
Keesokan harinya, Angga mendapat kabar bahwa Veronica sudah sadarkan diri.
"Angga aku ikut"
"Jangan, kamu di sini saja istirahat ya"
"Tolong Angga"
"Aku nggak mau dia ngapa-ngapain kamu Viola"
"Aku nggak akan kenapa napa karena ada kamu Angga, jadi aku mohon"
Dengan pasrah Angga mengajak Viola ke kamar Veronica setelah sarapan pagi. Angga mendorong kur roda Viola secara perlahan di temani dengan Alex dan Kenzo.
Saat mereka sampai di depan ruang rawat Veronica, keluarga Veronica sudah menunggu begitu juga dengan Monika.
"Tante.. " ucap Angga.
" Viola, kamu nggak papa nak" ucap tante Stella.
"Maafkan kesalahan Veronica nak" ucap om Brian.
Orang tua Veronica berlutut di depan Viola sambil memegang kedua tangan Viola. Viola hanya bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Monica hanya menatap kedua orang tuanya saja sambil menangis.
"Nggak papa kok Om, Tante. Semua ini sepenuhnya bukan salah tante. Udah tante ngga papa"
"Namun semua ini terjadi karena Veronica. Veronica juga putri kami, kami pantas seperti ini nak. Kami juga yang akan mendapatkan hukuman nanti. Kami juga harus menanggung malu atas kelakuan putri kami" ucap Om Brian.
"Om, Tante. Sudah, jangan terus meminta maaf kepada ku seperti ini. Monica di sini bukan"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan nak. Kami merasa sangat bersalah di sini. Kami akan tetap duduk di hadapan kamu"
Viola memegang tangan Angga setelah tau bahwa orang tua Veronica sedang berlutut di hadapan nya. Angga mengerti maksud Viola. Angga membantu orang tua Veronica berdiri.
"Berdiri dulu om, tante. Tidak baik jika orang lain melihat" ucap Angga
"Om, Tante. Ngga usah di perpanjang ya. Ini semua sudah takdir. Takdir akan terus berjalan dan berjalan hingga Tuhan mengatakan bahwa takdir berhenti sampai disini. Sebelum Tuhan mengatakan itu, kita harus yakin kita bisa melewati takdir itu dengan tabah dan penuh dengan perjuangan. Jika om dan tante terus seperti ini, saya juga akan merasa bersalah"
Tante Stella memeluk Viola dan Viola pun membalas nya dengan hangat. Air mata mereka pecah bersama. Tak lama Viola melepaskan pelukannya.
"Monica" panggil Viola.
__ADS_1
Monica hanya terdiam sambil melihat Viola dengan tatapannya yang sedih. Monica berjalan perlahan ke arahnya.
"Monica, kamu di sini kan" tanya Viola.
Angga menggandengkan tangan Viola dan tangan Monica. Monica melihat nya dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Monica, kamu sudah sembuh total kan. Maaf ya kakak ngga bisa antar kamu. Maaf kakak udah ngelanggar janji kakak"
"Hiks.. Ngga papa kok kak.. Hiks.. Maafin ka Veronica ya kak"
"Loh kok nangis. Monica nggak boleh sedih ya. Monica harus selalu tersenyum apapun kondisi nya. Monica kan anak pintar"
Monica tersenyum tipis lalu memeluk Viola. Viola membalas pelukannya dengan hangat.
"Sudah ya, kakak mau bicara dengan kak Veronica"
" Iya kak"
Viola dan Angga pun masuk ke ruangan Veronica. Veronica nampak sedang menangis sesegukan di kamarnya dengan keadaan terduduk di atas ranjang.
Veronica langsung mengusap air matanya saat Viola dan Angga masuk ke ruangannya.
"Viola.. " panggil Veronica.
"Angga sudah" ucap Viola.
Viola mencoba meraih tangan Vero. Veronica yang mengerti langsung menggenggam tangannya erat.
