
Angga melepas perlahan tangan yang masih di genggam oleh Monica. Angga beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan minum untuk Viola dan untuk tante Stella.
"terima kasih Angga"ucap Viola
"sama-sama sayang"
"kamu harus menjaga Viola baik-baik. Kamu beruntung mendapatkan dia, tidak ada wanita sebaik dirinya. Kamu harus menjaganya dengan baik" ucap Tante Stella sambil memegang tangan keduanya.
"NGGA!! aku ngga terima ini"
Teriak Vero saat masuk ke ruangan Monica.
"VERONICA" ucap semua orang kaget.
Tante Stella menarik tangan Veronica keluar dari ruangan Monica.
"Vero!! Dari mana aja kamu"
Veronica menghempaskan tangan yang di pegang Tante Stella.
"Mama ngga perlu tau, Mama udah ngga adil sama aku. Mama menyayangi anak orang lain daripada anakmu sendiri!! Aku mau menemui Monica"
"Ngga boleh" ucap Om Brian menghalangi pintu masuk.
Veronica kaget dengan sikap orang tuanya.
"Kenapa!! Kenapa Papa halangin aku. Apakah aku tidak boleh menemui adikku sendiri."
"CUKUP Vero!!"
Veronica kaget dengan bentakkan papanya. Vero mundur satu langkah.
"Selama ini papa sama Mama ngga pernah bentak aku, dan sekarang kalian ngebentak aku di hadapan mereka. Mereka yang sekarang kalian banggakan begitu"
"Waktu adikmu sakit, Kamu kemana? Apakah waktu adikmu membutuhkan mu kamu ada? Hanya bibi saja yang menjaga adikmu, sedangkan kau. Sedangkan kau pergi entah kemana"
"Terus mengapa mereka yang kalian panggil? Kenapa aku tidak"
"Setidaknya kau sadar Ver. Papa sama Mama mencoba menghubungi kamu, tapi kamu selalu bergonta ganti nomor. Kenapa kamu mengganti nomor kamu bahkan hampir setiap jam? Kau bertindak sesuatu?" tanya Tante Stella bertubi-tubi.
"Kalian selalu mengintrogasi ku agar aku terjebak di sini iya kan? Kalian sudah merencanakan semua ini. Aku disini hanya untuk menemui adikku, bukan yang lain."
"Berhenti mengucapkan adik. Kau tidak pantas menyebutnya sebagai adikmu. Adikmu tergeletak kau tidak peduli" Ucap Angga
"Kalian tidak perlu ikut campur. Jika kalian tidak ada pasti tidak akan seperti ini. Aku pergi!!"
Veronica pergi, kemarahan nya sudah berada di puncak. Tiba-tiba Viola lemas mendengar semua ucapan Vero. Viola hampir terhuyung, namun dengan cepat Angga menyangganya.
"Kamu kenapa" tanya Angga khawatir.
"E-engga papa kok"
Angga menuntun Viola di dalam ruangan dan mendudukkan nya. Om Brian mengambilkan minuman untuk Viola dan istrinya.
"Terimakasih banyak Om"
Viola meminum airnya dan meneguknya hingga habis.
"Ka Lala" panggil Monica.
Viola langsung berjalan ke arahnya dan duduk di bangku yang tersedia.
__ADS_1
"Kau sudah bangun"
"Maaf kan kakakku, gara-gara aku, Ka Lala yang di salahkan."
Viola mengusap pipinya. Perlahan juga Monica meneteskan air matanya.
"Apa kau mendengar semuanya" tanya Om Brian.
Monica mengangguk.
"Jangan dengarkan kakak kamu itu. Dia hanya berpura-pura baik kepadamu" ucap Tante Stella.
"Aku ingin bertemu dengan kakak"
"Tapi kakak kamu sudah keterlaluan."
"Kaka tidak jahat, masih ada hati baik di dalamnya hiks..hiks"
Viola refleks memeluk Monica.
"Monica... jangan menangis.. iya kakak kamu memang masih tersisa hati baik di dalamnya. Kamu berdoa saja ya semoga Kaka kamu bisa lebih baik lagi"
Viola juga meneteskan air matanya.
"Aku ngga nangis kak, Kaka jangan nangis ya" mengusap air matanya.
"Kaka ngga nangis lagi, sekarang kaka
peluk ya"
"Kaka tidak perlu ijin lagi, peluklah aku semau kakak"
Viola memeluk Monica yang masih terbaring. Rasa bersalah terus saja menghantuinya. Rasa bahagia juga menyambut nya karena dia bisa bertemu dengan Monica.
