Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 67 : Lelucon Bodoh


__ADS_3

Katanya setelah kepergian sang kekasih, penyihir itu hanya memimpin kerajaannya selama setahun untuk menunggu kesiapan Putranya sebagai Raja yang baru. Kabar baiknya bahwa Putrinya yang manis juga telah tumbuh dewasa dan dinikahkan dengan Pria dari keluarga terpandang di kerajaan Garfield. Hingga pelantikan dan sorakan meriah yang hangat dari rakyatnya kini telah menyambut Pemimpin barunya di sepanjang parade.


Pada akhirnya Putraku yang merupakan penerus Raja, kini memimpin Kerajaan Garfield dengan gagah.


Sungguh kisah akhir yang membahagiakan, namun itu akan terjadi bila aku mati.


Sayangnya, kehidupannya yang abadi benar-benar mengerikan untuknya. Jauh tahun demi puluhan tahun berlalu, semilir angin yang berhembus dibawah guyuran daun maple kini telah membuatnya merasa dejavu. Pemakaman yang mewah kini digelar untuk sang Raja yang merupakan Putra kandungnya dibawah musim gugur yang menyesakkan dada.


Hidupnya benar-benar mengalir secepat jentikan jemari, bahkan disaat terakhirnya sang Putra pun berkata, “Di nafas terakhirku pun, Ibunda tidak berubah sama sekali. Setiap melihat Ratuku yang menangis tersedu-sedu, aku mengerti betapa tersiksanya Ibunda ketika ditinggalkan Ayahanda.”


“Oh.. sungguh penyihir yang malang.” sekiranya begitulah kata-kata terakhir sang Putra yang bahkan sedikit menorahkan luka di hatinya.


Ha, sungguh ironis.


Lucia hanya tertawa kecil ketika menyadari bahwa situasi ini memang terasa tidak asing untuknya, entah merasa dejavu karena sebelumnya pernah ditinggalkan.. entah dejavu karena angin musim gugur yang dingin. Bahkan ratusan tahun pun telah berlalu, ia hanya menyaksikan berbagai keturunannya yang mulai pergi meninggalkan dirinya, kekuatan sihirnya yang hebat selalu diturunkan kepada seorang Putri yang menjadi ciri khas dan bakat bahwa ia merupakan keturunan Morticia yang hebat.


Ia yang kesepian tidak pernah goyah untuk melindungi tanah tercintanya, Lucia dengan Tyson Rose ditangannya kembali terjun ke medan perang untuk melindungi para perajurit dah bahkan ia juga membimbing para penyihir yang baru untuk memperkuat tatanan kerajaan Garfield. Dalam melindungi tanah Garfield dengan tangguh, hatinya selalu percaya bahwa suatu hari Cesarre akan kembali kepadanya. Karena setiap kematian, akan ada kelahiran.


Dengan bersinarnya diriku, aku percaya bahwa kamu akan mengingatnya dan datang kepadaku.


Cesarre..


Aku lelah merindukanmu sendirian.


...***...

__ADS_1


Setiap musim telah berganti, awalnya sang penyihir tidak goyah. Namun katanya sang penyihir itu mulai lelah. Bagaikan takdir yang berpihak kepadanya, tak disangka sebuah mala petaka muncul yang hampir membuat kerajaan ini berada diambang kehancuran yang tak bisa terhindarkan.


Sang penyihir kegelapan, Iris Dewellyn tiba dengan sejuta kejahatannya. Karena keegoisannya yang tiada tara, banyak penyihir yang mati akibat kekuatan sihirnya yang direnggut tuntas. Wabah mengerikan yang menyeruak akibat perbuatannya telah merenggut banyak nyawa para rakyat tercintanya hingga kehancuran kastel dan terror kejam dari sebuah roh yang melahap jiwa manusia.


Entah keberuntungan ataupun kemalangan, namun hatinya kini merasa lega.


Apa akhirnya aku akan mati? Aku terlalu lelah menunggunya.


Dibawah ledakan sihir yang mengakibatkan kerusakan fatal dimana kerajaan itu berdiri, Lucia mengangkat Tyson Rosenya untuk menyerap segala sihir mengerikan yang tertanam di tubuhnya. Sang Penyihir kegelapan itu kini hanya meronta dan meraung kesakitan ketika Lucia mencoba meresap segala sihirnya melewati Tyson Rose.


“Jika kau melakukan ini, kau juga akan menjadi jahat seperti ku, Lucia!” hardiknya yang mencoba menepis sihirnya, sayangnya tatapan Lucia yang kosong tidak menunjukan tanda-tanda menyerah.


Lucia hanya tertawa lebar dibawah gemercik hujan sebagai respon untuk menampik timpalan Iris yang tidak penting untuknya. “Aku tidak bodoh.. tentu aku telah menemukan cara untuk menahanmu.” ucapnya yang kini menatap wajah perempuan itu dengan datar.


