
Di tempat kepolisian, Detektif Kenzo mulai menyelidiki bagian rem, dan benar saja kalau remnya sengaja di rusak oleh seseorang.
Kenzo men-scan bagian rem untuk mendeteksi sidik jari yang tertinggal, namun dia gagal menemukannya.
"Ah sial, dia sangatlah cerdik, tidak ada sidik jari yang tertinggal di sini"
"Kejadian seperti ini sering ada di film, kenapa bukti selalu sulit di dapat, aku sudah muak dengannya"
Geram Angga, dia mengepalkan tangannya dengan wajah penuh amarah.
"Sabar Angga, kamu jangan terlalu emosi, jika kamu emosi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Jika kamu sampai emosi, kamu juga akan terjebak dalam permainannya"
Kenzo menenangkan Angga. Viola berfikir keras sambil menopang dagunya.
"Jadi saat kita telpon juga pasti akan sulit untuk melacaknya, dia akan melakukan segala cara agar tidak di bisa di lacak, untuk menemukan anak buahnya pun pasti juga akan sulit. Apakah kita perlu mencari anak buahnya dan menyuapnya sebesar mungkin, emm.. tapi itu juga bisa menjebak kita dalam permainannya, apa yang harus kita lakukan"
Viola mengucapkan semua yang ada di pikirannya. Walaupun hatinya bergetar, dia harus tetap fokus dan konsentrasi agar tidak terjebak dalam permainan Veronica.
"Andai saja keberuntungan ada di pihak kita, semoga saja dia meninggalkan jejak"
Viola melihat sekitar mobil, keberuntungan tidak berada di sekitar mereka saat ini, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
Mereka semua mendengus nafas kasar setelah sampai di ruangan Viola.
"Aku tidak pernah memecahkan kasus serumit ini, pelakunya sangat teliti dan juga licik. Otaknya terbuat dari apa dia"
Umpat Kenzo sambil memijat pelipisnya. Viola membuatkan kopi untuk Kenzo dan juga coklat panas untuk Angga. Viola duduk setelah menyajikan minuman nya.
"Kalian, jangan terlalu di pikir begitu, kalian harus bisa pikiran ini baik-baik jangan sampai bertindak gegabah"
Angga menyergit heran dengan sikap Viola yang begitu tenang.
" Kenapa kamu begitu tenang, sedangkan waktu kamu begitu takut menghadapi saat di telfon olehnya"
"Aku tau, hatiku sebenarnya juga masih bergetar. Namun, kita tidak harus selalu bersembunyi dalam ketakutan, kita harus menghadapinya apapun yang terjadi. Jika kita takut, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah kita"
"Angga, Viola, aku akan kembali besok dengan rekan-rekan ku"
Kenzo beranjak dari duduknya.
"Tunggu Tuan Kenzo, besok perusahaan kami libur. Ini undangan untuk anniversary orang tua saya"
"Baik kalau begitu, saya permisi"
Kenzo keluar dari ruangan Viola. Viola duduk lemas di sofa. Angga yang melihatnya langsung memijat kepalanya.
"Merasa mendingan"
Viola mengangguk.
"Oiya, proyek di Busan, hanya tinggal sedikit lagi, kita akan ke sana satu bulan yang akan datang" Angga memulai pembicaraan.
"Tentu baiklah, itu adalah tempat dimana nanti kita ke sana bukan"
"Iya, setelah kita menikah nanti kita akan ke sana"
"Gaje"
__ADS_1
Viola melipat tangannya di dadanya. Angga langsung memeluknya.
"Ngga, ada telepon, aku angkat dulu"
"Pasti itu dari Vero"
"Entahlah"
Viola mengangkat nya lalu tidak lupa untuk merekam suaranya.
"Hallo Viola, kau selamat ya dari kecelakaan itu, sayang sekali usahaku gagal"
"Diam kau Vero, kau ada di mana sekarang"
"Kau tidak perlu tau, yang terpenting jaga dirimu baik-baik mulai sekarang. Oh ya.. jangan mencoba memakai detektif segala ya.. mereka tidak akan tau apa yang aku lakukan, terserah kalian mau berbuat apa, kalian tidak memiliki bukti. Rekam saja telepon ini semau kalian dan kirimkan kepada kantor polisi.. hahaha aku tidak akan takut"
Vero mengakhiri panggilannya.
"Aku yakin pasti setelah ini Vero akan mengubah nomornya lagi" Pikir Viola.
