
“Lucy.” Seseorang telah memanggil namanya yang entah kenapa suaranya itu terasa begitu akrab ketika menyematkan nama ‘Lucy’ di bibirnya.
‘Perempuan ini siapa? Apa aku salah mengira…. tatapan nya yang hangat itu terkadang terlihat mengerikan di saat yang bersamaan...’ batinnya kebingungan.
‘Aku merasa jatuh…. dan jatuh semakin dalam. Ruangan hampa dan gelap menghampiri ku lagi. Apa aku tak sadarkan diri? Bagaimana reaksi Reygan yang saat ini ada di depan ku ya? Kenapa Lucy tiba-tiba membawaku kemari? Apa karna aku baru mendengar nama itu ya?’ tuturnya dalam hati, perempuan itu hanya menatap kebingungan ketika melihat kondisi yang tiba-tiba seperti ini.
Ia mengoceh kebingungan, ‘Kali ini aku muncul sebagai penonton ya. Ini di mimpi?’ begitu pertanyaannya.
Baiklah, Lucy terlihat baik-baik saja. Saat ini ia hanya menjadi sosok manusia transparan yang keberadaannya tidak terlihat oleh siapapun. Ketika diberikan mimpi seperti ini, perempuan itu hanya diam, menonton, dan mengekori kemanapun mereka pergi. Ya, mereka semua yang menjadi pemeran utama di mimpi ini.
Saat ini, ia melihat Lucy yang tengah berlarian bersama seekor anjing yang lucu di taman istana, disebuah tempat yang menurutnya tidak begitu asing ini.
Netranya yang berwarna coklat itu kini teralih menatapi sumber suara yang memanggilnya dengan alunan nada lembut, dibawah pohon yang disinari cahaya matahari itu, terdapat seseorang yang tengah menatapnya dengan senyuman paling merekah di dunia. “Kakak!” seru gadis itu. Ya, ia merupakan Lucy Barayev yang dapat diperkirakan tengah berusia 8 tahun.
“Kemarilah, pelayan membawakan camilan untukmu.” tutur perempuan itu yang tengah membaca buku di bawah pohon.
“Baiklah.” Gadis itu menurut kemudian berlari kearahnya.
“Andaikan kakak selalu seperti ini kepadaku.” ucapnya yang teramat pelan. Disana, tidak ada siapapun yang menyadari lanturannya karena gadis itu berbicara dengan teramat pelan.
Gadis dengan surai orange disertai netra berwarna ruby itu merupakan Lyonora, kakak yang berslisih umur 2 tahun darinya. Parasnya yang sangat rupawan merupakan turunan dari Countest Rosella, walaupun sebenarnya Lucy sendiri belum pernah melihat wujud ibundanya secara langsung.
Derap langkah seseorang yang semakin mendekat kini terdengar ditelinganya, “Lucy, ayo pergi denganku,” ajak seseorang tiba-tiba. Ia merupakan Putra Mahkota yang tampaknya menghampiri mereka setelah berlatih pedang.
“Rean!” seru gadis itu usai memakan cake strawberry mini yang diberikan pelayan tadi. “Haha, makan yang bener dong,” celotehnya sembari mengusap sisa makanan di ujung bibir sang gadis. Lucy hanya terdiam kikuk menerima perlakuan Reygan yang selalu hangat seperti biasanya.
“Selamat siang Yang Mulia.” Gadis bernama Lyonore itu kini tengah menyapa Reygan dibarengi etiket yang sangat baik usai menundua buku yang tengah ia baca.
“Siang,” responnya yang entah kenapa terlihat tidak tertarik.
“Kita mau kemana Rean?” tanya Lucy dengan polosnya ketika melihat pergelangan tangannya ditarik oleh anak muda berusia 10 tahun itu.
“Ayo kita bertemu Yang Mulia Ratu dan minum teh disana!” ajaknya dengan tatapan yang semangat.
“Baik~” lirih Lucy yang terlihat senang, kepergian mereka seolah melupakan keberadaan seseorang dibelakang. Ya, keberadaan Lyonora yang seolah tak dianggap disana.
“Yang Mulia, tunggu say—”
__ADS_1
“Aku tidak berniat mengajakmu,” ketusnya bernada tajam. Gadis itu tersentak kemudian menghentikan langkahnya. “Bagaimana bisa Yang Mulia berkata seperti ini kepada saya? Anda menunjukkan seolah lebih menyukai bersama Lucy ketimbang bersama saya.” Gadis berusia 10 tahun itu kini terlihat murung ketika mendapatkan perlakuan seperti ini.
“Jika aku berkata iya, kau akan bagaimana?” tanyanya dengan sorot mata tak suka. Walaupun bocah lelaki itu sama halnya berusia 10 tahun, tapi tatapan mengintimidasinya bukan main-main, Lyonora yang berdiri dihapannya saja cukup dibuat merinding saat melihatnya.
“Tapi saya tunangan anda Yang Mulia…..” tuturnya yang merasa tak adil dengan sikap Reygan saat ini.
