
Angga memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk Viola dan membawa makan siang untuk dirinya dan mama Desya.11 Namun setelah dia sampai di ruma sakit dia terkejut karena mama Ghina juga sedang menjenguknya
"Loh, mama kok di sini" tanya Angga bingung.
"Emang kenapa, kalau mama di rumah pun, kamu ngga bakal pulang ke rumah, dan pasti kamu ke sini, jadi mama susul ke sini" ucap mama Desya.
Angga mengangguk.
"Kamu bawa makanan dari luar, buang aja, ntar gak sehat, mama udah bawa kok" ucap mama Ghina.
"Ngga mah, biarin di makan, kalau ngga di makan pun, sebaiknya di kasihkan untuk orang yang membutuhkan, banyak orang yang kesusahan di luar sana" ucap Viola.
"Kami sangat baik nak, mas bangga punya calon menantu kayak kamu, cepet-cepet pulang ya, nanti biar kalian cepet-cepet tunangan" ucap mama Ghina.
"ta-tapi..." ucap Viola terpotong.
"Mommy tau Vi, ngga papa cuma tunangan, belum ke pernikahan, tunangan itu menandakan kalau kamu udah punya calon untuk masa depan, agar kamu ngga ada yang berani deketin" mama Desya menjelaskan.
"Angga juga dong Mom, masa cuma Viola" ucap Viola kesal karena merasa tidak adil.
"Iya, Angga juga harus jaga dirinya dari orang lain juga" ucap mama Desya.
"Tenang Vi, mama yang aka mengawasi" tambah mama Ghina sambil melirik Angga.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan keras. Angga langsung membukanya.
"Kesya" ucap Angga kaget saat Kesy datang.
Viola kaget saat Angga mengucap nama Kesya. Kesya langsung melewati Angga dan berlari ke arah Viola dan memeluknya.
Spontan Kesya menangis di pelukan Viola. Viola pun memeluknya sambil mengelus kepalanya. Angga yang melihat nya membantu Kesya untuk duduk di tepi ranjangnya.
Kesya memeluk Viola erat sambil menangis keras.
"Ka Vivi, maafkan aku, aku yang membuat Kaka sakit...hiks..hiks.. maaf kan aku... hiks...hiks.."
"Tidak sayang tidak, kau tidak salah dalam hal ini. Kaka yang salah, karena Kaka tidak menjaga diri Kaka dengan baik. Sudah kamu jangan menangis ya, kalau Kesya menangis, ka Vivi ngga sembuh gimana" tanya Viola sambil memegang kedua pipi Kesya lalu mengusap air mata Kesya dengan jari telunjuknya.
Kesya mengangguk lalu berhenti menangis.
"Maafkan Bibi nak, karna bibi juga kamu jadi sakit begini" ucap Bibi Clara.
"Ngga papa Bi, bukan karna Bibi kok, ini salah Viola." Ucap Viola untuk meyakinkan.
"Ka, kenapa kaka ngga bilang kalau Kaka di rumah sakit" ucap Kesya khawatir.
"Nanti kalau Kesya ke sini, terus Kesya nangis kaya tadi. Kaka ngga tega kalau liat kamu nangis, makanya Kaka ngga ngasih tau kamu, maaf" ucap Viola sambil memegang kedua telinganya.
Kesya melepaskan tangan Viola. Dan kembali memeluk Viola.
__ADS_1
"Kaka cepet pulang ya, nanti Kesya bisa didongengin lagi sama Kaka" ucap Kesya saat masih di pelukannya.
"Iya pasti kok, mau di dongengin sekarang." tanya Viola.
"Ngga kak, Kaka kan lagi sakit, sebaiknya Kaka istirahat biar cepet sembuh, baru bisa dongengin untuk Kesya lagi" ucap Kesya.
"Kesya, kita pulang yuk, besok kita ke sini lagi ya" ucap Bibi Clara sambil mengelus kepala Kesya.
"Iya sana, ngga baik kamu di sini terlalu lama" ucap Viola.
"Tapi, Kesya juga mau jaga ka Viola"
"Kesya sayang, dengerin Kaka, disini tuh banyak virus sama penyakit, lagipula kamu juga masih kecil. Masih banyak yang jaga ka Vivi. Ada mama Desya, mama Ghina sama ka Angga, jadi Kesya sebaiknya pulang ya" ucap Viola meyakinkan.
