
Viola keluar dengan memakai baju hodie dan celana jeans panjang serta sedikit riasan di wajahnya. Rambutnya yang digerai ke kanan membuatnya tambah cantik walaupun memakai apapun.
"Viola kamu ke rumah mama saja ya, rumah mama lebih dekat dari sini, biar kamu ngga kecapean" ucap mama Ghina.
"Ini kan kepulangan kamu Vi, sebaiknya kamu pulang ya" ucap mama Desya.
"Tidak, akan tidak baik kalau Viola terlalu lama di dalam mobil, dia butuh istirahat yang cepat" ucap mama Ghina.
"Viola masih anak kami, biar kami saja yang mengajaknya pulang, lagi pula kami naik mobil" ucap mama Desya.
Para suaminya hanya bisa memijat pelipisnya. Bingung dengan sikap istrinya itu. Violapun angkat bicara.
"Haduhhh... kenapa kalian jadi berebut seperti sedang memperebutkan sebuah boneka. Biar Viola yang putuskan" Viola dengan kesal.
Semua hanya diam mendengar perkataan Viola.
"Daripada kalian berebut seperti ini. Kan ngga enak tuh ikut sana sini, biar aku tinggal di apartemen Daddy aja, kan malah lebih dekat dari sini dan ngga lama nyampenya" ucap Viola.
"Siapa yang akan menjagamu di apartemen nak" tanya mama Desya khawatir.
"Viola udah besar dan bisa menjaga diri Viola sendiri. Kalian ngga usah khawatir. Kalau kalian mau nengok Viola juga boleh, asal jangan terlalu sering. Kalau kalian mau aku makan, biarkan aku makan sesuai dengan keinginan Viola sendiri. Tolonglah, kalau kalian seperti ini terus, Viola kapan mandiri nya" Ucap Viola menjelaskan.
"Kalau kamu sudah bicara seperti itu mommy ngga bisa nolak" ucap mama Desya.
"Ngga papa kok, atau biar Viola aja yang ke rumah kalian. Viola ngga mau kalian berantem gara-gara aku. Jadi aku mohon sudah ya" ucap Viola.
Mama Desya dan Mama Ghina pun mengangguk.
"Angga kamu yang antar aku aja, papa Devan sama Daddy Hendra pasti paham kan" ucap Viola.
Mereka berdua mengangguk.
Mereka ke parkiran bersama.Mereka berpisah dan masuk ke mobil mereka masing-masing. Dan meninggalkan rumah sakit sesuai tujuan mereka.
"Kamu yakin Vi" tanya Angga.
"Tentu aku yakin Angga, aku tuh selalu pusing sama mereka yang memperebutkan aku. Dan pastinya aku yang mengalah dan memutuskan hal yang benar" ucap Viola.
Angga mengangguk kan kepalanya.
"Angga, kita ke taman dulu yuk. Aku ingin jalan-jalan"
"Ngga, besok aja ya"
"Angga" rengek Viola.
"Ngga, sekarang kamu ke apartemen, mandi, terus istirahat. Besok sore aku janji akan bawa kamu, kita jalan-jalan ke pasar malam ya" ucap Angga meyakinkan.
"Aku pegang janji kamu"
" Iya nona Viola Rahesya Margaretha" ucap Angga di pertegas.
Viola tersenyum senang.
__ADS_1
"Kalau begitu pelan-pelan dong ngejalanin mobilnya. Aku suka malam soalnya" ucap Viola.
"Kenapa" tanya Angga bingung.
"Karena dengan malam, aku bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat di siang hari. Banyak lampu kota yang indah, air mancur yang bersinar, bintang-bintang yang bertaburan di langit dan juga cahaya dari rembulan aku suka itu" ucap Viola.
Angga memelankan mobilnya.
"Kenapa kamu ngga suka siang" tanya Angga penasaran.
"Siang itu panas. Pemandangan yang dilihat hanyalah pohon dan rumah-rumah. Tidak ada yang istimewa."
"Kamu suka hujan" tanya Angga.
"Ngga"
"Kenapa, kan kalau ada hujan ada pelangi"
"Salah, itu salah Angga. Tidak setiap hujan setelah nya itu ada pelangi. Hanya waktu tertentu saja. Dan, pelangi itu butuh proses dan hari yang tepat untuk memunculkan nya. Sama seperti sebuah proses kehidupan manusia. Setelah pertengkaran atau masalah bahkan musibah yang terjadi tidaklah langsung berakhir bahagia, namun semua itu membutuhkan proses dan waktu yang lama" ucap Viola.
