Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 83 : Kuil Suci (IV)


__ADS_3

Perempuan itu kini merentangkan satu tangannya kedepan dan tak berselang lama percikan keemasan muncul ditelapak tangannya yang kurus. Hingga pada akhirnya Tyson Rose yang merupakan tongkat sihirnya itu muncul dengan perlahan. Ia menyentuh tongkatnya dengan erat dan hati-hati kemudian seperti aturan pada umumnya gadis itu hanya bisa menunjukkan benda itu pada Gabriel.


“Mohon maaf Tuan, siapapun tidak dapat meyentuhnya selain saya, pemiliknya.” tekan gadis itu dengan aura datarnya yang entah kenapa terasa menekan sampai ke ulu hati.


“Ba—baik saya mengerti, lalu lihatlah ini.” ujarnya yang entah kenapa malah kelabakan.


“Ini merupakan batu suci, wadah atau bisa dibilang raga asli dari Penyihir Abadi yang menyegel seluruh kekuatan kegelapan di dalamnya. Walaupun cahaya yang bersumber pada batu segel ini terlihat benderang, namun kenyataannya ini merupakan cahaya yang telah lama meredup.” selanya tiba-tiba.


Untuk merespon penjelasannya, gadis itu nampak memberikan anggukan kecil kepadanya.


“Cahaya yang terpancar saat ini merupakan cahaya yang tersisa sejak lama, sinarnya yang benderang mulai meredup seiring berjalannya waktu dan semakin memudar pada saat beliau telah bereinkarnasi kembali ke dunia ini.” jelasnya yang menceritakan perihal batu itu dengan teramat detail.


Sebenarnya masalah itu Lucy juga telah mengetahuinya. Katanya memang kekuatan segel batu Suci itu memudar berkat kelahiran Morticia karena segala kekuatannya akan kembali kepada pemiliknya. Jadi, ujung cerita dari pembahasan ini pasti karena itu kan?


“Intinya, anda meminta saya untuk memperbaiki sihirnya kan?” tekannya yang lasuk menusuk tepat sasaran.


“Itu.. bukan saya yang memintanya, tapi— para tetua-“ Ini memang benar seperti yang kalian lihat, Tuan utusan Dewa yang masih muda itu kini terlihat bingung dan kelabakan.


“Saya akan memperbaikinya dengan cepat. Ini mudah, kita tidak perlu melakukannya dengan Tyson Rose.” potongnya bernada dingin.


Tyson Rose itu kini menghilang karena keinginan tuannya, sebenarnya alasan Lucia dulu lebih memilih mati. Karena walaupun ia terlahir kemali lagi, wadah tanpa jiwa itu takan pernah menghilang. Untuk menyempurnakan sihirnya, ia hanya perlu memberinya perlindungan segel yang kuat secara berkala semisal dalam satu tahun sekali. Setidaknya, dari yang ia telaah dan a pelajari tentang sihirnya adalah seperti itu.

__ADS_1


“Ah saya tidak memaksa secepatnya kok. Jika Lady tidak bisa hari ini, maka di lain hari pun tidak masalah, ini juga demi Lady dan kemanan seluruh rakyat di kerajaan ini. Saya hanya berharap anda melakukan ini bukan karena perasaan terpaksa. Karena setahu saya, Penyihir Morticia sangatlah mencintai tanah kelahirannya.” kilahnya yang kini entah kenapa Gabriel terlihat seperti tengah mengaku merasa tidak enak kepadanya.


Jadi karena Morticia mencintai tanah kelahirannya, ia harus mengorbankan segalanya demi semua ini tanpa mendapatkan imbalan apapun?


Lalu apa itu, aku tak salah dengarkan? Demi aku katanya? Bernarkah itu hanya demi aku..


Sepertinya tidak begitu..


Jika mereka benar-benar menghormati Morticia, sepertinya yang mendampingi gadis itu selama di Kuil Suci sedari tadi tidaklah berjumlah satu orang. Gadis itu teramat tahu bahwa tidak banyak sembarang orang yang dapat masuk ke tempat rahasia ini begitu saja. Tapi setidaknya ada banyak orang Kuil yang diberikan izin masuk ke ruangan ini bukan? Tidak mungkin juga dari sekian banyaknya penghuni Kuil ini, hanya ada satu orang yang diberikan izin untuk mendampingi gadis yang merupakan tunangan Putta Mahkota?


Bagaimana jika terjadi skandal yang tidak diinginkan?


Ah membosankan, rupanya perjanjian damai diantara para penyihir dan pihak Kuil hanyalah perjanjian sebatas diatas kertas.