"Oke ka, kalau begitu Kesya pulang ya, Kaka cepet sembuh, Kesya janji ngga bakal nakal dan nggak nyusahin Kaka lagi, Aku sayang ka Vivi" ucapnya sambil memeluk Viola.
"Aku juga sayang Kesya, kamu hati-hati ya" ucap Viola.
Kesya pun turun dari ranjang Viola.
"Viola, cepat sembuh ya" ucap Bibi Clara sambil mengelus rambut Viola.
"Iya Bi, Bibi hati-hati ya"
"Iya"
Kesya dan Bibi Clara pun keluar dari ruangan Kesya. Kehadiran Viola, membuat Kesya berubah. Dia menjadi anak yang sangat penurut karena kedatangan Viola.
"Viola, mommy dan mama Ghina harus pulang, jadi sekarang tinggal Angga yang harus menjaga Viola ya, nanti malam mommy akan datang lagi" ucap mama Desya.
"Iya mom, mommy dan mama hati-hati ya" ucap Viola.
"Iya nak, malam nanti mama yang akan jaga kamu" ucap mama Ghina.
"Iya makasih sekali lagi mah" ucap Viola.
"Jaga putri mama Angga" ucap mama Desya.
Angga mengangguk.
Setelah mereka keluar, Angga pun mengupaskan buah mangga untuk Viola.
"Angga" panggil Viola.
"Hmm" Angga hanya berdehem.
"Aku beruntung bisa bertemu sama Kesya, karena Kesya aku bisa ketemu sama kamu lagi. Karena Kesya pula aku bisa deket sama kamu lagi." ucapnya.
Angga hanya mendengar kan.
__ADS_1
"Kamu tau ngga, aku ngga pernah nyangka kalau kita bisa ketemu lagi kayak gini dan bisa balikan lagi. Takdir emang ngga bisa ketebak ya" ucapnya senang namun entah mengapa Viola malah menitikkan air mata.
"Kok kamu malah nangis, udahlah jangan cerita lagi, nanti malah kamu nangis nambah kenceng" ucap Angga.
"Aku nangis karna aku ngga percaya dengan apa yang terjadi padaku saat ini, Angga. Sungguh aku ngga nyangka ini akan terjadi, dan mungkin jika tidak ada Kesya, kita hanya bisa deket karena temen-temen kita di kampus" ucap Viola.
Angga mengangguk membenarkan lalu memakan mangga yang dikupasnya.
"Ehhh... kok malah di makan sendiri si, aku juga mau" ucap Viola.
"Aku juga mau, aku minta dikit lah, nih..." ucapnya sambil memberikan piring berisi buah mangga.
"Makasih Angga" ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu tau ngga Vi, sebenarnya kita juga satu sekolah waktu SMK, namun aku pindah karna liat kamu" ucap Angga jujur.
"Kenapa" tanya Viola heran.
"Karna aku ngga mau ganggu konsentrasi kamu, dan aku mau kamu terganggu dengan kehadiran ku" jawabnya.
"Dan jujur, aku juga ingin pindah saat melihat kamu pertama kali di Wedhingston namun papaku melarang ku untuk pindah karena waktu itu perusahaan sedang tidak baik, dan aku tidak tau bahwa papa Hendra adalah papa mu yang telah membantu perusahaan papaku" ucap Angga tertunduk.
"Itulah takdir Angga, akupun tak tau kalau kita akan bertemu di depan perpustakaan" ucap Viola sambil mengelus pundak Angga.
Viola memakan potongan mangganya. Dan sesekali melihat ke luar jendela.
"Angga" ucap Viola.
"kenapa"
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apa ada yang aneh dengan ku" tanya Viola.
"Ngga kok, kamu mau apa"
"Tolong bawa aku ke balkon, aku ingin sekali keluar"
"Tapi kan kamu masih lemah"
"Ngga Angga, aku kuat kok, tolong ya" ucap Viola memelas.
Dengan pasrah Angga menuntunnya ke balkon. Tangan kiri Viola mendorong gagang infus yang masih terpasang di tangannya.
Dia duduk di kursi yang tersedia di sana sambil memakan mangga sambil menikmati udara yang segar. "Cup", tiba-tiba Angga mendaratkan bibirnya di bibir Viola. Dia mengambil mangga dari mulut Viola.
//**//
Tolong tinggalkan komentar dan like kalian ya.. Terimakasih pembaca rahasia 'sudah ditakdirkan'...
Tetap semangat dan sehat ya..
__ADS_1
Salamku
Dewi M