
Ini memanglah hal yang tidak pernah Lucy duga sama sekali, bagaimana bisa seorang penyihir pemurnian memiliki suatu ikatan hubungan pertemanan dengan seorang Penyihir kegelapan yang sifatnya sangat bengis dan kejahatannya bahkan sampai ke akar-akar?
Ia selalu berpikir bahwa mereka adalah musuh bebuyutan karena sejak awal kekuatan sihir mereka yang bertolak belakang, jika mendengar lantunan Iris yang mengatakan “Temannya.” berarti pertempuran mereka saat itu bukanlah awal dari pertemuan pertama mereka.
“Lantas kapan mereka bertemu hingga hal apa yang membuat mereka bisa dikatakan sebagai teman maupun sahabat? Lalu.. mengapa Iris mengatakan bahwa Lucia telah membuangnya? Aku tidak mengerti sama sekali.” gumamnya disela kegelapan yang telah merangkak dan memeluk tubuhnya hingga terjatuh semakin dalam.
Oh tidak..
Ia merasa cahaya kecil yang membawanya pada mimpi aneh itu semakin menjauh. Lucy hanya tertegun dan meneguk ludahnya sendiri ketika telah menyaksikan mimpi panjang yang menyakitkan
“Aku tidak tahu.. mengapa aku harus memimpikan hidup Morticia yang hanya pernah kubaca lewat buku...” ujarnya seraya memejamkan matanya.
Walaupun ini dunia mimpi, semilir angin yang menerpa kulit putihnya benar-benar terasa nyata. Ia mengeluh dan ingin berteriak, ia juga ingin berteriak dan menangis. Terjebak di tempat ini benar-benar mengerikan, sekalipun ini hanya mimpi.. ini benar-benar mimpi buruk yang membuat dirinya merasakan apa yang dirasakan Morticia sebagai acuan penderitaan hidupnya.
“Walaupun hanya mimpi.. kenapa aku bisa merasakan betapa lelahnya hidup beratus tahun hanya untuk menyaksikan satu per satu dari orang terdekat mu pergi..” Bersamaan helaan nafasnya yang berat, kaki tak beralas itu kini melangkah untuk menghampiri pintu bercahaya yang seperti tidak berujung itu.
Apa akhirnya aku bisa kembali? Aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini.. Yang Mulia.. Flona.. Sir Emillo? Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku..
Kenapa aku harus memimpikan Morticia..
“Ehh..” Sesaat gadis itu terlihat linglung, dengan segenap kekuatannya kini ia menjatuhkan dirinya di bawah ruangan putih yang bersinar terang tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.
Ini masih di mimpi.. tapi..
Lucia de Lamorrie Ticya.. aku menyadarinya bahwa Yang Mulia Raja terdahulu mempersingkat namanya dengan memanggil Penyihir itu menggunakan nama Morticia.
__ADS_1
Benar.. lantas mengapa namaku harus Lucy yang teramat dekat dengan nama Lucia?
Benarkah bahwa dirinya merupakan seorang reinkarnasi dari Penyihir Abadi yang telah lama tiada itu? Jika itu benar adanya.. semua kebencian yang selalu Shyera siratkan kepadanya bukanlah kebohongan.. semuanya menjadi masuk akal jika perempuan itu mengharapkan dirinya mati. Karena Penyihir kegelapan yang memberikan kekuatannya kepada Sheyra sangatlah membenci Lucia.
Namun apa yabg tersisa dari itu semua? Memangnya hal kejam apa yang telah diperbuatnya hingga menyisipkan rasa kebencian dari seseorang yang bahkan tidak pernah ia kenali secara langsung? Ia hanya bisa terbujur pasrah sembari memeluk lututnya dengan erat.
Lagi pula..
“Siapa yang akan percaya bahwa kehidupan ku yang sebelumnya ternyata seberat itu. Sangat mengerikan, semua yang kubayangkan lewat catatan sejarah yang panjang itu kini benar-benar terjadi dan tergambar dengan nyata di depan mataku. Oh.. katakan seberapa menderitanya hidupmu Morticia..” tukasnya yang diakhiri dengan tawaan janggal.
Ia merasa tak habis pikir dan mempertanyakan mengapa dirinya merasa tersiksa ketika harus menyaksikan segala ingatan yang mungkin telah terkubur dalam waktu yang lama.
