan mereka berdua menikmati mimpi bersama.


Waktu sore pun tiba. Viola membuka matanya dan merasa badannya pegal karna tidur dengan duduk. Viola mengucek matanya dan melihat Angga di sampingnya. Namun matanya silau karena pintu perpustakaan pribadinya tidak tertutup sehingga matahari masuk ke kamarnya.


Viola kembali menaruh kepalanya di pundak Angga sambil mendongakkan kepalanya menatap Angga. Viola tersenyum melihat Angga di sampingnya.


Tiba-tiba Angga membuka matanya dan melihat ke sebelahnya. Angga menatap Viola yang berpura-pura tertidur. Angga membelai wajah Viola dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Jangan pura-pura tertidur, aku tau kamu sudah bangun" Angga dengan suara sedikit serak khas bangun tidur.


"Kau selalu tau, eh... teman-teman kita"


Viola teringat bahwa tadi siang mereka kedatangan tamu. Viola tidak percaya bahwa tempat yang tadinya riuh piuk menjadi rapi lagi.


"Siapa ya kira-kira yang membersihkan nya"


"Mungkin Bi Jannah" ucap Angga sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Tidur lagi aja kalo ngantuk" ucap Viola.


"Ngga ah... badanku pegel semua" ucap Angga sambil menguletkan badannya.


"Maaf"


"Ngga papa kok"


"Ahhh kalian sudah bangun ternyata" ucap mama Desya yang tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetuk.


Angga langsung beranjak dari tempat tidur, tapi dia merasa pusing karna langsung bangun. Mama Desya langsung mendudukkan Angga di samping Viola.


"Jangan bangun dulu, duduk dulu sebentar, kau tidak akan pusing nanti" ucap mama Desya.


"Maaf mom, kami..." ucap Viola terpotong.


"Ngga papa kok, mama tau kalian tidur satu ranjang kan. Ngga papa, kalian selalu mama awasi, setiap jam mama selalu nengok kalian" ucap mama Desya tersenyum sambil mengelus pipi Viola dan Angga.


"Angga, kamu ke kamar sebelah mandi terus ganti baju ya" ucap mama Desya.

__ADS_1


"Iya mah" ucap Angga berdiri membenarkan bajunya dan meninggalkan mereka berdua.


"Viola kamu mandi, biar mommy yang bantu ya"


"Ngga mom, aku bisa sendiri"


"Kaki kamu ngga boleh basah, kalau basah akan terasa perih nanti"


Viola pasrah dan mandinya di bantu oleh mamanya. Viola mencoba untuk tak malu, lagi pula mamanya lah yang merawatnya waktu kecil tapi sekarang untuk sekarang tetaplah berbeda. Viola rasanya tidak enak.


Setelah selesai Viola mengganti bajunya. Menunggu Angga untuk kembali ke kamarnya, namun setengah jam berlalu Angga tidak datang ke kamarnya atau hanya untuk berpamitan.


"Mom, apakah Angga sudah pulang" tanya Viola sambil melihat ke pintu.


"Belum, tuh tas sama jaketnya masih ada" ucap mama Desya. Matanya melirik ke arah tas dan jaket Angga yang tergeletak di sofa.


"Bentar coba mommy periksa" ucap mama Desya sambil meletakkan sisir setelah selesai merapikan rambut Viola.


Mamaa Desya keluar dan masuk ke kamar Angga. Selang beberapa detik mamanya kembali.


"Gimana mom" Viola penasaran.


"Angga tidur lagi, mungkin dia sangat lelah. Dia membopong mu seharian" ucap mama Desya sambil menutup pintu.


"Kamu juga sebaiknya istirahat saja, atau kamu mau sesuatu"


"Ngga Mom, tolong ambilkan remote tv mom"


Mama Desya mengambilkan lalu memberikannya.


"Ada lagi"


"Emm... ambilkan Snack sama jus buah naga mom, tapi jangan terlalu kental dan jangan pake susu ya"


Mama Desya mengangguk sambil tersenyum. Mama Desya membuka lemari persediaan snack.


"Ya mom ngga papa"


Mama Desya keluar dari kamar Viola. Viola melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore.


Viola menonton Drakor kesukaannya sambil memakan camilan yang diambilkan oleh mamanya.


Dua jam berlalu. Papa Hendra pun sudah pulang dari kantornya. Makan malam pun juga sudah siap.


"Mama mandi dulu ya pah, habis itu makan malam bersama di sini" ucap Papa Hendra sambil menenteng tas dan jasnya.


