
"Haacciirrrhhhh" bersin Angga membuat Viola kaget saat sedang asiknya menonton TV. Viola melihat Angga sekilas namun dia tidak peduli, dia kembali fokus ke layar Tv.
"Hhhaaaccciiirrrrhhh" bersin Angga lebih keras membuat Viola terkejut kembali dan melihat Angga di sampingnya.
Viola memeriksa suhu badan Angga dengan punggung tangannya.
"Panas" ucapnya lirih.
"Uhuk..uhukk..ukhmmm" sambil memegang lehernya.
"Sepertinya parah Ngga, aku telfon dokter dulu"
Tangan Angga mencegah Viola yang hendak berdiri. Viola duduk kembali. Tiba-tiba Viola mengecup pipi kiri Angga dan beranjak meninggalkan Angga.
"Haaaaccciiirrrhhhh" Angga bersin lagi setelah mendapat kecupan dari Viola.
Viola kembali ke kamar Angga setelah menelpon dokter. Lalu duduk di sampingnya.
"Tidur" ucap Viola dengan sedikit nada tinggi.
Angga menarik tangan Viola dan Viola terjatuh di atas Angga. Viola menyadarinya dan segera beranjak.
"Calon mantu ngga tau malu" umpat Viola.
Tak lama dokter datang dan memeriksa Angga.
"Tuan Angga mengalami batuk dan flu, dia sakit karena terlalu kelelahan dan membawa barang yang berat terlalu lama" ucap dokter.
Wajah Viola langsung merah merona. Memang kemarin Angga membawanya seharian penuh.
"Ini resep obatnya, silahkan datang ke apotik" sambil memberikan resep obat.
"Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter sambil mengangguk meninggalkan mereka semua.
"Pak Rudi, tolong ke apotik ya" ucap Viola memerintahkan pak Rudi untuk ke apotik.
Semua anggota keluarga termasuk para pembantu melihat Angga di periksa. Setelah selesai mereka keluar.
"Ada-ada aja Ngga, Viola berat ya" ledek mama.
Angga tersenyum. Viola menatap tajam Angga. Entah malu atau apa yang sedang dialaminya.
"Mama turun dulu"
Mama Desya meninggalkan mereka berdua. Viola mengupaskan buah Apel untuk Angga.
Tiba-tiba mereka kedatangan tamu yang tidak terduga. Tidak lain adalah Veronica.
"Hai" sapanya sambil membawa buah.
"Angga kamu sakit" Vero sambil meletakkan keranjang buah di meja samping Angga.
"Ngga, yang sakit Viola bukan aku" ketus Angga.
"Sini apelnya biar aku yang buka, kamu kan lagi sakit" Vero sambil merebut apel dan pisau yang di pegang Viola.
__ADS_1
Vero duduk di sebelah kiri Viola. ingin beranjak tetapi tangannya di cegah oleh Angga. Dan lagi-lagi Viola terjatuh di atas Angga. Viola masih sadar dan dia mencoba bangun, tetapi tangannya di pegang erat oleh Angga.
Viola tidak bisa berkutik. Walaupun Angga sakit tetapi tenaganya masih sangat kuat. Veronica mencoba untuk memisahkan tetapi Angga dengan cepat mencium bibir Viola.
"Apa yang kau lakukan Angga, Ada Vero aku malu. ahh.. sial aku harus menahannya" gumam Viola dalam hatinya.
"Biarkan Vero melihat Viola, aku tidak suka kalau dia mengganggu kita" gumam hati Angga
Vero tidak rela melihatnya langsung meninggalkan mereka berdua. Dan pamit dengan mama Desya yang ada di bawah yang akan membawakan camilan.
Viola sadar bahwa Vero sudah keluar, dia menepuk-nepuk dada Angga. Angga pun langsung melepaskan nya.
Viola duduk dan langsung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Berkali-kali Viola melakukannya untuk menenangkan jantungnya.
Angga hanya tersenyum melihat Viola. Dia tidak merasa mual lagi dengan apa yang diperbuat nya tadi.
"Jangan menatapku seperti itu" ucap Viola.
"Kau sudah terbiasa rupanya" jawab Angga.
Viola membulatkan matanya. Dia tersadar namun dirinya tak bereaksi seperti waktu itu.
"Hei.. jangan sampai aku tertular sama kamu. Ammmpuuunnn Angga... jika aku sakit bagaimana" kesal Viola.
