
"Mama, mama Desya, Viola. Lepaskan mereka, mereka tidak bersalah" ucap Angga.
"Tidak bersalah katamu. Lalu siapa di sini yang salah. Aku! Aku adalah korban di sini dan yang harus sakit bukan hanya aku semua harus merasakan sakit yang aku rasakan selama ini"
"Dasar gila"
"Apa!! Gila katamu!! Kalian yang gila karena sudah menyakiti hati ku, merebut semua kebahagiaan ku, merebut keluarga ku dan merebut segalanya"
"Apa maksud mu"
"Dia yang sekarang sedang setengah mati telah merebut mu dariku. Mereka merebut kebahagiaan ku. Ahhhh.. Aku muak dengan semua ini"
"Sadar Ver, sadar. Ingatlah adik mu yang menunggu kasih sayang dan pelukanmu. Dia ingin merasakan kau sebagai seorang kakaknya. Dan ingat juga keluarga mu yang kau tinggalkan"
"Keluarga ku bahkan tidak peduli kepada ku. Mereka sangat lah egois. Aku benci semuanya sangat benci"
"Ver, aku mohon jangan apa apakan mereka. Jika kau ingin membunuh mereka, bunuhlah aku juga"
"Ooohhhh, ingin menjadi cinta sejati rupanya. Kalian itu belum menikah. Kau belum menikah dengannya karena masih mencintaiku bukan"
"Salah, kau sangat salah. Aku tidak mencintaimu karena kau bukanlah takdirku. Kau bukan pelengkap hidup ku. Cinta itu tidak bisa di paksakan karena suatu alasan. Cinta itu menyatukan dua hati, bukan karena keegoisan. Bukan hanya dua hati yang disatukan, melainkan juga dua keluarga. Jika kau seperti ini, cintamu kepadaku itu salah"
"Aku sudah menunggu lama, dan ini sia-sia. Kalian cepat tangkap dia dan pukul dan cambuk dia"
Angga mencoba menyerang para bodyguard yang menyerang nya, namun itu mustahil dia lakukan karena mereka sangat banyak.
Merasa Angga sudah lemah, mereka mengikatnya di sebuah kursi berjejeran dengan ketiga wanita yang dia sayangi. Veronica menuangkan bensin di sekitar mereka. Mama Desya dan Mama Ghina tidak bisa berteriak ataupun bergerak karena mulutnya di tutup dan juga badannya di ikat.
Veronica membakar bersin tersebut hingga melingkari mereka. Mereka tidak berkutik dan berharap ada yang membantu mereka.
"Bosss.. Ada 3 helikopter datang dan juga para polisi dan tentara , apa yang harus kita lakukan"
"Apa!! Polisi dan tentara katamu, bakar tempat ini dan tinggalkan mereka melalui lorong bawah tanah"
"Baik boss"
Semua para bodyguard menjalankan perintah nya dan membakar tempat tersebut. Setelah mereka selesai mereka meninggalkan markasnya.
Tampak dari dalam papa Hendra dan papa Devan keluar dari sebuah ruangan. Mereka langsung mencoba memadamkan apinya dengan alat seadanya. Angga juga berusaha melepaskan tali yang di ikat di tangannya dengan sekuat tenaga.
Bobby, Arifin, Zaenal dan Alex membawa alat pemadam kebakaran. Alex membantu melepaskan ikatan mereka.
Angga menggendong Viola, Alex memegang alat Infus Viola dan berusaha melindungi Viola juga. Sangat sulit untuk keluar dari sana namun dengan berbagai cara akhirnya mereka berhasil keluar.
__ADS_1
"Tuan Angga, cepat masuk ke helikopter itu dan pergilah ke rumah sakit, tidak akan memakan waktu nantinya"
Angga mengangguk dan langsung memasuki helikopter. Alex berada di depan juga dengan membawa infus Viola. Mama Desya dan yang lainnya juga memasuki helikopter yang lainnya.
"Siapa yang merencanakan semua ini" tanya Angga.
"Detektif Kenzo dan teman-teman tuan"
"Terimakasih kalian datang di waktu yang tepat"
"Sama-sama tuan"
Sementara itu, Detektif Kenzo dan timnya mengejar Veronica dan para bodyguard nya. Veronica berlari ke sebuah jurang dan melompat namun tangannya di cegah oleh Kenzo dan Veronica bergelantungan di tepi jurang.
"Sadar Ver sadar"
"Lepas, lepasin. Lebih baik aku mati daripada harus di penjara" ucap Veronica sambil mencoba melepaskan tangan yang di pegang Kenzo.