"Kaka mau pulang"
"Iya Kaka mau pulang sebentar, Kaka akan ke sini lagi nanti, kamu mau apa saat Kaka ke sini"
"Eskrim"
"Ngga boleh, bagaimana kalau kue saja"
"Boleh"
Viola tersenyum, kemudian menggandeng Angga keluar dari rumah sakit.
Di saat perjalanan, mereka hanya diam. Bingung untuk mengungkapkan apa.
"Angga"
"Iya kenapa"
"Aku ingin kita ke taman"
"Tidak jadi pulang"
Viola menggelengkan kepalanya. Angga menghela nafasnya dan pergi ke jalur arah taman.
"Ayo duduk di sana" ajak Angga.
Viola menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kita duduk di bawah pohon itu saja"
Viola menunjuk ke arah pohon besar dan sedang berbunga. Angga menarik tangan Viola. Angga duduk di sampingnya kemudian menidurkan kepalanya di pangkuan Viola.
"Angga"
Sambil mengelus kepala Angga dan melihatnya.
"Kenapa, ada masalah? katakan saja jika ada sesuatu yang menggejolak"
"Aku pinjam pundak kamu"
Angga duduk dan menyenderkan badannya di pohon. Viola menyenderkan kepalanya di bahu Angga. Perlahan air mata Viola terjatuh dan mengenai tangan mereka yang sedang bergandengan.
"Kau menangis" tanya Angga yang melihat air menetes mengenai tangannya.
Viola menggelengkan kepalanya. Angga melepaskan genggaman tangannya dan memegang kedua pipi Viola.
Dan benar, Viola menangis hingga hidungnya memerah. Angga mengusap-usap pipinya dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Mengapa kau terus menangis. Berhentilah nanti kamu sakit. Aku tidak mau itu"
Viola menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Angga dan mulai menangis sejadi jadinya. Angga mengusap-usap kepala dan punggungnya.
"Ssttt... berhentilah menangis"
"Aku tidak tega melihat Vero seperti itu. Aku juga tidak tega melihat Monica menangis. Aku merasa banyak bersalah kepada mereka"
"Ngga Viola. Kamu ngga salah. Jangan bicara seperti itu lagi, aku akan selalu ada bersamamu"
"Aku ingin benar-benar mengembalikan ingatan Vero seperti dulu, namun aku tidak yakin akan hal itu"
"Kamu harus yakin Viola. Yakinlah bahwa dirimu itu bisa. Yakinlah semua akan berubah dan menjadi suatu hal yang indah. Hidup memang berliku-liku Viola, namun kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu sendiri. Sejujurnya aku takut jika kamu nanti depresi jika terus seperti ini"
"Aku juga takut itu terjadi, namun apa dayaku sekarang. Aku terus berusaha dan berdoa juga bekerja keras namun semua itu masih tetap gagal"
Merasa Viola tidak menangis sambil sesenggukan, Angga memegang bahu Viola. Viola mengusap air mata yang masih tergenang di pipinya dan melihat ke arah Angga.
"Dengarkan aku. Kita bisa mencoba sesuatu hal dari sebuah kegagalan. Memang kegagalan itu selalu hadir di dalam diri seseorang, namun dengan adanya kegagalan kita akan mendapatkan sesuatu hal yang lebih indah dari yang kita rencanakan sebelumnya. Jangan pernah menyerah itu kata kuncinya. Kau harus mengunci kata Patang menyerah di dalam hatimu agar kamu tetap merasa kuat walaupun banyak rintangan yang menghalang, kamu paham kan"
Viola mengangguk. Angga mengusap air matanya yang tersisa hingga benar-benar kering. Angga mencium kening Viola dan memeluknya. Viola kembali bersandar di bahunya.
"Terimakasih banyak Angga"
"Apapun buat kamu"
Tiba-tiba sebuah bunga jatuh di atas mereka. Mereka mengambilnya.
"Lihat, bungapun peduli kepada kamu. Sepertinya dia juga tidak ingin melihat mu menangis, apalagi di bawah pohon ini"
"Angga aku ingin menulis nama kita di pohon ini"
"Sesuai dengan keinginan kamu"
Angga mulai mengukir namanya dan Viola di pohon dengan sebuah batu yang tumpul. Viola juga mengukir sebuah emoticon di bawahnya.
//**//
Hai.. hai.. hai... bagaimana kabar kalian. Pasti sehat kan. Terimakasih yang sudah like, komen , vote dan lain-lain. Tetap semangat menjalani harimu.
Alhamdulillah udah sampe 50 episode. Terimakasih atas dukungan kalian 🙏🙏
__ADS_1
Salamku
Dewi M