
Viola bangun dia terkejut saat ia bangun dari tempat tidur pribadinya, dan dia juga kaget karena hari sudah malam.
"Kau sudah bangun, ayo kita makan malam"
Angga membawa nampan berisi nasi goreng dan air putih.
"Beli dimana" tanya Viola heran.
"Ngga beli, masak sendiri"
"Ooh, tumben bisa masak, belajar dari mana, nasinya dari mana?, di dapur ngga ada loh seingetku"
"Percaya aja, udah ayo makan, nanti keburu dingin nih"
"Menyebalkan" umpat nya.
Viola memasukan nasi ke mulutnya. Dia baru ingat bahwa ada beberapa file dan berkas yang harus di selesaikan nya.
"Angga, aku makan di bawah, tugas aku belum selesai tadi" ucap Viola panik dan langsung berdiri.
"Duduk" perintah Angga.
"Tapi.."
"Duduk" masih dengan nada pelan
"Tapi sayang"
"Duduk dulu sayang" dengan nada lebih lembut.
Viola menurut, Angga membalikkan badannya dan mengambil beberapa berkas penting yang sudah di kerjakan nya.
"Ini, tinggal kamu baca terus tanda tangani, semuanya udah aku urus" sambil memberikan beberapa map.
"Sebanyak ini bisa selesai, pinter banget si" sambil mencubit pipi Angga gemas.
"Udah kamu makan, aku antar kamu pulang"
"Tapi aku bawa kendaraan sendiri, kenapa ikut sama kamu"
"Mobil kamu sudah di bawa sama pak Rudi, aku yang memintanya. Aku juga memberi tau pak Rudi bahwa kamu pulang agak malam"
Viola mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Sekarang habiskan makanan kamu dulu"
Viola hanya mengangguk.
"Kok cuma nganggur si"
Viola memutar bola matanya malas.
"Iya sayang, makasih banyak" dengan nada malas.
Setelah mereka makan, mereka akhirnya pulang bersama. Mereka hanya diam di dalam mobil. Karena terlalu sering bersama mereka bingung untuk memulai pembicaraan.
"Sayang" panggil Angga.
"Kenapa, kalau mau ngomong langsung ke intinya jangan setengah-setengah" dengan nada judes
"Kok judes gitu, ya udah deh, lebih baik aku diam"
Mereka hening sejenak.
"Vi"
"Hmm"
__ADS_1
"Remnya blong" ucap Angga sambil menginjak remnya dengan keras.
"Yang bener ngga" ucap Viola yang mulai panik.
"Bentar Ngga, jaga kestabilan, kita cari jalan yang menanjak, dan juga dekat dari rumah sakit"
"Emang ada"
"Tolong dong peka, aku mencoba untuk tenang ini"
Viola mengambil bantal kecil di atasnya, dan memberikannya pada Angga.
"Untuk apa ini" tanya Angga bingung.
"Tabrakan mobil ini ke sesuatu, entah itu pohon atau apapun, jangan sampai melukai seseorang, bantal ini untuk pelindung agar tidak terbentur"
Angga tidak bisa berfikir lagi dia menerimanya dan menabraknya ke pohon. Angga baik-baik saja, dia membopong Viola yang sadar bahwa Viola pingsan dan segera keluar.
Banyak orang yang berdatangan dan membantu mereka berdua dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Viola di bawa ke rumah sakit dan langsung ke ruang ICU. Angga langsung menelpon orang tua Viola. 5 menit orang tua Viola datang juga bersama dengan teman-temannya.
"Kok kalian bisa datang" tanya Angga bingung.
"Aku juga lagi sibuk kan di rumah Viola, bagaimana aku juga tidak ke sini saat sudah mendengarnya" ucap Bobby.
"Viola di mana" ucap Vellicia.
"Di dalam" ucap Angga.
"Tanya lagi, udah tau di depan ruang ICU" ucap Bobby.
Tiba-tiba dokter keluar.
"Viola kenapa dok" ucap mama Desya panik.
"Dokter apaan kok ngga ngasih tau, kalau di film itu di kasih tau apa penyakitnya, kok ini malah pergi" Bobby heran dan kesal.
"Udah ayo" ucap Zaenal menarik Bobby.
"Viola...Vi.. kamu ngga papa sayang" ucap Angga panik.