"Viola ngga bisa turun pah"


"Kenapa"


"Viola terkena pecahan beling dan kakinya terluka"


"Dimana dia sekarang"


"Di kamarnya sedang menonton Drakor"


"Ya sudah papa mandi dulu, biar papa yang antarkan makanan ke kamar Viola.


Mama Desya mengangguk lalu mempersiapkan makanan untuk Viola dan Angga. Papa Hendra keluar dengan dengan kaos hitam dan celana piamanya.


"Nih pah" ucap mama Desya.


"Kok ada 2 piring, porsi Viola bertambah?" tanya papa Heran sambil menerima nampannya.


"Oiya mama lupa kasih tau. Angga ada di kamar sebelah. Tadi siang dia mengantar Viola. Dan mungkin dia kelelahan karena membopong Viola seharian. Jadi dia ketiduran" ucap mama Desya.

__ADS_1


"Baik papa juga akan ke sana


Papa Viola berjalan ke kamar Viola dan mendapati putri semata wayangnya itu sedang asiknya menonton film Drakor kesukaannya.


"Daddy, Daddy sudah pulang" ucapnya saat melihat papanya masuk ke kamarnya.


"Sudah dari tadi, sekarang kamu makan malam ya, jangan lupa di makan obatnya"


"Pahit dad"


"Namanya juga obat, ya pahit lah, cuma obat anak kecil yang manis"


"Daddy ngomongnya kaya Angga, nyebelin banget si" ucanya ketus.


"Iya dong, lelaki sejati itu selalu mempedulikan orang yang di sayanginya. Ngga mau orang yang disayanginya itu kenapa-kenapa. Kalau lelaki itu ngga peduli dan cuek mereka hanya memanfaatkan mu saja." ucap papa Hendra sambil meletakkan makanan Viola.


"Daddy pernah dong" Viola iseng.


"Nggak lah, Daddy itu orangnya serius dan ngga memainkan hati para wanita, tetapi banyak wanita yang mempermainkan Daddy"


"Maksud Daddy"


Daddy duduk di ranjang Viola.


"Banyak wanita yang mengincar harta Daddy, dan ada juga wanita yang egois demi cintanya untuk Daddy"


"Egois, maksudnya"


"Iya, maksudnya seseorang memaksakan Daddy untuk mencintainya, namun hati Daddy selalu teguh dengan mommy kamu. Jadi kalau ada seseorang yang ganggu kalian, kalian hati ya" ucap papa Hendra sambil mengelus kepala Viola.


Viola mengangguk.


"Sekarang kamu makan, papa ke kamar Angga dulu" ucap papa lalu keluar dari kamarnya.


Papa Hendra langsung membuka pintu kamar tamunya. Angga masih tertidur dengan lelapnya.


"Angga, bangun makan malam" ucap papa Hendra.


"Viola.. kenapa kamu di sini, kamu kan masih sakit" Angga mengigau sambil memegang tangan papa Hendra.


"Et dah, calon mantu gue kalau ngigau gini amat" umpat nya pelan.


"Eh sadar, calon mantu..." ucap papa Hendra sambil menepuk pipi Angga.


"Aku sadar Viola, kamu tuh sebaiknya istirahat jangan banyak berjalan dulu" ucap Angga dengan nada orang mengigau.


Angga meraih tangan papa Hendra yang menepuk-nepuk pipinya dan tanpa sadar menciumi tangan papa Hendra.


"Anggaaa...." bentak papa Hendra.


Angga sontak langsung membuka matanya dan mendapati bahwa tangannya sedang memegang tangan papa Hendra. Angga langsung melepaskannya.


"Maaf pah, maaf.. ma-maaf" ucapnya sambil menyatukan tangannya memohon ampun.


"Mantu gue gini amat kalau ngigo. Belum mandi.. Mandi dulu habis itu makan malam. Habisa tangan papa bau iler Lo" ucap papa Hendra sambil mengibaskan tangannya yang diciumi oleh calon menantunya.


Angga beranjak dari tempat tidurnya dan mengacak rambutnya kasar. Setelah itu ia memutuskan untuk makan malam di kamarnya.


Papa Hendra turun sambil mengumpat-umpat kelakuan Angga tadi. Dia menuju ke dapur untuk mencuci tangannya.


"Kenapa pah" tanya mama Desya.


"Ininih calon mantu kesayangan mama mengigau sambil menciumi tangan papa. Haduh... mimpi apa dia kira-kira" jawab papa Hendra jujur.


Mama Desya yang mendengar nya tertawa sambil menutupi mulutnya. Papa Hendra yang kesal mencuci tangannya dan makan malam bersama istrinya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2