
Kenzo akhirnya sampai di rumah sakit. Veronica juga langsung di bawa ke ruang ICU.
"Ini Veronica" tanya Angga saat Kenzo mendorong ranjang.
"Iya, Bagaimana dengan keadaan nona Viola"
"Dia sudah sadar tetapi... "
Angga langsung menunduk
"Kenapa Angga" tanya Kenzo khawatir.
"Nona Viola tidak bisa melihat" lanjutn Alex sambil mengelus bahu Angga.
Kenzo menghela nafas lalu duduk di samping Angga dan memukul bahunya.
"Sakit Kenzo malah di pukul" ucap Alex.
"Ngga papa, rasa sakit ini ngga sebanding sama sakit yang saat ini Viola rasakan"
"Sabar ya Ngga, kamu harus kuat."
"Pasti, aku mau siap-siap ke ruang rawat"
"Aku bantu" ucap Kenzo.
Angga meminta di pindah ke ruangan yang sama dengan Viola, namun Viola menolak. Angga harus berpasrah dengan tolakan Viola.
*****
Malam hari pun tiba, Veronica masih belum tersadar, namun dia juga telah di pindah kan ke ruang khusus dan di jaga oleh para polisi dengan sangat ketat.
Angga mencabut infus nya dan memutuskan untuk ke ruangan Viola dan melihat Viola yang masih terjaga di tempat tidurnya. Viola menolak untuk di jaga oleh orang tuanya dan teman-teman nya. Mereka akhirnya pasrah dengan permintaan Viola yang tidak pernah dapat di ganggu gugat oleh siapapun.
"Siapa" ucap Viola saat mendengar suara pintu terbuka.
"Aku" ucap Angga singkat.
"Cepat keluar dari sini"
"Kakiku sudah berjalan ke arahmu"
"Maka hentikanlah"
"Tidak bisa"
"Suruh otakmu untuk berhenti Angga!!!" teriak Viola.
"Aku sudah berada di depanmu sekarang"
"Pergilah dari hadapan ku"
"Viola, ku mohon"
Viola duduk di ranjangnya. Pandangan kesal dan airmata yang terus menetes membasahi pipinya membuat Angga merasa bersalah.
"Apakah kau tega melihat ku menangis seperti ini. Kau senang melihat ku menangis. Tidak bisa melihatmu itu membuat ku tersiksa hiks..."
Angga memeluk Viola. Angga juga menetes kan air matanya lalu mengusapnya dengan kasar. Viola mencoba menjauhi Angga dan memukuli dadanya. Walaupun terasa sakit baginya, namun yang terpenting bisa membuat nya menjadi tenang.
"Pukulah semaumu Viola. Sampai kau tenang"
Ucapan Angga membuat Viola berhenti memukuli nya lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Viola aku tau kamu tersiksa. Aku tau apa yang kamu rasakan. Tetapi apakah kamu akan tetap menjauhiku? Aku tidak bisa membuat mu bersedih karena ku. Tapi apa dayaku yang tidak bisa menjauhimu hanya dengan jarak 1 cm saja"
Viola melepaskan pelukan nya.
"Apa kah kau menangis" tanya Viola sambil mencoba meraba wajah Angga.
Angga menghentikan tangannya dan menggenggam tangan Viola dengan erat.
"Tentu aku akan menangis jika kau juga menangis dan bersedih Viola. Lelaki yang setia akan selalu merasakan kepedihan dan kedukaan dari pasangan nya. Lelaki yang setia rela mengorbankan dirinya demi wanita yang sangat dia cintai. Dan jika aku sembuh nanti aku akan mengorbankan mataku untukmu"
Viola menutup mulut Angga. Dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak, ngga boleh. Kamu ngga boleh lakukan itu. Aku masih bisa bertahan walaupun aku tidak bisa melihat ku, namun aku tidak akan rela jika kau tidak bisa melihat ku. Aku berjanji akan selalu tersenyum walaupun itu berat"
"Janji" ucap Angga untuk meyakinkan.
Viola mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Tetapi.. "
" Tetapi kenapa"
"Aku takut kau meninggalkan ku karena aku sudah tidak bisa melihat lagi. Dan aku takut kamu malu saat orang orang mengejek mu saat tau bahwa tunangannya buta"
Angga memegang kedua tangan Viola dengan erat.
"Itu nggak akan pernah aku lakuin Viola. Kamu adalah mahkota yang terpatri di dalam hatiku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu, karena kamu itu sempurna di mata, hati, dan pikiran ku. Lelaki yang setia tidak akan pernah mengeluh dengan kekurangan dari pasangannya karena yang di dilihat adalah kesempurnaan dari wanita itu Viola. Percayalah kepadaku"
"Bisakah kau membuktikannya"
Dengan cepat Angga mencium bibir Viola dengan lembut. Tak lama mereka melepaskan nya.
