
Setelah makan malam, Angga ingin pamit pulang namun di cegat oleh calon mertuanya dan di suruh untuk beristirahat di rumahnya.
"Ngga, kamu tidur di sini aja. Bilang sama orang tua kamu" ucap mama Desya.
Angga pasrah jika mereka sudah berkata seperti itu. Lagipula juga dia merasa tidak enak badan bersyukur dia tidak diijinkan pulang.
Angga menelepon orang tuanya dan kembali ke kamarnya. Viola yang sedari tadi menonton Drakor memutuskan untuk tidur karena pengaruh obat yang membuatnya mengantuk.
"Pasti Angga sudah pulang" gumamnya lalu memejamkan matanya.
*****
Keesokan harinya Viola bangun sangat pagi. Dia bangun pukul 4 pagi karena tidurnya yang terlalu cepat membuatnya bangun lebih pagi.
Viola memencet tombol merah untuk menyalakan tv. Kebetulan di channel tv ada Drakor juga, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk mencari di YouTube.
Walaupun ia menonton Drakor namun dia masih tetap merasa bosan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke balkonya. Karena pasti dingin ia memakai jaket tebalnya.
Viola berjalan perlahan dan rasa sakitnya juga mulai berkurang. Langit yang masih begitu pagi sangat indah. Bulan yang bersinar tanpa ada awan yang menghalangi dan taburan bintang yang begitu banyak dari biasanya menambah keindahan langit itu.
Viola sudah mulai merasa kedinginan setelah dan iapun kembali masuk ke kamarnya dan kembali berbaring untuk melihat tv.
Mama Desya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Namun mama Desya heran karena Angga belum membuka pintu kamarnya itu padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Setelah menyiapkan makanan, Mama Desya berniat ke kamar Angga terlebih dahulu karena dia harus pergi ke kampus, namun mama Desya kaget kalau calon mantunya itu sakit.
Dia memegang kepala Angga seperti seorang ibu memeriksa suhu badannya dengan anaknya. Merasa ada yang menyentuh kepalanya, dia terbangun dan langsung duduk di ranjang.
"Kamu sakit Angga, sebaiknya kamu istirahat" ucap mama Desya yang melihat ekspresi tidak enak Angga.
"Ngga papa kok mah, cuma demam biasa"
"Kamu sakit, lebih baik ngga usah ngampus, tidur lagi saja mama akan ambilkan beberapa obat"
Angga ingin beranjak namun tetap di cegah oleh calon mertuanya itu.
"Bi, Bi Jannah" teriak mama Desya.
Dengan cepat Bi Jannah langsung menghampiri teriakkan nyonya besarnya itu.
"Ada apa nyonya"
"Tolong ambilkan obat penurun panas, setelah itu awasi dia dan jangan sampai dia kabur"
"Aku kaya lagi di sekap aja ngga boleh keluar. Haduh... calon mama mertuaku sangat peduli padaku" gumam Angga.
"Mama ke kamar Viola dulu" ucap mama Desya sambil mengelus bahu Angga.
__ADS_1
Angga mengangguk, mau mencegah mamanya untuk tidak memberitahu Viola adalah hal yang mustahil. Karena sekarang mereka berada di bawah atap yang sama namun berbeda kamar.
"Vi.." sambil membuka pintu.
"Selamat pagi mommy"
"Ternyata kamu sudah bangun, kirain mommy belum"
"Sudah dari tadi pagi sekali"
"Tumben bangun pagi, kenapa"
"Em aku kemarin malam tidur terlalu cepat dan akhirnya aku bangun terlalu pagi"
"Oh.. ya sudah nih makan"
"Mom" panggil Viola
"Hmm" jawab mamanya yang sedang menaruh piring dan minumnya di meja Viola.
"Angga..." Ucapan Viola terpotong.
"Angga sakit, dia juga nginep di sini, jadi mama mencegah nya untuk pulang karena demamnya sangat tinggi"
Viola hanya terdiam.
"Sudah kamu sarapan, jangan lupa minum obatnya. Setelah itu mandi" ucap mama Desya lalu meninggalkan kamar Viola.
Setelah Viola mandi dan sarapan. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar Angga. Dia berjalan perlahan sambil berpegangan dengan tembok.
"Viola, kamu sudah bisa berjalan" ucap mama Desya.
"Sudah mah"
"Lihat, Viola sembuh calonnya sakit. Mama antarkan ke kamar Angga" ucap mama Desya.