Veronica terguling ke bawah saat tangannya berhasil lepas dari genggaman Kenzo. Para polisi menuruni jurang tersebut lalu di ikuti oleh Kenzo.
"Dia masih hidup" ucap salah satu polisi sambil memeriksa nadi Veronica.
"Segera bawa ke rumah sakit"
*****
Angga dan yang lainnya sampai di rumah sakit dan diperiksa bersama-sama. Angga juga di periksa akibat luka pukulan dan beberapa cambukan di tubuhnya.
Angga terbaring lemah di ranjangnya. Infus juga di pasangkan di tangannya. Dia meminta untuk selalu dekat dengan Viola hingga tersadar.
Tiba-tiba Viola mengalami kritis saat di periksa. Angga yang melihatnya langsung berdiri dan menghiraukan larangan dokter dan juga Alex.
"Dokter Viola kenapa"
Dokter tidak menghiraukan ucapan Angga. Dia menyiapkan alat pengejut jantung untuk memulihkan detak jantung Viola. Angga yang melihatnya hanya bisa menggenggam tangan Viola dengan erat.
Sudah hampir setengah jam hasilnya masih tetap sama. Angga akhirnya turun tangan dan menekan nekan dadanya.
"Kau harus bisa bangun dan bertahan Viola. Kau harus kembali menemui ku lagi. Kau pasti bisa. Kau wanita kuat Viola" Ucap Angga sambil menekan nekan dadanya.
"Aku mencintai mu" lirih Angga sambil meneteskan air matanya yang terjatuh di pipi Viola.
Bersamaan dengan itu jantung Viola kembali normal. Dokter langsung memeriksa keadaannya.
__ADS_1
"Akhirnya dia baik-baik saja" ucap dokter.
Tak lama jari Viola juga bergerak. Viola juga perlahan membuka matanya.
"Angga" panggil Viola kemudian.
Angga langsung memegang tangan Viola dengan erat. Mengelus rambutnya dan mencium kening Viola.
"Angga, itu kau. Kenapa semuanya gelap Angga"
"Gelap, bagaimana mungkin"
Dokter yang mendengar nya langsung memeriksanya dan membuka kedua matanya.
"Sepertinya nona Viola mengalami kebutaan karena efek dari kecelakaan dan komannya sehingga saraf matanya tidak berfungsi"
Bagaikan di hantam badai dan petir, Angga terhuyung dan Alex dengan sigap menopang nya.
"Apa dok. Nggak mungkin... Ini nggak mungkin hiks.. Angga... Kenapa menjadi seperti ini. Aku berusaha untuk kembali namun Tuhan tidak adil kepada ku.. Hiks... " ucap Viola kaget.
Angga memeluk Viola dengan erat untuk menenangkan nya.
" Sabar, kamu jangan seperti ini. Kamu adalah wanita yang kuat. Aku tau kamu bisa melewati semua ini."
"Nggak, nggak boleh.. Aku sudah rindu padamu Angga... Hiks.. Hiks...."
"Sebaiknya nona Viola istirahat dulu, agar hati nona tenang saja. Ini sudah takdir dan ini yang harus di lewati. Jadi nona yang sabar. Saya permisi sebentar karena ada pasien yang menunggu saya."
Angga mengangguk lalu kembali menatap Viola yang masih menangis. Dunianya terasa hancur saat mengetahui dirinya tidak bisa melihat apa-apa.
"Angga aku mau istirahat, sebaiknya kamu juga yaa..." ucap Viola lalu menutup matanya.
"Alex, tolong bantu aku keluar sebentar"
Alex yang juga di sana menurutinya dan membawanya keluar dari ruangan ICU. Angga terduduk lemah sambil memegang kedua kepalanya.
"Aku berharap bahwa akulah yang akan dia lihat pertama kali saat dia bangun, namun apa, dia tidak bisa melihatku sekarang, dan aku harus menunggu lagi" ucap Angga.
"Beruntung nona Viola masih bisa sadarkan diri. Bos harus sabar dan tenang. Bos harus kuat. Nona Viola lebih terpukul tidak bisa melihat wajah orang yang dia sayang dan cintai di sekitarnya. Sedangkan bos masih bisa melihatnya tersenyum dan melihatnya semangat kembali. Bos harus bisa membahagiakan nya dan membuat nya tersenyum agar nona Viola tidak putus asa"
"Kau benar Lex, terimakasih banyak. Aku lebih beruntung bisa melihat nya kembali. Aku berjanji akan selalu membuat nya tersenyum dan bahagia"
//**//
__ADS_1