
Seperti biasa, Viola sibuk dengan beberapa berkas di kantornya.
"Haduh.. Aku bosen banget. Biasanya Angga udah di sini nemenin aku. Ngga ada sekretaris repot ngga ada obrolan"
Viola menopang kepalanya di meja kerjanya.
"Angga aku merindukanmu"
Tak lama dia mengucapkan itu, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo, udah selesai"
"Udah kok, kenapa kok suaranya lemes gitu"
"Ngga papa kok"
"Kamu rindu aku ya" goda Angga.
"Iya"
"Tumben jujur"
"Buat apa aku menutupi kejujuran ku kepada orang yang ku sayangi. Percuma aja kalau di pendam tapi sama-sama menyukai"
"Bucin.. Maaf sayang, tapi aku hari ini ngga bisa pulang. Ngga papa kan"
"Ngga papa kok, tapi kamu hati-hati ya. Jangan lupain aku di sini"
"Ngga akan kok, ya udah aku lanjut dulu ya"
"Iya"
Viola menutup telfonnya, dan memutuskan untuk menjenguk Monica lagi agar dirinya tidak bosan dan jenuh.
"Kakak tidak banyak kerjaan hari ini"
"Nggak kok, kakak sedang bosan di kantor terus, jadi kakak ke sini"
"Bosan ngga ada Angga di kantor ya Vi" goda tante Stella.
"E-enggak kok tan. Memang saya tidak ada pekerjaan hari ini, jadi ke sini"
"Ooh" jawab tante Stella sambil tersenyum karena melihat kegugupan Viola.
"Oiya tante, Monica kapan pulang"
"Minggu depan"
"Ooh, biar aku yang jemput ya tan"[t
"Ngga lah Vi, nanti pasti kamu sibuk"
"Ngga papa kok tan"
Di tengah perbincangan mereka, handphone Viola berdering.
"Aku keluar dulu ya tan"
Tante Stella mengangguk, Viola pun ke kamar mandi agar tidak ada yang mendengar nya.
"Kenapa lama banget " ucap Zaenal.
"Ngga usah dipikirin ada apa?"
"Bener Veronica ada di sini, dan hari ini sudah nyampe di Singapura"
"Udah aku duga, sekarang kamu awasi Angga dengan lebih ketat. Jangan sampai dia kenapa-kenapa.
"Iya Vi, siap. Sekarang aku udah sama Kenzo di sini. Aku udahin ya"
"Iya Ze"
Viola keluar dari kamar mandi, tiba-tiba terpeleset dan pingsan.
*****
"Vi.. Vi.. Bangun" ucap tante Stella.
Viola terkejut dan langsung terbangun dari pingsan nya.
"Loh tan, kenapa aku di ICU"
__ADS_1
"Kamu pingsan di depan kamar mandi tadi. Kamu ngga papa? Kenapa bisa pingsan"
"Tadi aku terpeleset tan. Ngga apa-apa kok tan. Tante ngga usah khawatir"
"Untunglah kamu ngga papa"
Viola melihat arloji nya. Dia kaget saat arloji nya menunjukkan pukul 1 siang.
"Sudah pukul 1 siang tan. Aku harus pulang. Sampaikan salam ku kepada Monica ya tan, aku ngga bisa pamit sama dia."
"Iya nanti tante sampaikan, kamu beneran ngga papa kan"
"Ngga papa tante, tante tenang aja. Aku pamit tante"
"Iya hati-hati"
Viola meninggalkan rumah sakit, walaupun kepalanya masih terasa sakit. Dia melajukan kecepatan mobil nya dengan pelan.
Di tengah kecepatan nya, Angga menelfonya. Viola memasang headset di telinganya.
"Hallo ada apa Ngga"
"Kamu ngga papa kan di sana? Kenapa bisa terpeleset di depan kamar mandi? Sekarang masih di rumah sakit kan? Apanya yang sakit? "
"Nanyanya satu-satu dong biar aku ngga bingung jawab nya"
"Ya coba jelasin, bagaimana bisa jatuh"
"Ngga tau tiba-tiba lantainya licin, ya otomatis aku jatuh"
"Sekarang dimana?"
"Aku di jalan sekarang mau pulang"
"Nyetir sendiri"
"Iyaa"
"Seharusnya panggil taksi atau pak Rudi aja biar jemput kamu. Kok malah pulang sendiri. Hati-hati loh nyetir nya. Jangan gegabah. Percuma juga aku nyuruh kamu ini itu, aku juga ngga di sana. Sekarang pulang jangan ke kantor lagi. Istirahat, makan yang banyak biar ngga sakit kepalanya, minum obat juga. Awas kalo ngga dilakuin"
"Khawatir banget si, lagian cuma kejedug juga. Ngga papa lah, kok kamu bisa tau"
"Tante Stella yang ngasih tau"
Viola tertawa terbahak-bahak. Angga di ujung telepon hanya tersenyum mendengar tawa Viola.
"Kamu pasti cantik tertawa seperti itu"
Seketika pipi Viola memerah saat mendengar bucinan dari Angga, walaupun hanya melalui telepon, hati Viola terasa seperti berbunga-bunga.
"Muka kamu lagi merah nih pasti, hehehe.. Aku bakal kangen sama muka merah kamu"
"Apaan si Ngga, ya tentu nggak lah. Cuma gitu doang juga" ucapnya.
