
Lucy Nampak terdiam sejenak, ia merasa ada hal yang tidak beres disini. Keberadaan Sheyra cukup mencurigakan untuknya.
“Sir, bagaimanapun menurut saya.... Lady Chevelle terlihat mencurigakan. Jika boleh tahu, kenapa investigasi tentang saya dihentikan?” tanyanya merasa tak mengerti.
“Itu.... karena anda terlihat nyaman tanpa ingatan itu. Jika anda dengan ingatan buruk itu terlihat menderita.. dari pada membangkitkan ingatan yang menyakitkan itu, Baginda raja lebih memilih menutup kasus ini,” jelasnya dengan raut wajah murung.
“Jadi begitu.” Lucy hanya terpaku semnari merenung.
“Tapi tetap saja, ada yang tidak beres dengannya.” Lucy kini mengernyit seolah memikirkan masalah ini dengan keras.
“Seperti permintaan Nona, saya tengah mencari asal usul dan latar belakang Lady Chevelle. Namun datanya sulit ditemukan, jadi saya berharap anda bersabar menunggunya. Hanya sebentar lagi Nona,” pinta Emillo dengan serius, Lucy pun tahu dan merasakan rasa semangatnya yang membara.
‘Saya kira, hanya saya seorang diri yang mencurigai keberadaan Sheyra. Di pikirkan bagaimanapun, tokoh seperti dirinya sangat bertolak belakang untuk disebut protagonist.’
Batin Lucy yang merasa tak setuju.
Ia mendongakkan wajahnya kemudian menatap langit malam yang terlihat membiru indah, ‘Hanya satu hal yang ku pertanyakan. Jika keberadaan Lucy hanya sebagai tokoh antagonis, lantas mengapa Lucy digambarkan begitu detail, sedangkan Sheyra yang sebagai Protagonist hanya berlatar belakang sedikit dan misterius?’
Renungannya dalam hati.
“Yah, tidak apa-apan Sir. Saya akan menunggu mau kapan pun itu,” jawabnya diiringi senyuman tipis.
“Apa hanya aku yang merasa salah paham disini?!” celetuk seseorang tiba-tiba.
Deg..
“Kyaaa!” kagetnya sampai menjerit. Bagaimana bisa Putra Mahkota tiba-tiba muncul dengan wajah masam sembari berkacak pinggang begitu?
“Yang—Mulia??” tanya Lucy yang mulai berkeringat dingin.
“Ini sudah larut malam, kembalilah! Besok adalah hari besar, kita pasti akan sibuk,” tuturnya bernada ketus.
“Maaf Yang Mulia, saya hendak membawa Nona ke dalam tapi beliau tidak mau bergegas,” ujar Sir Emillo sembari menunduk.
“Setidaknya menyingkirlah darinya.” Tatapnya dengan tajam. Saat ini pemuda itu tengah tersenyum.... mengerikan? ‘Kenapa taring Yang Mulia sampai kelihatan begitu sih?’ tanya Lucy dengan senyuman kikuk.
‘Tidak.. euh.. kenapa suasananya jadi begini? Aura gelap apa yang muncul dari tubuhnya itu?!’ lanjutnya sembari meneguk ludah.
“Baik, saya permisi Yang Mulia.” Pamit Sir Emillo yang mengikuti titah Reygan.
Fyuhh..
Lucy kini terlihat bernafas lega, entah kenapa atmosfer yang terasa berat dari tadi kini mulai terasa memudar. Saat ini, perempuan dengan surai emasnya itu tengah mencoba membangkitkan dirinya, namun karena ia sudah menghabiskan beberapa jam dengan duduk di bawah pohon, hal ini cukup membuatnya keram dan hampir saja terhuyung jatuh.
Ada baiknya Putra Mahkota memiliki reflek dan kecepatan yang bagus sehingga dengan sigap ia menarik Lucy kedalam pelukannya. “Maaf Yang Muli—” ujarnya terpotong.
“Lucy masih sakit?” tanyanya dengan sorot mata yang khawatir.
“Anu— idak....sayaAAA?!”
