
Viola di bawa ke UKS Wedhingston, diikuti oleh teman-temannya. Rasa panik dan keromantisan bercampur aduk di sana.
Rendy dengan cepat membukakan pintu UKS. Angga langsung masuk dan membaringkan tubuh Viola.
Bobby dan Zaenal mengusir para mahasiswa/i yang berdatangan ke UKS, sampai para dosen pun di buat heboh dan membantu Bobby dan Zaenal.
"Kalian minggir dulu, biar aku yang mengurus Viola" ucap Novi yang sudah memegang kotak P3K.
"Angga, minggir dulu" bentak Vellicia.
Angga menurut dan berpindah membelakangi mereka. Girls Wedhingston Limelight menghalangi tubuh Viola. Novi segera memperban luka Viola untuk memperlambat darah yang terus mengalir.
"Vi, sebaiknya kamu ke Dokter, luka kamu dalam, biar di jahit nanti" ucap Novi sambil memperban luka Viola.
"Aduh, sakit Novi" rintih Viola.
"Iya Vi, lebih baik kedokter, Anggaaa" teriak Cintya.
"Kenapa" tanya Angga.
"Bawa Viola ke rumah sakit sekarang, lukanya dalam" ucap Cintya lagi.
Angga mencoba membopong tubuh Viola. Namun di cegah oleh Viola.
"Aku bisa jalan sendiri" ucapnya.
Viola menurunkan kakinya perlahan. Mencoba berjalan, namun dia terjatuh di depan teman-temannya dan dengan sigap teman-temannya menopangnya.
"Di bilangin juga, Angga cepetan bawa, ngga usah dengerin Viola sekarang" ucap Shanti.
Angga langsung membopong tubuh Viola dan keluar dari UKS.
"Viola, ngga papa" ucap pak Bambang.
"Saya sama Viola ijin pak, tolong beritahu dosen yang lain" ucap Angga.
Pak Bambang yang mengerti mereka akan ke rumah sakit pun menganggukkan kepalanya.Angga membungkuk lalu berlalu dari hadapan mereka.
"Bob, tolong bawa tasku sama Viola" ucap Angga. Dan segera mungkin dia berlalu dari hadapan mereka semua.
Viola di dudukkan di bangku sebelah pengemudi dan di pasangkan sabuk pengaman. Angga melajukan mobilnya dengan cepat. Viola hanya bisa diam dan bingung harus berkata apa, seakan-akan ada yang membungkam mulutnya.
Tak lama mereka sampai. Angga dengan cepat turun dan melepas sabuk pengamannya ,Angga membuka pintu dan berlari untuk membuka pintu di sebelah Viola, membuka sabuk pengamannya dan langsung membopongnya.
Perasaan panik dan khawatir menyelimutinya. Terlihat jelas di matanya pada saat itu. Viola hanya bisa memandangnya. Perasaan yang tidak dimiliki siapapun selain Angga.Angga menidurkan Viola di ranjang yang di persiapkan.
"Dok, saya boleh ikut" tanya Angga.
Dengan senang hati dokter itu mengangguk.
"Beruntung Nona Viola kakinya sudah di perban tepat waktu, kalau tidak semakin banyak darah yang keluar. Nona Viola sebaiknya anda jangan terlalu banyak bergerak dan berjalan" ucap Dokter.
"Dok, rawat jalan saja bisa kan" ucap Viola memelas.
"Tentu saja bisa nona, tapi kalau pak Hendra tau dia akan memarahi saya nanti" jawab Dokter.
"Kalau masalah itu biar saya yang urus, ngga papa kan dokter" pinta Viola.
Dokter menghela nafas panjang lalu mengangguk pasrah.
"Baik, ini resep obatnya. Saya permisi dulu" ucap Dokter lalu meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa kamu ngga mau di rawat" tanya Angga.
__ADS_1
"Ngga papa, lagian juga ini luka ringan kok"
"Ini bukan luka ringan, tadi kalau ngga di perban bisa banyak lagi darah yang keluar"
"Ngga papa Angga, aku ngga mau nginep terus di rumah sakit, lagian aku juga punya rumah sendiri"
"Terserah kamu, ayo .." ucap Angga sambil mengangkat tangan Viola.
"Eehh.. mau ngapain"
"Tadi dokter bilang kamu ngga boleh banyak bergerak dan berjalan dulu, lagipula ngga di siapin kursi roda buat kamu, ngga usah ragu dan ngga usah malu, diem nurut" ucap Angga dengan sedikit nada tingginya.
Viola berdecak kesal. Angga membawa Viola ke ruang tunggu di depan toko obat di rumah sakit tersebut. Semua orang yang ada di sana saling gosip menggosip satu sama lain melihat mereka berdua. Viola ingin berkata kepada Angga tetapi yang pasti Angga berkata tidak usah dihiraukan.
"Sudah" ucap Angga, lalu ia menggendong kembali Viola.
"Dasar pengantin baru selalu membuat iri orang yang sudah tua saja" ucap ibu-ibu yang melewati mereka berdua.
"Ya ampun, aku belum nikah..." kesal Viola.
