Sudah Ditakdirkan

Sudah Ditakdirkan
Operasi Monica


__ADS_3

Viola menginap di rumah sakit, dan hari ini lagi-lagi dia tidak berangkat ke Kantor. Angga juga menemaninya di rumah sakit, namun pagi ini dia harus berangkat karena ada tugas yang harus di kerjakan nya.


Hari ini Monica jadwalnya untuk operasi. Viola menyuapi Monica. Sedangkan orang tua Monica keluar untuk membeli sarapan pagi.


"Terimakasih banyak ka"


"Sama-sama, sekarang minum obatnya ya"


Monica mengangguk sambil tersenyum. Viola memberikan obatnya kemudian langsung di minum oleh Monica.


"Kamu tidak takut 'kan"


"Tidak selagi ka Viola di sini"


"Anak pintar, kamu hebat. Kaka telfon ka Novita dulu ya"


Monica mengangguk. Viola segera bergegas menghubungi Novita untuk mengirimkan berkas-berkas yang harus dikerjakannya.


Tidak banyak yang harus dikerjakan oleh Viola karena menjabat sebagai pemimpin, sedangkan ayahnya adalah masih seorang CEO di perusahaan Viola. Mereka hanya tukar tempat dalam hal ini, sebelumnya Viola lah yang menjadi CEO, namun ayahnya tidak mengijinkan putri semata wayangnya itu menjadi CEO di perusahaan nya.


Tak lama berkas itu datang, kebetulan jarak antara perusahaannya dan rumah sakit tempat untuk Monica tidak jauh sehingga tidak butuh waktu lama berkas itu datang.


Bersamaan dengan itu, orang tua Monica juga datang membawa bekal sarapan untuk Viola.


"Nak.. maaf merepotkan, kamu jadi bekerja di sini" ucap Tante Stella.


"Ngga papa Tante, tidak usah canggung begitu"


"Sebaiknya kalian makan bersama. Mama jaga Viola dan Monica di sini, Papa akan makan di kantor"


"Iya pah hati-hati"


"Hati-hati om" tambah Viola.


Tante Stella makan bersama dengan Viola. Mereka sesekali bercerita bersama saat makan.


*****


Makan siang pun tiba. Monica diantarkan ke ruang operasi. Mama Viola pun juga ikut menemani siang itu.


Viola berusaha untuk tenang dan rileks. Namun ketegangannya datang saat seseorang meneleponnya. Viola menjauh dan mengangkatnya.


"Ada apa Ver, aku tau ini kamu"


"Ini aku Viola, Angga"

__ADS_1


"Ohh mengapa kau mengganti nomor ponselmu"


"Maafkan aku, kartu aku mendadak eror jadi aku ganti"


"Kirain aku siapa, kamu sibuk ngga, ke sini bisa" tanya Viola.


"OTW"


"Ya sudah, hati-hati ya"


"Iya sayang"


Viola menutup telfonnya.


15 menit berlalu. Angga juga sudah datang menemani Viola.


"Lama sekali" keluh Viola.


"Sabar, sebentar lagi juga selesai"


Viola mendapatkan telfon lagi. Viola memberikan kepada Angga untuk mengangkatnya.


"Viola, apa yang kau lakukan kepada adikku" sambil membentak.


"Viola tidak melakukan apapun, adikmu terkena radang usus buntu. Dia sedang di operasi sekarang"


"Cukup, kami tidak melakukan apapun. Justru kau lah yang membuat adikmu menjadi seperti ini. Kau tidak melimpahkan kasih sayang kepada adikmu. Adik yang selalu mengharapkan kasih sayang dari seorang kakak dan pelukan dari seorang kakak. Kau juga yang membuat namamu hilang di hatinya. Viola di sini hanya membantu untuk mendapatkan kasih sayang seorang kakak yang telah hilang dari sisinya dan sebaiknya kamu berhenti menerori kami sebelum kamu mendapatkan balasan yang lebih kejam dari apa yang kamu perbuat kepada kami"


Angga langsung menutup telfonnya dan melepas kartu nomor ponselnya.


"Lah kok di copot"


"Agar kamu ngga perlu lagi mendapat telepon dari Vero"


"Terus, kalau mama dan papa telfonnya"


"Aku akan menghubunginya tenang saja"


Viola mengangguk dan menurutinya. Mereka kembali menunggu proses operasi Monica.


*****


"VIOLLAAA..." teriak Veronica.


"KENAPA KAU YANG SELALU DI PUJI DI SINI. ADIKKU BAHKAN KELUARGAKU SUDAH BERPIHAK KEPADAMU. DUNIA MEMANG TIDAK ADIL. KAU TAU VIOLA, AKU MEMBENCIMU... SANGAT MEMBENCIMUUUUUUU.... CINTA PERTAMAKU PUN KAU REBUT... DASAR MANUSIA TIDAK PUNYA HATI... TUNGGU PEMBALASANKUUU... VIOLAAAAAAAA" teriak Veronica di dalam sebuah tempat.