Tatapan Iris terlihat kecewa, diambang tubuhnya yang mulai terkulai lemas. Kini Lucia mengubah Tyson Rose yang indah itu menjadi sebuah mata pedang yang tajam. Tangannya yang dipenuhi akan luka dan bercak darah itu kini terangkat untuk menghunuskan pedangnya tepat didepan jantung Iris yang berdetak dengan kencang.


Bersamaan rambut hitamnya yang berantakan diirita sorot matanya yang kosong. Iris hanya melontarkan kata-kata yang sulit dimengerti untuknya. Akan tetapi, Iris tetap menatapnya dengan tumpukan kebenciannya yang tidak pernah memudar.


Walaupun begitu, kini Sang penyihir hanya menatapnya dengan tatapan nanar. Sembari mengatupkan bibirnya, ia terlihat murung hingga tanpa sadar menjatuhkan pedangnya pada kubangan air. Kedua tangannya kini terangkat untuk menutupi wajahnya yang telah menangis dengan frustasi.


“Kenapa kamu harus seperti ini Iris.” ucapnya disela isak tangisnya yang telah pecah untuk sekian lamanya.


Ia yang mati rasa kini baru bisa merasakan hangatnya air mata yang telah menghilang sejak lama, semua ini berkat Iris. Karena sejak lama ia telah memantapkan hatinya untuk tidak mengeluarkan air mata lagi. Cukup Cesarre yang dapat melihatnya hingga akhir hayatnya..


Tapi aku tidak kuat lagi..

__ADS_1


Maafkan aku Cesarre..


Penyihir dengan nama Iris itu kini hanya memutar bola matanya dengan perasaan acuh tak acuh. Disela sikapnya yang terlihat tak peduli, Iris terlihat murung. “Pada akhirnya aku hanya mempermudah hidupmu ya. Kau benar-benar beruntung.” nyalangnya diiringi tatapan yang menatap dirinya seolah penyihir yang hina.


Penyihir kegelapan itu tidak memiliki niatan untuk menghibur hati temannya yang sedang berduka. Ia hanya bangkit dengan langkahnya yang tertatih-tatih, “Sangat mengecewakan, bahkan untuk membunuh temanmu yang berkhianat saja kamu tidak bisa melakukannya.” ocehnya yang tidak diberi jawaban apapun.


Melihat kondisi Lucia yang lemah, ia berniat menghunuskan sihir kegelapan yang tersisa kepada puncak kepala Lucia yang menjadi santapan lezat untuk menyakitinya. Namun ja menghentikan aksinya ketika perempuan itu melepaskan satu kata yang mencengangkan di pikirannya.


“Pergilah.”


“Aku takan membunuhmu, jadi pergilah.”


Begitulah pesan terakhir Lucia yang hanya meninggalkan bekas kekecewaan untuknya. Saat itu dibalik tawanya yang pecah, Iris kelihatan kesal. Tidak, sebenarnya Iris mempertanyakan apa maksud dari segala tindakan yang dilakukan Lucia kepadanya. Usai merenggut segala kekuatan sihirnya.. kenapa Lucia malah melepaskan dirinya begitu saja? Bahkan penyihir yang baik itu kini malah memberikannya secarik penyembuhan agar mempermudahkan dirinya untuk melarikan diri dengan selamat.


Dasar penyihir yang aneh.


Iris terlihat menggertakkan giginya pertanda tengah menahan gejolak amarah. Andaikan tubuh Lucia tidak dipenuhi dengan sihir yang terkandung akan sihir pemurnian, dengan mudah Lucia akan mati ditangannya.


Sayang sekali, aku tidak bisa membunhmu. Makanya aku mengorbankan semuanya atas namamu agar hatimu yang lemah itu semakin merasakan mati rasa.


Disela kepergiannya, Iris sempat menoleh kearahnya. Seperti prediksinya yang tidak pernah melenceng, Lucia hanya tertunduk menumpahkan rasa sakitnya dengan tangisan tak berdaya. Sebelum ia benar-benar pergi, Ia menyematkan beberapa kalimat yang menciptakan perseteruan yang tidak pernah berakhir.


“Ini karenamu yang membuangku dan memilih menyerahkan hidupmu kepada sesosok manusia yang bahkan hidupnya tak lebih panjang dari sebuah pohon. Benar-benar keputusan yang bodoh.” hardiknya yang kini dibalas dengan tatapan pilu olehnya.


Ia terlihat menyematkan senyuman kecil di wajahnya, “Dewa yang memintaku untuk melindungi tempat ini, ini adalah takdir yang harus mengalir sebgai mana mestinya, Iris.. dan aku sekalipun tidak pernah menyesali keputusanku..” ungkapnya yang kini diberikan tawaan menggelikan olehnya.

__ADS_1


“Fffuft! Hahaha— aku tahu.. aku tahu itu! Tapi sekalipun Dewa tidak pernah memintamu untuk mencintainya Lucia.” kelakarnya yang menganggap bahwa pernyataan Lucia merupakan lelucon yang menjengkelkan.



__ADS_2