
Reygan kini melangkah dengan perlahan menuju kamarnya di istana Philia, jika ia harus melangkah lebih jauh ke istana Chatalia maka itu hanya akan memakan waktu dan mungkin saja akan membangunkan Lucy yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.
“Jika tertidur, wajah mu seperti malaikat ya?” bisiknya benar-benar pelan.
Usai tiba dan membaringkannya ditempat tidur, Reygan hanya tersenyum tipis di iringi wajah yang dipenuhi rasa bersalah. Lengan kekarnya terangkat untuk melepaskan sepatu hak tinggi yang dipakai Lucy di sepanjang pesta tadi malam, wajahnya menciut ketika melihat tumit kakinya terlihat dipenuhi luka lecet.
“Bagaimana bisa dia berdiri semalaman dengan kondisi kakinya yang seperti ini.” ocehnya yang entah kenapa merasa kesal, walaupun sebenarnya hal seperti ini sudah menjadi takaran kewajaran di kalangan bangsawan.
“Sshh..”
Tidak ada sebuah jawaban selain dengkuran halus yang terdengar ditelinganya, Reygan hanya tersenyum sembari mengusap pipinya dengan lembut. Sembari duduk dipinggiran tempat tidurnya, ia terdiam dan menatap Lucy dengan tatapan lembut.
“Walaupun mungkin perasaan Lucy telah berubah, aku tidak peduli..” selanya dengan suara yang melemah.
Jika aku mengharapkan perasaanmu, apa aku terlalu serakah?
Dalam keheningan malam yang menyapa, Pria itu tampak mencium beberapa helai rambut Lucy yang tengah tertidur lelap, apa karena sudah malam..
warna rambur emas mu terasa begitu bersinar?
Rasanya ia ingin memeluknya dengan erat seolah menyentuh puncak kebahagiaannya. Hanya saja Pria itu idak mau membangunkannya, setidaknya ia hanya merasa lega ketika salah paham terkait masalah ini telah usai.
“Mau berapa kalipun kamu bertanya, apa aku membencimu? Aku hanya bisa menjawab bahwa sekalipun aku tidak pernah membencimu.” bisiknya pelan sembari mencium punggung tangan sang empu dengan lembutnya.
...***
...
Sebuah peregangan kecil telah gadis itu lakukan ketika ia baru saja terbangun dari tidurnya, hingga ketika ia menyadari bahwa tempat ini bukanlah kamarnya itu cukup membuat dirinya merasa panik dengan menatapnya kesana kemari.
Setelah diperhatikan ini ternyata kamar Reygan, ia merasa sedikit dejavu karena setelah ia pingsan dan mimisan dulu, mereka bertengkar hebat di tempat ini. Lalu ia hanya bertanya-tanya apakah yang membawa dirinya kemari adalah Reygan? Sepertinya waktu sampai ke istana, aku masih ketiduran.. apa Yang Mulia yang menggendong saya sampai kesini?
Gadis itu tampak kikuk dengan tatapan matanya yang masih sayu. Usai menyingkapi selimutnya, ia membangkitkan diri dan melangkah mengelilingi kamar Putra Mahkota yang terbilang cukup luas.
Jika memperhatikan ke sekitarnya, ini hanyalah sebuah kamar sederhana dimana tempat dia untuk mengistirahatkan dirinya sejenak, namun jika di pikirkan lagi.. ini terasa aneh.
“Kenapa ruang kerja menyatu dengan kamarnya ya?” tanyanya bingung, karena meja kerja berisikan tumpukan dokumen tebal itu benar-benar tertata rapi di kamar ini.
Lucy juga saat ini sepertinya telah berganti pakaian menjadi pakaian tidur. Ia hanya bergedik dan berpikir bahwa mungkin saja seorang pelayan menggantikannya kemarin malam. Anehnya ia tidak merasa terbangun sama-sekali, apa aku terlalu kelelahan?
Tatapan gadis itu tiba-tiba berubah menjadi murung, suara hatinya saat ini benar-benar meluap seperti ingin dikeluarkan, hatinya hanya berpikiran untuk.. Bagaimana kedepannya? Apa yang harus kulakukan?
Ternyata untuk menang dari Sheyra tidak semudah membalikan telapak tangan. Dia memiliki pendukung kuat yang bahkan tidak bisa dianggap remeh yaitu bersekutu dengan seorang penyihir kegelapan..
“Apa aku hanya perlu menyerangnya dengan sihir pemurni? Tapi sepertinya tidak terlalu efektif.. dan jika dilakukan terus-terusan yang ada mungkin hanya akan membunuh Sheyra.. bukannya penyihir kegelapan itu.” asumsinya yang mencoba berpikiran keras.
