Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 20 : Perburuan Tahun Kemarin (2)


__ADS_3

“Seharusnya tidak begini.” tutur pemuda itu sembari mengepal pergelangan tangannya, ia merasa tak percaya akan situasi yang terjadi saat ini.


‘Seharusnya Nona tersenyum menyambut hadiahku.’ tukasnya dengan tatapan kosong.


Setelah perburuan yang digelar usai, ia berlari menghampiri tempat dimana para Nona bangsawan berkumpul sembari minum teh. Namun setelah di tatap dan di perhatikan kesana-kemari, ia tidak menemukan keberadaan gadis itu, bahkan suasana saat ini terasa aneh.


‘Kenapa semuanya terlihat panik seperti ini?’ tanyanya kebingungan.


‘Nona dimana?’


‘Kenapa perempuan itu juga tidak ada?’ batinnya ketika mendapati Lucy dan Sheyra yang sama halnya menghilang.


Pria itu cukup terhanyut lama dalam lamunannya, hingga sebuah teriakan yang tak asing muncul dan sukses membuyarkan lamunannya. Ia mendengar suara itu.. suara Lucy yang berteriak histeris di tempat lain.


“ARGHHH! TIDAK!”


“Nona!!”


Jeritan yang terdengar kesakitan itu cukup membuat perhatiannya teralihkan, ia berlari sedikit ke dalam hutan hingga melihat sebuah kerumunan tamu undangan dan para pelayan di sana, pada akhirnya ia terpaku dan membeku ketika sorot matanya yang tajam menemukan seseorang yang terkapar lemas diatas tanah, netranya berguncang ketika memandangi pemandangan mengejutkan seperti ini.


Pemandangan dimana Lucy yang terkapar lemas di atas tanah sembari menangis, seolah menunjukkan betapa sakit dan tersiksanya dirinya, perempuan itu hanya menggeliat dengan sekujur tubuhnya yang terlihat mengering dan memucat seolah tenaganya telah dikuras habis-habisan.


Tak lama kemudian, kini perempuan itu hanya diam terpaku dengan tatapannya yang sayu, “Sakit.. hentikan..” lirihnya yang terlihat sekarat.


Pemuda itu menggertakan giginya pertanda marah besar, kabut amarah kini mulai menyelimuti tubuhnya. Ia terlihat kesal ketika semua kerumunan ini hanya ada untuk menganggap Lucy sebagai tontonan dan bukannya pergi mencari bala bantuan.


‘Lama-lama Nona bisa saja mati! Sebenarnya dia kesakitan karena apa?!’


Tak mau memakan waktu, Emillo bergegas memecah kerumunan itu dan menggendong Lucy dengan niat membawanya pergi, namun sudut matanya kini teralih menatap perempuan berambut merah yang sama saja tengah terkapar tak berdaya di atas tanah. Hanya saja ada sedikit perbedaan di antara mereka, yakni perempuan itu tidak terlihat kesakitan seperti Lucy. Gadis bersurai merah itu hanya tergeletak pingsan dengan sudut bibirnya yang berdarah.


‘Tidak dilihat dari pakaiannya.. sepertinya dia habis muntah darah.’ ansumsi Emillo dengan raut wajah serius.

__ADS_1


Namun ada satu pertanyaan yang muncul dibenaknya, “Kenapa perempuan itu berada di tempat yang sama dengan Nona Lucy?” gumamnya bingung.


Bertepatan dengan Sir Emillo yang mencoba melangkah meninggalkan kerumunan, Putra Mahkota muncul tiba-tiba dengan tatapan khawatir dan berlari kearahnya. Pemuda bernama Crylo Emillo itu hanya terkekeh kecil, ia rasa hal seperti ini sudah sepatutnya ia serahkan kepada Putra Mahkota.


Karna hati kecilnya berpikir, ‘Lucy adalah tunangan beliau.’ Namun alih-alih menghampirinya, Sir Emillo hanya terbelalak ketika mendapati Yang Mulia Reygan berlari melewati dirinya, seolah ia tidak pernah melihat Lucy yang terkapar sekarat di pangkuannya.


‘Kenapa anda malah berlari dan menggendong perempuan itu? Anda lebih mengkhawatirkan perempuan itu di bandingkan Nona Lucy, yang merupakan tunangan anda sendiri?!’ serunya dalam hati.


Pemuda dengan netra safir itu hanya diam mematung memandangi kehangatan Putra Mahkota yang mengkhawatirkan Lady Chevelle yang terbujur kaku. Entah kenapa, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Sir Emillo merasakan rasa kekecewaan terhadap sesorang yang selalu ia kagumi hingga detik ini.


...***...


Lucy yang terkapar sekarat tidak mungkin membutuhkan pengobatan dokter, karna itu hanya akan memakan waktu yang sia-sia. Sebagai kemurahan hati Baginda Raja, ia memerintahkan Pendeta Kuil Suci yang agung untuk menyembuhkan Lucy, walaupun gadis itu tidak sepenuhnya sembuh.


Setidaknya setelah menerima kekuatan suci dari pendeta, Lucy kini terlihat lebih nyaman dan bernafas dengan baik. Walaupun kabar buruknya Lucy belum kunjung sadar.


Seorang penyihir dari menara sihir pun turun tangan untuk membantu menginvetigasi kejadian ini, namun satu fakta yang ia temukan hanyalah Lucy dengan energi sihirnya yang terkuras habis. Tidak, ditubuhnya yang sekarat hanya tersisa sedikit kekuatannya. Jika saja mana nya benar-benar mencapai batas, perempuan itu bisa kehilangan nyawanya.