Oh— tampaknya, begitu. Karena ini adalah wilayah Kuil Suci, jadi mereka percaya tidak akan terjadi sesuatu sekalipun Iris menyamar dan berupura-pura menjadi sosok Lucia? Huh?


Sekalipun benar, mereka hanya akan menyuruhku memperbaiki segel batu suci ini lalu mengusirku kan?


“Menyebalkan.” umpatnya kesal. Wajahnya kini nampak berkerit dengan gertakan giginya yang keras.


Dengan perasaan terpaksa, kini jemari tangan lentiknya terangkat untuk menyentuh bebatuan Suci tersebut dengan lembut. Tak lama kemudian gadis itu memejamkan matanya sembari meramalkan beberapa mantra yang panjang kearahnya hingga permukaan batu itu memancarkan sinar yang menyilaukan mata berkat sihir pemurnian yang pekat di dalamnya.

__ADS_1


Yang gadis itu lakukan saat ini ialah memperkuat segel yang ada agar tidak melemah. Yah walaupun menrut kabar burung, Iris tidaklah mati setelah dibakar dengan kesucian maupun pemurnian, itu karena yang mati adalah raganya. Bukan jiwa asli dari sang penyihir kegelapan tersebut.


Lantas, setelah segel ini diperkuat sekalipun Iris datang untuk menyentuhnya, yang tersisa darinya pasti hanyalah tangannya yang habis terbakar hangus berkat kemurnian yang melimpah.


“Dengan ini, segel yang telah diperkuat takan bisa dihancurkan dengan mudah. Kecuali, jika batu ini memang benar-benar jatuh ketangannya, kemampuan ku hanya sebatas ini seperti sebelumnya, yaitu menjadi wadah dan memberikannya sumber kekuatan untuk menahan segala kejahatan yang terkandung di dalamnya. Sehebatnya diriku, semua ini tergantung seberapa bijaknya kalian dalam merawat dan memperhatikan batu ini.” gusarnya yang kini sedikit meringis kesakitan.


Ia tengah memfokuskan dirinya pada batu Suci tersebut hingga merelakan setengah kekuatannya yang telah ia kumpulkan selama ini. Walaupun ini merupakan cara yang mudaj, tentu saja ada ganjaran yang harus ia bayar dengan menyalurkan kekuatannya yang berlebihan


Rasanya sakit, sesak nafas, pegal, lalu terlunglai jatuh. Itulah timbal balik yang terjadi jika ia melakukannya dengan berlebihan dalam satu hari, tapi untuk menyegel kekuatan jahat sebesar itu, tidak mungkin Lucy hanya memberikan pemurniannya dengan asal-asalan juga kan? Apalagi ini mempertaruhkan masa depan.


Disamping sinar keemasan yang berkisar dari area telapak tangannya, Gabriel nampak terpukau juka memasang raut wajah yang terlihat keheranan.


“Memangnya kenapa ini bergantung pada kebijakan Kuil?” tanyanya yang entah polos atau memang tidak begitu tahu banyak karena baru mengalami pengangkatan utusan Dewa.


Ujung bibir Lucy nampak melengkung menampilkan senyuman miringnya, “Seperti sebelumnya, selama beratus tahun. Kuil ini memang hebat bisa menjaga batu Suci hingga detik ini. Aku juga bisa menjamin keamanannya hingga nafas terakhirku, Iris takan pernah bisa menyentuh tanah Kuil yang suci ini. Karena jika ia memaksakan, bisa-bisa jiwanya benar-benar akan terbakar mati.” bisiknya pelan, ia hanya tidak bisa berteriak demi menghemat sedikit tenaganya yang tersisa.


Walaupun sorot matanya terlihat sayu, ia juga tidak terlihat akan menghentikan penjelasannya. “Tapi— Iris yang kehilangan kekuatannya pasti akan sibuk mencari cara untuk mendapatkan kembali kekuatannya seperti yang sebelumnya ia lakukan kan?! Lantas, semua ini akan berbeda jika batu ini dirampas oleh seseorang dan dihancurkan hingga berkeping-keping.” lanjutnya yang entah kenapa menyatakan kalimat tersebut dengan nada bicaranya yang mengerikan.


“Jika Kuil Suci Lalai dan membuat batu ini jatuh ketangan yang tidak tepat, maka...” gadis itu nampak menahan kata-katanya yang malah membuat Pria muda disampingnya penasaran.


Dengan senyuman yang nanar, ia menyatakan kalimat lanjutannya denn raut wajah yang sedih.

__ADS_1


”𝐊𝐞𝐡𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐫𝐟𝐢𝐞𝐥𝐝 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐝𝐢 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧.”



__ADS_2