“Aku terpaksa memilihmu karna kamu merupakan Putri tertua dari Count Barayev, jadi jangan berharap lebih, dan jangan melebihi batas.” cibirnya yang merasa tak senang akan hawa keberadaan Lyonora.
“Tapi Rean, yang dikatakan kakak benar. Anda tidak boleh seperti ini, saya kan hanya teman bicara Rean.” tutur Lucy yang mencoba membenahi diantara mereka berdua. Bukannya Lyonora merasa tenang, lantas saat ini ia dibuat semakin berapi-api kepadanya. “Jaga ucapan mu Lucy! Berani-beraninya kamu memanggil Yang Mulia dengan—”
“Tutup amarahmu! Simpan semua paksaan mu itu, aku sudah muak!” potong Reygan dengan tatapan yang kesal. Lucy yang saat ini hanya berusia 8 tahun tidak begitu mengerti dengan pertikaian mereka. Hanya saja perasaaanya merasa dirinyalah yang seorang pengganggu disini, ia merasa tidak mungkin terus-terusan berada di antara mereka, merasa paham akan situasinya yang mengharuskan pergi dari tempat ini. Ia pun tertunduk dan memberi salam kepada Yang Mulia di depannya.
“Mohon maaf saya undur diri Yang Mulia, saya lupa hari ini ada kelas etiket dirumah.” Pamitnya diiringi jemari lentik yang menarik gaunnya. Tak lama kemudian kedua kakinya melangkah pergi untuk meninggalkan mereka berdua.
‘Situasi apa ini? Ya.. memang benar, seharusnya sejak awal yang bertunangan dengan Putra Mahkota adalah Lyonora, dan bukan Lucy.’ tutur batinnya yang tengah menanggapi kejadian ini.
‘Jadi ini ya, yang berhubungan dengan kejadian 2 tahun yang lalu. Apa alasan kakak mati ya? Di novel cerita tentang kakak tidak begitu dijelaskan... hanya diberitahukan bahwa Lucy bertunangan untuk menggantikan kakaknya yang sudah tiada..’ pikirnya tiba-tiba.
Ia bertanya-tanya, apa kejadian ini ada sangkut pautnya dengan perubahan Reygan sejak 2 tahun yang lalu itu?
Jika diperhatikan, tampaknya pernikahan karena alasan kebangkrutan Count Barayev merupakan hanya rumpr semata, dilihat dari usia Lyonora yang masih berumur 10 tahun tapi iq sudah bertunangan dengan Putra Mahkota.
‘Apa itu hanya dalih yang dibuat-buat saja?’ tanyanya penasaran
*Note : [Chapter 1]
“Jika bukan karena keharusan, aku tidak mungkin memilihmu.” tukas Reygan bernada datar, tak lama kemudian anak muda itu bergegas meninggalkan taman sembari membawa anjing mungilnya dan meninggalkan Lyonora sendirian.
‘Perkataan anda jahat sekali.. anda bertingkah seolah lebih menyukai Lucy ketimbang tunangannya sendiri.’ batinnya yang merasa aneh.
Iris Ruby itu terlihat bergetar melihat perlakuan tunangannya yang begitu dingin seperti ini. “Yang Mulia…. bagaimanapun anda akan tetap menikahi saya, karena anda membutuhkan seorang Ratu yang mengalir darah penyihir di tubuhnya.” usai mengatakan kalimat itu, ia tertawa puas seolah merasa semua kendali masalah ini tergenggam rapat ditangannya.
‘Raut wajahnya.... mengerikan.’
KYAA!
‘Apa ini? Langsung pindah tempat begitu saja,’ tuturnya sembari menatap kesana kemari. Kini telapak kakinya yang transparan tengah menapak diatas lantai rumah yang tak asing untuknya. Ini kediaman Count? Begitu pikirnya.
__ADS_1
Jeritan yang memekik di telinga tadi merupakan rintihan Lucy yang merasa kesakitan ketika helaian rambutnya di tarik paksa. Ini merupakan tingkah laku Lyonora yang merupakan kakak kandung dari Lucy Barayev. “Hentikan kakak…” lirihnya yang merasa tak kuasa lagi. Alih-alih menuruti keinginannya, gadis itu malah semakin senang menganiaya sang adik.
“Jelaskan, kenapa Yang Mulia memberikan surat ini kepadamu dan bukan aku?!” ucapnya yang dipenuhi rasa murka. Saat ini, dikediaman Count hanya ada para pelayan disana, pelayan yang tidak sengaja melihat dan mendengar memilih memutar balikkan arah dan pergi meningalkan tempat seolah tidak pernah melihat apapun.
Mereka pikir jika saat ini membantu dan mengganggu Nona Lyonora yang sedang mengamuk, itu hanya akan membuat mereka di pecat, sedangkan Flona yang merasa situasi ini sering terjadi hanya terduduk pasrah dibalik pintu kamar Lucy yang terkunci rapat.