Beribu pertanyaan mengalir mengenai kejadian ini. Namun sayangnya, Lucy yang sudah siuman hanya diam mematung seperti tubuh kosong tanpa jiwa. Ketika malam menghampiri, Lucy hanya berteriak histeris dengan racauan, “Kegelapan menggerogiti jiwaku!”


Raja yang duduk di singgasana hanya menatapnya dengan tatapan mengintimidasi dari atas sana.“Lantas untuk apa Lady memasuki hutan yang di penuhi binatang buas?” tutur Baginda Raja diiringi perasaan tidak percaya akan pernyataan Nona Sheyra.


“Tidak.. saya— hanya ingin memetik bunga untuk Yang Mulia Reygan.” Cetusnya dengan raut wajah aneh.


‘Dia terkejut?’ batin Emillo merasa aneh.


“Sheyra..” sahut Putra Mahkota dengan menatapnya rapuh. Pemuda itu hendak membantu Sheyra berdiri, karena sedari tadi gadis itu hanya berlutut seolah diperlakukan seperti tersangka utama dalam kasus ini.


Namun tindakannya ini sukses menuai keritikan dari Baginda Raja.“Jaga sikap mu Putra Mahkota!” ucapnya dengan tajam, tidak lupa Pria paruh baya itu menatatapnya tak suka.


“Untuk apa Nona memberikan bunga kotor yang di petik sembarangan kepada Putraku? Terlebih, Nona sudah tahu kan, Putraku akan segera bertunangan resmi dengan Lady Barayev.” tutur Riana dengan tatapan sinis, ia merupakan Selir raja ke 3 yang naik takhta menjadi ratu. Walaupun ia bukan Ibu kandung dari Reygan, tapi perasaannya terhadap anak itu sangatlah hangat.

__ADS_1


Mendengar pernyataan itu, Sheyra semakin dibuat gelagapan.“Saya— hanya.. tidak.. saya hanya ingin memberikannya karna akhir-akhir ini Yang Mulia Reygan bersikap baik kepada saya. Saya juga korban Yang Mulia! Kenapa anda malah menyudutkan saya seperti ini?!” tanyanya putus asa. Ia mengatakan kalimat itu sembari menepuk dadanya yang memberikan kesan emosional.


“Ayah?! Bukankah ayah berkata hanya akan menanyai Nona Sheyra saja?! Kenapa anda malah memojokkannya seperti ini?!” celetuknya tak suka.


Sir Emillo yang sedari tadi berdiam diri disampingnya hanya diam menatap datar. ‘Anda bersikap seperti bukan anda. Sebenarnya Yang Mulia ini siapa?’ tanyanya heran. Kenapa Pria dingin sepertinya begitu memperhatikan Sheyra dengan penuh kasih, padahal mereka baru saja bertemu dalam kurun waktu satu bulan.


“Disaat seperti ini kau menyebutku Ayah?! Sebenarnya ada apa dengan isi kepalamu?! Kau membela gadis yang hendak mengotori nama tunanganmu sendiri? Selama ini saat dia sakit apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak pergi menjenguknya.” Sembur Raja bertubi-tubi.


Putra Mahkota kini terdiam sembari menunduk, wajahnya sedikit pucat. “Aku merasa kepalaku berdenyut..” tuturnya pelan.


Mendengar pernyataan sang Raja, Sheyra hanya menunduk dengan isak tangisnya yang semakin memecah. “Ck.”


‘Apa itu? Aku tak salah lihat? Sekilas dia hanya menunduk karena menangis, tapi-’


‘Dia menggertaka giginya?’ Batin Sir Emillo yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gerak-geriknya.


“Yang Mulia, Perempuan itu sudah melakukan hal tidak bermoral dengan menjelek-jelekkan calon ratu masa depan kita.” bisik Riana yang sedari tadi memang berdiri di samping Singgasana Baginda Raja.


“Aku tahu itu. Menurut kesaksian pelayan, Nona sendiri lah yang mengikuti menantuku pergi ke dalam hutan.” ujar Raja yang sukses membungkam mulut gadis muda itu.


Deg..


“Itu-”


“Seperti katamu, menantuku menyerangmu dengan kekuatan sihirnya? Tapi Penyihir menara tidak menemukan jejak sihir apapun di tubuhmu. Aku hanya menemukan fakta bahwa anda tak sadarkan diri karena meminum teh beracun. Faktanya ditubuhmu saat itu hanya tersisa jejak sihir penyembuhan. Apa kau bisa mempertanggungjawabkan pernyataanmu barusan?!” tekan Raja dengan sorot mata yang muak.


Butuh waktu yang lama bagi Sheyra untuk menjawab, Sheyra kini hanya terdiam merenung. Hingga pada akhirnya ia mengangkat lehernya dan menatap sayu ke atas sana. “Saya mengaku salah Baginda, memang benar saya yang mengikuti Nona Lucy ke hutan, ini karna saya mengkhawatirkan beliau. Sebenarnya saya tidak tahu apa-apa soal Nona yang terbaring sakit, karna saya juga tiba-tiba muntah darah dan tak sadarkan diri.” jelas gadis itu tiba-tiba.


“Lantas, untuk apa kamu memberikan kesaksian palsu?”


“Saya mengatakan hal demikian, karna saya diancam oleh orang yang meracuni saya, dia memaksakan saya dalam rencana ini dan berjanji akan memberikan penawar racunnya, karna saya tidak boleh mati hingga rencananya berhasil.” jelasnya lagi dengan tatapan pasrah.

__ADS_1


“Diancam katamu?”



__ADS_2