"Tidak masalah agar aku bisa selalu bersama dengan kamu" goda Angga.
"Berhenti menggoda ku Angga"
Angga tersenyum. Viola mengerucut kan bibirnya. Viola mendapatkan ide agar dia tidak tertular Angga. Viola ke luar dan meminta Bi Jannah untuk membuatkan susu jahe.
"Aku kan sedang marah, kenapa aku di sini" gumam Viola.
Viola kaget saat Angga sudah duduk di samping nya. Viola ingin menjauh namun tangannya di cegah kembali oleh Angga.
"Ihhh suka banget si nyegah tangan orang, habis itu nyuri ngga ijin lagi. Nanti jadi kebiasaan"
"Maaf Vi, aku ngga suka liat Vero di sini.
"Setiap kamu melihatnya tatapan mu menjadi sedih. Aku melihat mata yang berbeda dari biasanya. Dan aku tidak tega melihatnya, jadi maafkan aku" ucap Angga sambil tertunduk.
"Ngga papa Angga. Kamu adalah orang yang paling mengerti aku, terimakasih banyak" ucapnya sambil memegang kedua pipi Angga.
Angga tersenyum lalu memeluk Viola. Bi Jannah yang berniat masuk pun kembali berbalik setelah melihat mereka berdua. Viola melepaskan pelukannya.
Viola menutup mulutnya karena Bu Jannah sudah ada di depan pintu sambil berbalik badan. Angga melihat ke arah Viola menatap. Angga menepuk bahu Viola untuk tenang.
"Masuk bi" ucap Angga.
"Maaf ganggu" ucapnya sambil meletakkan kedua susu jahe di meja depan Angga dan Viola.
"Ngga papa Bi" Angga dengan santainya
Bi Jannah pun langsung keluar dari kamar mereka, tidak mau mengganggu keduanya.
Viola menyesap susu jahenya, sedangkan Angga melihat sambil memutar-mutar gelas yang dipegangnya.
__ADS_1
"Jangan hanya di lihat, cepet di minum biar cepet sembuh"
Angga mencobanya, tetapi mulutnya terasa panas karena jahenya.
"Ini apaan, ngga enak" ucapnya sambil mengibaskan tangannya di depannya.
"Kamu harus minum" Viola dengan memaksakan Angga meminum jahe susunya.
Angga meneguk minuman yang di paksa oleh Viola hingga susu jahenya habis.
"Nah.. anak pintar" ucap Viola sambil mengacak rambut Angga.
"Mau lagi" tawar Viola.
Angga menggelengkan kepalanya. Viola juga meneguk susu jahenya hingga habis.
"Aku akan ambil lagi"
"Aku ngga mau"
"Ini aku yang mau, tenang saja, aku akan membawakan coklat panas untukmu"
"Jangan di kasih jahe ya"
"Ngga tenang saja"
Viola beranjak keluar untuk mengambil susu jahe. Dia menutup pintunya. Angga merasa lelah dan akhirnya dia berpindah ke tempat tidur untuk tidur.
Viola kembali ke kamar Angga untuk meminum obat, namun dia mendapati Angga sudah tertidur. Dia meletakkan obatnya di meja samping Angga.
Viola duduk di samping Angga dan memeriksa kening Angga.
"Syukurlah sudah turun" ucap Viola lirih.
Viola menaikkan selimut Angga hingga ke lehernya secara perlahan. Kemudian dia mengecup kening Angga.
"Cepat sembuh" ucapnya singkat kemudian langsung pergi meninggalkan kamar Angga.
*****
Sementara itu Vero menancapkan gasnya dengan kencang menuju ke bar. Dia meneguk beberapa botol minuman. Setelah pikirannya gontai kemana-mana, beberapa teman yang mengenalnya membawanya pulang ke rumahnya dalam keadaan pingsan.
Setelah Vero sadar dan dia ada di dalam rumahnya, kamarnya di obrak Abrik olehnya. Pembantunya yang mendengar keributan dari kamar nya langsung menuju ke kamarnya.
"Tunggu saja pembalasan ku Viola" ucapnya.
Vero keluar dari kamarnya, dan menyuruh pembantunya untuk membereskan kekacauan di kamarnya.
//**//
Maap baru up, habis ngerjain tugas, inipun belum selesai...
selamat membaca..
Salamku
__ADS_1
Dewi M