“Jika kakak mau saya tidak akan menjadi Partner Yang Mulia di pesta ulang tahunnya! Saya tidak pernah meminta hal itu! Saya hanya menerima surat dari Yang Mulia!” bantahnya sembari mencekal pergelangan tangan kakaknya yang tiada henti menjambaki rambutnya.
“Ugh....”
Tamparan keras kini mendarat di pipinya yang menyisakan bekas kemerahan, wajah gadis itu kini membeku dengan kepala yang berdengung keras. Ia hanya berkali-kali menanyakan hal yang sama dikepalanya. Sebenarnya kenapa kakaknya sampai sebenci itu kepadanya? Kenapa kakak yang selalu di hormatinya ini malah menampar dan menyiksanya begini? Kurangkah Lucy dalam menunjukan perasaan dan kasih saying kepada saudari kandungnya ini?
“Penjelasanmu membuatku semakin kesal.” tuturnya dengan tangan yang kini sibuk meremas rambutnya sendiri.
“Dengar Lucy, aku takan pernah mengizinkanmu untuk mengagumi beliau lebih dari sekedar teman dekat. Aku harap setelah pesta lusa nanti, Lucy yang manis ini berhenti menemui Yang Mulia ya.” Pintanya yang tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi wanita yang paling lembut dan anggun, kedua tangannya kini menepuk bahu Lucy dan mengusap lembut puncak kepalanya.
“Tapi saya teman bicara Yang Mulia… bagaimana jika beliau—”
“TEMAN BICARA APANYA?! YANG MULIA SUDAH BERUSIA 17 TAHUN! TIDAK MUNGKIN KALIAN AKAN BERMAIN RUMAH-RUMAHAN SEPERTI DULU KAN?!” bentaknya tepat disamping telinga Lucy.
Gadis itu hanya diam dengan telapak tangan yang terangkat untuk menutup telinganya rapat-rapat. Tubuhnya terlihat gemtetaran, sepertinya ia merasa takut dengan kakaknya sendiri. Netra coklatnya terlihat bergetar seolah menahan tangisannya yang tak ingin pecah begitu saja. Jika perhatikan seperti ini, tingkah Lyonora sudah seperti orang gila, bukan?
Jika Yang Mulia berusia 17 tahun, berarti saat itu Lucy berusia 15 tahun. Tampaknya tragedi 2 tahun lalu yang disebutkan Sheyra saat pesta pertunangannya itu akan segera dimulai ya? Pikir Lucy dalam hatinya.
Bagaimanapun sorot mata Lyonora ketika memandang Putra Mahkota bukanlah sorot mata yang sedang jatuh cinta, itu hanyalah sorot mata yang dipenuhi rasa obsesi dan haus akan kekuasaaan. Berbeda dengan Lucy yang menyukai Putra Mahkota secara tulus namun ia rela mengalah demi kakak tercintanya, tapi perlakuan yang ia dapat hanyalah penyiksaan seperti ini. Ayah yang sibuk bekerja dan tidak pernah pulang kerumah itu tak pernah tahu akan kejadian dan penderitaan Putrinya sendiri.
Setiap kali Flona menangis di hadapannya dan meminta untuk mengadukan perlakuan ini kepada sang Ayah, respon Lucy hanyalah terkekeh merasa perkataannya sangat membosankan. “Apa ayah akan peduli kepadaku? Ayah yang jarang di rumah itu? Haha…. aku sudah muak Flona,” tuturnya tanpa raut wajah.
Flona hanya memeluknya diiringi isak tangisan yang tak kunjung berhenti, ia berpikir bagaimana bisa Nona yang kakinya habis dicambuki beberapa kali ini hanya diam memasang wajah datar? Bukankah seharusnya ia menangis tersedu-sedu?
“Flona, apa saya akan berdosa jika membenci kakak saya sendiri?” tanyanya sembari membalas pelukan hangat dari Flona.
“Nona.. jika anda ingin menangis.... maka menangislah....” pintanya sepenuh hati, namun gadis itu malah terlihat berdecih. “Menangis ya?”
Pada akhirnya hari perayaan ulang tahun Putra Mahkota yang ke 17 pun tiba, dengan kondisi yang tidak baik itu, ia terpaksa mendatangi pesta ulang tahun teman terbaiknya, Putra Mahkota dengan pergi duluan terlebih dahulu menggunakan kereta kuda keluarga Count.
Saat kereta kuda istana tiba menghampiri kediamannya, gadis yang turun dari tangga itu ialah Lyonora yang bersiap menjadi partner tunangan tercintanya. Reygan yang sudah sampai untuk menjemput Lucy hanya terbujur pasrah dan menerima uluran Lady dibelakangnya ini. Bagaimanapun demi sebuah tatakrama kerajaan, ia tidak mungkin untuk meninggalkannya di posisi yang seperti ini.
__ADS_1
Hanya saja sungguh di sayankan, pesta yang awalnya digelar untuk rasa berbahagia itu malah berakhir dengan tragedi mengenaskan yang menimpa Lady Lyonora, sekaligus gadis yang memiliki status sebagai tunangan Putra Mahkota.