
Setelah turun dari pesawat dia langsung menuju ke parkiran dan mengendarai mobil yang sudah menunggu nya. Dia menjalankan mobil nya dengan kecepatan tinggi melewati jalanan kota yang ramai.
"Ah sial macet"
Angga frustrasi di jalan. Dia terus membunyikan klakson mobilnya.
"Brisik woyy, disini memang sering macet" teriak salah satu pengendara motor yang melewatinya.
"Sial, kenapa harus macet sekarang"
Sekitar 15 menit berlalu, dia selalu melihat arlojinya. Angga melihat tukang koran yang membawa sepeda. Angga langsung membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobilnya begitu saja.
"Mau koran tuan"
"Saya beli sepeda nya, ini uang sekitar 1 juta bapak ambil ya"
"Terimakasih tuan"
Angga memberikan uangnya dan langsung menaiki sepeda nya. Mengayuhnya dengan sekuat tenaganya. Melewati lika-liku jalan tikus untuk menghindari kemacetan. Keringat terus menetes membasahi sekujur tubuhnya.
Sekitar 45 menit akhirnya dia sampai di rumah sakit tempat Viola di rawat. Dia langsung memasuki ruang ICU. Papa Hendra mencegah nya yang hendak menerobos ruang ICU.
"Angga, tahan Angga tahan" bentak papa Hendra.
"Viola.. Pah, Viola.. Viola membutuhkan aku sekarang.. " Ucap Angga dengan suara serak sambil menangis.
" Tenangin diri kamu Angga. Kamu tidak boleh gegabah seperti ini. Kamu harus kuat"
Angga duduk di kursi depan ruang ICU. Angga menangis sambil menundukkan kepalanya. Tak lama berselang, teman-teman Angga dan Viola datang.
"Angga" teriak nya.
"Kalian di sini"
"Iya, begitu kami mendapat berita bahwa Viola kecelakaan kita langsung ke sini" ucap Vellicia.
"Aku, Zaenal dan Arifin juga membuntuti kamu ke Singapura. Kami merencanakan sesuatu namun semua gagal. Malah di sini Viola yang menjadi sasaran nya"
"Kalian bod*h!! Seharusnya kalian di sini saja menjaga Viola. Di sana sudah ada Alex dan Kenzo. Jadi jangan khawatir kan aku. Dan kalian bertiga !! Kenapa kalian diam, bukankah kalian juga ikut dengan rencana Viola."
Para gadis yang di tunjuk Angga hanya diam membisu sambil menunduk.
"Maafkan kami Angga, kami juga sibuk dengan urusan kami. Kami tau kami adalah teman baik Viola, namun ini sudah terjadi. Kami perempuan hanya bisa membantu menguatkan Viola yang sedih dan khawatir karena kamu pergi ke Singapura dan takut terjadi apa-apa dengan mu." ucap Shanti.
"Benar, dia juga mengatakan kepada kami kalau bingkai foto yang terpajang di kamarnya terjatuh karena melempar ponselnya. Dia khawatir dengan keselamatan mu, sehingga dia teramat khawatir denganmu dan tidak sempat memikirkan dirinya sendiri" tambah Cintya.
"Kalian benar-benar." geram Angga dengan mengepalkan tangannya.
"Sabar Angga, ini semua sudah takdir. Disini kita hanya merencanakan dan tidak tau kehendak tuhan seperti apa. Kamu harus bisa mengontrol diri kamu jangan sampai kamu mengecewakan Viola dengan sikap kamu ini yang tidak bisa terkontrol. Kasihan Viola di dalam sana. Dia pasti juga mengkhawatirkan mu" ucap Arifin.
"Angga.. " teriak Rendy.
Rendy datang dengan Novita.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Viola sekarang" tanya Novi panik.
Novita menghampiri mama Desya. Mama Desya sedari tadi hanya menangis dan terus menangis.
"Hiks.. Hiks.. Viola.." ucapnya.
Novita mengelus punggung mama Desya. Papa Hendra berusaha tetap tegar dan mencoba menenangkan Angga. Teman-teman Viola hanya duduk terdiam.
Tak lama dokter keluar. Dokter menghela nafasnya panjang. Semua yang menunggu langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter....hiikkss.. Dokter bagaimana" ucap mama Desya sambil mengguncang tubuh sang dokter.
"Dia mengalami cedera di kepalanya dan luka di sekitar tangannya. Tidak ada luka lain lagi tetapi.. "
Ucapan sang dokter terhenti. Semua panik dan khawatir dengan lanjutan kata sang dokter.
"Tetapi kenapa dokter" ucap Angga khawatir.
"Dia koma karena benturan keras di kepalanya"
"Apa!!!" ucap semua kaget.