Tetap saja, mau dikatakan mimpi ataupun ingatan. Semua itu tidaklah masuk akal. Kenapa mantan penyihir menara mengatakan bahwa jiwanya merupakan jwa yang sama dengan Lucy, ia saja belum bisa menerima kenyataan itu dengan lapang. Lantas mengapa kini sampai semua bangsawan memanggil namanya Lucia dan menyatakan bahwa dirinya merupakan reinkarnasi dari seorang Penyihir Abadi?
Tidak cukupkah dunia ini mempermainkan hatiku sekali saja?
Dibalik air mata yang selalu turun tanpa diperintah, kini wajahnya terangkat untuk memperhatikan pintu itu dari jarak jauh. Benar, sepertinya pintu keluar itu masih jauh.. mau aku melangkah dan berlari sekalipun.. aku tidak akan pernah sampai.
Terjebak di tempat ini membuat seluruh tenaga ku terkuras habis. Lagi pula, mau Morticia maupun Lucia.. anda ini siapa dan apa hubungannya denganku?
“Lucy.. kembalilah.. kumohon..” Panggilan seseorang yang hangat kini membuat sepasang tali berwarna merah muncul di genggamannya.
Tali yang panjang itu kini menuntunnya hingga sampai kepada pintu yang terasa tidak berujung itu, hatinya teramat bersyukur dikala kehangatan seseorang yang terpancar telah membawanya dirinya kembali untuk segera terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan.
Oh.. ternyata Rey menungguku. Hal sederhana yang kamu lakukan ini benar-benar berarti untukku. Terimakasih telah membawaku kembali.. suara mu yang hangat menjadi jalan penuntun ku untuk kembali.
__ADS_1
...***...
Dibawah cahaya remang yang berasal dari lampu tidurnya, kini Lucy membuka kelopakmatanya dengan perlahan seraya memperhatikan kesana kemari agar bisa beradaptasi karena telah tertidur untuk waktu yang lama.
Baginya, ini merupakan ruangan yang tidak asing. Jika diperhatikan ternyata ini memang kamar tidurnya di istana Cathalia. Ia sedikit bertanya-tanya, apakah di sepanjang mimpinya tubuhnya hanya terbaring dengan lemah seperti ini? Ini memang aneh, tubuh Lucy yang tidak pernah digerakkan membuat seluruh otot syarafnya terasa kaku sehingga ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sesuai intruksinya.
Jadi sebenarnya berapa lama aku tekah tertidur?Walaupun begitu, setidaknya mimpi buruk yang panjang itu telah berakhir.. dan itulah mengapa aku bisa bernafas dengan lega.
Sekilas Lucy terhanyut pada lamunannya sendiri, namun usapan lembut yang mententuh kening sang gadis kini berhasil membuatnya terperanjat dan menoleh kearahnya. Rupanya, disamping sang gadia ada seseorang yang telah menunggunya dengan khawatir.
Oh..
“Cesarre?” tanyanya dengan bingung.
Benar, ini adalah pertanyaan kecil yang tidak pernah terjawabsekalipun. Karena sejak bermimpi, Lucy hanya bersemayam dalam sudut pandang Morticia yang membuat gadis itu tidak pernah tahu bahwa wujud penyihir itu seperti apa. Disamping dirinya yang selalu meliat Reygan di sampingnya, mungkin ia telah memimpikin masa lalu Lucy yang lainnya.
Walaupun hatinya ingin berteriak memanggil namanya, yang selalu keluar di bibirnya hanyalah nama asing yang tidak pernah ia sebutkan sekalipun. Benar, walaupun ia ingin memanggik Rey dengan hangat, dirinya hanya bisa mengatakan Cesarre yang baginya terasa amat canggung untuk disebutkan.
Kupikir kenapa aku memimpikan sosok Cesarre dengan wujud sepertimu.. ternyata yang kumimpikan memang bukanlah kehidupan Lucy yang lain, melainkan ini memang kehidupan malang yang menimpa Morticia.
Disisi lain, ketika pertama kalinya sang tunangan terbangun dari tidurnya, wajahnya berkerut ketika apa yang pertama kali ia dengar dari tunangannya yang tertidur selama 3 bulan malah memanggil nama dari Pria lain. Namun jika diperhatikan dengan jeli, ternyata Lucy memanggik nama Raja terdahulunya.
Cesarre Garfield, yang sukses membuat dirinya patah hati. Walaupun begitu, cahaya yang berkilau dari netra sang gadis benar-benar membuat Pria itu terdiam seperti patung seolah telah terhipnotis olehnya.
“Matamu.. ada apa dengan matamu..”
__ADS_1