__ADS_1


Teriakkannya sungguh membuat ruangan itu bergetar. Bahkan bodyguard nya juga ikut merinding mendengarnya.


*****


45 menit berlalu, operasi pun sudah selesai. Monica pun juga sudah dipindahkan ke ruang rawat. operasi berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Sedangkan Mama Desya memutuskan untuk pulang setelah Monica dipindahkan.


"Monica, sakit tidak"


Viola memegang tangan Monica. Dia duduk di sebelah kanan ranjang, sedangkan Angga duduk disebelah kiri ranjang Monica dan hanya memperhatikan percakapan mereka berdua.


Monica menggeleng kan kepalanya, dia juga memegang tangan Viola. Monica tersenyum membayangkan Viola adalah Veronica. Dia membayangkan saat ini yang sedang berada di sisinya adalah kakak nya.


Tanpa Monica sadari dia meneteskan air matanya. Viola yang melihatnya langsung menghapus air mata yang menetes di pipi Monica.


"Kenapa kamu menangis" tanya Viola.


"Aku hanya membayangkan bahwa kak Viola adalah kak Veronica. Andai saja itu terjadi, aku akan merasa senang. Andai saja kak Veronica disini, pasti akan terasa lengkap. Aku akan merasa seperti memiliki dua kakak yang sangat mencintaiku dan menyayangiku "


"Kamu tidak perlu khawatir sebentar lagi itu pasti akan terjadi dan akan lebih indah dari hari ini. Kamu tidak boleh menyerah berdoalah semoga kak Veronica bisa kembali seperti dulu dan memiliki hati nurani yang baik seperti kamu" tambah Angga sambil mengusap rambut Monica.


"Ka Angga beruntung bisa mendapatkan wanita sebaik dan secantik Ka Lala. Ka Viola juga beruntung mendapatkan ka Angga, yang selalu setia menemani kakak di mana kakak berada. Dan semoga kak Veronica juga mendapatkan pasangan seperti ka Angga. Aku akan senang memiliki 4 orang kakak yang sangat mencintaiku dan saling peduli. Aku orang yang paling bahagia jika mendapatkan hal itu."


"Hmm... baiklah kau harus istirahat. Kau tidak boleh berbicara terlalu banyak. Lukamu itu membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Jadi kamu istirahat sekarang"


Monica mengangguk. Dia meraih tangan Viola dan Angga bersamaan lalu meletakkan tangannya di dada Monica. Mereka merasakan detak jantung Monica.


"Andai saja Veronica di sini dan mendengarkan semua ini, pasti Monica akan merasa bahagia dan lebih kuat" gumam Viola.


Orang tua yang melihat Viola dan Angga hanya menangis mendengar ucapan putri bungsunya itu kepada Viola dan Angga. Viola yang melihatnya langsung melepaskan tangannya perlahan dan berjalan ke arahnya.


Viola memeluk Tante Stella. Tante Stella menangis sejadi-jadinya. Viola yang mendengarnya juga ikut meneteskan air matanya.


"Terimakasih nak, sudah datang ke dalam hidup Monica dan menjadi kakaknya. Terimakasih selalu memeluknya erat saat sedang membutuhkan. Tante salah mengira kamu, walaupun kamu orang yang besar dan seorang pengusaha sukses, tetapi kamu tidak pernah menyombongkan itu dan lebih mementingkan orang lain dengan kebaikan mu. Terimakasih banyak"


"Tante... Tante jangan berkata seperti itu. Harta, tahta, kekayaan itu semua berbeda dengan kasih sayang. Semua itu bisa dicari dan di dapatkan, namun kasih sayang dari seseorang itu sulit dan jarang untuk di temukan. Pelukan hangat, kasih sayang, senyuman itu sulit terbentuk tanpa rasa cinta. Aku melakukan hal yang benar dan untuk memperbaiki situasi yang pernah aku buat dahulu. Aku tau Tante sudah memaafkan ku namun bagiku itu semua belum cukup. Sebenarnya aku juga ingin menjadi seorang kakak, namun takdir berkata lain, aku ditakdirkan tanpa seorang adik. Aku beruntung bisa bertemu kalian, orang tua Angga, paman dan bibi Angga, Kesya dan Monica juga Angga, kalian sudah aku anggap sebagai saudara aku sendiri. Jadi Tante tidak perlu berterimakasih, kita sama-sama di butuhkan satu sama lain saat ini" ucapnya panjang lebar.


Angga yang mendengarnya juga menangis, namun dia segera mengusap air matanya dengan cepat.


"Tante sangat bahagia bisa bertemu kamu lagi. Kamu memang baik dan murah hati. Terimakasih banyak"


"Sama-sama Tante. Tante ngga perlu nangis lagi, nanti Monica juga ikut sedih kalau sampai melihat Tante menangis." sambil mengusap air matanya.


//**//


Entah mengapa lah, author ikut nangis sambil ngetik ini. Terimakasih banyak yang sudah membaca.

__ADS_1


Salamku


Dewi M


__ADS_2