
Setelah menaruhnya, dia kembali ke kamar orang tuanya dan kembali membuka kadonya.
Setelah mereka selesai, Viola mengajak Angga ke kamarnya dengan terburu-buru.
"Ada apa Sayang, kok kayaknya panik begitu"
Viola melepaskan tangannya dan berjalan kearah lacinya lalu mengambil kotaknya. Mata Angga menyergit heran.
"Apa yang kau pegang? Hadiah? kapan kamu membelinya?Kalau kamu beli sesuatu selalu minta ijin aku atau aku yang nemenin, kamu pergi sama siapa?"
Tanya Angga yang berbelit-belit karena penasaran, kecewa, marah atau apapun yang menggejolak di hatinya.
"Udah tanyanya" sambil menyentil dahi Angga.
"Kok malah di sentil"
"Makanya diem dulu sayangggg"
Angga duduk di sampingnya dan mulai mendengarkan Viola. Viola membuka kotak kecil berwarna abu itu dengan berhiaskan pita.
Setelah melihatnya ia mengambil isi kotak itu dan melihatnya dengan teliti.
"Ini kain yang sama dengan kain yang menutupi camera CCTV 'kan?"
Viola mengangguk.
"Iya kain itu sama, tetapi kain tidak bisa meninggalkan sidik jari seseorang 'kan, percuma saja"
"Tapi, kita bisa jadikan ini sebagai bukti Viola"
"Hanya kain? Kain tidak bisa menjadi barang bukti karena semua orang memiliki kain Angga" bentaknya karena sudah terlalu marah.
Angga menghela nafas panjang. Dia menghubungi Kenzo untuk datang ke rumah Viola.
Kenzo datang setelah mereka menunggu cukup lama. Angga dan Viola hanya terdiam dan saling melirik acuh.
"Benar, kain ini tidak bisa dijadikan sebagai barang bukti karena tidak memiliki noda ataupun bekas sesuatu sekalipun" ucap Kenzo setelah melihat dengan detail kain tersebut.
Viola dan Angga masih terdiam satu sama lain, dan mungkin tidak mendengarkan apa yang dikatakan Kenzo.
"Kenapa tatapan kalian seperti itu, aku yakin kalian ada masalah, dan itu pasti hanya masalah kecil" tebak Kenzo.
Entah apa yang merasuki mereka berdua, tiba-tiba mereka hanya saling tersenyum. Kenzo yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya karena sikap aneh pasangan itu.
"Kenzo, sungguh aku bingung apa yang harus kita lakukan saat ini, beruntung saat acara dia tidak bertindak apa-apa, dan kali ini teror datang lagi" ucap Angga kemudian.
"Itu artinya dia masih memiliki hati nurani. Dia hanya mengincar kita berdua Angga, bukan orang lain. Kalau dia bertindak gegabah dalam perkara ini, dia tidak akan mungkin selamat dari pegangan polisi karena telah mengancam banyak nyawa yang tidak bersalah"
"Benar kamu Viola. Mereka tidak bertindak karena keamanan yang begitu ketat dan orang-orang tinggi yang ada di sana, hingga ia tidak mampu untuk melukai banyak orang" tambah Kenzo.
"Viola, tolong bawakan aku coklat panas" ucap Angga.
__ADS_1
Viola mengangguk dan keluar dari kamarnya. Setelah memastikan Viola keluar, Angga mulai berbicara.
"Kenzo, sebenarnya aku takut kalau nanti Viola yang akan menjadi korban di sini. Aku takut nanti dia meninggalkan ku dan.." perkataan Angga terpotong.
"Satu-satunya cara saat ini adalah mengembalikan sepenuhnya hati nurani dari Veronica dan mengembalikan ingatannya sebelum terlambat dan sebelum itu terjadi" ucap Viola yang tiba-tiba datang.
"Viola" ucap mereka kaget saat Viola datang secara tiba-tiba.
"Kenapa kamu cepat sekali" Angga dengan nada kagetnya.
"Kamu pikir aku bod*h, aku tidak bisa tertipu olehmu calon suamiku" sambil meletakkan nampan di mejanya.
"Cepat sekali datangnya, bukanya dapurnya ada di lantai bawah"
"Aku tidak keluar sepenuhnya dan tidak mengambil minum juga, kebetulan mama datang dan membawa camilan beserta minuman, dan aku langsung memintanya dan mendengarkan ucapan kalian."
Kenzo manggut-manggut lalu mengambil jusnya lalu menyesapnya.
"Dan Angga, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Semua perkataan itu hanya akan membuat api di hati. Aku tidak mau jika ucapan itu bisa membakar kamu dalam sebuah kekecewaan, kegelisahan, kesedihan dan kedukaan, aku tidak mau itu" sambil duduk dan memegangi tangannya.
