Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 34 : Kesalah Pahaman


__ADS_3

Suara dari roda kereta yang berputar cukup memenuhi di situasi yang hening seperti saat ini. Reygan dan Lucy saat ini hanya diam dengan pikirannya masing-masing. Beberapa kali Pria itu menoleh kearah Lucy, namun balasannya hanyalah Lucy dengan memalingkan wajahnya kearah jendela kereta kuda. Gadis itu hanya berdiam dan terhanyut dalam lamunannya.


Aku tahu pada akhirnya sifat Reygan bisa sampai berubah-ubah seperti itu pasti karena sihir pemikat iblis sialan itu. Untuk apa sebenarnya dia mengincar aku dan Reygan sampai seperti itu? Apa ada sesuatu yang kulewatkan? Sejarah tentang penyihir kegelapan tidak begitu banyak di perpustakaan.


“Lucy. Kamu marah?” tanya Pria itu ragu-ragu.


“Hmph.” Dia tidak mau menjawab selain mendiamkannya. Bibirnya terlihat mengerucut pertanda sebal.


Aku juga mengerti, Reygan tak bermaksud bersikap seperti itu. Tapi kenapa aku sampai sekesal ini sih?!


“Sejak kapan kamu tahu?” tanya Pria itu tiba-tiba. Wajanya kini menoleh kearahnya, akhirnya Lucy mau menatapnya setelah satu jam perjalanan berlalu.


“Tentang anda yang terkena sihir pemikat?” tanya gadis itu bernada datar.


“Benar, tapi sihir itu bisa menghilang jika Lucy menyalurkan sihir pemurnian kepada saya.” jelas Pria itu sembari membenamkan matanya.


Gadis itu kini menatapi kedua telapak tangannya dengan tatapan kebingungann. “Apa perubahan sikap anda karena setiap kali saya menyentuh anda? Tapi— bagaimana bisa.. saya bahkan tidak pernah menggunakan sihir pemurnian kepada anda?!” tuturnya yang masih saja tidak percaya akan situasi seperti ini.


“Kenapa seorang penyihir genius mengatakan hal dasar begitu? Sihir bagi seorang penyihir sudah seperti bernafas dalam kehidupan sehari-hari. Kamu tanpa perlu memerintahnya juga sudah pasti sihir itu akan bereaksi dengan sendirinya.” Usai menghela nafas ia menjelaskan dan menjawab semuanya dari pertanyaan Lucy. Hingga kini iris ruby itu menatap lekat kepadanya.


“Apa.. ini ada hubungannya dengan ingatanmu yang hilang?” tanya Pria itu benar-benar serius. Gadis itu yang merasa gugup kini menjawab sembari memalingkan wajahnya.


“Se—sepertinya begitu.” Spontan gadis itu berpaling diiringi wajahnya yang berkeringat dingin.


Ini karena aku benar-benar tidak tahu! Akhir-akhir ini aku juga tidak mempelajari sihir maupun teori tentang sihir karena terpaku pada pesta kedewasaan Sheyra.


“Jadi, bagaimana caramu menyadari semua ini?” tanya Reygan lagi. Sepertinya ia takan melepaskan pertanyaan ini begitu saja.


Matanya tampak sayu, ia memandang Reygan dengan penuh rasa kekecewaan. Disisi lain ia merasa sangat lega bahwa kenyataannya dia tidak pernah membenci Lucy sebegitunya.


Pada saat Lucy hendak kembali ke aula pesta, Sir Emillo mencekal pergelangan tangannya lalu memberitahukan sebuah rahasia yang masih menjadi ansumsi kecil menurutnya.


Katanya, sebelumnya ia pernah mengumpulkan segala niat dan hati untuk menanyakan hal ini kepada Reygan soal pandangannya ketika melihat Sheyra dari dekat. Ajaibnya jawaban itu benar-benar menjadi petunjuk dari semua pertanyaannya selama ini, apalagi ini benar-benar berkaitan dengan sesuatu yang ia tentang Sheyra kepada beberapa seorang informan.


Usai mengumpulkan keberaniannya, Crylo tampak menanyakan hal ini kepadanya. “Yang Mulia, sebenarnya apa yang membuat anda begitu tertarik kepada Lady dari keluarga Baron itu?” tanyanya benar-benar penasaran. Padahal disamping Pria itu ada seorang gadis yang mencintainya dengan begitu tulus kepadanya.


“Aku tidak tahu, jika berada di dekatnya.. ia sangat berkilau dan bersinar seperti perhiasan. Ketertarikannya benar-benar membuatku seolah tiada seseorang yang semenarik dirinya di dunia ini, anehnya jika aku bersamanya dan melihat Lucy di sekitarku.. perempuan itu benar-benar terlihat tidak menarik dimataku.” jabarnya dengan perasaan aneh yang memenuhi benaknya selama ini.