Adegan ini memang terdengar dejavu, akan tetapi benar adanya. Reygan kini menggendong Lucy ala tuan Putri kerajaan. Gadis itu saat ini hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu, sebenarnya Reygan kenapa terlihat sepeduli ini sih? Perlakuannya yang aneh seringkali membuat Lucy salah paham.
“Anda tidak perlu melakukan ini, saya tidak sakit,” tukasnya dengan wajah yang menunduk.
Sedangkan respon Reygan hanyalah tersenyum simpul embari menatap matanya. “Tidak apa-apa, sejak dulu aku hanya ingin melakukannya,” jawabnya yang entah kenapa terdengar begitu lembut, pemuda itu kini mulai melangkahkan kakinya yang hendak bergegas membawa Lucy kembali ke kamarnya.
“Maaf, hari besar? Besok? Apa maksudnya Yang Mulia?” tanyanya penasaran, alih-alih menjawab, Reygan hanya terkekeh puas. “Tunggu saja besok,” jawabnya diiringi senyuman sumringah.
“Haa....?” Lucy yang kebingungan hanya semakin memasang wajah kikuk kepadanya, sebenarnya apa lagi yang direncanakan Putra Mahkota di depannya ini? Begitulah pikirnya. Jika diingat-ingat juga besok lusa merupakan pesta perayaan kedewasaannya Sheyra bukan?
“Jangan bilang anda akan membuat hari besok terisi penuh bersama saya?” tanyanya yang merasa curiga, kini pergelangan tangannya terangkat untuk mengalungkannya dileher Pemuda itu.
“Tadinya rahasia, tapi yasudahlah. Akhir-akhir ini saya sibuk, maafkan saya jadi jarang mengunjungi Lucy seperti ini,” tuturnya tiba-tiba yang entah kenapa seolah sangat memperhatikan perasaan Lucy.
“Ah.. saya tidak apa-apa kok. Lagi pula Yang Mulia juga pasti memiliki jadwal yang padat di setiap harinya, saya juga mulai terbiasa mengerjakan pekerjaan pengelolaan istana. Jika sudah menikah nanti mungkin saya juga akan sibuk dan banyak melakukan tugas pengelolaan rumah tangga dan lainnya. Wah membayangkannya saja membuat mual ya~” ocehnya dengan raut wajah yang berseri-seri. Sedangkan Reygan hanya mengernyit dan tak habis pikir. “Kau mengatakan mual dengan wajah sebahagia itu ya....” tuturnya yang merasa aneh.
“Jadi ayo berkencan secara resmi diluar. Lagi pula Lucy kelihatannya suntuk ya.” ajaknya tiba-tiba.
“Benar sekali~!” lirihnya yang entah kenapa kelihatan menyindir.
__ADS_1
Tunggu-tunggu....
Kencan Resmi?
‘Berarti aku harus keluar dengan pakaian mencolok dan menarik perhatian Rakyat biasa beserta bangsawan-bangsawan di jalanan?!’ asumsinya tiba-tiba.
‘Malas.’ keluhnya dalam hati.
“Tentuu, Lucy kan tunangan saya. Setidaknya saya ingin memberikan kesan yang baik untuk Lucy.... makanya besok kita bersenang-senang ya,” pintanya dengan raut wajah serius.
Sebagai bentuk jawabannya, Lucy hanya mengangguk untuk mengiyakan. Lagi pula jika ia menolak, yang ada malah.... mendesaknya terus menerus sampai perempuan itu mau menyetujuinya.
‘Dia berperawakan dewasa sih, tapi semenjak melihatnya mabuk di mimpi itu, aku merasa bahwa dia hanyalah seorang anak kecil yang tak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri.’ Gadis itu kini menatap netranya yang tengah menatap lurus pada lorong istana.
Tak lama kemudian Lucy hanya terdiam diiringi senyuman yang entah kenapa terasa pilu. Apa hanya Lucy yang salah mengira disini? Lucy hanya selalu merasa Reygan bersikap aneh kepadanya, disebut aneh karena sifatnya terlalu melenceng dari kisah novelnya. Atau disini dialah yang terlalu terpaku pada isi buku yang tidak menjanjikan itu?