Angga mencium tangan Viola. Kenzo hanya sibuk memainkan ponselnya dan tidak ingin melihat drama kebucinan dari Angga dan Viola.
"Aku pamit ya" ucapnya.
"Kenapa, ini belum selesai" tanya Angga.
"Dimana aja mesra-mesraan terus"
"Ngiri? cari bisa detektif"
Viola hanya tersenyum melihatnya. Namun perasaan buruk sebenarnya juga menggejolak di hatinya. Namun, ia berusaha menutupinya.
*****
Hari pun sudah gelap, Angga dan Kenzo pulang satu jam yang lalu. Seperti biasa, Viola selalu memandangi langit malam sebelum dia tidur sambil membaca buku novel.
"VIOLAAA..VIOLAAA" seseorang berteriak dari luar kamarnya.
Viola bergegas menuju ke sumber suara dengan terburu-buru.
"Ada apa mah" ucap Viola panik.
"Di panggil ngga nyaut-nyaut, itu orang tua Monica datang"
"Kenapa"
Mama Desya hanya mengangkat kedua bahunya menandakan tidak tau. Viola langsung bergegas menuju ke ruang tamu.
"Om, Tante, mengapa kalian tiba-tiba datang malam-malam begini dengan wajah yang panik"
Tanya Viola terus terang, karena melihat kepanikan orang tua Monica.
__ADS_1
"Monica Vi" Ucap Tante Stella panik dan mulai menitikkan air mata.
"Iya, Monica kenapa Tante, Tante tenang dulu" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya.
"Monica sakit dan terus menyebut nama kamu, bisakah kamu datang ke rumah sakit sekarang" pinta Tante Stella sambil memegang kedua tangan Viola.
"Tentu saja Tante, Tante ngga usah khawatir, aku akan datang. Mah, Pah, aku ijin ikut mereka"
Mama Desya dan Papa Hendra mengengguk. Viola mengambil tasnya dan segera bergegas menuju ke mobil orang tua Monica.
Viola menelpon Angga untuk menemaninya di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Viola bergegas menuju ke ruang ICU. Melihat kondisi Monica yang begitu parah dan dalam keadaan kritisnya, dia langsung memeluknya.
"Ka Lala di sini sekarang, kamu harus sembuh ya, biar bisa main lagi sama Kaka. Kita beli balon sama-sama nanti" ucapnya sambil mengelus kepala Monica dan mencium keningnya.
Air matanya menetes saat mencium keningnya. Monica terbangun dan membuka matanya perlahan.
"Ka Lala" ucapnya lirih.
"Kaka sudah di sini sekarang. Kaka akan menjaga kamu yah.." ucapnya dengan senyumnya.
Monica tersenyum lalu melihat sekitarnya.
"Mama dan papa"
"Mama dan papa kamu di luar sekarang. Lebih baik kamu istirahat sekarang yah.. Kaka akan di sini menemani kamu"
Viola mencium tangan Monica dan mencium keningnya juga. Viola menggenggam tangan Monica hingga ia benar-benar terlelap.
Orang tua Monica pun masuk setelah di persilahkan oleh dokter. Viola langsung bertanya kepada orang tua Monica dan bertanya apa penyakitnya.
"Tante, mengapa Monica bisa seperti ini" tanyanya penuh kekhawatiran.
"Dia mengalami... radang usus buntu"
Viola kaget mendengar jawaban dari Tante Stella.
"Bagaimana itu bisa, aku tidak percaya dia akan mengalami hal seperti ini, cepat sembuh Monica" ucapnya sambil menitikkan air mata.
Viola menghapus air matanya pelan.
"Andai saja Vero bersikap seperti kamu Viola. Dia akan menjadi Kaka yang baik untuk Monica"
"Jangan berkata seperti itu Tante, aku juga yang bersalah dalam hal itu"
"Sudah nak Vi, kamu jangan terus berucap seperti itu. Ini sudah takdir, kita hanya menjalani yang kita bisa" tambah Om Brian.
Viola menatap Monica sambil mengusap usap tangan yang di pegangnya. Rasa bersalah terus menghantuinya saat berada dekat dengan keluarga Veronica. Namun yang ia jalankan saat ini adalah takdir yang tidak pernah bisa berhenti berjalan walaupun berusaha untuk menjauhinya.
//**//
Maaf ya semua udah membuat nunggu, ini author sempetin up malem-malem, soalnya banyak tugas dan Alhamdulillah sudah selesai. Ini juga langsung ketik, maaf bila ada kesalahan ketikan ya🙏🙏
__ADS_1
Salamku
Dewi M