“Anda hanya menyukai fisik mereka ya?” celetuknya menatap pemuda itu dengan tatapan jijik.

__ADS_1


“Hey jangan tatap aku seperti bajingan begitu dong!” protesnya yang merasa tak suka, berselang kemudian sebuah benjolan besar muncul di kening ksatria itu.


“Maafkan saya. Saya hanya bercanda.” seriusnya sembari berdiri tegap dibelakangnya.


“Intinya, yang kurasakan ketika melihat Sheyra hanyalah perasaan yang hanya ingin memperhatikan dan melindunginya. Terkecuali jika ada Lucy yang menggenggam erat tanganku, rasanya aku benar-benar bisa berpikir jernih. Dia bersinar seperti malaikat, auranya yang terlihat positive benar-benar membuatku berpikir, bagaimana bisa aku tertarik kepada seseorang dengan senyumam yang mengerikan seperti Sheyra?” tanyanya sembari menatap hangat kearah telapk tangannya.


Setiap hari kepalanya penat dipenuhi rasa sakit yang luar biasa. Namun tiap kali ia bertemu dengannya seolah ia disembuhkan dari rasa sakitnya. Sentuhan tangan Lucy benar-benar membuatnya merasa hidup.


“Sebenarnya sakit kepala anda ini terjadi sejak kapan sih?” tanya Sir Emillo benar-benar penasaran.


“Itu… sepertinya sejak pemakaman mantan tunanganku.” jawabnya yang sukses membuat kedua bola matanya tergerak.


Itu berarti saat ia bertemu dengan Nona Chevelle untuk pertama kalinya kan? Aku tidak tahu harus berkata seperti apa lagi, tapi kurasa wanita itu menyihir Yang Mulia sehingga tidak bisa berkutik ketika di depannya, itu berarti.. Nona Lucy memberikan penawar kepada Yang Mulia hingga sihir itu bisa terlepas dari tubuhnya.


“Berarti kesimpulannya, anda bisa menjadi diri sendiri ketika berada didekat Nona Lucy kan?” tanya Pria itu yang ingin memastikan asumsinya sekali lagi.


“Hmm, kurang lebih begitu. Lagi pula apa memangnya?” tanya Pria itu penuh kecurigaan. Percakapan ini sebenarnya terjadi pada sehari setelah pertunangan Reygan dan Lucy di gelar di Diamond hall.


Suatu ketika, ia menopang dagunya diatas meja dan bercerita tentang Lucy kepadanya.


“Aku merasa aneh kepada Lucy semenjak kehilangan ingatannya, ia benar-benar seorang wanita yang paling anggun dan elegan di kerajaan ini. Tapi sifatnya itu benar-benar berubah menjadi kasar, ia bahkan sampai menumpahkan wine kepada Sheyra di pesta kedewasaannya.” tuturnya sembari mencoba melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Kini ia menarik pena berbulu kemudian menandatangi beberapa dokumen diatas meja.


Ia pun memikirkan keanehan ini tentang Lucy, usai ia kehilangan ingatannya ia beberapa kali mencobanya mengajak janji temu dan berkirim surat kepadanya. Namun setelah pesta kedewasaannya usai dengan beberapa bulan bulan yang telah berlalu, tak pernah ada lagi surat yang datang atas namanya maupun seseorang yang selalu datang mengunjunginya ketika ia sedang berlatih pedang. Bahkan jika bukan karena panggilan Baginda Raja, ia takan menginjakan kakinya dengan sukarela di istana.


“Anehnya, setelah sekian lamanya tidak bertemu. Kami berpapasan di Ibu Kota, sesuai rumornya, aku melihat pergelangan tangan itu dipenuhi dengan belanjaan. Aku hanya merasa kasihan kepada Count, usahanya bahkan hampir bangkrut. Tapi putrinya tiba-tiba berubah aneh dengan hidup yang boros sampai menghamburkan uang sesuka hatinya begitu. Padahal jika dia ingin seperti itu seharusnya tinggal bilang saja kepadaku.” rajuknya yang kelihatan tidak senang.


“Ia juga tidak berniat mengajak ku berbicara.. setelah menyapa, dia pergi begitu saja.” lanjutnya yang terlihat putus asa, namun hatinya menyadari bahwa perbuatan Lucy memang pantas untuknya.


“Karena dia pasti saja membenciku yang selama ini telah memperlakukan dirinya seperti itu.” racaunya sembari membenamkan kepalanya di atas meja.


Ia berkata, padahal jika dia menginginkan barang mewah atau apapun itu tinggal bilang dan meminta hal ini kepadanya. Ia tidak perlu menyusahkan tuan Count sampai seperti itu. Apa dimata Lucy dirinya tidak begitu berguna? Apa sikapnya yang seperti itu adalah bentuk balas dendamnya kepadaku?