"Kamu siapa" ucap Viola.
Angga langsung panik saat Viol tidak mengenal nya.
"Ini aku Angga, calon suami kamu" ucap Angga sambil memegang kedua tangan Viola.
Viola menyingkirkan tangan Angga. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan memeluk kedua orangtuanya. Angga terduduk lemas lalu menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya yang bertumpu pada ranjang rumah sakit
"Dia calon suamiku mah" ucap Viola.
"Iya" ucap mama Desya sambil mengelus pipi putrinya yang masih mengenalnya.
Viola mengedipkan satu matanya. Mama Desya kaget sambil tersenyum begitu juga dengan papanya mengangguk sambil mengedipkan matanya juga.
"Bukankah dia mah calon suamiku" ucap Viola yang mulai mengerjai teman-temannya.
Angga mendongak melihat nya berjalan ke arah Bobby.
"Bu-bu-kan Vi, a-aku bukan calon mu, nanti Angga menggebukku jika kau berkata seperti itu, Vi.. sadarlah" ucap Bobby dengan wajah takutnya.
Viola tersenyum, dia menahan tawa melihat wajah Bobby, lalu dia mengedipkan matanya.
"Kenapa kau.."
"Ssttttt"
__ADS_1
Viola menutup mulutnya dengan satu jari telunjuknya lalu membisikkan sesuatu. Bobby mengerti lalu mengangguk.
Angga yang sudah tidak tahan mencoba keluar dari ruangan ICU, tetapi tangannya di cegah oleh Viola.
"Apakah aku akan sungguh melupakan mu begitu saja Diangga Bagas Stefanlors" ucapnya.
Mata Angga berbinar dan langsung memeluk Viola. Semua tersenyum, melihatnya.
"Oh.. jadi kamu berpura-pura" ucap Zaenal.
"Kamu bikin kami khawatir setengah mati karna kamu Viola" ucap Vellicia.
"Apalagi Angga tuh yang sampai menangis" tambah Shanti.
Angga masih memeluk Viola. Dia menenggelamkan wajahnya di pundak Viola karena malu. Dia masih menangis namun tidak bersuara.
Viola melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Angga.
"Kau menangis, aku baru melihat mu pertama kali menangis Angga"
"Kau yang membuatku menangis seperti ini Viola." sambil memeluknya lagi dengan erat.
Viola melepaskan nya lagi.
"Aku pikir aku.." ucap Angga terhenti karena tangan Viola menutup tangan Angga.
"Tidak Angga, tidak akan pernah, sebaiknya ayo kita pulang" ucap Viola.
"Tunggu, tapi kenapa kamu berekting seperti ini" tanya Angga penasaran dan juga dengan nada marah.
"Sebenarnya waktu aku di periksa aku merasa ada yang menekanku jadi aku terbangun. Dokter mau keluar memberi tahu, tetapi aku menyuruh dokter untuk diam dan untuk langsung masuk ke sini. Dokter bilang aku ngga papa, nah aku juga bilang dengan dokter kalau aku berpura-pura amnesia. Setelah dokter keluar kalian masuk, ya udah akhirnya kalian langsung masuk juga dengan dramaku" ucap Viola.
"Beraninya kamu membuat kami khawatir, waktu kamu kecil juga begini" mama Desya sambil menjewer telinga kanan Viola.
"Ma-maaf mah" ucapnya sambil memegang telinganya yang dijewer.
"Sudah mah, jangan di jewer seperti itu" ucap Angga.
Mama Desya melepaskannya.
"Lihat, betapa khawatirnya calon suami kamu, ayo kita pulang"
"Maaf mah"
"Kita gimana" Angga bingung.
"Kan udah ada mama sama papa, udah ayo pulang"
Mereka semua keluar dari ruang ICU.
"Nona Viola, ini obat ketika kepalanya terasa sakit" dokter sambil memberikan obat.
"Iya dok terimakasih. Terimakasih juga bantuan dramanya" ucap Viola.
Dokter tersenyum.
"Maaf tapi ini ke inginan nona Viola jadi saya tidak bisa mencegahnya".
"Tidak apa dokter, tapi jika lain kali seperti ini saya akan angkat tangan" ancam Angga.
"Baik tuan, saya permisi"
//**//
like dong makasih..
Salamku
__ADS_1
Dewi M