Jemarinya yang lentik kini menyentuh jendela yang terpapar akan hangatnya sinar matahari. Rupanya hari ini Lucy bangun kesiangan lagi. Entah akan jadi seperti apa nantinya, semua tugasnya pasti akan semakin menumpuk. Belum lagi kelas belajarnya yang sering terganggu belakangan ini, dan yang lebih anehnya..
“Kenapa aku jadi senang melewati semua rutinitas memuakkan seperti ini ya?” tanya gadis itu benar-benar aneh, ia hanya mendecih seolah mempertanyakan ada apa dengan dirinya.
Klek..
Deciran pintu yang terbuka membuat lamunan gadis itu buyar dan menoleh kearahnya. Rupanya dengan tenang Reygan telah membuka pintu kamarnya dengan satu tangan yang terisi penuh oleh nampan berisikan makanan ringan.
“Ouh.. Lucy sudah bangun?” tanya Reygan yang lumayan bereaksi kaget padanya.
__ADS_1
“Iya.. anda sedang apa?” tanya gadis itu heran.
Pria itu nampak terkekeh kemudian duduk di atas sofa, nampan yang berisikan susu hangat dan sepiring biskuit itu di taruh di atas meja.
“Kemarilah dan sarapan.” perintahnya sembari melambai-lambaikan tangannya.
Sembari menghampirinya, Lucy terlihat menghela nafas dengan berat. Ia menyuruhnya untuk segera sarapan pagi, tapi apa ini? Bukannya ini hanya camilan ya? Jangan-jangan..
“Apa kondisi keuangan istana melorot drastis?” tanya gadis itu dengan tatapan pilu.
“Sembarangan!” bantahnya yang tak habis pikir.
Apa dimatamu aku semiskin itu?
Tuk..
Kening perempuan itu disentil sehingga membuat sang empu meringis kesakitan. Lucy kini mendelik tajam kepadanya sembari memegangi keningnya dengan perasaan jengkel.
“Apa sih?” tanyanya sebal.
Pria itu terdiam dengan menampilkan senyuman tipis di bibirnya, “Aku hanya penasaran dengan isi dari kepala kecilmu yang kosong itu.” jujurnya sembari mengacak-acak puncak kepala gadis itu.
Glek..
“Apa? Kosong?!” geramnya setelah hampir tersedak ketika meneguk susu hangat yang di bawakan oleh Reygan tadi, dengan cekatan ia menepis kesal pergelangan tangan itu yang sedari tadi mencoba mengacak-acak rambut emasnya.
“Tidak, Lucy sepertinya salah dengar..” tuturnya sembari ikut menyantap biskuit coklat yang tersimpan di atas meja, Lucy hanya menatap sinis ketika makanan ringannya di renggut oleh Pria itu.
Pria itu terkekeh setelah melihat ekspresi Lucy yang sekesal itu, dengan segera ia menghentikan asksinya yang mungkin saja akan membuat perempuan itu lebih marah lagi. Kemudian ia menyender dibahunya sembari memejamkan matanya. Rasanya hangat..
Gadis itu nampak menatap langit-langit kamar sembari mencoba mengingat rutinitasnya, “Itu— sepertinya mengecek kas dapur dan juga belajar menyulam. Lalu.. ya sudah sih..” kilahnya sembari memalingkan wajah.
Aku seharusnya tidak bersantai seperti ini.. anda menyita waktu saya Yang Mulia!
“Kalau begitu liburlah beberpa hari terlebih dahulu, gunakan saja ruangan ini sesuka mu.” lirihnya yang tak lama kemudian menidurkan dirinya di pangkuan sang gadis. Gadis itu tampak terkejut dengan perbuatannya, namun ia hanya bisa terdiam pasrah menerimanya.
“Sebentar saja.” ujarnya dengan mata terpejam, Lucy hanya mengangguk pertanda ia mengizinkannya.
Jemari lentiknya terangkat untuk mengusap lembut rambut hitam legam itu.
Kalau seperti ini anda tampan. Tapi kalau anda membuka mulut, rasanya wajah tampan ini ingin ku pukul dengan keras.
“Ugh.. Yang Mulia, terkadang anda menggemaskan. Tapi kadang kala juga anda membuat saya kesal hingga ingin menjambak rambut anda sampai terlepas.” protesnya yang terkesan mencibir Pria itu, bibirnya terlihat mengomel sembari mengerucut.
Namun entah kenapa ia sedikit senang dengan moment sederhana ini. Dikala setiap harinya dipenuhi rasa penat, memiliki teman dekat dan mengobrol dengan hangat merupakan hal yang menyenangkan untuknya. Walaupun terkadang gadis itu tidak mengerti dengan sikap manja yang di kerahkan oleh Reygan.