"Ngga.. Ngga boleh, Viola ngga boleh diemin aku. Ngga!!! " teriak Angga.
Angga langsung berlari ke dalam ruang ICU. Semua orang ingin menyusul Angga, namun dengan cepat suster menutup pintu ICU.
" Maaf tuan, nyonya. Kalian tidak boleh masuk secara bersamaan. Kalian boleh menjenguk nona Viola setelah di pindahkan ke ruang rawat nanti"
"Baik kalau begitu. Suster urus semuanya, saya permisi"
"Baik dokter, mari salah satu dari kalian ikut saya ke tempat administrasi"
"Novita dan yang lainnya, saya titip tante Desya sebentar"
Semuanya mengangguk dan masih mencoba menenangkan Mama Desya yang masih menangis.
Di dalam ruang ICU, Angga langsung terduduk lemas melihat keadaan Viola yang terbaring di rumah sakit. Angga menggenggam tangan Viola dan mengusapkan ke pipinya.
"Viola, seharusnya kamu memperhatikan diri kamu sendiri. Kamu ngga usah mikirin aku, aku baik-baik saja. Kamu cepetan bangun ya, aku rindu kamu, rindu melihat senyum kamu, rindu melihat wajah memerah kamu karena malu."
Angga membelai wajah Viola dengan lembut.
"I really really miss everything about you. Tolong cepat lah bangun dan peluklah aku. Aku mohon"
Angga menundukkan kepalanya sambil menangis. Angga mengusap air matanya kasar.
"Aku ngga boleh nangis, kalau kamu tau ntar ngeledekin aku. Tapi ngga papa asal kamu bangun Viola. Ku mohon"
Tak lama teman-teman Viola masuk ke ruangan ICU.
"Ngapain kalian di sini"
"Viola mau di pindah ke ruang VVIP" ucap singkat Bobby.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian pergi dari sini."
"Viola juga teman kami. Kamu ngga berhak mengatur kami" ucap Bobby dengan nada tinggi.
"Kakian tidak boleh berteriak di sini, dan Angga kamu kendalikan emosi kamu. Ini juga bukan kesalahan dari teman-teman kamu." ucap papa Hendra.
"Viola sayang.. Kenapa kamu seperti ini. Kamu harus bangun kami semua merindukanmu Viola"
Ucap mama Desya sambil mengelus kepala Viola pelan. Air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya. Tak lama para suster pun datang mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa ke ruang VVIP.
Angga juga membantu mendorong ranjang Viola menuju ke ruang VVIP. Teman-temanya hanya mengikuti nya. Angga mendorong ranjang Viola sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Kalian di sini dulu, kami akan mengganti baju nona Viola terlebih dahulu dan merapikan peralatan yang dibutuhkan. Jadi mohon kalian tunggu di luar, kalian boleh masuk setelah semuanya selesai" ucap salah satu suster.
Semuanya mengerti dan menunggu di luar ruangan. Angga duduk bersandar pada tembok sambil menutup matanya.
"Angga, ini bukannya mobil kamu" ucap Rendy.
Angga melihat handphone yang di pegang Rendy. Seketika Angga menepuk jidatnya.
"Aku lupa, mobil nya aku tinggal di tengah jalan waktu macet tadi"
"Viral nih Ngga. Udah di derek sama satpol pp mobil kamu" ucap Arifin yang juga membuka handphone nya.
"Kamu ke sini naik apa Ngga" tanya Bobby.
"Sepeda tukang koran" jawab Angga.
"Perjuangan luar biasa. Sabar ya Ngga" ucap Arifin.
"Bob, ambilin mobil ku ya, ini kartu ATM kalau nanti di denda tinggal gesek aja"
"Gesrek... gesrek ... Ntar aku juga yang jadi bahan omelan" ucap Bobby.
"Aku kasih bonusan nanti, yang penting ambil dulu"
"Kalau gitu si oke. Fin, yuk ikut"
"Lahh kok aku"
"Gimana mau bawa mobil Angga nanti kalo aku ngambil sendirian. Aku ngga bisa membelah badan menjadi dua. Ntar tinggal gesrek.. gesrek brooo" ucap Bobby sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ogah lah"
"Cepetan lah, tolongin. Kalau ngga bakal marah lagi"
"Berisik banget kalian. Mau ngambilin kagak" ucap Rendy yang mengerti suasana.
"Iya-iya, ayo lah cepetan"
Arifin dengan malas mengikuti Bobby. Mereka memang pemecah suasana canggung di saat mereka bersedih. Bobby pun merasakan nya, namun ia berusaha membuat mereka tidak terlalu merasa bersedih.
//**//
__ADS_1