Reygan selalu perhatian kepadanya, menanyakan keadaan dan kondisi tubuhnya, bertanya apakah dirinya sakit atau terluka, bersikap manis dan hangat kepadanya, bahkan hingga bersikap seolah ia menyalurkan rasa ketulusannya hanya untuk Lucy seorang, sosok gadis yang digambarkan sangat di benci olehnya di dalam novel.
“Kenapa anda memperlakukan saya seperti ini?” tanyanya tiba-tiba, sedangkan pemuda itu hanya terdiam tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaannya yang sederhana itu.
Apabila Lucy mengharapkan cinta darinya, apa akan dianggap terlalu serakah? Gadis itu hanya bisa tahu diri. Mau bagaimanapun jadinya, sosok Lucy hanyalah sebuah batu loncatan demi perwujudan kisah cinta sejati mereka.
Gadis si sosok protagonis yang selalu tersakiti dan menderita oleh kehadiran antagonis, berakhir dengan kematian antagonis yang menerima ganjarannya. Kemudian protagonis yang hidup bahagia bersama kekasihnya selamanya. Sungguh ending yang sangat indah dan sempurna bukan?
‘Dunia fiksi yang terbentuk untuk Sheyra seorang.’
Ia sedikit menghela nafas, Lucy berpikir apakah boleh untuknya merasa iri kepada seseorang yang diberikan jalan hidupnya mulus seperti Sheyra?
Mau dikehidupan sebelumnya atau sekarang, ia merasa selalu kurang beruntung.
“Apa anda membenci saya?” tanyanya yang sejak tadi berusaha ia tahan mati-matian. Tapi Lucy merasa untuk tidak bisa menghindarinya lagi, gadis yang menatap sayu itu membutuhkan kejelasan agar dapat memahami situainya sendiri.
Reygan sedikit tersentak hingga membulatkan matanya ketika mendengar pertanyaan yak terduga darinya, tak lama kemudian ia hanya tersenyum dengan menyiratkan rasa kesedihan di dalamnya, “Aku tak mungkin melakukan itu,” sahutnya dengan lembut.
Gadis itu kini tertunduk dengan kedua pergelangan tangannya yang memegang erat pundak sang tunangan, “Lantas kenapa.... sejak dua tahun yang lalu anda berubah....” tanyanya yang merasa putus asa. Tidak, lebih tepatnya Lucy yang asli merasakan keputus asaan yang begitu luar biasa. ‘Apa sejak lama, anda juga jngin menyampaikan hal ini kepadanya?’ tanyanya diiringi senyumayang terpaksa.
“Maafkan saya Lucy, saya yang telat menyadarinya....” ujarnya tiba-tiba.
“Tidak.. dari dua tahun yang lalu hingga sekarang, saya sudah bertingkah bodoh kepada Anda, maafkan saya,” ucapnya sembari memalingkan wajahnya, tampaknya Reygan juga bersikeras menyembunyikan raut wajahnya sendiri.
perempuan itu hanya menanggapinya dengan tawaan sinis. “Apa dengan anda yang berkata seperti ini saya akan memaafkan anda begitu saja?” tanyanya tak habis pikir.
‘Terlebih, kamu dengan dinginnya membiarkan Lucy mati terbakar hidup-hidup....’
‘Walaupun itu bukan kehidupan saat ini....’
“Aku memang tidak pantas menerima kata maaf darimu.” Pria itu terlihat murung dengan responnya yang seolah terluka. Oleh karena itu hal ini membuat Lucy cukup kebingungan, sebenarnya kenapa Pria ini bertingkah seolah enggan membahas masa lalu ini? Setiap kali ingin menguak masalah itu, Pria itu hanya termenung dengan sorot mata yang sedih.
‘Anda hanya perlu mengatakan alasannya.. kenapa sesulit itu?’ batinnya yang merasa janggal.
Suasana yang awalnya mulai mencair kini kembali hening seperti semula. Mereka menghabiskan perjalanannya menuju kamar Lucy hanya dengan terdiam membisu ditemani keheningan yang melanda. Canggung.... entah kenapa rasanya situasi saat ini terasa canggung, ia pun memikirkan beribu kata dan pertanyaan untuk dapat keluar dari situasi seperti ini, namun pada akhirnya lagi-lagi dirinya merasa buntu.