"Maafkan aku Viola. Aku sangat salah memperlakukan kamu dan keluargamu dengan penuh kekasaran. Aku minta maaf yang sebesar besarnya"
"E-enggak, jangan begitu. Aku udah maafin kamu kok. Dan karena Aku lah kamu menjadi berubah seperti ini"
"Aku udah tau kok.. Hiks.. Aku udah ingat semuanya. Aku udah tau semuanya setelah aku terbangun dari pingsanku kepalaku sungguh sakit dan langsung mengingat kejadian masa lalu yang menimpa ku Viola. Aku tau kamu nggak sengaja, namun lagi-lagi kamu yang jadi korban"
"Syukurlah kalau kamu sudah mengingat semuanya. Aku minta maaf ya atas kejadian masa lalu"
"Aku ngga papa kok. Namun sekarang aku nggak ada harapan lagi untuk hidup. Aku sudah meminta maaf kepada mu Viola, tugas ku sudah selesai di sini. "
Veronica mencoba melepaskan tali jarum infus darah yang masih melekat di tubuh Veronica, namun tangannya di cegah oleh Viola.
"Jangan nekat Vero. Aku tau apa yang akan kamu lakukan, namun kamu harus tau, ada seseorang yang menunggu pelukan mu, kasih sayang mu sejak lama."
__ADS_1
"Apa itu"
"Angga kamu masih menyimpan rekaman itu kan, tolong tunjukkan kepada Vero"
Angga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman suara saat Monica operasi di rumah sakit.
"Kenapa kamu menangis" tanya Viola.
"Aku hanya membayangkan bahwa kak Viola adalah kak Veronica. Andai saja itu terjadi, aku akan merasa senang. Andai saja kak Veronica disini, pasti akan terasa lengkap. Aku akan merasa seperti memiliki dua kakak yang sangat mencintaiku dan menyayangiku "
"Kamu tidak perlu khawatir sebentar lagi itu pasti akan terjadi dan akan lebih indah dari hari ini. Kamu tidak boleh menyerah berdoalah semoga kak Veronica bisa kembali seperti dulu dan memiliki hati nurani yang baik seperti kamu"
Angga mematikan handphone nya. Lalu memasukkan nya ke dalam sakunya lagi.
"Dengar Ver, Monica ingin pelukan darimu. Monica ingin mendapatkan kasih sayang dari mu. Kamu jangan pernah menyerah ya Ver. Sebanyak apapun dan sebesar apapun kesalahan seseorang pasti akan ada hikmah yang akan tertuai pada saatnya."
"Kamu hebat Viola. Pantas jika Angga memiliki kamu, kamu adalah orang yang kuat dan pandai menyemangati orang lain padahal luka kamu adalah yang paling berat menurut ku"
"Sebenarnya juga aku sempat menyerah, namun dengan bantuan dari Angga aku bisa menyesuaikan diri ku lagi."
"Viola kalau boleh, aku akan mendonorkan mataku untukmu"
"Itu tidak perlu. Aku tidak butuh donor dari siapapun. Aku perlu menjadi diri ku sendiri dengan keadaan yang baru ini. Kau masih membutuhkannya Ver. Jika Tuhan berkehendak pasti akan ada jalan yang lebih indah"
"Veronica lusa kamu akan di bawa ke pengadilan" ucap Alex.
"Aku siap apapun resikonya."
"Itu ngga perlu Ver" bantah Viola
"Kali ini kamu jangan menolak. Kamu terlalu baik kepada semua orang hingga kamu terlalu mudah untuk terjebak dalam masalah" ucap Angga.
"Yang dikatakan Angga memang benar Vi. Kali ini aku akan bertanggung jawab atas segala yang telah aku lakukan. Aku pantas menerima ini sebagai hukuman ku. Aku mohon jangan pernah bantah atau cabut kasus ini" pinta Veronica.
"Tapi Ver, ini sebuah kesalahan yang tidak di sengaja bukan" ucap Viola yang mulai membantah.
"Kesalahan atau pun bukan itu tetaplah kesalahan. Di sengaja maupun tidak juga menjadi sebuah kesalahan. Kesalahan fatal tidak bisa di ganggu gugat oleh hukum Viola" ucap Angga.
"Aku mohon Viola. Berhenti lah berdebat. Apakah kau ingin melihat ku di rundung oleh sebuah kesalahan. Tidak bukan, jadi biarkan ini semua berlanjut sesuai dengan alur Tuhan".
Viola menghela nafas panjang dan pasrah dengan permintaan mereka. Viola tidak bisa membantah kembali dan berusaha menerima kenyataan.
__ADS_1
//**//