Semua perkataan Reygan yang ia cerna hanyalah betapa Reygan mempedulikan Lucy sebegitunya. Sir Emillo hanya mengukuhkan satu pikiran dihatinya, bahwa Yang Mulia ternyata tidak pernah membencinya.


Beberapa kali juga Lucy memberontak dan mengajukan permohonan pembatalan pertunangan, namun Reygan tidak pernah menyetujuinya. Hingga karena desakan dari Raja akhirnya Lucy mau menerima pertunangan itu dengan terpaksa.


Hingga diakhir kalimat sebelum gadis itu benar-benar kembali keaula pesta, Sir Emillo memberinya pesan untuk, “Pegang tangan Yang Mulia dan alurkan sihir permuni dari tangan anda, saya rasa itu adalah penawar dari sihir pemikat yang diberikan Nona Sheyra kepadanya.”


Karena sihir yang berasal dari kegelapan takan pernah bisa bersatu dengan sihir pemurnian.

__ADS_1


...***


...


“Jadi, Crylo mengatakan hal seperti itu ya.” lirih pemuda itu dengan wajah yang berpaling kearah jendela.


“Cerdik juga dia.” lanjutnya dengan raut wajah yang tidak terlihat. Lucy hanya menatapnya dengan perasaan aneh.


“Dari pada itu, kenapa Yang Mulia tidak pernah mengatakan hal ini kepada saya? Dipesta sebelumnya anda bahkan mengatakan untuk selalu menggenggam tangan anda! Lalu kenapa selama ini anda tidak pernah menjelaskan apa-apa kepada saya?” introgasinya dengan tatapan jengkel.


Ia hanya berpikir bahwa Lucy dan Reygan di novel bisa berakhir seperti itu karena kesalah pahaman yang tidak pernah usai seperti ini? Mendengar perkataan penyihir kegelaan di mimpinya, katanya jiwa yang hancur dan perasaan sedih yang berlarut-larut akan mempengaruhi kekuatan sihir yang dimilikinya.


Apa itu berarti, sampai Lucy mati ia tidak bisa mematahkan sihir kegelapan yang melekat di tubuh Reygan karena rasa amarahnya yang bertumpuk? Soalnya.. mereka kan pasti bergandengan tangan ketika berjalan diatas altar pernikahan bersama-sama. Lalu sampai akhir Pria itu benar-benar tidak bereaksi apapun ketika melihat tunangannya yang di bakar hidup-hidup.


Berbeda dengan ku yang selalu tidak sengaja bersentuhan tangan dengannya, sikap penolakan ku juga selama ini membuat dirinya penasaran. Apa dengan tidak sengaja, sihir permunian ini melumpuhkan kekuatan sihir Sheyra yang sudah ia tanam dari semenjak pertemuan pertama mereka?


“Itu— itu.. aku hanya merasa tidak yakin sebelumnya.” jawab Pria itu yang malah membuat Lucy yang merasa tidak yakin dengan jawabannya.


Lucy hanya menghela nafas dengan berat, “Berarti Yang Mulia tidak pernah membenci saya kan?” tanyanya benar-benar ingin memastikan hal ini sejak lama. Pria dengan surai hitam pekat itu kini tersenyum pilu saat menatapnya.


Ia menggeleng, “Aku tidak mungkin membencimu. Kamu adalah sesuatu berharga yang pernah aku miliki. Mau dimasa lalu maupun sekarang.” jawabnya yang berkesan membingunkan untuknya.


Uhh.. apa memang sampai begitunya? Tapi jika benar begitu.. aku benar-benar birasa merasa lega untuk saat ini..


Hoam..


Gadis itu terlihat menguap dengan perasaan yang mengantuk.. ia juga merasa senang karena akhirnyaa tidak merasa mual ketika menaiki kereta kuda seperti ini. Kantuk yang tertumpuk dipelupuk matanya terasa berat, perjalanan ke istana setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam lagi.


“Kemarilah, aku akan meminjamkan bahuku.” tutur Pria itu dengan tangan yang menepuk-nepuk tempat duduk disebelahnya. Lucy terlihat kikuk saat ini.


“Apa tidak apa-apa?” tanyanya dengan perasaan ragu.


“Memangnya kenapa? Perjalanan masih panjang, kemari dan tidurlah.” ujarnya dengan penuh perhatian.


Ia yang merasa ragu kini memilih mengangguk dan mengiyakan permintaannya. Lucy kini menyender dan pada akhirnya ia tertidur lelap disampingnya.


Reygan saat ini hanya tersenyum hangat dengan jemarinya yang sesekali menyentuh beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Tak lama kemudian tatapan matanya berubah dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah, ia menunduk dan memeluk hangat tunangannya yang sedang tertidur pulas di pelukannya.


“Maaf Lucy..”

__ADS_1



__ADS_2