"Tapi kalau ada mendung di malam hari, kita akan sulit melihat bintang dan rembulan"
"Namun masih ada cahaya kota yang menerangi indahnya malam bukan"
"Jika lagi mati listrik sama hujan gimana" ledek Angga
"Masih ada lilin dan sinar senter" jawabnya mudah.
"Kalau ngga ada semuanya" tanya Angga lagi.
Angga tertawa mendengar jawaban Viola. Violapun juga tersenyum melihat Angga tertawa.
Tak lama, mereka sampai di apartemen Daddy nya. Semua para karyawan membungkuk padanya. Viola dengan rendah hati pun membalasnya sambil tersenyum.
"Walaupun kamu adalah orang yang sangat berkecukupan, namun kamu tetap rendah hati dengan semua orang. Aku bangga punya kamu Viola." Gumam Angga.
Angga mengantarkannya sampai ke ruangan Viola yang telah dipersiapkan oleh papanya.
"Angga, terimakasih banyak ya hari ini, kamu hati-hati" ucap Viola.
"Kami juga jaga diri kamu baik-baik ya, besok jangan ke kampus dulu kamu belum sepenuhnya pulih. Inget kata aku" ucap Angga.
"Iya aku janji kok, aku akan berangkat lusa. Dan inget ya besok malam, awas aja kalau ngga jadi" ancam Viola.
"Iya, aku janji dan tidak akan lupa. Sampai jumpa besok malam. Sepertinya setelah pulang dari kampus aku akan sibuk, jadi aku ke sini sore hari saja ya" ucap Angga sambil mengelus kepala Viola.
Viola mengangguk mengerti. Angga pun mengecup kening Viola dan mengacak rambutnya sedikit.
"Bye, jaga dirimu baik-baik" ucap Viola sambil melambaikan tangannya.
Angga langsung berlalu dari hadapannya. Violapun memasukkan kata sandi apartemennya dan langsung memasukinya.
Dia langsung merebahkan dirinya di ranjangnya. Dan memandang ponselnya. Foto yang dikirimkan oleh calon ayah mertuanya itu langsung di jadikan sebagai wallpaper handphone nya.
__ADS_1
Dia terus mengingat apa yang terjadi diantara mereka saat melihat foto itu. Viola sesekali tersenyum.
"Aku harus terbiasa dengan hal itu" gumam Viola.
Viola memutuskan untuk mandi. Setelahnya dia memesan Coklat hangat dan membaca buku novel yang tersedia di apartemennya dan membacanya di balkonya sambil menikmati indahnya malam.
"Matahari adalah saksi di setiap langkah untuk memulai suatu hari yang berbeda dari sebelumnya dan bulan adalah saksi di setiap mataku terpejam untuk membenamkan sebuah langkah yang telah tertuai pada siang hari" ucapnya saat melihat bulan.
Tiba-tiba disaat ia asiknya menatap bulan, handphonenya berdering. Dia tersenyum saat menatap layar ponselnya.
"Hallo, ada apa Angga" ucap Viola.
"Aku rindu" ucap Angga tanpa basa basi.
"Baru setengah jam yang lalu loh, masa udah rindu"
"Jadi kau tidak merindukan ku"
"Tidak" ucap Viola singkat.
"Jadi hanya aku disini yang rindu" ucapnya lemah.
"Hahaha.. rindu itu wajar, namun rindu tidak dapat tertuang jika tidak bertemu. Rindu itu hal yang benar, saat dua orang kekasih saling menyayangi" ucap Viola.
"Iya dan aku sangat merindukanmu"
"Sekarang ayo kita lihat bulan bersama, dan katakan aku merindukan mu bersama" ajak Viola.
"Satu, dua, tiga" hitung Viola.
"AKU MERINDUKANMU" ucap mereka bersama.
Viola tersenyum begitu juga Angga. Mereka memandang bulan dengan seksama.
"Viola, aku bisa melihat wajahmu di bulan" ucap Angga.
"Akupun sama"
"Sebaiknya kamu tidur dan istirahat ya, ini sudah malam"
"Iya baiklah, aku tutup telfonnya ya, selamat malam"
"Juga untukmu, mimpi indah, jangan lupa bawa aku di dalam mimpi mu"
Viola langsung menutup telfonnya dan tersenyum.
"Mengkhayal memang indah ya, apalagi bersama dengan orang yang kita cintai" gumam Viola.
Dia langsung menutup lampu apartemennya dan langsung tertidur.
//**//
Tinggalkan komentar dan like kalian, Vote juga ya... terimakasih banyak...
__ADS_1
Salamku
Dewi M