Viola mengangguk. Kemudian Viola didudukkan di ranjang Angga. Mama Desya memutuskan pergi keluar karena tidak mau jadi nyamuk di sana. Viola menaruh tangannya di kening Angga. Angga yang merasakan dingin di kepalanya membuka matanya. Angga ingin duduk tetapi di cegah oleh Viola.
"Tidak saja, ngga papa kok" sambil tersenyum.
Angga meraih tangan Viola. Dia merasakan tubuhnya hangat dengan kehadiran Viola. Viola meraih remote yang tergeletak di meja sebelahnya lalu menyalakan tvnya.
Viola memutuskan untuk menonton film aksi. Walaupun dia tidak begitu menyukainya namun Angga pasti bosan jika harus melihat Drakor sepanjang hari.
Mama Desya membawakan 2 susu untuk Angga dan Viola. Bi Jannah membawakan 2 kantong keresek yang berisi Snack kesukaan Viola. Bi Jannah akan menaruhnya di tempat persediaan Snack namun Viola menyuruhnya untuk di bawa ke samping ranjangnya.
Mereka tak bercakap lama. Papa Hendra yang mau ke kantor memasuki kamar tamunya. Melihat anak dan calon mantunya yang sedang menonton tv bersama sambil memakan camilan layaknya anak kembar yang tidak mau pisah dari kembarannya. Papa Hendra menggelengkan kepalanya melihat mereka.
__ADS_1
"Papa ke kantor dulu, kalian baik-baik di rumah. Jangan macam-macam, kalau kalian bertindak gegabah papa langsung bawa kalian menuju meja pernikahan" ancam papa Hendra sambil bercanda.
"Ngga kok dad, kami tidak akan macam-macam. Kami itu seperti anak kembar dad, yang satu sakit satunya juga sakit" ucap Viola dengan santainya.
Papa Hendra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Pikirannya dengan anak semata wayangnya itu selalu sama.
"Vi, Daddy kasih tau ya. Kemaren malam Angga sempet mengigau sambil menciumi tangan papa. Ternyata itu tanda-tanda dia sakit"
Viola yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Dia langsung membayangkan ekspresi wajah Angga saat mengigau. Angga hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Papa berangkat ya, cepat sembuh Angga" ucap papa Hendra kemudian keluar dari kamar mereka.
Viola tersenyum melihat Angga. Angga bersikap stay cool sambil meminum susu yang di bawakan mama Desya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, apa ada yang aneh" tanya Angga.
"Ngga kok" singkat Viola.
"Oiya aku belum mandi, aku mandi dulu" ucapnya sambil mengecup puncak kepala Viola.
Viola mengangguk lalu mengganti channel tvnya. Dia memutuskan untuk menonton film kartun.
Angga keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Angga sengaja memperlihatkan tubuhnya itu di depan Viola. Viola tidak berkutik. Lalu mengalihkan perhatiannya.
"Hei.. mengapa kau tidak memakai baju" Teriak Viola.
"Mama ngga nyiapin di sini. Di lemari hanya ada baju perempuan" jawabnya.
Dia membulat kan matanya ingat bahwa laki-laki yang pertama kali menginap di rumah nya adalah Angga.
"Sebaiknya kamu di kamar mandi dulu, aku akan mengambilkannya untukmu"
"Kau tidak kaget melihat badanku yang indah ini"
"Oohhh... kau lagi pamer rupanya. Tidak!! tubuh oppa oppa Korea jauh lebih bagus dari tubuhmu." ucap Viola dan beranjak dari duduknya.
Viola memanggil Bi Jannah, dia langsung menemuinya dengan membawa beberapa baju.
"Ini non, tadi kebetulan bibi di suruh sama nyonya untuk mengantarkan ini ke kamar tuan muda" ucapnya sambil memberikan beberapa helai baju dan celana.
"Ohh ya sudah bi, terimakasih ya" ucap Viola dan kembali ke kamar Angga.
"Tuh baju, semoga muat" ucapnya sambil melempar baju ke kasur Angga.
Angga menggelengkan kepalanya dan berganti di ruang ganti. Viola kembali duduk manis di ranjang kamar tamunya. Angga keluar dengan rapi. Dia kembali duduk di samping Viola. Viola tidak menggubris dia hanya fokus ke layar tvnya.
//**//
__ADS_1