“Rey.” tegurnya yang tak suka dengan panggilan Formal yang selalu Lucy sebutkan. Rasanya ia kesal tiap kali Lucy menyebutnya dengan panggilan ‘Yang Mulia’ seolah ingin menghindari sesuatu.
Karena panggilan itu.. membuat memori buruk itu selalu bangkit.
“Itu bukan point penting!” cetus gadis itu bernada sebal. Ia kini menopang wajahnya pada pinggiran sofa sembari berpikiran tak karuan.
“Saya takan libur, jika di tunda pekerjaan malah semakin menumpuk.” gerutunya dengan kobaran api semangat.
Matanya terlihat berbinar dipenuhi cahaya semangat.
__ADS_1
“Ugh.. baiklah jika itu maumu. Tapi jangan lupa untuk beristirahat.” pesannya sembari membangkitkan diri. Tak lama kemudian ia mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut.
“E-eh?!” refleks nya memundurkan diri, Lucy kini beberapa kali mengusap puncak kepalanya dengan raut wajah aneh.
“Anda ngapain sih?” tanyanya sembari mencoba menghilangkan jejak kecupan Reygan di rambutnya yang entah kenapa malah membuat Pria itu kesal menatapnya.
“💢”
“Yang Mulia, apa anda tidak bisa menahan Sheyra saja? Dia kan bersekutu dengan Penyihir kegelapan.” tanya gadis itu tiba-tiba. Ia sepertinya benar-benar pusing ketika memikirkan masalah ini sendirian.
“Bersekutu?” tanya Pria itu heran.
“Bukankah anda juga berpikiran begitu? Di sekitar tubuhnya mengalir aliran sihir hitam, kemarin saat saya menampar wajahnya, saya mengalirkan sihir pemurnian di tangan saya. Dan wajah perempuan itu seperti melepuh.” jelasnya benar-benar serius, ia bahkan sampai memperagakan telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya sihir, dan Pria itu lumayan takjub dibuatnya.
Walaupun di pesta kemarin tidak begitu kelihatan sih, karena aku merafalkan kekuatannya tepat sebelum tanganku menyentuh pipi Sheyra, hasilnya ya.. perempuan itu menutupi sebelah wajahnya dengan tangan sampai akhir.
Apa Sheyra akan curiga dengan maksud perbuatanku?
Grr..
Ptia itu terlihat berkeringat dingin, sekilas memang tidak kelihatan, tapi tangannya terlihat gemetaran. Ia tampak meneguk ludahnya dengan perasaan ketir, “O—oh itu.. aku— tidak mungkin menangkap seorang Putri bangsawan tanpa tuduhan dan bukti yang tidak jelas.. jadi itu akan sulit.” jawabnya bersamaan senyuman yang di paksakan.
Apa dia mengalihkan ketakutannya dengan senyuman? Kenapa? Apa anda takut kepada Sheyra?
“Kalau begitu, saya akan cari rencana yang lain.” tukasnya sembari membangkitkan diri.
“Jangan! Jangan lakukan apapun!” teriaknya sembari mencekal pergelangan tangan Lucy.
Gadis itu kini memasang wajah heran dan bertanya-tanya kepadanya, sebenarnya Yang Mulia kenapa sampai seperti ini? Lagi pula walaupun anda berkata jangan, saya tetap akan membuat rencana saya sendiri karena ini berkaitan dengan nyawa saya sendiri..
Kruuk…
Bunyi perut yang lantang kini sukses memecah keheningan mereka. Dengan wajah yang memerah, gadis itu berpaling dan memaki dengan kesal.
Psssh...
Kenapa harus bunyi di situasi tegang seperti ini sih?!
Tapi di sisi lain ia bersyukur karena bisa terlepas dari situasi aneh yang menyesakkan seperti tadi.
“Ma—maaf, ini karena kemarin saya sudah puasa seharian, di pesta juga saya hanya bisa mengemil sedikit..” ungkapnya dengan gugup yang bahkan sampai berbicara dengan terbata-bata.
“Huh.. nanti mintalah koki dapur untuk memasak.” decihnya sembari beranjak kearah lemari pakaian dan mengambil salah satu jas untuk dikenakan olehnya.
“Anda akan pergi?” tanya gadis itu penasaran ketika melihat Pria itu yang kini tengah sibuk berbenah dengan penampilannya.
“Aku akan pergi peninjauan selama 5 hari di wilayah Duchy.” jelasnya dengan tangan yang kini hendak memakai jubah merah di pundahknya. Gadis itu tampak mengangguk dengan tatapan yang aneh, tak lama kemudian Pria itu berbalik dan mencimbirnya lagi seperti biasa.
“Berhenti menatapku seolah saat ini aku telah memberikan makanan tak layak kepadamu💢.” sindir Pria itu yang sukses membuat gadis itu membeku.
Krakk..
“Ehg... ketahuan ya?”
__ADS_1