"Bentar lagi juga nikah" jawab Angga.
Viola lagi-lagi berdecak kesal, dan terpaksa diam kembali.
*****
Sementara itu, Di Wedhingston, semua anggota Wedhingston Limelight dan juga Vero di bawa ke ruang kepala sekolah untuk diintrogasi.
"Kenapa kamu bisa melukai Viola, kamu anak baru, seharusnya kamu jaga nama baik kamu" ucap Kepsek.
"Maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja" jawab Vero.
"Tapi pak, Vero sengaja menumpahkan minuman yang dipegangnya dan hingga gelas itu terjatuh" ucap Bobby.
"Novi, tolong aku, aku tidak salah,kamu mau kan bantu aku, kamu saudara aku satu-satunya Nov" ucapnya sambil memohon kepada Novi.
"Kau datang jika hanya membutuhkan saja, dan banyak bukti serta saksi di sini, aku harus berbuat apa, semua mengarah padamu sekarang" ucap Novi sambil melihat ke sekelilingnya.
"Baik kalau begitu terserah bapak mau melakukan apa ke saya,dan yang terpenting jangan keluarkan saya" ucap Vero pasrah.
"Baik, keputusan saya kamu di skors selama 1 Minggu, dan tidak ada tawar menawar titik. Sekarang kalian boleh keluar" ucap Kepsek.
Semua yang ada di ruang kepsek keluar.
"Rasain Lo Ver, ini adalah peringatan kamu sudah mengganggu Viola dan Angga, jadi kami harap Lo ngga usah ganggu mereka lagi" ancam Shanti.
Mereka semua berlalu meninggalkan Vero sendiri. Dia mengepalkan tangannya karena geram dan marah.
"Akan aku balas kamu Vi, lihat saja" gumamnya.
*****
"Ma..." teriak Angga.
"Loh tuan, nona Viola kenapa" tanya Bi Jannah.
"Tadi Viola kena pecahan gelas Bi" ucap Angga.
"Angga, Viola, kalian cepat sekali pulang, ada apa kok Viola di gendong" tanya mama Desya khawatir.
"Panjang mah ceritanya, Angga bawa masuk Viola ke kamarnya dulu" ucap Angga.
Mama Desya mengangguk lalu mengikuti mereka berdua ke kamar Viola. Angga langsung membaringkan Viola di ranjangnya.
__ADS_1
"Ada apa Angga, kenapa kaki Viola seperti ini" tanya mama Desya khawatir.
"Tadi Vero terkena percahan beling yang tidak sengaja jatuh dari tangan Veronica" jawab Angga.
"Veronica" sambil menyergit heran.
"Iya, Veronica yang hilang ingatannya gara-gara aku mah" ucap Viola lemas.
"Engga, bukan salah kamu, itu sudah Takdir, sebaiknya kamu istirahat, biar mama sekalian buat makan siang untuk kalian. Angga jangan pulang dulu ya, makan dulu baru pulang" ucap mama Desya.
"Iya mah"
Mama Desya keluar dan menutup pintu kamar Viola.
"Kalau mau apa-apa bilang, kalau mau ke sana kemari bilang, jangan pergi sendiri" ucap Angga.
Viola tersenyum miring dan sebuah ide melintas di pikiran Viola.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu" tanya Angga heran.
"Aku ingin buku novel Perahu kertas, tolong carikan untukku" ucap Viola.
"Dimana kamu menyimpan semua buku novelmu" tanya Angga sambil melihat sekeliling.
"Kamu ke sana aja, tinggal cari" Viola sambil menunjuk pintu coklatnya.
Angga berjalan ke pintu yang ditunjuknya dan langsung membukanya. Angga melongo saat melihat banyak rak buku berjejeran rapi dan tempat yang luas.
"Ini perpustakaan kamu Vi, besar banget, ini seukuran kelas kita" ucap Angga tidak percaya.
"Cepat carikan kamu yang memintanya bukan, kamu yang menyuruhku kalau mau apa-apa bilang kan" ucapnya sambil tersenyum senang.
Angga mengacak rambutnya pasrah dan mencari buku di setiap rak yang berjejer dengan teliti.
"Dimana aku carinya ya, ini penuh begini, ada-ada aja nih" ucap Angga yang masih sibuk mencari.
Setelah sekian lama, akhirnya Angga menemukan buku yang di minta Viola.
"Nah.. ketemu.. akhirnya" ucap Angga, lalu ia bergegas keluar.
"Nih" ucapnya sambil memberikan buku novelnya.
"Lama amat, hampir setengah jam"
"Aku kan ngga tau dimana"
"hmm.. Terimakasih..." jawab Viola sambil tersenyum.
"Kurang.."
Mata Viola menyergit.
"Terimakasih Angga sayang.." ucapnya.
"Coba bilang sekali lagi" goda Angga.
"ihhh apaan, ogah lah"
"Ya udah ngga papa" jawabnya, lalu ia mengacak rambut Viola lalu mengecup keningnya.
"Sama-sama" ucap Angga setelah nya.
//**//
__ADS_1