"Jangan bohong, aku tutup dulu ya. Klien aku udah dateng nih, aku hubungi kamu nanti malam. Bye"
"Iya, bye"
Angga menutup telfonnya. Viola kembali menyetir mobil nya. Tiba-tiba di depannya ada truk yang menghantam mobil nya dengan kecepatan tinggi dan "Bbrruukkk" sebuah kecelakaan besar terjadi seketika.
Semua warga yang melihat nya langsung menghubungi polisi dan ambulans. Tak lama mereka datang, berita langsung menyebar di mana-mana.
Setelah ambulans datang Viola dan supir truk langsung membawa mereka ke rumah sakit. Beruntung mobil Viola tidak meledak setelah di hantam oleh truk tersebut.
*****
"Permisi bos, ada berita besar bos" ucap Alex dengan paniknya.
"Ada apa cepat katakan, ada masalah apa"
"Nona Viola bos"
Angga terkejut dan langsung menggebrak meja yang ada di depannya.
"Ada apa dengan Viola" dengan nada khawatir nya.
Alex menunjuk tv yang ada di restoran tempat mereka meeting. Angga kaget, matanya berkaca-kaca.
"Sorry sir, I will cancel this meeting. If you still agree, meet me in Indonesia."
(Maaf pak, meeting ini saya batalkan. Jika masih menyetujui, temui saya di Indonesia.)
__ADS_1
Alex membereskan berkas berkas Angga. Angga beranjak dari tempatnya dan menuju ke parkiran. Alex juga membantunya dengan langkah terburu-buru.
"Alex pesankan aku pesawat ke Indonesia sekarang. Siapkan semuanya sesegera mungkin."
"I-iya bos"
"Saya yang nyetir kamu di belakang. Cepat!! "
Alex dengan tergesa-gesa masuk ke mobil Angga. Perasaan panik sedang menyelimuti nya sekarang. Dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju ke bandara.
" Maaf bos, sepertinya tidak ada waktu tercepat menuju ke Indonesia sekarang"
"Apa katamu!! Cari sekali lagi"
Dengan cepat Alex kembali mengotak-atik ponselnya.
"Sungguh menyeramkan kalau bos lagi marah. Bukan marah si tapi khawatir. Semoga saja nona Viola tidak kenapa-napa" gumamnya Alex dalam hati.
"Semoga kamu baik-baik saja. Aku datang Viola" gumam Angga.
Angga semakin menambah kecepatan nya. Badan Alex juga terhuyung ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan mobil. Alex merasa tidak konsen saat mencarikan tiket pesawat untuk nya.
Tak lama mereka sampai di bandara. Angga langsung berlari ke arah loket dan memesan perjalanan ke Indonesia. Berlari ke sana dan kesini dengan panik.
"Bos, barang-barang bos bagaimana"
"Kirim saja"
"Bos sudah mendapat tiketnya"
"Ya tentu belum lah" dengan nada membentak.
Angga duduk di sebuah bangku dengan keadaan panik dan khawatir. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini. Viola membutuhkan ku sekarang"
Mata Angga memerah, dan perlahan matanya mengeluarkan air mata.
"Sekarang aku bicara sebagai teman."
Alex menepuk bahunya untuk memenangkan Angga. Angga mengusap air matanya kasar.
"Gini Ngga, tarik nafas yang panjang keluarin pelan-pelan. Kamu jangan panik seperti ini, ini hanya akan membuat hati kamu menjadi tidak tenang. Pikiranmu juga pasti kacau jika begini"
"Ini bukan waktunya ceramah Lex"
"Aku tau Ngga, tapi sekarang pikirin deh. Bayangin kalau kamu kacau seperti ini, Viola juga pasti di sana khawatir."
Angga menghela nafas panjang.
"Ingat!! Wanita itu bisa merasakan sebuah rasa yang tidak bisa di prediksi oleh laki-laki. Wanita bisa tau apa yang di sembunyikan oleh pasangan bahkan saat di tidur sekalipun."
Angga menundukkan kepalanya sambil memegang kepalanya.
"Sekarang gini deh. Tenangin diri kamu. Berdoa semoga masih ada tiket ke Indonesia yang tercepat"
"Tuhan..bantulah aku. Bantulah aku dalam hal ini. Aku tau ini ujian darimu. Bantulah aku untuk mendapatkan tiket ke Indonesia sekarang"
"Anggaaaaa"
Teriakan seseorang membuat pandangan mereka menuju ke arah suara. Melihat ke sumber suara.
"Nih tiket" ucap Kenzo dengan terengah-engah.
"Kenzo" ucap Angga kaget.
"Iya nih tiket, cepetan ke Indo. Viola butuh kanu"
Angga memeluk Kenzo dan menepuk bahunya keras. Angga langsung berlari menuju ke ruang tunggu pesawat.
"Hati-hati Ngga. Jangan panik" teriak Kenzo.
Angga melihat ke belakang dan menganggukkan kepalanya.
"Kasihan bos, dia nangis tadi"
"Aku juga melihat matanya memerah"
"Semoga nona Viola ngga apa-apa"
"Pasti dia baik, kalau tidak entah apa yang terjadi pada Angga"
__ADS_1
//**//