‘Aku sepertinya telah merusak suasana ya?’
Perempuan itu terlihat menghela nafas, ia berkata ingin turun saat ini juga, namun Reygan enggan mengabulkan permintaannya. Pada akhirnya, dengan sifat Reygan yang keras kepala, ia berhasil menggendong Lucy hingga ke tepian tempat tidurnya kemudian menyuruh gadis itu berbaring.
“Saya bukan anak kecil Yang Mulia!” cercanya ketika Reygan mencoba menyelimutinya.
“Diamlah bodoh.”
Ohok..
“Saya tidak salah dengar? Kenapa rasanya saya seperti muntah darah?!” kesalnya dengan tatapan tak percaya. Kali ini Reyganlah yang terlihat menghela nafas berat, Pria itu bangkit dan mengecup kening Lucy dengan lembut. “Tidurlah,” perintahnya sembari mengusap puncak kepala Lucy.
“Yang Mulia, saya bukan anak kecil!!” protesnya sebal, ini merupakan potret seorang Ayah yang menyuruh Putri kecilnya untuk segera tertidur.
“Lain kali, Lucy jangan sok-sok an mengalah tidur di sofa ya kalau sendirinya gampang sakit seperti ini,” cibirnya yang entah kenapa diiringi perasaan menyindir.
Blushh..
__ADS_1
‘Tidur di sofa.. kemarin.. h—HAH?!’
“Apaaa?! Jadi kemarin anda benar-benar menginap dikamar saya?!” tanyanya kesal.
‘Flona sialan?! Dia bilang kemarin tidak ada siapa-siapa tuh?! Berani-beraninya dia—’
“Ya sepertinya begitu.. saya tidak menyangka Lucy mencoba menyentuh tubuh saya ketika saya tak sadarkan diri....” lirihnya yang seolah-olah merasa tersakiti. Lalu kenapa raut wajah Pria itu terlihat ingin menangis begitu sih?!
Pshhhh....
“APAAA?! Asdfghjkl @%^&*!” gadis itu memerah padam dibuatnya, jadi saat ia mendengar lantunan ‘Jangan Pergi Lucy....’ Pria itu memang benar-benar sudah sadar sepenuhnya?!
*Note : Kalau lupa di [Chapter 16]
“Tidak-tidak! Anda kan mabuk!” bantahnya merasa tak setuju. Lagi pula saat itu ia hanya menyentuh helaian rambutnya, dan....
“Tentunya ketika Lucy menyentuh kepalaku, pengar itu terasa hilang dalam sekejap. Sihir yang luar biasa....” jawabnya diiringi senyuman tanpa rasa bersalah.
“APA?! JADI ANDA PURA-PURA TIDUR?!” amuknya yang merasa malu setengah mati.
“Kenapa Lucy mencoba menyentuh dada saya.... Lucy ternyata bertingkah nakal hanya ketika saya tak sadarkan diri ya....” tuturnya diiringi senyuman tak biasa, ia memasang raut wajah aneh dengan senyuman miringnya, dengan perlahan jemari tangannya yang kekar kini terangkat meraih helaian surai blonde itu kemudian menghirup aromanya dan menciumnya.
“Wangi Lemon?” ujarnya yang lumayan takjub setelah menciun wewangian lemon dari rambutnya, tidak.. saat menggendongnya tadi rupanya wangi lemon itu berasal dari tubuhnya.
“Flona bilang, agar saya dapat merasa lebih rilex dan segar.... makanya dia memberikan wewangian ini untuk saya.” jelasnya sembari merebut kembali helaian rambut yang diambil olehnya tadi.
Pria ini seketika duduk di pinggiran tempat tidurnya kemudian menatap matanya dengan dalam. “Jadi begitu, lantas dengan seperti apa kamu bisa menjelaskan perbuatanmu kemarin?” tuturnya diiringi mata yang tersenyum
“Dasar licik!” Decihnya sembari menutupi wajah merahnya di balik telapk tangan yang mungil.