"Itu cukup atau masih kurang"
"Kau masih meragukan ku Viola. Apakah aku perlu lompat dari gedung ini"
"Ti-tidak, itu tidak perlu. Aku bingung menjelaskan nya"
"Tidak apa, aku mengerti. Aku tau kau pasti bosan di sini. Aku akan membantu mu ke balkon untuk mencari udara segar"
Angga membantu Viola berjalan ke arah balkon. Viola memandang ke langit dengan mata yang berkaca-kaca lalu menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau menangis lagi" ucap Angga bingung.
Viola hanya terdiam sambil mengusap air matanya dengan jari telunjuknya. Angga mencoba memahami Viola dan berfikir keras.
"Aku tau, kau tidak bisa melihat bintang ya"
Viola tertunduk.
Angga merangkul Viola dan mengelus pundaknya. Viola menyemderkan kepalanya.
"Tidak apa Viola. Kau masih bisa merasakan udara segar di sekitar kamu. Kau masih bisa mendengar suara burung dan jangkrik serta kebisingan kota di pagi dan malam hari."
"Benar. Di hari ini aku merasakan seseorang yang tidak sempurna seperti ku di luar sana. Bahkan ada yang lebih tidak beruntung daripada aku. Aku bisa melihatmu sebelum aku mengalami hal ini dan aku masih bisa mengenali wajah mu dan ucapanmu tanpa harus melihat mu, namun yang tidak bisa melihat dari lahir, mereka tidak bisa melihat wajah orang tuanya, kerabat dan sahabat mereka."
"Kamu benar sayang. Kamu masih bisa melihat keindahan langit dengan mata hati kamu karena sebelumnya kamu pernah melihatnya. Jadi jangan sedih lagi ya. Sekarang kita masuk dan tidur. Udara di sini semakin dingin."
Viola mengangguk dan mencoba memejamkan matanya. Angga mengelus kepala Viola sambil memandangnya. Angga terduduk di bangku yang tersedia.
" Aku tidak mengantuk Angga"
"Kau harus tidur Viola. Tidak baik jika kamu terus bergadang apalagi kamu dalam masa pemulihan"
__ADS_1
"Tidur ataupun tidak semuanya tetap sama-sama gelap Angga"
"Tidur dan bermimpi lah, itu akan membuat mu merasa lebih baik. Terkadang mimpi itu lebih indah dari pada kenyataan Viola, jadi tidurlah."
"Saat bangunpun keadaannya tetap sama Angga, apakah aku akan kembali terus tertidur hingga aku benar-benar bisa melihatmu kembali"
"Viola, jika terus begini kapan kau akan tidur"
Viola kesal dan membelakangi Angga. Angga menghela nafas nya lalu membuka handphone nya dan memutarkan sebuah lagu yang berjudul everytime yang pernah mereka nyanyikan saat anniversarry orang tua Viola.
"Hentikan Angga" bentak Viola.
"Kenapa"
"Hentikan dulu lagunya"
"Kenapa, jangan membelakangi aku"
Viola membalikkan badannya. Angga mematikan lagunya.
"Nyanyikan untukku"
"Apa, aku."
"Ehem.. " sambil mengangguk.
"Kenapa"
"Kalau tidak aku tidak akan tidur"
Angga menghela nafas panjang dan mulai menyanyikan nya untuk Viola. Viola sangat menikmati nya hingga ia tertidur pulas. Angga mencium kening Viola. Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan Viola.
"Bo-Bos, maaf bos maaf" ucap Alex.
"Alex sini kamu" ucap Angga.
Alex mencoba berjalan ke arah Angga dengan tenang.
"Ke-kenapa bos" ucapnya dengan lirih
"Aku akan tidur di sini. Di sifat itu" sambil menunjuk sofa di dekat jendela.
"Iya bos. Tadi maaf ya bos. Saya sedang mencari bos tadi."
"Tidak apa"
"Tapi bos kan harus pakai infus bos"
"Saya sudah baik-baik saja. Cepat atau... "
" I-iya bos saya permisi"
Angga tersenyum melihat Alex seperti seorang yang terciduk melakukan kesalahan. Alex keluar lalu menutup pintunya dengan pelan.
"Lex.. Lex.. Kalau lagi gelagepan tingkahmu sungguh aneh, berbeda saat kau mengerjakan tugas ku. Kau mengerjakan nya dengan mudah dan cepat " ucap Angga terheran-heran lalu berbaring di sofa.
//**//
Hai hai aku hadir lagiπ€π€. Sekarang udah mendingan kok.. Mohon doanya ya biar cepet sembuh... Makasih ππ
Salamku
Dewi M
__ADS_1