"Benar, akan sulit menemukannya"
"Aku ingin pulang"
"Aku juga sudah selesai, ya sudah ayo kita pulang, tetapi sebelum itu kita ke toko mobil dulu" ajak Angga.
"Ya udah deh, ayo"
*****
"Angga" panggil Viola.
"Kamu kan di rumah banyak mobil kok beli lagi"
"Udah jadul"
"Bersyukur kali Ngga, udah punya mobil satu itu harusnya bersyukur"
"Iya deh terserah, ya udah kita pulang"
"Kita makan siang dulu"
"Di rumah kamu aja, aku kangen masakan mama"
"Ya udah deh"
Di sepanjang perjalanan, Viola hanya memandang Angga. Angga juga sesekali tersenyum dengan Viola.
Angga dan Viola kaget melihat rumahnya sendiri, sungguh indah bahkan menakjubkan.( Jika anniversary nya aja mewah apalagi saat pernikahan mereka ya.. hehe..)
Mama Desya datang menghampiri mereka berdua
"Angga, Viola, kenapa kalian pulang lebih cepat"
"Tugas Viola selesai lebih cepat dan Angga kebetulan tidak banyak tugas, jadi kami bosan dan akhirnya pulang"
"Ya sudah mari kita makan bersama"
__ADS_1
Mama Desya merangkul Viola. Angga hanya membuntuti nya. Arifin dan Vellicia yang saat itu juga sibuk di ajak makan oleh mama Desya.
"Tante, bagian luar tinggal sedikit lagi, sore ini juga akan selesai" ucap Vellicia di tengah-tengah makannya.
"Iya terserah kalian Tante hanya ikuti kalian"
"Oiya jika kalian sudah selesai, aku juga pesan satu lagi ya, balon yang banyak biar di terbangin bersama dengan sebuah harapan nanti"
"Oke Vi" jawab Arifin.
*****
Tengah malam pun tiba, petasan di nyalakan sebagai pembukaan, memang tidak banyak yang datang, hanya tetangga dekat, teman-teman Viola dengan keluarganya serta para staf yang telah di undangnya.
Alunan musik yang mengiringi mereka. Mereka berdansa bersama. Kenzo juga tidak lupa datang untuk menghabiskan waktu 24 jamnya untuk bersenang-senang.
Wedhingston Limelight yang sedang berkumpul juga berkenalan dengan Kenzo. Kenzo memang seumuran dengan mereka jadi dengan mudah mereka bisa akrab.
"Maaf ya Vi, kami tidak bisa bantu kamu" ucap Shanti.
"Ngga papa kok Shan, kalian juga sibuk jadi maklum lah"
"Eh Vi, nanti kalau nanti Novita bunting kamu kan harus mencari sekertaris baru" ucap Cintya.
"Kamu mikirnya udah kejauhan Cin, aku juga belum tau" ucap Viola.
"Yang penting jangan laki-laki" Angga menyela.
"Ya udah kamu bantuin aku aja lusa" ucap Viola.
"Tenang, pasti aku cari yang terbaik"
Di tengah percakapan mereka, Bima datang untuk menghampiri bosnya.
"Bos, maaf saya baru datang"
"Hei jangan berkata formal begitu, ini sedang pesta, kita berteman Oke"
Bobby langsung merangkul Bima. Mereka dengan senang hati menerima siapa saja. Mereka saling terbuka satu sama lain, jadi keakraban dengan siapapun tidak menjadi masalah untuk mereka selagi mereka tidak merasa terancam.
"Sayang sekali Novita dan Rendy belum pulang" rengek Cintya.
"Siapa bilang kami belum pulang"
Tiba-tiba mereka datang, dan akhirnya Wedhingston Limelight lengkap kembali.
"Loh, cepat sekali, bukannya baru berangkat kemarin" tanya Viola kaget dengan kedatangan mereka.
"Aku ingin berkumpul kembali dengan kalian seperti dulu, memangnya tidak boleh" Novita sambil melipat tangannya di dada.
Girls Wedhingston Limelight memeluknya bersama, menahan kerinduan memanglah tidak mudah. Mereka menangis walaupun hanya setetes.
"Wanita memang lebay" ucap Bobby yang melihat para wanita berpelukan.
"Kau tidak punya hati, jadi kau tidak tau apa itu kerinduan" tegas Cintya.
Mereka akhirnya menari bersama, mereka menghabiskan waktu 24 jamnya untuk bersenang-senang setelah sekian lama tidak bersenang-senang bersama.
__ADS_1
//**//