“Lagian Sa— saya hanya ingin mendengar detak jantung Yang Mulia tuh! Kenapa malah jadi begini!!’ omelnya yang merasa dibuat kesal. Lebih tepatnya Lucy merasa malu ketika semua tingkah dan ucapannya tertangkap basah oleh Pria itu.
Reygan hanya terkekeh puas ketika melihat reaksi Lucy yang sesuai dengan dugaannya. “Lucy.... jadi Lucy mulai percaya kepada saya ya,” tanyanya tiba-tiba, entah kenapa raut wajahnya saat ini terlihat tenang dan bernafas lega.
‘Euhh Sial, kenapa dia harus mendengar ucapan ku yang itu sih....’
Wajahnya kini tiba-tiba murung dan menatap lesu, kali ini ia bersuara tanpa tenaga. ‘Yasudah, sudah ketahuan begini bagaimana caranya mau mengelak.’ ungkapnya dalam hati.
“Jika anda berharap saya dapat memercayai Yang Mulia.... setidaknya beri alasan kepada saya.... kenapa anda bersikap seolah membenci saya selama dua tahun ini? Lantas kenapa anda tiba-tiba berubah dan bersikap hangat kepada saya?” tanyanya yang entah kenapa berubah menjadi emotional.
Angin malam yang berhembus melalui sela-sela udara serta pergerakan tirai yang terhempas angin cukup membuat suasananya menjadi sunyi dan sepi.
Iris mata coklatnya kini tampak memerah dengan sesuatu genangan yang tidak dapat dibendung lagi dalam pelupuk matanya. “Apa hanya saya yang salah mengira bahwa anda mencintai saya?” lirihnya ditemani tetesan air mata. Ia tidak tahu mengapa, tapi dirinya saat ini merasa terpuruk dan hanya ingin menangis. Lucy kini hanya terisak sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.
‘Kenapa rasanya sakit sekali....’
Mengingat semua kejadian menyakitkan itu yng diberikan Lucy lewat mimpi, mengingat betapa tersiksanya ketika mati secara perlahan dengan lahapan api yang membakar tubuhnya, mengingat dengan seperti apa raut wajah Reygan yang ia lihat untuk terakhir kalinya saat itu, walaupun itu hanya mimpi.... namun semua perasaannya saat itu terasa nyata rasa sakitnya yang tiada duanya itu....
‘Saya benci dengan perasaan terombang-ambing begini.. jika anda benci saya, setidaknya katakan sedemikian. Saya takut dengan perasaan hangat yang Anda berikan, Yang Mulia....’
“Lucy....” tuturnya dengan jemari yang terangkat untuk mengusap air matanya, “jangan menangis,” lanjutnya diiringi mata terpejam, yang tersiksa saat ini hanyalah raut wajahnya yang dipenuhi rasa bersalah.
“Maafkan aku.... saat itu aku terlalu syok atas kematian Lyonora....” ungkapnya dengan raut wajah yang murung. Yang tersisa saat ini hanyalah perasaan rasa bersalah yang begitu besar kepadanya.
“Hal ini membuatku keliru…. Dan sulit untuk—” ucapannya kini terhenti, netranya terlihat bergetar dan memerah, apa mengatakan hal ini juga terlalu berat untuknya? Pria itu kin hanyai memeluknya diiringi tumpukan rasa bersalah. “Maaf, saat itu aku sulit untuk mempercayaimu....” ujarnya yang entah kenapa sedari tadi permpuan itu hanya terdiam mematung.
Netranya berguncang ketika mendengar nama itu tersemat dimulut Pria itu, nama yang terdengar Familiar dan juga entah kenapa terasa asing untuk disebutkan, namun disisi lain ia juga merasa akrab ketika mengucapkan namanya.
“Lyonora?”
Deg..
Deg..
***
“Lucy! Kemarilah!” Sahutan seseorang dengan lantunan nada yang begitu indah untuk di dengarkan. Perempuan itu tersenyum begitu manis ketika memanggil namanya. Sedangkan gadis yang merasa terpanggil itu hanya tertawa sumringah dan berlari kearahnya.
“Kakak!”
__ADS_1